Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Menemuinya


__ADS_3

Jam pelajaran telah selesai sedari tadi, dan sekarang sekolah sudah terlihat sangat sepi, seperti yang di sepakati dengan orang itu, aku akan bertemu dengannya di samping gudang sekolah.


Aku berniat tidak membalas pesan itu dan memilih untuk mengabaikan-nya, namun jika begitu tersangka tidak akan mau menampakan batang hidungnya, lebih baik menemuinya dan lihat siapa orangnya dan apa tujuanya, jadi aku memilih menyetujui bertemu dengan-nya.


Aku berjalan menuju samping gudang, saat ini aku berada di lantai 3 lagi menunggu si pengirim pesan kemarin di sekolah.


"Maaf, aku terlambat. Kamu tidak keberatan kan, menungguku dengan lama?" Terdengar sebuah suara dari belakang dengan gaya arrogant.


Aku berbalik badan menatap ke arah sumber suara, terlihat cewek berpakaian long coat kulit/mantel kulit berwarna hitam, celana ketat hitam dan sepatu boots panjang, serta memakai topeng.


"Tidak masalah, sekarang katakan kebenaran-nya dan siapa orangnya?" lontarku langsung ke intinya.


Karena dulu aku masih terlalu kecil maka aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi, setelah mendengar pesan dari wanita ini aku mengetahui satu hal bahwa abangku meninggal karena perbuatan seseorang.


"jangan terburu-buru, kita masih punya banyak waktu" jawabnya santai.


"Kamu punya banyak waktu, tapi aku tidak!" jawabku cepat.


"Baiklah...baiklah... aku tidak akan bertele-tele lagi, tapi aku ingin menanyakan sesuatu padamu!" ucapnya berbelit-belit.


"Katakan!"


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan ziyad kawindra?" Lontaran pertanyaan yang ia berikan ingin membuatku tertawa.


"Apa begitu penting aku memberi tahumu?" Tantangku ingin melihat reaksinya.


"Tidak masalah jika kamu tidak memberi tahu, aku akan mencari tahunya sendiri" jawabnya tidak mau kalah.


"Tapi sayang sekali kamu akan kecewa dengan hasilnya, jika kamu mencari tahu juga" balasku santai dan mencibir.


"Kenapa aku bisa kecewa?"tanyanya sambil menatapku dengan instens dari balik topeng.


"Karena kami tidak mempunyai hubungan apa-apa, sayang sekali..." ucapku dengan tersenyum mengejek, sambil membuka kedua telapak tangan menengadah ke atas.


"bohong! jika kalian tidak ada hubungan apa-apa dia tidak akan sedekat itu denganmu!" Aku tidak dapat melihat ekspresinya karena tertutup topeng, tapi dari nada bicaranya dia mulai terpancing emosi.


"Tapi aku merasa tidak sedekat itu dengannya, malah terlihat biasa saja" jawabku masih terlihat santai.


"Kamu jangan coba-coba mendekatinya lagi, jika tidak kamu akan tahu akibatnya!" Ancamnya padaku.


"Kita lihat saja siapa yang mendekati, dan siapa yang di dekati" jawabku santai dengan senyum menyeringai.


"Trik apa yang kamu mainkan untuk menggodanya Wahai perempuan j*lang? Ucapnya menghujat.


"Kita lihat saja siapa j*lang yang sebenarnya" tantangku dengan ekspresi dingin.


"Kamu berani denganku?"


"Oh, aku sangat takut saat ini" Ucapku dengan nada mengejek.


"Kamu dasar perempuan m*rahan!" Makinya sambil berusaha meraih rambutku untuk menjambak.

__ADS_1


Aku mundur ke belakang menghindari seranganya.


"Aku tidak punya banyak waktu melayani kegilaanmu, cepat katakan apa yang ingin kita bicarakan!" desak ku malas meladeninya.


"Ow, kamu sangat ingin mengetahuinya, bukan? Lalu apa kamu tidak penasaran siapa aku? dan apa kamu tidak takut kalau aku membohongimu?" Ucapnya mencoba memprovokasiku.


"Tidak terlalu ingin mengetahui, namun kalau kamu ingin memberitahu, aku juga tidak bisa menolak untuk menjaga harga dirimu" ejek ku dengan suara dibuat- buat.


"Kamu..." dia kehabisan kata-kata.


"Kamu akan menyesal telah berani menantangku, Keluarlah! targetnya sudah disini" ucapnya sambil melirik ke arah tembok di samping gudang.


Tiba tiba 3 orang pria bertubuh kekar, keluar dari balik tembok samping.


"Kamu begitu mudah di bodohi, aku hanya mencari masa lalumu untuk mencoba memancingmu bertemu denganku, dan kamu menerima tawaranku? dasar wanita bodoh!" makinya dengan nada bicara bangga.


"Kita lihat siapa yang paling bodoh, apa lagi membawa orang seperti ini, kelihatan tidak bisa mengandalkan diri sendiri" tantangku dengan ekspresi mengejek ke arahnya.


"Cepat lakukan! apa lagi yang kalian tunggu!" hardiknya pada preman bayaranya.


Aku menatap nyalang ke arah mereka, sambil memasang kuda-kuda bersiap-siap jika di serang.


Swus


Aku berusaha menghindar dari serangan 3 orang pria itu dengan gesit, terkadang melakukan gerakan melompat, menangkis, menendang, dan menyerang.


