Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Puing-Puing Kenangan


__ADS_3

Gemerlap bintang menampilkan cahaya sangat memukau malam ini. diiringi sinar temaram bulan sabit serta hembusan angin malam yang dapat menembus pori-pori.


Cuaca saat ini, dapat dirasakan dengan sentuhan angin malam yang menerpa wajah dengan sejuknya.


Seperti yang dirasakan dua sejoli ini, tengah menikmati suasana malam diluar rumah, duduk dengan beralasan rumput hijau ditemani beberapa makanan ringan.


"Bang, kenapa yah? bulan itu cuma sendiri, Sedangkan bintang banyak?" tanya si kecil pada sang abang yang terbilang cukup kepo.


"Bulan itu tidak sendiri, melainkan bintang-bintang itulah yang menemaninya. kamu juga tidak akan sendiri ada abang yang bersamamu, meski kamu jauh abang akan tetap mengawasimu dan menjagamu." Tutur sang abang.


Si kecil hanya mengangguk saja tanda mengerti. setelah itu suasana kembali hening.


"Dek, tahu tidak...?"


"Tidak bang" langsung memotong pembicaraan si abang.


"Belum selesai adeeek..." Gemes si abang sambil mencubit pipi gembil adeknya.


"Eh, he...he..., ya bang. lanjut!"


"Adek tahu tidak? Sebenarnya meskipun bintang itu banyak tapi dia akan tetap kesepian, loh" ujarnya menyambung perkataan yang sempat terpotong Sambil menengadah keatas.


"Kenapa bisa, bang?" tanya anak itu penasaran.


"Ya, bisa lah. bintang memang bersinar sama yang lain, tapi tidak akan indah dipandang jika tidak ada bulan yang mengiringinya. meski dia punya teman tapi tidak punya pasangan itu tidak singkron, layaknya manusia. itulah yang dirasakan bintang." Jelas sang abang.


"Abang janji yah, akan seperti bulan yang menemani bintang-bintang. begitu juga abang janji akan tetap menemani aku" tuturnya sambil menyematkan jari kelingkingnya kearah sang abang.


"Abang tidak janji akan seperti bulan, dan tidak akan mau juga!" Tegasnya sambil menatap lekat sang adik.


"Lah kenapa gitu bang?"tanyanya sambil menampilkan muka lesuh.


"Abang tidak mau seperti bulan, tapi maunya seperti matahari saja" sanggah sang abang.


"terserah Abang aja, deh" ucap nya pasrah sambil berbalik membelakangi sang abang.


"Abang maunya jadi matahari buat kamu, karna abang tidak mau datang hanya sementara, lalu saat dia ditunggu dia menghilang begitu saja. tapi, kalau matahari meskipun dia pergi, namun dia akan tetap kembali esok hari." Ucap sang abang sambil membalikan tubuh sang adik untuk menghadap ke arahnya, diiringi senyum khas milik nya.


Sang adik balas tersenyum sambil merentangkan tangan, serayah memeluk tubuh sang abang dengan bahagia.


"Non diba, bunganya sudah runduk kebawah tuh, kebanyakan di kasih minum air, sih" canda sang pembantu membuyarkan lamunanku.


"Eh" kagetku. lalu mematikan kran dan menaruh selang ketempatnya. aku menunduk melihat bunga yang sedang kusirami, kini telah membengkok kebawah karna ulahku barusan.


Putaran masa lalu kembali hadir menghantuiku, memori indah itu kembali datang mengingatkanku. tidak dapat dipungkiri, aku masih belum sepenuhnya melupakan dan melepaskan ingatan bayang-bayangan itu.


dulu ada sesorang yang berarti dalam hidupku, dia berjaji tidak akan pergi meninggalkanku. tapi, nyatanya dia pergi tanpa pamit dan meninggalkanku sendirian dalam masa-masa sulit.


"Mama kemana mbok?" tanyaku pada pembantu yang telah mengabdi selama sebelas tahun di sisiku. bahkan, sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.


"Nyonya sudah pergi dari subuh tadi, bersama tu..., em... suaminya" ucap bibi tergagap hampir salah ucap.


Kenapa bibi mengatakan 'Suaminya?' tidak mengatakan tuan saja? Kan dia suami mama? yang artinya dia papaku. tapi tidak demikian, aku sendiri yang melarangnya untuk tidak mengatakan tuan. aku sangat menentang bila suami mama itu dikatakan tuan, apa lagi ada yang memuja-muja didepanku, aku bisa murka.


"Kali ini Berapa lama?"


"kata Nyonya akan keluar kota selama tiga hari" jawabnya sambil menatapku iba.


"Hufff... selalu saja begitu. ya deh mbok, diba masuk dulu yah. mau mandi, gerah nih" ucapku sambil melangkah masuk kedalam rumah dengan langkah gontai.


begitulah keluargaku, selalu di sibukan dengan pekerjaan yang memusingkan yang berkepanjangan.


