
"Kamu, kenapa bisa mengetahui aku berada disini?" Aku buka suara saat sudah sampai di parkiran.
"Mobil" jawabnya singkat.
"Iya aku tahu, aku membawa mobilmu dan kamu mengenali itu, tapikan tidak mungkin kamu bisa mengetahui keberadaanku membawa mobilmu kemana?" Balasku menahan kesal.
"Aku memasang GPS di mobilku, selain itu juga aku memasangnya di ponselmu" jawabnya dengan santai.
"Kamu melacak ponselku tanpa sepengetahuanku?" Tanyaku sambil menatap ke arahnya.
"Benar! Agar aku tahu dimana kamu berada" jawabnya.
"waktu kejadian dikantin aku bisa mengetahui moodmu lagi tidak bagus, itu karena aku mengendalikan ponselmu dari jarak jauh, sehingga aku menemukan pesan masuk yang mencoba mempersulitmu" kini dia mengungkap semua kebenaranya.
"Kamu bukan hanya melacak, tapi juga mengendalikan ponselku? dan kamu melihat semua isi di ponselku? bagaimana bisa kamu melakukan itu?" Tanyaku dengan mata membola tidak percaya dan juga kesal padanya.
"Apa kamu tidak tahu aku seorang programmer? dan lagi apa kamu lupa perusahaan ayahku itu bergerak di bidang programan?" Dia balik menatapku menunggu jawaban.
"Yang kamu lakukan itu tidak sopan, itu tidak seharusnya kamu lakukan! soal perusahaan ayahmu itu aku tidak terlalu mengikuti informasinya, jadi aku tidak tahu dibidang apa perusahaanmu beroprasi" jawabku mengomelinya.
"Maaf aku melakukan tindakan kesusilaan yang membuatmu terganggu, lain kali aku tidak mengulanginya lagi! tapi itu semua aku lakukan karena semata ingin melindungimu" dia meminta maaf padaku merasa bersalah.
"aku sempat mendengar pembicaraan murid dari kelasmu bahwasanya kamu diteror, setelah aku selidiki itu berkaitan denganku dan juga anak baru itu, disitu aku mulai mengawasimu" jelasnya padaku.
Aku jadi terbungkam tanpa kata, mendengar semua penjelasan-nya, dipikir-pikir dia ada benarnya juga tapi sebaliknya semua ini terjadi juga karenanya.
Membuat aku kesal memikirkan-nya, apalagi dengan cewek yang barusan mengancamku bahkan ingin meregang nyawaku.
"Lain kali kamu jangan mendekatiku lagi! menjauhlah dariku agar tidak ada lagi yang mencoba mencelakaiku karenamu" tundingku padanya.
"Bukan-nya mendapatkan terimakasih darimu, kamu malah menyuruhku menjauhimu? Apa kamu memang tidak memiliki hati nurani padaku yang lagi sakit tapi masih peduli padamu?" Sarkasnya padaku.
Aku tercekat tanpa kata telah melupakan bahwasanya dia lagi dalam keadaan sakit, tapi dia masih bela-belain menemuiku dan melindungiku, jika dia tidak datang mungkin aku sudah dihabisi oleh orang itu.
Di satu sisi aku ingin berterima kasih padanya tapi sebaliknya juga ini terjadi karena dia, aku jadi serba salah mau melakukan apa.
"Itu... apa kamu masih demam? Ayo aku antar pulang! tidak baik kamu berkeliaran di luar dalam kondisi sakit seperti ini" aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak menjawab pertanyaan-nya.
"Apa kamu peduli dengan kesehatanku sekarang? Bukan-nya tadi kamu menyuruhku menjauhimu? Lalu kenapa sekarang memperdulikanku?" Sarkasnya sambil menatap ke arahku dengan ekspresi tidak senang.
Aku kehabisan kata-kata dibuatnya, aku juga malu jika berterima kasih atau meminta maaf padanya.
"Sudahlah, ayo naik! biar aku mengantarmu pulang!" Aku kembali mengalihkan pembicaraan.
"Pergi saja! jangan hiraukan aku, aku bisa pulang sendiri" jawabnya ketus dengan ekspresi kesal, yang malah membuat mukanya jadi kelihatan menggemaskan.
Haish, dia seperti cewek saja kalau ngambek begini, aku jadi bingung harus membujuknya seperti apa.
"Sudah... sudah... jangan marah lagi, ayo naik! aku akan mengatarmu pulang, kalau ngambek terus kamu akan seperti cewek tidak jantan lagi" aku mencoba membujuknya agar dia mau masuk ke mobil.