Bag


Krak


Aku berusaha melumpuhkan lawan dengan menendang tulang kering, mematahkan tangan mereka kebelakang, menendang perut, bahkan menendang muka hingga mengeluarkan darah dari mulut mereka.


Mereka Semua jatuh terbengkalai, dengan napas ngos-ngosan dan memegangi perut menahan rasa sakit.


"Apa cuma segini kemampuan orangmu? nona bertopeng yang arrogant?" Sarkasku pada orang itu.


"Bangun...! Kalian sungguh tidak berguna! "Hardiknya marah, sambil menendang mereka yang sudah terkapar di lantai.


"Mereka bukannya tidak berguna, tapi kamu yang terlalu memaksakan keadaan" ejek ku padanya.


"Kamu jangan senang dulu! ini belum berakhir!" ucapnya marah sambil menatap ke arahku dengan nyalang.


"Aku tunggu kelanjutanya" tantangku dengan santai.


Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah pistol dari kantong mantel kulitnya, dengan tersenyum menyeringai dia menatapku dengan sorot mata tajam dari balik topeng.


Aku tidak menyangka dia akan berbuat sedemikian rupa, selain bela diri yang aku kuasai, yang lainnya tidak terlalu begitu bisa aku kendalikan.


Dor


Sebuah tembakan melesat dari samping tubuhku mengenai dinding, karena aku menghindar jadi tidak tepat sasaran.

__ADS_1


Aku sedikit panik, namun raut mukaku tetap setabil, dan berusaha memutar otak mencari jalan keluar.


Saat fokusku tertuju pada tembakan pistolnya, aku tidak menyadari ternyata salah satu dari preman itu, masih bisa bangkit dan berusaha mencengkram pergelangan tanganku dan menguncinya kebelakang.


"Ha...ha...ha... sekarang lihat siapa paling hebat yang sesungguhnya?" bangganya dengan tertawa devil.


"Kamu memang iblis yang tidak masuk akal! jika kamu tidak memberitahuku siapa dalang dari kematian abangku, aku akan menangkapanya dengan tanganku sendiri!" Tekadku dengan muka dingin mengeluarkan aurah membunuh.


Orang itu terus mengunci pergelangan tanganku dengan erat, karena kesal aku membalikan keadaan menjadi menangkap kedua tangan-nya, lalu membantingnya dengan sekuat tenaga kelantai.


"Jangan melewati batas kesabaranku! jika kita bertemu karena membahas masalah abangku cepat katakan! Jika itu masalah cowok jangan libatkan aku, aku tidak ingin mendengarkan!" Tekanku dengan muka memerah seakan ingin mengeluarkan darah.


"Sudah kukatakan aku berbohong tentang masalah abangmu! yang ingin aku bicarakan jangan dekati ziyad lagi! dia itu hanya milik ku!" Teriaknya garang.


Aku terbengong seperti orang bodoh saat mendengar kata-katanya, memangnya aku yang mendekati si muka tebal? Apa dia tidak bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya?harusnya dia percaya diri saja kalau si muka tebal itu suka padanya, bukan rasa ketakutan tersaingi seperti ini.


Dia melangkah maju ke arahku, dengan mengarahkan pistol padaku.


Sepertinya orang ini sudah gila karena prasaan, apa sebegitu ngerinya saat orang sedang terobsesi dengan cinta? Aku tidak habis pikir dengan pikiran orang-orang saat menyukai tapi sangat ingin memilki seperti ini.


Hap


Karena sibuk dengan pikiranku, tidak sadar jika saat ini dia telah sampai di sampingku, sekarang dia sedang membelenggu leherku dengan satu tangan dan mengarahkan pistol di kepalaku dengan tangan lainya.


"Kamu masih berani melawanku?" Tanyanya menatapku dari samping.


"Sebaiknya kamu jangan macam-macam padaku! apa kamu tidak takut jika kamu membunuhku disini akan ketahuan?" Aku mencoba mengulur waktu untuk mencari jalan keluar.


karena saat ini sainganku itu pistol bukan tenaga, jadi aku harus lebih berhati-hati.


"Saat sudah genting seperti ini kamu masih mau berasalan?" Ucapnya mencemoohku.


"Apa kamu tidak melihat di sini ada CCTV? lagian sebentar lagi juga satpam akan kemari memeriksa setiap ruangan asal kamu tahu" tekanku tidak mau kalah.


"Kamu itu hanya menakut-nakutiku saja, buktikan jika omonganmu itu benar!" dia mencoba tenang sambil melihat kiri-kanan memastikan tidak ada orang.


Semua anak buahnya sudah terkapar tidak sadarkan diri karena di tumbangkan olehku, jadi hanya tinggal kami berdua yang terus berseteru.


"Diujung pojok sana ada CCTV yang menyala, dan lagi setahuku setiap sore satpam biasanya akan memeriksa setiap ruangan disini" jelasku padanya.


Dia mulai teralihkan melihat ke arah yang ku tunjuk, disitu aku berusaha merebut pistolnya, namun dia langsung sadar dan berusaha mempertahankan, akhirnya kami jadi rebutan saling tarik menarik.


Dor


Tiba-tiba tanpa sadar salah satu dari kami telah menarik pelatuknya, hingga mengenai seseorang.


Membuat kami semua terdiam mematung, memandangi orang yang sudah jatuh terjerembab dilantai.


Cinta itu satu rasa yang dimiliki oleh dua orang, bukan beda rasa dan bersifat memaksa~ Adiba ara kaluna


Tbc❤

__ADS_1


Tunggu kelanjutanya yah...


__ADS_2