Itulah Aku adiba ara kaluna holdings. anak belasteran indo-Jepang. terlahir dari pasangan kenzo yamazaki holdings dan Azahra hanifah. Pemilik perusahaan ternama di jepang.


Yamazaki gold holding. Merupakan perusahaan teknologi yang berfokus pada pertumbuhan aset digital untuk perusahaan ritel, melalui arbitrase cryptocurrency jangka pendek dan menengah yang transparan di bursa utama dunia yg terkenal di seluruh dunia.


Tapi, kini perusahan itu bukan sumber kehidupanku lagi saat ini. yang biasa hasilnya selalu kuproleh untuk kebutuhanku dan mama, Kini telah lenyap bersama orang pengelolahnya. dan sekarang yang aku dapat hanya nama belakang yang tertinggalkan, tapi tidak dengan orang nya.

__ADS_1


Setelah kejadian memilukan itu menimpahku, aku menjadi gadis yang tertutup dan tidak banyak teman, hanya seorang sahabat yang selalu ada mengisi hari-hariku dengan setia.


tidak meninggalkanku meski aku dalam keadaan up and down. Aku sungguh menyayanginya, dia adalah orang terpenting yang pernah hadir dalam hidupku sekarang dan selamanya.


♤♤♤♤♤♤♤


"ADIBA ARA KALUNA HOLDINGS?!" Terdengar sebuah teriakan lantang tepat di samping telingahku dengan nyaring. sehiingga dapat menggerogoti telinga siapa saja yang mendengarnya.


"Hei, toa berjalan! jangan teriak bisa gak sih? Lagian udah berapa kali dibilangin kalau manggil itu tidak usah pake nama lengkap, bisa?" Kesalku sambil menoleh ke arah samping kanan, tepat dimana orang itu berada. kemudian kembali membalikkan tatapanku ke arah samping luar jendela dengan cuek.


"Hehe... maaf dib. kamu kenapa bengong terus sih? kesambet baru tahu rasa. lagian lagi liatin apaan sih?" Keponya sambil mengikuti arah pandanganku berada.


"Perasaan tidak ada siapa-siapa deh?" Cicit nya lagi.


"Emangnya siapa yang bilang ada orang disana?" Ucapku dongkol tanpa malepas pandangan, seolah ada hal yang menarik untuk diperhatikan.


"Huft..." terdengar sebuah hembusan nafas disebelahku. siapa lagi pelakunya? kalau bukan sahabat toaku. Silvia Hanindia.


Aku sering menyebutnya 'Toa berjalan' karna menurutku, kalau dia teriak itu menyerupai suara toa orang yang lagi melakukan aksi demo beramai-ramai. Sangat bising. tapi jangan salah, biarpun dia cempreng begitu, dia tetap teman satu-satunya disisiku.


"Eh, mau kemana dib?" Tanyanya saat melihatku membereskan semua barang di atas meja kedalam tas.


"Mau bolos. ikut?" Tiga kata yang aku lontarkan dari mulutku membuat dia memutar bola mata malas.


"Yasudah. aku keluar!" kujinjing tas kepundak lalu melangkahkan kaki kelur kelas, saat kudapati tak ada respon darinya.


Begitulah Aku, saat moodku sedang hancur aku akan nongkrong seorang diri di rooftop sekolah. Sekalian juga guru tidak masuk kelas, jadi kesempatan untuk mencari ketenangan.


Disinilah tempat ternyamanku, terhindar dari kebisingan dan kehebohan. tempat sepi dan senyap inilah, yang mampu melenyapakan rasa sedih dan emosi saat mendatangi.


terkadang, via sering ku ajak kemari jika ia sedang tidak banyak tugas, namun saat ini aku tidak bisa mengajaknya. karna ia lagi menyalin materi yang ketinggalan saat ia libur satu hari karna sakit.


Kurentangkan tangan sembari menikmati udara segar yang menerpa pori-pori wajah. Begitu sejuk udaranya, mampu menentramkan hatiku yg sedang gunda gulana ini.


tatapanku tertuju ke arah jalanan yang banyak kendaraan berlalu lalang, begitu indah di lihat dari atas, tampak terlihat menjulang beberapa bangunan yang terbentang luas di bawah sana.


"Ck, kalau orang ngomong itu dilihat, bukan dicuekin. orang ganteng begini malah dikacangin, dikira martabak kacang apa? Heran" Cerocosnya mengomeli.


'Ini anak keluar dari sarang mana sih? datang tiba-tiba, narsis sesukanya, terus ngomelin orang seenaknya, tidak kenal juga' batinku mengomentari. Perlahan tapi pasti aku membalikan badan kearahnya, dengan tatapan datar yang biasa kuberikan.


