
Cloe melangkah pasti menuju ke pintu gerbang, ia didampingi oleh security.
"Oh jadi kamu yang dari tadi berteriak tidak ada rasa malu?" ejek Cloe kesal seraya berkacak pinggang.
"Ya memang aku. Gara-gara kamu nggak mau memberi tahu padaku tentang dokter handal yang telah mengoperasi plastik wajahmu, aku jadi kena tipu uang satu milyar hilang dibawa oleh penipu!"
"Jadi orang kok pelit informasi, nggak mau berbagi! apa nggak ingin kecantikannya tersaingi?"
Niken terus saja ngoceh tak jelas juntrungannya, hal ini tentu saja mengganggu aktifitas para pekerja karena semua menatap kearah Niken dan Cloe.
"Kamu gila ya? pergi sana! aku sama sekali nggak kenal kamu, dan intinya kamu itu iri bukan dengan kesuksesanku? jika kamu terus ngomong ngelantur dan nggak jelas seperti itu, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu kepada aparat kepolisian!" ancam Cloe.
__ADS_1
Tetapi Niken tidak juga pergi," sombong banget sih kamu, mentang-mentang sukses! aku nggak takut sama sekali dengan ancaman dari dirimu!"
Cloe meraih ponselnya, dan ia berpura-pura menelpon aparat kepolisian. Sontak saja Niken ketakutan dan ia pun pergi begitu saja.
"Pak, lain kali kalau ada orang rusuh seperti itu pake trik untuk mengatasinya. Seperti yang aku lakukan tadi. Dan usahakan wanita gila tadi jangan sampai buat onar lagi!" pesannyae Cloe seraya melangkah masuk kedalam pabrik kembali.
Security segera menutup pintu gerbangnya lagi. Sementara dari balik persembunyian, Niken mengumpat," untuk kali ini aku kalah Dini. Tapi tidak untuk lain kali. aku tidak terima karena uangku hilang!"
Niken berlalu pergi dari balik persembunyiannya, dan ia memesan taxi on line untuk pulang ke rumah. Dia masih belum ikhas dengan uang satu milyar yang hilang begitu saja. Ia benar-benar sangat menyayangkan.
Sementara didalam hati Cloe sangat senang pada saat mendengar pengakuan dari Niken jika uangnya hilang satu milyar,' syukuri dech! ini belum sepadan dengan apa yang telah ia lakukan dulu padaku. Tetapi setidaknya ku sangat puas melihat Niken hidup susah!"
__ADS_1
Cloe juga belum puas dan belum bisa melupakan sakit hatinya jika Deev belum alami celaka.
"Bagaimana caraku untuk bisa membuat Deev hidup sengsara dan menderita ya? karena ia pria yang sangat berbahaya."
Gumam Cloe yang saat ini sedang berpikir keras.
"*****"
Lain halnya dengan Deev, ia saat ini juga sedang kesal sendiri karena ia sama sekali tidak bisa menggendong anaknya sendiri karena salah satu tangannya lumpuh total.
"Mau sampai kapan aku akan seperti ini? apakah akan selamanya aku hidup seperti ini? padahal aku rutin pemeriksaan, tetapi kenapa samasekali tidak ada kemajuan? Aku juga tidak merasakan apapun pada tanganku yang cedera ini. Tanganku seperti mati rasa, apakah ini menandakan jika tanganku sebenarnya tidak bisa dipulihkan?"
__ADS_1
Terus saja Deev berkeluh kesah seorang diri. Dia hanya tinggal dengan bayinya dan perawat pribadinya serta baby sitter bayinya.
Dia ingin mengakhiri hidupnya saja, tetapi ia ingat akan bayinya. Jia terjadi hal yang tidak di inginkan, lantas bayinya hidup dengan siapa? Hanya bayi itu yang membuat dirinya bertahan hidup di tengah penyakit yang ia derita saat ini.