
Deev kembali ke kantornya, ia pun berinisiatif menelpon Cloe.
Kring kring kring kring kring
Ponsel Cloe berdering, dan ia segera mengangkatnya. Belum juga Cloe berkata, Deev telah berkata terlebih dahulu.
📱" Non Dini, ini Deev. Non, kenapa anda pergi begitu saja pada saat di cafe?"
📱" Karena waktu bagi saya sangat berharga, sementara anda sibuk dengan urusan pribadi anda. Seharusnya anda bisa mengesampingkan urusan rumah tangga di saat sedang berurusan untuk pekerjaan. Masa iya anda mencampur adukkan pekerjaan dengan pribadi. Anda juga tidak merasa malu berkata lantang mengucapkan banyak hal di depan banyak orang. Seharusnya masalah rumah tangga diselesaikan di rumah."
Sejenak Deev terdiam, ia agak tersinggung dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Cloe," kok malah aku diceramahi seperti ini? jika bukan karena dia seorang wanita karier yang sukses dan sangat cantik, aku pasti tidak akan tinggal diam jika dia berkata seperti ini."
Setelah sejenak diam, Deev menghela napas panjang. Ia pun berkata kembali.
📱" Maafkan aku, Non Dini. Aku tidak sadar dengan apa yang barusan aku lakukan. Aku janji tidak akan melakukan hal seperti ini, mohon maafkan aku ya."
📱" Baiklah, kali ini saya maafkan. Tapi jika sekali lagi anda berbuat seperti ini, aku akan batalkan kerja sama kita secara sepihak."
📱"Baiklah Non Dini, terima kasih ya."
Setelah meminta maaf, Deev pun mematikan panggilan telepon tersebut. Sejenak ia mendengus kesal," semua gara-gara Niken. Aku nggak menyangka jika ternyata Niken serendah itu. Mending selingkuhannya lebih muda dariku, lah ini justru lebih tua dan jelek sekali!"
"Lihat saja Niken, nanti setelah aku sampai di rumah, aku akan segera memintamu untuk pergi dari rumahku. Jijik banget dech aku!"
Deev menjadi tidak fokus di dalam bekerja. Ia terus saja marah dan marah. Ia teringat selalu, terbayang selalu di pelupuk matanya pada saat melihat Niken sedang berpegangan tangan dengan seorang pria paruh baya.
__ADS_1
Bahkan sampai sore menjelang pun, ia sama sekali tidak bisa tenang di dalam bekerja.
Sore Menjelang...
Niken menyambut kepulangan suaminya. Tetapi Deev sama sekali tidak menghiraukannya, justru ia meminta Niken untuk segera angkat kaki dari rumahnya," nggak usah berpura-pura manis padaku. Aku juga tidak butuh perhatianmu! karena selama ini kamu juga tidak pernah mengurusku! aku minta sekarang juga kamu pergi dari rumahku, karena status kita sudah bukan suami istri lagi! aku akan segera mengurus perceraian kita!"
Niken tersenyum sinis," apakah kamu lupa? jika saat ini aku sedang hamil? aku sedang hamil anakmu."
Deev pun baru ingat akan hal itu, dia hanya diam saja karena merasa sangat kecewa," baiklah kali ini aku kalah. Kamu boleh tinggal disini hingga anak itu lahir. Tetapi aku juga tidak yakin, jika anak yang ada di dalam perutmu itu adalah anak kandungku."
Niken berusaha meyakinkan kepada Deev bahwa anak yang di dalam perutnya saat ini benar-benar anak kandungnya. Tetapi Deev tetap tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Niken.
"Sudahlah, kamu tak usah terus meyakinkanku bahwa anak yang ada di perutmu itu adalah anak kandungku. Aku sudah tidak percaya lagi kepada dirimu. Tak usah berkeras hati, karena aku akan tetap menceraikan dirimu!"