"Lah, ini hantu tembok apa manusia? kenapa mukanya datar-datar saja?" ucapnya lagi sambil menatapku menelisik dari atas sampai bawah.


Aku tetap mengacuhkannya, malah melangkah maju berlalu melewatinya. dia terus menatapku dengan aura penasaran.


"Itu manusia apa bukan yah? serem banget kelihatanya, mirip boneka anabel, yang gerak cuma matanya. Sudahlah! lupakan saja" monolognya panjang lebar, lalu pergi entah kemana aku tidak tahu tujuanya kemana.


Aku yang masih bersembunyi dibalik pintu masuk ruangan, jadi geram mendengar perkataannya saat dikatain sama dengan boneka, tapi mau bagaimana lagi dia suda lenyap bersama asapnya. Eh, emang dia jin? Entahlah bodo amat.


"Tumben cepat, Biasanya juga sebelum sekolah kosong kamu tidak akan kembali" tunding via saat aku memasuki kelas. Kulirik dia dengan lesuh sambil menaruh bobot tubuhku diatas bangku disebelahnya.


"Ada Jailangkung" jawabku seadanya.


"Hah, Kenapa bisa? dimana kamu melihatnya? serem tidak? biasanya juga tidak ada, kenapa bisa tiba-tiba ada?" Tanyanya beruntun. Nah suara toanya mulai mode on ini sepertinya.


Semua orang mulai melihat kearah kami. malas menanggapinya, Aku memilih menelungkupkan kepala beralasan tangan diatas meja. dia hanya mengeluarkan cengiran khas yang biasa ditampilkanya untuk mereka, lalu kembali menyambung kegiatan menulisnya.


■■■■■■


Di sebuah rumah sakit ternama, sebut saja Rumah sakit oisca hospital. terbaringlah seorang anak lelaki yang ditemani seorang anak gadis kecil, sedari tadi ia mengusap air mata yang jatuh terus menerus tanpa hentinya.


"Abang bangun! jangan tidur terus, ayo kita main seperti biasanya. abang pernah bilang tidak akan cuekin ara, apa lagi seperti ini, ara janji tidak akan nakalin abang lagi. ara akan turuti apa yang abang mau. sekarang bangun! liat ara disini! jangan tidur terus, ara jadi sepi tidak ada temen mainnya kalau abang diam terus seperti ini" anak usia delapan tahun itu, terus berbicara pada raga sang abang yang tidak berdaya itu.


meski tidak ada tanggapan yang dia dapatkan, namun setidaknya dia dapat mengeluarkan keluh kesahnya.


Sudah lima hari anak lelaki


itu koma tidak sadarkan diri, selama itu pula sang adik terus menangisinya tanpa lelah.

__ADS_1


" Tiitt... titt... tiitt..." tiba-tiba alat pendeteksi detak jantung berbunyi. Seiring dengan itu datanglah seseorang dengan terburu-buru memutar knop pintu, lalu menerobos masuk. baru juga lima langkah kakinya di ayunkan tiba tiba----


"Tiiiiiittttttttttt..." bunyi panjang Alat pendeteksi detak jantung terdengar, dan seketika berhenti.


"Kara" Teriaknyanya kencang, sambil berlari tanpa memperdulikan makanan barusan yang dia beli jatuh berhamburan kelantai dari tanganya. dengan langkah lebar iya terus berlari menuju ranjang pembaringan anaknya. dibarengi dengan itu, masuklah dua orang dokter dan suster untuk memeriksa.


"Maaf buk, anak ibu tidak dapat tertolong lagi. pasien yang bernama Krisnanda bagaskara daruna, dinyatakan meninggal dunia tepat pukul 9:20 pagi. Kami permisi dulu buk" Ucap suster berlalu diikuti dokter dari belakangnya.


"Tidak mungkin! kara-ku masih hidup! dia tidak mungkin pergi. ayo bangun nak! jangn tinggalin mama. JANGAN PERGIII...!!!" responya tak terima, sambil menggoyangkan tubuh sang anak yang sudah terbujur kaku tak bernyawa.


"Abang bangun! Jangan tinggalkan ara! ABANG JANGAN PERGII...!!!" Teriak si kecil di akhiri sesegukan.


□□□□□□□


"Dib, Diba. ADIBA ARA KALUNA!?" sebuah teriakan melengking, sayup-sayup memasukin indra pendengaranku, disertai sebuah goyangan di lengan kanananku.


Aku mulai mengerjap. mengumpulkan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, lalu menoleh ke asal suara, dan menelisik kesemua arah. Ini masih disekolah, aku ketiduran ternyata. entah sudah berapa lama, yang pasti semua penghuni kelas sudah kosong melompong.


"Masalah mimpi lagi yah?" tanyanya. aku mengangguk membenarkan.


