PEMBALASAN QUEEN CASTELLANI

PEMBALASAN QUEEN CASTELLANI
24: Melarang Lapor Polisi


__ADS_3

Pak Boim dan rekannya memeriksa semua...walaupun mereka bergidik ngeri melihat kondisi mayit tersebut, mereka menahan gejolak yang ada didalam perut mereka sebentar lagi mau keluar, ketiga pelayan yang pingsan tadi sudah sadar tapi mereka masih gemetaran, mereka kembali membayangkan wajah mengerikan mayit itu.


"Ha...apa yang terjadi...tadi kalian lihat tidak, wajah mayit itu ngeri banget tahu saya saja melihatnya seram" ujar seorang pelayan.


"Iya saya juga melihat matanya melotot, terus wajahnya tersayat-sayat begitu ngeri banget tahu, siapa sih orang yang berani mengirim mayit ke tempat ini"


"Mana saya tahu, selama saya bekerja disini baru kali ini rumah ini mendapat teror begini, setelah Tuan meninggal tapi tidak tahu dimana mayitnya."


"Nyonya disini ada sebuah surat ada juga dompet, dan ada hp sepertinya ini punya orang ini apakah nyonya mengambilnya atau biarkan didalam saja." Tanya pak Boim.


"Sini semua barang-barang itu, biar saya saja yang menyimpan semuanya" ujar wanita parubaya itu. Karena didalam pikiran wanita parubaya itu bahwa dia baru selesai menhirim uang sebesar seratus juta sehingga dia bisa mengambil kembali.


"Terus bagaimana dengan mayit ini nyonya, apakah kita lapor polisi saja untuk menindak lanjuti kasus ini karena ini sudah kriminal nyonya. Selain pria ini dibunuh oleh pelaku mereka juga sudah mengirim mayit ini ke sini dan meneror nyonya dan keluarga sudah masuk dalam rana pidana, biar pelaku cepat di tangkap, dan mayit ini di kirim ke keluargannya istri dan anak-anaknya mereka juga berhak melihatnya untuk yang terakhir kali nyonya." Ujar pak Boim.


Perempuan parubaya itu belum menjawab apa-apa, tapi sekarang perempuan itu berpikir keras mengingat kejahatannya yang dulu, di satu sisi ada benarnya juga memang mayit itu seharusnya di makamkan dengan layak oleh leluarganya, biar keluarganya tahu jika salah satu anggota keluarganya sudah meninggal , dan lebih bagus jika pelaku di tangkap polisi dan di penjara, tapi disatu sisi lagi perempuan parubaya itu takut jika nanti polisi menyelidiki kematian atau pembunuhan terhadap pak Bandit pasti dia juga kena karena mereka itu komplotan, memikirkan itu saja perempuan parubaya itu sudah syok, apalagi benaran dia di penjara dia tidak akan sanggup bertahan hidup di penjara.


Surat yang di kirim oleh si peneror aja belum di baca dan isi dompet juga belum di periksan, karena wanita parubaya itu tidak mau nanti rahasia besarnya terbongkar akhirnya, wanita parubaya itu memutuskan untuk tidak perlu melapor ke polisi dan tidak perlu mengirim kembali mayit itu ke, keluarga dari jenaza itu.


Perempuan parubaya itu inisiatif untuk menguburkan jazad itu di lahan kosong di belakang rumahnya saja, kalau tidak sekarang berarti tengah malam karena takutnya ada yang melihat. Karena pak Boim melihat kebingungan nyonyanya sehingga pak Boim kembali bertanya.


"Bagaimana nyonya apakah kita lapor polisi saja untuk di serahkan ke pihak keluarga, atau bagaimana? Kareba tidak mungkin kita mendiamkan mayit ini disini bisa hancur nanti sekarang aja sudah begini baunya apalagi biarkan sampai besok lusa." tanya pak Boim sekali lagi.


"Tidak perlu lapor polisi, biarkan mayit ini di kubur saja di lahan kosong belakang, saya tidak mau ambil resiko dalam masalah ini, karena masalah ini bukan masalah kecil ini masalah sangat besar. Dari pada kita juga ikut terseret lebih baik kalian berempat kuburkan saja di lahan kosong belakang saja sebelum pak Tejo dan pak Mamang pulang, atau begini saja saya tambah bonus untuk pak Tejo dan pak Mamang tidak perlu pulang berjaga disini saja membantu pak Boim untuk membereskan Mayit ini tapi tunggu malam biar tidak ada yang melihat"


"Tapi nyonya, kenapa kita tidak lapor polisi nyawah nyonya dan keluarga nyonya juga dalam bahaya, karena saya yakin ada maksud dan tujuan orang ini mengirim mayit ini kesini, tidak mungkin tanpa sebab mereka mengirim" sambung pak Boim namun penjelasan pak Boin mengundang emosi wanita tua itu dan marah.

__ADS_1


"Saya nyonya dirumah ini, jadi saya yang berhak mengatur semuanya, kalian hanya ikuti saja jangan banyak protes dan untuk kamu pak Tejo dan pak Mamang...alasan apa yang kalian berdua berikan kepada saya soal masalah ini, kenapa kalian berdua kecolongan, memangnya kalian berdua lakukan apa saja tadi malam kok bisa-bisanya kecolongan tidak becus kalian bekerja. Kalian berdua di bayar untuk menjaga bukan tidur.


