
Setelah mendapatkan uang sebesar dua miliar rupiah, saat itu juga Niken memutuskan untuk pergi dari rumah Deev," terima kasih mantan suamiku tercinta dan dermawan, aku pamit pergi dari rumah ini sekarang juga. Silahkan urus perceraian kita, jika surat saya sudah jadi kamu bisa hubungi nomor ponselku saja."
Dengan senyum kemenangan, Niken melangkah menuju ke kamar tamu untuk mengambil tas kopernya dan saat itu juga iya melenggang pergi dari rumah mewah milik Deev.
"Yes, akhirnya aku bisa juga pergi ke luar negeri untuk mengoperasi plastik wajahku. Dan pada akhirnya aku akan menjadi cantik secantik Nona Dini."
"Jika aku sudah berubah cantik pasti aku akan dengan mudahnya mendapatkan suami yang kaya raya."
Hayalan tingkat tinggi Niken, padahal apa yang dia inginkan belum tentu terlaksana karena ia mendapatkan uang dari cara yang tidak benar sama sekali.
Niken langsung mencari kontrakan yang sederhana sambil dia menunggu masa nifas berakhir. Karena ia baru beberapa hari melahirkan.
Seperginya Niken, Pengacara Roy berbicara panjang lebar dengan Deev.
"Tuan Deev, mohon maaf bila saya ingin berbicara sebentar dengan anda. Mohon luangkan waktunya sejenak saja," ucap Pengacara Roy seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Bicaralah tak usah sungkan, Pak Roy!" perintah Deev.
"Sebetulnya tindakan Non Niken dan anda itu salah besar, di dalam negara kita ada hukum dan ada pasal. Jatuhnya pada tindak pidana perdagangan anak, apalagi anak ini baru saja dilahirkan beberapa hari. Jujur saja sebenarnya saya sangat keberatan membantu anda mengurus surat perjanjian tersebut. Ada rasa bersalah pada diri saya terhadap si jabang bayi. Karena profesi saya adalah seorang pengacara, seharusnya melakukan hal yang benar bukan seperti ini," ucap Pengacara Roy.
__ADS_1
"Pak Roy, saya bisa mengerti posisi anda tetapi anda juga harus mengerti posisi saya. Lagi pula ini demi kebaikan anak saya, jika saya tidak memberikan uang kepada Niken, anak itu akan dibawanya pergi dan dijual ke orang lain," ucap Deev.
"Seharusnya anda bisa melakukan tindakan yang tegas kepada Non Niken, dengan cara mengancamnya akan melaporkannya ke aparat polisi atau hal lain misalnya. Sehingga Non Niken bisa berpikir panjang atau mengoreksi dirinya hingga mengurungkan niatnya itu," ucap Pengacara Roy.
"Sudahlah Pak Roy, tak usah dipermasalahkan lagi! yang terpenting semuanya sudah clear, karena aku tidak ingin menambah permasalahan di dalam kehidupanku. Intinya Niken itu orang yang nekat dan pak Roy pasti tidak mengerti akan hal itu. Aku tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan kepada anakku. Apa yang aku lakukan hanyalah ingin melindungi bayiku saja, karena aku juga tidak ingin melakukan kesalahan yang fatal yang dulu pernah aku lakukan kepada mantan istriku yang pertama," ucap Deev.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi pamit pulang, Tuan Deev."
Saat itu juga pengacara Roy berlalu pergi dari rumah mewah milik Deev.
Sementara kehidupan Cloe semakin hari semakin sukses. Satria juga sudah tumbuh menjadi seorang bayi yang sangat cubby dan lucu.
Tetapi justru anak dari Bu Ningrum yang selalu saja mendekati Cloe, walaupun Cloe sama sekali tidak suka padanya. Tetapi Inu justru sering ke rumah entah tahu dari mana.
"Dini, kok pria itu jadi sering kemari sih?" tegur Nando padat saat melihat Inu memarkirkan mobilnya di pelataran rumah mewah mereka.
"Aku juga nggak suka loh, dia datang kemari. Entah tahu dari mana, padahal aku sering kali tidak menanggapi dirinya. Tetapi dia masih saja datang dan datang kemari. Kamu pikir aku suka ya, sama sekali tidak," ucap Cloe.
"Coba kamu gih yang ngomong ke dia supaya jangan sering datang kemari," pinta Cloe pada Nando.
__ADS_1
Hanya saja Cloe tidak bisa selalu beralasan ini itu untuk menghindari Inu. Tetapi ia juga nggak suka melihatnya ke rumah terus menerus hampir satu Minggu sampai tiga kali seperti orang minum obat saja.
'Hy Dini, maaf ya aku membosankan sering datang kemari," ucap Inu.
Kali ini Nando yang menghadapi Ini," hey, tolong ada rasa sopannya sedikit ya? jangan terlalu sering datang kemari karena tidak enak di lihat oleh para tetangga, apa lagi status Dini janda. Anda yang terus menerus datang kemari, nanti Dini yang di cap jelek sama warga disini. Jadi tolong pengertiannya. Jika ingin bebas, cari saja yang masih lajang," ucap Nando tegas menasehati Inu.
Inu merasa tersinggung dengan perkataan Nando," kenapa anda berbicara kasar seperti itu kepadaku? seharusnya seorang tamu itu dihormati. Apakah seperti ini cara anda menghormati seorang tamu?"
Mendengar perkataan yang terlontar dari bibir Inu, membuat Nando semakin bertambah geram," jika anda tidak bisa ditegur sama sekali, sebaiknya anda tidak usah datang lagi kemari! Karena bagaimanapun aku sebagai saudara kembar Dini, berhak untuk melarang Dini bertemu dengan seorang pria seperti anda yang tidak punya etika dan sopan santun dan tidak bisa diberi sebuah saran atau pendapat!"
Tatapan mata Nando begitu tajam bagaikan sebuah pisau yang siap menghunus jantung Inu. Kedua tangannya berkacak pinggang serta napasnya terus saja memburu karena menahan rasa emosi yang meluap.
Inu juga tidak tinggal diam, ia membalas tatapan tajam Nando dengan melotot ke arahnya," jadi orang jangan sombong seperti itu, hargailah sedikit orang lain."
Nando tersenyum sinis," jika anda ingin dihargai seharusnya anda koreksi diri sendiri, apakah perbuatan anda saat ini sudah benar atau belum karena setiap tempat mempunyai adat tersendiri."
"Ini negara Indonesia yang masih menomorsatukan sopan santun dan adat istiadat. Ini bukan di luar negeri, di mana setiap manusia bebas melakukan apapun tanpa ada norma-norma agama yang harus ditaati. Aku tidak ingin suatu saat nanti para warga datang kemari dan menggerebeg kalian, apalagi sampai fatal meminta Dini menikah denganmu. walaupun kalian berdua tidak melakukan apapun, tetapi para warga tidak akan mau mendengar alasan kalian. Intinya mereka tahunya kalian berdua itu bukan muhrim apalagi status Dini itu janda," ucap Nando panjang lebar.
"Sudah banyak kasus di tempat ini yang terjadi seperti itu, seorang pria sering datang ke rumah seorang janda. Walaupun mereka tidak melakukan apapun, tetapi para warga tidak mau tahu. Jika mereka tidak menikah maka akan di arak oleh warga dalam kondisi tidak memakai sehelai benang pun. Dan aku tidak ingin Dini mengalami hal yang sama seperti beberapa warga yang ada di tempat ini!" ucap Nando kembali.
__ADS_1