"Hem... Sudahlah ayo pulang! kamu butuh istirahat" ajaknya sambil membawaku keluar pintu kelas. aku yang masih ada muka bantalnya, cuma bisa mengikuti akan dibawa kemana oleh via.


kami sudah berada diparkiran sekolah bergegas untuk pulang. aku mulai membuka pintu mobil milik via. namun, dari jauh netra ku ter-arah pada sekelompok anak lelaki yang sedang berjalan menuruni anak tangga gudang, di-dekat rooftop yang biasa aku kunjungi.


'Siapa mereka? Kenapa mereka disana? inikan sudah bukan waktunya pulang sekolah lagi? untuk apa aku memikirkan mereka, tidak penting juga. Tapi, kenapa aku merasa familiar sama salah satu dari mereka?' Batinku bertanya-tanya.


"Lagi liatin apa sih dib?" lontaran pertanyaan dari via, membuat aku menoleh ke-arahnya, hingga membuyarkan pikiranku pada sosok orang itu.


"Tidak ada" jawabku singkat sambil membuka pintu mobil, segera masuk lalu duduk disampingnya. mataku kembali tertuju ke-arah anak tangga gudang, namun sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana.


'kemana mereka perginya? Kenapa cepat sekali menghilangnya?' Pikirku membatin.


"Ada apa lagi sih dib?" Kembali terlontar pertanyaan darinya. aku menggeleng sebagai jawaban, Ia hanya mendengus menanggapinya, lalu segera menjalankan mobil


membelah jalanan.


☆☆☆☆☆☆


kini aku lagi berbaring di kasur Queen size kesayanganku, sambil menatap langit-langit kamar. sebenarnya tidak ada objek indah yang bisa dilihat disana.


namun, aku bisa mentapnya berlama-lama. entah apa yang membuat aku tetarik melihatnya, akupun tidak mengerti.


Di luar cuacanya sedang hujan, dibarengi hembusan angin yang bertiup kencang, sehingga membuat dedaunan beterbangan kemana-mana. pepohonan saling melambaikan tangan seakan saling bertegur sapa.


ranting-ranting saling bergesekan dan berdenyit-denyit tak karuan, hingga mengganggu pendengaran. namun, tidak ada ledakan guntur yang biasa saling bersahut-sahutan, sehingga membuat kita yang mendengarnya jadi ketakutan.


Sudah empat hari lamanya mama pergi keluar kota, selama itu juga mama tidak mengabari keadaannya. dulu, biasanya mama selalu menyempatkan waktu buat mengetahui keadaanku. bagaimana kabarku, apakah aku baik baik saja, atau ada keluh kesah yang selalu dia dengarkan.


Tapi kini sudah tak ada lagi obrolan ringan yang mama berikan, bahkan mengabari saja sudah tidak lagi ia lakukan. apa pekerjaannya lebih penting dari pada anak nya? Sebenarnya aku hanya butuh kasih sayang bukan kekayaan. entahlah mungkin ini cobaan yang harus kusabarkan.


Dulu saat seperti ini, selalu ada sosok yang akan menguatkan saat aku larut dalam kesedihan. Selalu jadi teman saat kesepian, selalu memberi kenyamanan dan kasih sayang untuk menggantikan orang tua saat sedang berpergian.


Tapi, kini tak bisa lagi kurasakan, karena sosok itu telah pergi. bahkah tak akan bisa kembali lagi, Semua menghilang begitu saja tanpa pamit untuk salam perpisahan.


papa yang dulunya selalu kubangga-banggakan, kini ikut meninggalkan. semua menghilang dari pandangan dan jangkauan tanpa bisa kuhentikan.


Dulu, biasanya mama yang salalu ada untukku setelah kepergian mereka, menjadi panutan dan peggangan saat aku dalam kesedihan. tapi, kini tidak ada lagi yang bisa kuharapkan, semuanya telah tenggelam bersama puing-puing kenangan.


Mama yang dulunya pengertian, yang dulunya selalu memberikan kenyamanan, kini tidak lagi ia berikan. Ia asik sibuk bekerja, hingga dia lupa ada seseorang yang juga membutuhkan kehadiranya, membutuhkan kasih sayangnya.


mama sudah mengabaikanku begitu saja, dia menyerahkan semua tanggung jawabnya ke pembantu rumah tangga. terlalu sibuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan seorang pangeran baru dalam hidupnya.


suami barunya yang membuat aku terkadang cemburu melihatnya, karna ia telah berhasil merebut mama dariku, makanya aku membencinya. menurutku, walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, Yang penting dia telah merebut mama. terutma perhatiannya padaku.


aku rindu mama yang dulu, aku rindu keluargaku yang utuh, dan aku merindukan semuanya.


Masalalu meninggalkan kenangang, hujan berlalu meninggalkan genangan~ Adiba Ara Kaluna

__ADS_1


__ADS_2