BLAM
dia masuk ke mobil sambil membanting pintu dengan ekspresi muka kesal.
"Pakai seat beltnya! mukanya jangan ditekuk begitu, senyum!" perintahku padanya sambil menarik kedua pipinya dengan tanganku.
"Heum" dehemnya sambil menepis pelan tanganku, lalu memakai seat beltnya dengan cepat namun mukanya tetap di tekuk tidak bersemangat.
Aku segera menjalankan mobil tidak berbicara lagi.
"Lain kali kalau bertemu dengan cewek itu menjauhlah! Kalau dia mengusikmu lagi bilang padaku" ucapnya tiba-tiba memecahkan keheningan sambil melirik ke arahku.
"Heum, memangnya kenapa bisa sampai seposesif itu dia sama kamu?" Tanyaku sambil melirik ke arahnya sekilas.
Dia mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.
"Mungkin dia tidak bahagia sama cowok itu" jawabnya acuh tak acuh.
Aku tidak berani bertanya lebih lagi, itu urusan mereka yang tidak perlu kucampuri.
"Kamu tidak ingin melihat kondisinya? dan apa kita tidak perlu menjenguk satpam itu?" Tanyaku padanya
"Hanya luka dikaki apa yang perlu di khawatirkan, dia tidak akan mati juga.
Tidak perlu khawatir teman-temanku telah menanganinya" jawabnya santai.
"Tapi jika nanti dia melapor pada polisi bagaimana? kita akan ditangkap!" tuturku padanya.
"Tidak akan! Aku memiliki Cctv di sekitar gudang sebagai penguat, jika dia berani melapor mungkin dia yang pertama dipenjarakan, karena telah melakukan tindakan kriminal padamu dan satpam itu" tekadnya sambil melirik ke arahku.
Aku sungguh tidak habis pikir denganya, biasanya dia sangat menyebalkan dan tengil, kini bisa menjelma menjadi harimau buas yang suka menerkam dengan nyalang kepada lawanya.
Diperjalanan dia sempat bercerita tentang hubungan ketiganya waktu masih menginjak bangku SMP, saat itu mereka berteman berempat termasuk dia dan lelaki itu.
yang katanya cowo itu bernama Bayanaka jovinda, dan cewek itu namanya Monalisa Adista, jadi karena cewek itu yang paling cantik waktu SMP teman-temanya mengajakanya taruhan, termasuk cowok yang sekarang bersama mona itu.
Singkat cerita dia dipaksa ikut karena mereka berdua dulunya the most wanted boys di sekolah, dia hanya ikut-ikut saja.
Cewek itu awalnya dekat dulu dengan ziyad, namun dia menerima Bayanaka jovinda.
__ADS_1
Kemudian hadiah yang dijanjikan diberikan pada bayanaka, katanya juga mereka berpacaran sampai sekarang, hanya itu yang di ketahuinya karena saat ini dia sudah tidak berhubungan lagi dengan mereka.
Begitulah ceritanya padaku, aku hanya diam dan mendengarkan ceritanya saja.
Selang beberapa lama akhirnya kami sampailah di villa yang kemarin kami kunjungi, dia tidak ingin pulang ke rumah karena ingin menghirup udara segar dan ingin melihat pemandangan sejuk biar cepat pulih katanya.
"Ayo turun!" Titahku padanya.
Sekarang sudah mau menjelang magrib, dan aku masih memakai seragam sekolah.
"Apa kamu tidak bisa membantuku?" Ucapnya dari dalam mobil dengan muka tidak senang.
Aku yang sudah keluar mobil terpaksa mendekat ke arahnya dan membantu memapahnya kelaur dari dalam mobil.
"Merepotkan!" Tuturku sambil memapahnya masuk ke dalam villa.
"Selain aku merepotkan, apa lagi? menyebalkan, memusingkan, bertingkah, terus apa lagi?" Sarkasnya dengan muka tidak senang.
"Sudah... sudah... jangan dibahas lagi! " jawabku cepat, karena ketika dia sudah melontarkan kata-kata membuata aku kehabisan kata.
Setelah pintu villa dibuka oleh pengurus villa, aku meletak kan-nya di atas sofa lalu aku duduk di sebelahnya.
"Sekarang bagaimana? Aku tidak membawa baju ganti dan saat ini aku sudah gerah memakai seragam sekolah terus" tuturku padanya.
"Sebentar, aku panggilkan mbok dulu," jawabnya.