Karena pak Mamang dan pak Tejo emosi mendengar perkatasn perempuan tua itu sehingga mereka mau melawan tapi langsung di tahan oleh pak Boim dan rekannya.


"Sabar pak Tejo jangan terpancing emosi" ujar pak Boim.


Sekarang jelaskan orang itu datang jam berapa dan berikan ciri-cirinya" bentak wanita tua itu.


"Ampuni kami nyonya...kami tidak sadar setelah kami di bius padahal saya baru buka gerbang dan ada seseorang turun dari mobil hitam saya tidak lihat platnya tapi ada beberapa cctv di sini cobak kita cek semua.


"Marni......tolong ambilkan leptop saya di kamar, saya mau cek cctv di beberapa sudut, siapa yang bajingan yang sudah berani masuk kesini"


"Ya, Nya."


"Loh....loh....ini kenapa semua cctv ini rusak pak Tejo, pak Mamang, apa yang sudah kalian lakukan dengan semua cctv ini tidak ada satu pun yang aktif ha...sialan manusia bajingan siapa yang berani meretas semua ini tidak ada satu pun yang hidup" teriak perempuan tua itu.


Mereka semua terkejut karena semua kamera cctv tidak aktif, Queen sangat luar biasa hebatnya dia melakukan semua dengan tidak meninggalkan jejak sedikitpun.


"Ampun nyonya....saya sama Mamang sama sekali tidak tahu apa-apa....apalagi soal cctv yang rusak perasaan tadi malam semua cctv masih aktif semua." Ujar Tejo.


Brakkkkk.!


"Kalau memang semua cctv masih bagus kenapa ini, jawab dong siapa yang membuat ini sehingga tidak ada satu pun yang jadi, bagaimana kita bisa lihat pelaku sedangkan cctv aja tidak berguna, apalagi kalian berdua saya pecat karena kerja kalian tidak becus dasar." ujar perempuan tuan itu.


Padahal dari tadi pak Tejo dengan pak Mamamg sudah tenang sekarang mereka berdua justru kembali emosi mendengar perkataan perempuan tua itu.

__ADS_1


"Ok baik tidak masalah jika kami berdua di pecat, tapi kami minta bayar gaji kali dua kali lipat dari sebelumnya, kalau tidak saya akan laporkam kejadian ini ke polisi, saya tahu nyonya pasti melakukan hal keji makanya orang yang membenci nyonya ingin membalas dendam kepada nyonya makanya nyonya takut lapor polisi karena kalau lapor polisi nyonya pasti kena karena mereka akan menyelidiki nyonya juga...yuk pak Mamang kita pergi ada bukti di hap saya jadi kita serahkan ke polisi" ujar pak Tejo emosi.


Perempuan tua ibu membulatkan matanya dengan sempurna setelah dia mendengar perkataan pak Tejo, perempuan itu tidak percaya dengan perkataan pak Tejo perempuan itu pikir jika dia mengancam pak Tejo, mungkin pak Tejo minta maaf dan tidak marah tapi justru kebalikan.


Pak Tejo ngancam balik, semua isi rumah yang mendengar tertegun karena pak Tejo berani mengancam bosnya, lantaran mereka semua tahu jika pak Tejo sudah lama bekerja dengan nyonya-nya itu dan selama ini pak Tejo tidak lerna melawan apapun itu, tapi justru sekarang nyonya-nya berani memecatnya disitu pak Tejo juga tidak terimah dan kembali mengancam akan melaporkan nyonya-nya ke polisi.


"Oh....jadi sekarang kamu berani mengancam saya, dasar manusia rendahan punya kekuatan apa kamu sehingga kamu mau mengancam saya, silahkan saya tidak takut, kalau kamu berani siap-siap saja keluarga kamu dalam bahaya, saya tidak segan menghabisi orang yang sudah ikut campur dalam urusan saya"? Ujar perempuan tua itu.


"Nyonya mau menghabisi saya sama seperti anak tiri nyonya dan Tuan yang sudah nyonya habisi begitu kah, anda itu sangat jahat, saya sudah bilang saya dan Mamang tidak tahu apa-apa saat kami sadar sudah tidur lantai. Ayuk Mamang kita pergi." ujar Tejo.


"Ha....jangan sembarangan bicara ya kamu tahu apa tentang semua itu, kamu mau saya laporkan kamu ke polisi atas semua fitnah kamu terhadap saya nyonya kamu, hati-hati ya kalau bicara" ujar perempuan tua itu.


"Silahkan saya tidak takut" balas Tejo.


"Nyonya maaf sebelumnya. Saya juga mau berhenti dari kerjaan saya jika pak Tejo dan pak Mamang di pecat" ujar pak Boim.


"Saya juga mau"


"Saya juga "


Ternyata semua pengerja yang ada di kediaman perempuan itu semua mau berhenti bekerja dan mereka kembali menyerang perempuan tua itu hal itu membuat perempuan tua itu tertegun karena tidak percaya pada akhirnya pengerja-pengerja akan menyerangnya kembali.


Karena tidak mau jangan sampai tidak ada yang mau kerja lagi dengannya akhirnya perempuan tua itu mengalah dan mau kembali mempekerjakan pak Tejo dan pak Mamang.


Kira-kira pak Tejo dan pak Mamang masih mau tidak kerja dengan wanita tua itu dan bagaimana cerita selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2