
Sore menjelang...
Deev menghampiri Etty yang sedang berada di dapur membantu bibi memasak," Etty, bisa kita bicara sebentar saja?" pinta Deev.
"Bisa Tuan. Bu, aku tinggal dulu ya."
Etty mengikuti langkah kaki Deev ke ruang tengah. Ia agak panik dan gelisah, didalam hatinya sempat bergumam sendiri," ada apa ya? kok aku deg-degan seperti ini? apakah aku telah membuat suatu kesalahan ya?"
"Duduklah, nggak usah panik seperti itu karena aku tidak akan menerkammu," canda Deev terkekeh.
Etty pun duduk di sofa di hadapan Deev sambil terus tertunduk. Setelah merasa nyaman, Deev mulai berkata," Etty, ada hal yang ingin aku katakan padamu. Syukur kamu terima, jika tidak aku pun tidak akan memaksa."
__ADS_1
Etty memicingkan alisnya," apa sih ya? kok Tuan Deev begitu serius," batinnya dipenuhi oleh tanda tanya.
"Etty, apakah kamu mau jika aku ingin menikahi dirimu karena Alya sudah begitu dekat padamu. Dan ia juga butuh sosok seorang ibu,' ucap Deev.
Didalam hati Etty bingung," waduhhhh... bagaimana ini ya? karena aku sudah punya calon sendiri, tetapi bagaimana caraku menolaknya? supaya Tuan Deev tidak tersinggung, bagaimana caraku menyampaikan hal ini ya?"
Etty terus saja tertunduk, ia sedang memutar otaknya mencari kata-kata yang tepat supaya tidak menyinggung perasaan Deev.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa memenuhi kemauan anda, karena saya sudah memiliki calon suami," ucap Etty terus saja menundukkan kepalanya.
Deev begitu kecewa, dia pikir Etty akan langsung menerima dirinya. Ternyata pemikirannya salah. Tetapi ia juga tidak ingin memaksakan kehendak dirinya pada Etty, ia tidak mau jika Etty malah nantinya tidak nyaman bekerja di rumahnya. Dengan rasa kecewa, Deev pun menerima keputusan Etty," ya sudah kalau begitu nggak apa-apa. Aku pikir kamu belum punya calon suami karena selama ini aku tidak pernah melihat kamu jalan dengan lelaki."
__ADS_1
"Etty masih saja merasa tidak enak," sekali lagi maafkan saya, Tuan. Memang kami belum pernah bertemu, hanya komunikasi lewat ponsel saja."
Deev terperangah mendengar penjelasan dari Etty," whats, kamu cuma pacaran lewat ponsel? apakah kamu nggak takut jika pacarmu itu bukan lelaki yang baik? apa kamu nggak takut jika pacarmu itu lelaki pembohong?"
Etty tersenyum," Insa Allah tidak Tuan, saya sangat yakin dengan hati nurani saya jika pacar saya adalah seorang lelaki yang baik dan setia."
Deev malah menertawakan perkataan Etty, ia sama sekali tidak menyangka jika Etty yang berpendidikan tinggi di bidang keperawatan bisa sebegitu mudahnya percaya dengan lelaki.
"Astagaaaa Etty-Etty, kamu itu terlalu polos dan lugu banget sih..Ya sudah dech, semoga saja pacarmu itu benar-benar lelaki yang baik. Jika suatu saat nanti ia menyakitimu, aku siap menggantikan posisinya."
Setelah mengatakan hal itu, Deev berlalu pergi dari hadapan Etty. Didalam hati Etty merasa sedikit kesal," apa dia nggak melihat dirinya sendiri ya? jika dia menjadi seperti sekarang ini juga karena karma atas perbuatan buruknya dulu. Seenaknya dia menilai calon suamiku seorang lelaki yang tidak baik," gumamnya di dalam hati.
__ADS_1
Sementara saat ini Deev masih saja penasaran," memangnya seperti apa ya pacar Etty. Tadi aku ingin bertanya tapi tidak enak juga. Tidak bertanya tapi penasaran," gumamnya di dalam hati.