"Mbok... mbok... kemari sebentar! ziyad mau minta tolong." teriaknya dari ruang tamu.
Lalu dengan tergesa-gesa si mbok berjalan menghampiri ke arah kami.
"Mbok, bawa aluna ke ruang ganti biarkan dia memilih pakaian yang dia inginkan" titahnya pada pengurus villa itu.
"Siap! den, mari nona ikut saya!"
Lalu dia mengajak ku ke sebuah ruangan, yang di dalamnya terdapat banyak baju baik untuk cowok maupun cewek.
namun, hanya beberapa ukuran saja mungkin stok apabila keluarganya berkunjung ke villa ini, jadi tidak perlu lagi harus membawa baju ganti.
Aku memilih yang sesuai dengan ukuranku, aku menebak ini pasti stok baju adik perempuanya itu, namun semua masih ada label belum pernah tersentuh sama sekali.
Setelah mendapatkan-nya, aku di arahkan si mbok menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit aku telah selesai membersihkan diri, sholat mageib sebentar lalu segera menemuinya di ruang tamu, ternyata dia telah tertidur di atas sofa.
"Hei, bangun!" Aku membangunkan dia dari tidurnya.
"Eugh" dia sedikit menggeliat.
"Mbok... mbok..." panggilku pada mbok yang lagi memasak di dapur.
Mbok itu segera berlari kemari dengan tergesa-gesa.
"Ada apa nona?" Tanyanya sambil menatap ke arah ziyad.
"Ini... mbok bantu aku membawa ziyad ke kamarnya, dia demam badanya panas banget" tuturku pada mbok.
Lalu si mbok membantu memapahnya ke kamar yang katanya biasa ziyad tempati.
Setelah kami membaringkan-nya, aku menyuruh si mbok menyiapkan air sebaskom dan sarbet untuk mengompreskan-nya di kening ziyad.
Dia tertidur pulas tanpa terganggu saat aku terus mengganti air kompresan-nya.
"Mbok, apa sebaiknya kita menelephone bundanya ziyad untuk memberitahunya?" Tanyaku pada mbok meminta pendapat.
"Sebentar, mbok telephone dulu" ucapnya padaku, aku hanya mengangguk, dia segera menelephone bundanya ziyad.
Seteleh mbok memberitahu kondisinya ziyad, lalu mbok menyodorkan ponsel padaku.
"Nyonya mau ngomong katanya" beritahunya padaku.
"Hallo Assalamu'alaikum tante" ucapku menyapa bundanya ziyad.
"Wa'alaikum salam, Adiba bunda minta tolong sama kamu bantu jagain ziyad yah? Soalnya bunda lagi diluar kota tidak bisa pulang, dia memang sudah dua hari ini sakit jadi bunda titip ziyad sama kamu yah?" Ucapnya Panjang lebar.
"Iya tante, saya akan menjaga ziyad selama tante diluar kota" jawabku padanya.
"Panggil aja bunda biar lebih akrab" tutur bundanya ziyad dari seberang.
"Eum... iya bun adiba akan merawat ziyad" putusku menyanggupi permintaan bundanya ziyad.
"Terimaksih Adiba, bunda tutup dulu yah soalnya lagi ada urusan, bunda percayakan ziyad padamu, Assalamu'alaikum" pamitnya segera mengakhiri panggilan.
"Iya bun, wa'alaikum salam" jawabku.
Aku tidak bisa ngomong apa-apa lagi kalau sudah begini, hanya bisa menyanggupinya saja.
"Aku sudah berapa lama tertidur?" Tuturnya mulai membuka mata.
"Sekitaran 4 jam" jawbaku.
__ADS_1
Lalu dia duduk di sandaran ranjang dengan bantal di belakangnya.
"Apa kamu mau makan?" Tanyaku padanya.
Dia menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
"Makanlah! walau sedikit, setelah itu minum obat" ucapku sambil menatap ke arahnya.
Lalu datanglah si mbok memabawa bubur pangsit kesukaan-nya.
"Ayo buka mulutnya!" aku berinisiatif menyuapinya agar dia tidak terus mengataiku tidak berhati nurani.
Dia segera membuka mulut menerima setiap suapan bubur yang ku berikan.
"Sudah, aku sudah kenyang" tolaknya sambil menghindari sendok yang ingin ku arahkan ke mulutnya.
Aku tidak memaksanya lagi, telah ludes setengah mangkok bubur itu sudah cukup, lalu aku memberinya air dan obat untuk diminum.
