
Apakah aku sedang bermimipi? orang yang datang duluan membantu kami bukan orang yang diharapakan atau yang ditunggu-tunggu, namun mereka nyatanya datang untuk membantu kami, bahkan mereka tidak takut jika nyawa mereka akan melayang jika terkena oleh peluru.
Aku sedikit membuka kaca jendela mobil untuk memastikan apakah itu benar mereka?
"Mona? Bayanaka? Bagaimana bisa kalian mengetahui kami berada disini?" Lontarku dengan mata membola seakan tidak percaya dengan apa yang barusan kulihat.
"Fokuslah pada lawan terlebih dahulu saat ini sedang genting-gentingnya, jika ada pistol disitu bantulah kami untuk menyerang" Ucap cepat bayanaka padaku lalu kembali mengarahkan tembak kan pada lawan.
Yah, yang datang untuk membantu kami itu bayanaka dan dan mona, mona yang menjadi driver dan bayanaka yang jadi shooternya.
Aku tersenyum melihat ke arah mereka, mona mengendara dengan lihainya sedangkan bayanaka menembak dengan gesitnya.
"Shankara apa kita mempunyai pistol dimobil?" Tuturku pada shankara dengan semangat.
"Hah, kamu meminta pistol? Apa kamu bisa?" Jawab shankara menatapku dengan bingung Meragukan kemampuanku.
"Yah, bi... bisa" jawabku terbata karena memang aku juga meragukan kemampuanku, tapi aku ingin mencobanya.
Aku pernah simulasi dalam bermain game meskipun itu tidak sama, namun aku ingin mencoba secara langsung dengan musuh yang nyata.
Aku pertama kali memegang pistol waktu digudang berkelahi dengan mona, semenjak saat itu aku mulai mempelajari cara menggunakan dan memegangnya, meskipun aku tidak sehebat dan sesantai mona saat menggunakan nya tapi setidaknya aku tidak setakut waktu itu jika memegangnya.
"Ambil saja di laci mobil, tetapi jika kamu tidak bisa menggunakan nya jangan memaksakan karena itu sangat berbahaya" peringat shankara padaku.
Aku segera membuka laci mobil dan mengambilnya, namun aku bingung karena terlalu banyak pistol disana bukan hanya ada satu, aku terpaku menatap pada pistol-pistol itu.
"Ambil saja salah satunya, tidak usah kaget begitu orang seperti aku perlu ada barang yang seperti itu" tutur shankara padaku.
"Ambil yang disebelah kanan itu tidak terlalu berbahaya" ucapnya lagi memberitahuku sambil terus menatao jalanan dengan fokus.
Aku mengikuti perkataan shankara, meski dalam hati aku bertanya-tanya apa maksud dari perkataan nya itu? dan untuk apa dia menyimpan banyak sekali pistol? ditambah lagi saat ini kami sedang diburu oleh sekelompok orang seperti ini.
Aku jadi menaruh curiga pada shankara, namun kini bukan waktunya untuk aku mengintrogasinya karena saat ini belum bisa aku melakukan itu.
Aku membuka sedikit kaca jendela mobil membantu bayanaka untuk membidik lawan.
Meski tidak sama dengan penembak profesional, tapi setidaknya aku bisa membantu disaat-saat terdesak seperti ini.
__ADS_1
Aku terus menarik pelatuk menghantam mobil-mobil mewah itu, dan akan menghindar jika sasaran tembakan mulai ke arahku.
Disini tidak masalah dengan mobilnya, karena kedua mobil yang kami kendarai semuanya anti peluru, namun yang harus dihindari adalah ban mobilnya jangan sampai jadi sasaran, karena itu yang akan membuat kami bisa tertangkap oleh mereka jika tertembak.
SWUSH
BRUM
NGUNG
Suara ban mobil terdengar bergesakan dengan aspal, kuda besi yang kami kendarai saling berkejar-kejaran, ditambah dengan suara temabakan yang terus bersahut-sahutan tiada henti, membuat siapa yang ada disekitaran jalanan lari untuk mengamanakan diri.
Kami terus meluncurkan tembakan dan saling menyerang, untuk mempertahankan benteng pertahanan.
TUP
TUSSS...
Hingga terdengar suara ban kempes, dan mobil kami sedikit demi sedikit mulai melambat.
Hingga akhirnya mobil kami berhenti total, yang hampir saja menabrak batu besar disekitar jalanan perdesaan, untung saja shankara berhasil mengerem dengan sempurna.
"Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya shankara melihat ke arahku dengan khawatir.
"Seperti yang kamu lihat! Sekarang kita harus bagaimana? Jumlah mereka terlalu banyak sedangkan kita hanya berempat, apalagi temanmu belum juga datang sampai sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Lontaran pertanya aku layangkan pada shankara dengan beruntun.
DUK... DUK... DUK
Tiba-tiba terdengar suara kaca mobil di ketuk dengan keras, membuat kami berdua menoleh bersamaan kesumber suara.
"Kamu tenang dulu aku akan mencari jalan keluarnya" tutur shankara sambil terus mencoba menghubungi teman nya namun tidak dapat dihubungi juga.
"Hei, kekuar...!!!" Terdengar teriakan dari luar dengan garangnya.
Mobil yang dikendara mona dan bayanaka juga telah berhenti, namun sedikit jauh di depan.
"Aku akan keluar, kamu tunggu saja di dalam mobil" Usul shankara memutuskan untuk menemui mereka.
__ADS_1
"Jangan! kamu saja tidak begitu mahir dalam bela diri, mau bagaimana kamu menghadapi mereka? menyerang dengan pistol? mereka juga punya, apalagi dengan jumlah mereka yang sedikit banyak dari kita" tuturku pada shankara menyadarkan nya atas kemampuan nya dalam bela diri.
"Lalu kita harus bagaimana? Tidak ada jalan lain selain aku menemui mereka, jika tidak mereka akan terus mencari kita lebih baik kita hadapi mereka saja saat ini, kita sudah tidak dapat lagi untuk menghindar" tutur shankara ingin menyerahkan diri.
"Ayo kita hadapi bersama!" ucapku sambil membuka pintu mobil turun terlebih dahulu dari shankara.
Saat kakiku baru saja menapak aspal jalanan, langsung disambut dengan sebuah pistol yang diarahkan padaku.
"Kalian mencari siapa?" Aku mencoba menghadapinya dengan santai.
"Kamu terlalu berani ternyata? sungguh mengagumkan!" ucap salah satu dari mereka dengan senyum mengejek, sambil tangan bersedekap dada terlihat angkuh dan arrogant.
"Mengapa tidak? Selagi aku tidak berbuat kesalahan dan merugikan orang lain mengapa aku harus takut?" Tantangku pada mereka.
"Tidak merugikan? Yang benar saja! Meskipun bukan kamu, namun kamu termasuk dalam generasinya" dia berbica ambigu yang membuat aku bingung.
"Serangg...!!!" Perintahnya pada sekelompok orang itu yang kutebak mungkin bawahan nya.
Aku menerima serangan mereka dengan sedikit kewalahan, namun akhirnya datanglah mona dan bayanaka untuk membantu, shankara sepertinya sedang menghubungi seseorang untuk memintai bantuan.
Kami terus melakukan perkelahian 3 lawan 12 orang, sehingga membuat kami kewalahan dengan jumlah yang tidak sebanding.
Akhirnya shankara selesai juga melakukan panggilan dengan orang itu, dan turut bergabung membantu kami.
Mona dan shankara beberapa kali terpental jatuh karena serangan dari pihak lawan yang terlalu kuat, aku dapat menahan serangan mereka karena bisa bela diri, sedangkan bayanaka dia terlihat jago menagkis serangan sepertinya dia pintar juga bela diri.
Terlihat mona dan shankara telah jatuh terkapar, tinggal aku dan bayanaka yang masih melawan mereka, namun karena tidak hati-hati bayanaka terkena pukulan diperut membuat dia jatuh terpelanting, kini tinggal aku seorang diri yang menghadapi mereka.
Tidak tahu Karena kelelahan atau tidak hati-hati aku mendapat pukulan di bagian belakang, sehingga semuanya terasa gelap dan tubuhku melayang tiba-tiba.
Sayup-sayup aku mendengar teriakan shankara meneriaki namaku, serta terdengar suara mona dan bayanaka yang juga ikut memanggil dan mengumpat sekelompok orang-orang itu, sehingga akhirnya semuanya mengelap dan tidak kurasakan apa-apa lagi.
Kamu tidak tahu apa-apa tapi kamu yang terkena imbasnya, sesungguhnya dendam itu tidak melihat siapa pelaku dan siapa penjahatnya dia akan melibas siapa saja ~Adiba ara kaluna
Tbc❤
Terimakasih sudah mampir dicerita aku, salam manis dari saya...😘
__ADS_1