Dan pada saat Niken menyusul Deev ke kamar. Baru sampai di depan pintu kamar. Deev sudah melempar semua pakaian Niken dan juga melempar tas kopernya.
"Tidur di kamar tamu, karena aku sudah tidak ingin tidur sekamar lagi denganmu. Jijik aku seranjang dengan wanita murahan seperti dirimu!" ejek Deev.
Niken tidak tinggal diam," beberapa kali kamu mengatakan jika aku ini wanita murahan. Apakah kamu telah lupa, walaupun aku ini kamu cap sebagai wanita murahan, tetapi aku pernah berharga di matamu. Bahkan kamu rela menceraikan istrimu demi aku bukan?"
"Sudahlah, tak usah banyak berkata lagi. Pergi kamu dari hadapanku! dan mulai hari ini detik ini juga aku tidak akan memberikan nafkah kepadamu. Mintalah segala yang kamu butuhkan kepada pria tua itu! pria tua yang bisa memberikan semua yang kamu inginkan bukan?"
Niken protes," tidak bisa seperti itu. Selama aku masih sah Istrimu, sudah menjadi kewajiban dirimu untuk memberikanku nafkah!"
BRAG!!!!
__ADS_1
Dengan sangat keras Deev menutup pintu kamarnya, hingga membuat Niken sampai terlonjak karena kaget.
Niken segera memunguti semua pakaiannya yang berantakan di lantai dan memasukkannya ke dalam koper. Iapun melangkah pergi dari depan pintu kamar tersebut menuju ke kamar tamu.
Sementara Deev terus saja melampiaskan kemarahannya dengan membanting semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya.
PYANG!!!! PYANG!!!
"Sialan! kenapa semua menjadi seperti ini? jika aku tahu akan seperti ini....aaahhhhh.... kurang ajar!!!!!!"
Deev bagai orang yang kesetanan, ia terus saja mengamuk tidak ada hentinya. Terus dan terus saja. Ia benar-benar menyesal, karena telah menikahi Niken. Ia berpikir jika Niken lebih baik dari Cloe ternyata pemikirannya salah.
Sementara di rumah mewah milik orang tua Cloe, ia pun menceritakam semua yang terjadi pada hari ini. Sebenarnya ia tidak ingin bercerita setiap kejadian yang dialaminya. Tetapi selalu saja orang tua dan saudara kembarnya bertanya banyak hal padanya. Dan ia pun tidak bisa begitu saja menyembunyikan segala yang telah ia alami.
Karena bagaimanapun saudara kembar dan orang tuanya telah sangat berjasa terhadap kehidupannya. Hingga ia pun selalu menceritakan apapun yang ia alami di kantor.
Nando tersenyum sinis pada saat mendengar cerita dari Cloe," bagus sekali. Berarti balas dendammu sudah ada kemajuan. Mereka saling berselisih paham satu sama lain. Dengan begitu tidak akan lama lagi, kamu bisa membuat keduanya hancur sehancur-hancurnya."
"Benar sekali apa yang kamu katakan barusan Nando, aku yakin tidak akan lama lagi baik Niken maupun Deev akan menderita dan hancur. Kita tinggal menunggu dan melihatnya saja. Aku juga sudah tidak sabar lagi melihat kehancuran yang terjadi dengan mereka berdua."
Sementara orang tua Cloe, hanya diam saja. Mereka tidak turut komentar, hanya berkata pada saat awal pembicaraan saja. Mereka cukup menjadi pendengar setia.
Kini Cloe benar-benar sedang menikmati kehancuran rumah tangga Niken dan Deev. Ia sangat puas dan senang pada saat melihat pertengkaran antara Deev dan Niken pada saat di cafe.
"Awal yang sangat mengesankan sekali. Keberuntungan benar-benar sedang berada di pihakku hingga aku tak perlu bersusah payah. Eh Deev melihat sendiri perselingkuhan yang dilakukan oleh Niken."
__ADS_1