Pembalasan Istri Yang Dibuang

Pembalasan Istri Yang Dibuang
Sebuah Saran


__ADS_3

Bu Ningrum langsung menegur Inu.


"Inu, mamah ingin bicara padamu."


"Memangnya ada apa sih mah? aku sedang lelah dan tak ingin bicara tapi ingin istirahat," ucapnya dengan terpaksa duduk di hadapan Bu Ningrum.


Bu Ningrum bertanya banyak hal pada Ini tentang dirinya yang sering menyambangi rumah Dini. Inu memicingkan alisnya," mamah tahu dari mana kalau aku sering ke rumah Dini? hemmmm pasti Dini yang mengadu ya? dia itu sudah keterlaluan sekali mah, bukannya bersyukur karena ada seorang perjaka yang ingin menikahinya. Dia malah menolak mentah-mentah!"


Inu masih saja merasa jika apa yang dilakukannya itu benar, dan sos yang dilakukan oleh Dini adalah suatu kesalahan.

__ADS_1


Bu Ningrum sama sekali tidak terhasut, justru ia tidak suka dengan sifat Inu yang menurut dirinya sangat jauh berbeda dengan kakaknya.


"Kenapa sifat buruk papahmu di tiru? seharusnya jangan seperti itu," nasehat Bu Ningrum.


Inu semakin tidak terima jika dirinya di samakan dengan Broto," kenapa Mamah menyamakanku dengan papah? aku itu berbeda darinya, aku tidak pernah bermain perempuan tidak seperti papah."


"Sifat sombongmu itu mirip papah kamu. Itu yang Mamah tidak suka. Seharusnya kamu selalu mencontoh kakakmu, dia tidak pernah sombong dan juga selalu mengambil keputusan yang bijaksana" ucapnya kesal.


Bu Ningrum menghela napasnya sejenak, ia memang harus extra sabar jika berhadapan dengan Inu.

__ADS_1


"Nak, seseorang jatuh cinta dan ingin memperjuangkan cinta itu tidak salah. Tetapi tidak seharusnya kamu trus memaksa Dini untuk bisa cinta padamu. Jika ia sudah tidak respon ya seharusnya kamu mundur dan sadar diri. Bukan malah membuatnya tidak nyaman dengan kamu sering datang ke rumahnya. Anggap saja jika Dini itu bukan jodohmu, dan yakin bila kelak kamu akan mendapatkan jodoh yang terbaik," Bu Ningrum terus menasehati Inu.


Tetapi lagi-lagi nasehat itu tidak ada gunanya, karena Ibu justru berlalu pergi begitu saja dengan penuh kemarahan," semua gara-gara Dini! entah apa yang Dini katakan pada mamah, hingga mamah bukannya membela anak sendiri malah membela orang lain yang belum lama dikenalnya! dengan seperti ini aku semakin ingin balas dendam saja padanya!" umpatnya di dalam hatinya.


Sementara anak sulung Bu Ningrum baru pulang dari rumah calon istrinya. Ia melihat mamahnya murung lekas menghampiri," mah, kenapa murung? apakah Mamah masih ingat dengan apa yang dilakukan oleh Papah?" Iko duduk di samping Bu Ningrum.


"Mamah sama sekali tidak memikirkan pengkhianat seperti papahmu. Mamah sedang memikirkan adikmu," ucap Bu Ningrum.


"Memang apa yang telah dilakukan oleh Inu, mah?" tanya Iko penasaran.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya Bu Ningrum menceritakan apa yang tengah terjadi pada anak sulungnya. Iko pun akan mencoba menasehati adiknya," Mamah nggak usah khawatir, nanti aku akan mencoba menasehati Inu. Sekarang jangan banyak pikiran ya mah, karena aku tidak ingin mamah sakit. Karena hanya mamah yang aku punya di dunia ini. Papah sudah pergi entah kemana, dia hanya memikirkan kesenangan dirinya saja."


Iko begitu menyayangi Bu Ningrum, hingga ia tidak ingin melihat Mamahnya sedih apa lagi sampai jatuh sakit. Bu Ningrum sungguh terharu," terima kasih Iko, kamu selalu saja berhasil membuat hati Mamah sedikit lega. Kamu memang anak mamah yang sangat baik."


__ADS_2