"Tadi aku telah menelephone bundamu dan katanya dia lagi diluar kota, dan dia menitipkanmu padaku jadi terpaksa aku harus menjagamu malam ini" tuturku padanya.
"Jadi terpaksa, nih?" Tuturnya sambil menatap tidak senang ke arahku.
"Terpaksa atau tidaknya kamu bisa merasakan nya sendiri aku mengurusmu seperti apa." Jawabku dengan malas.
"Sudah, istirahatlah! aku akan mengantar mangkoknya dulu" ucapku padanya.
"Tidak usah diantar lagi, suruh mbok saja" tuturnya dengan manja berusaha menahan tanganku.
TING
tiba-tiba ponselkh berbunyi menandakan pesan masuk.
[ Kamu dimana? Kenapa tidak pulang?]
Bunyi pesan itu dari shankara.
[ Aku menginap di tempat Via soalnya dia sendirian di rumah, bilangin pada mamaku aku tidak pulang malam ini]
Balasku padanya dengan berbohong, aku tidak bisa mengatakan padanya yang sesungguhnya, karena dia akan berseteru lagi dengan ziyad seperti waktu itu disekolah.
[ Baiklah, jaga dirimu baik-baik]
Balasnya dari sana.
[Tentu]
Balasku singkat, lalu segera memasukan kembali ponselku ke dalam saku.
"Siapa?" Tanya ziyad dengan tatapan menyelidiki.
"Mama, menanyakan aku dimana? dan menagapa aku tidak pulang malam ini" aku langsung menjelaskan padanya agar dia tidak banyak tanya lagi.
Dia hanya mengangguk tanda mengerti.
"Bagaiamana sekarang keadaanmu? apa sudah baikan?" Tanyaku padanya sambil menyentuh keningnya, sepertinya panasnya sudah mulai menuurun, tidak sepanas tadi.
Aku dan mbok memutuskan mengompreskan baby fever di kepalanya biar cepat turun panasnya, dan benar sekarang suhu panas di tubuhnya sudah jauh lebih turun.
"Sudah lebih baik, tadi pas aku lagi tidur ada dokter kemari, yah?" Tanyanya padaku.
"Iya, kamu sudah diperiksa dan diberi obat, katanya kepalamu dikompres terus biar cepat turun panasnya, jadi kamu di kasih baby fever aja." jelasku padanya.
Dia hanya diam mendengarkan penuturanku.
"Sekarang sudah jam 11 ayo tidur!" titahku padanya sambil menyelimutinya.
"Ayo! aku akan patuh, tidak akan mengganggumu. baring disini!" Ucapnya dengan Semangat sambil menepuk-nepuk kasur disebelahnya.
"Apa yang kamu pikirkan aku akan tidur di sofa" jawabku sambil naik ke atas tempat tidur membawa bantal dan selimut.
"Tidak usah tidur disofa, mending kamu disini aja, soalnya kalau aku lagi sakit biasanya aku suka ngingau" alasanya untuk menahanku.
"Aku tidak jauh, hanya berjarak beberapa meter saja apa yang perlu di khawatirkan?" Aku tetap kekeh ingin tidur di sofa.
"Kamu disini saja biar bisa mengusap-usap rambutku, biasanya kalau aku sakit bunda yang akan melakukan-nya, karena bunda menitipkan aku padamu jadi kamu yang harus melakukan-nya" tuturnya mencari alasan lain agar aku luluh.
Aku teringat dengan omongan bundanya ziyad, bahwa dia menitipkanya padaku jadi aku mengalah lagi padanya kali ini.
Aku duduk menyandar pada sandaran ranjang, lalu mengusap-usap kepala si muka tebal.
"Jangan memeluk ku seperti ini, kamu perbaiki lah letak tidurmu!" tuturku padanya.
"Kalau aku sakit, aku juga akan memeluk bunda seperti ini" dia terus membaw-bawa bundanya agar aku mau menurutinya.
Aku hanya menghembuskan napas panjang melihat tingkahnya, dia memeluk pinggangku dengan erat dalam keadaan aku duduk menyender di kepala ranjang, sambil mengusap-usap kepalanya dengan pelan.
Setelah itu aku pun ikut tertidur karena malam sudah semakin larut.
Kamu kelewatan tapi yang kamu lakukan untuk menyelamatkan, ingin memaki tapi kamu berniat melindungi~ Adiba ara kaluna.
__ADS_1
Tbc❤
terimaksih sudah mau mampir...😘