
"Kamu sudah bangun sayang?" sapa mama saat aku sedang menuruni anak tangga bersiap kesekolah.
"Sudah" jawabku singkat sambil mencomot roti memasuk kan kemulut.
Semalam aku tidur sangat nyenyak, mungkin karena capek seharian membersihkan ruangan lab bersama si muka tebal.
Ngomong-ngomong soal simuka tebal semalam dia yang mengantarku pulang kerumah, kami baru bisa keluar dari ruang lab saat satpam kembali di malam hari memeriksa ruangan.
"Mama mau ngomong sesuatu sama kamu, adiba!" Ucap mama.
"Tinggal ngomong apa susahnya? lagian mama bukan mau minta saran, tapi minta di dengarkan" sindirku.
"Yang sopan adiba! mama cuma mau bilang adikmu, anaknya ayah akan tinggal dirumah ini!" ucapnya tegas, seakan tidak bisa dibantah. lalu beranjak pergi tanpa mendengar pendapat dariku dulu. aku terdiam tanpa kata.
"Jika kamu keberatan, adikmu tidak perlu tinggal disini. maaf sayang, ayah telah merepotkan, ayah akan bicara pada mamamu biar adikmu tinggal di apartemen saja " ucap seseorang tiba-tiba muncul.
"Aku tidak punya adik! dan untuk anakmu biarkan dia tinggal disini agar mamaku puas, dan lagi kamu tidak perlu merasa akrab denganku!" tegasku sambil beranjak berdiri lalu pergi. orang itu terdiam tanpa kata.
"Bagaimana hari-harimu tanpa aku sayang, apa kamu happy?" tanya via saat aku sudah sampai di sekolah sambil merangkul pundaku.
Hari ini dia telah kembali kesekolah, dengan mendapatkan juara pertama dari perwakilan pemain bulu tangkis putri.
"Suram" jawabku singkat.
"Kenapa bisa?" Tanyanya.
"Aku terkenak teror, terus banyak hal lain yang terjadi" jawabku sekenannya.
"Maaf dib, aku tidak ada saat kamu butuh"ucapnya merasa bersalah.
"Bodoh! Kamu tidak akan bisa jadi pengawalku sepanjang waktu, yang ada malah aku yang repot jagain kamu" protesku sambil mendelik kearahnya.
"He... he... he... kamu terlalu terus terang adiba, bisa tidak? Jangan membuatku malu?" gregetnya sambil menagkup kedua pipiku, lalu di tekannya hingga bibirku memonyong seperti moncong lele.
"Aluna!" Teriak seseorang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Hah! aluna? Kalian sedekat itu?" Tanya via heran.
"Tidak seperti yang kamu pikirkan" jawabku singkat lalu menatap si muka tebal.
"Itu... aku ingin mengatakan soal informasi dari kepolisian, mereka mengatakan jika orang-orang itu melakukannya karena suruhan seseorang" beritahunya sambil menatapku.
"Adiba apa yang terjadi?" Tanya via cepat.
"Nanti aku jelaskan, terus apa orang itu sudah ditemukan?" Tanyaku pada pria itu.
"Tidak! orang suruhan itu tidak mau mengatakannya. sebaiknya kamu harus berhati-hati kedepannya" peringatnya padaku
"Aku tahu" jawabku sambil memikirkan sesuatu.
"Ara!" Teriak sesorang lagi datang.
"Dib, kamu berhutang penjelasan padaku!" desak via ingin tahu, Sambil menatap dua orang itu bergantian.
"Kemarin kenapa kamu tidak masuk sekolah? kamu tidak terluka kan, waktu itu?" Introgasinya sambil mengitari tubuhku memeriksa kondisi.
"Aku tidak selemah itu" jawabku datar.
"Baguslah, lalu kemarin kamu pergi kemana sampai tidak sekolah?" tanyanya lagi. aku melirik ke arah si muka tebal sekilas lalu mengalihkan pandangan.
"Yang pasti aku ada disekolah, cuma tidak masuk kelas saja" jawabku tanpa menjelaskan sambil melangkah pergi.
Sampai dikelas aku menaruh tas di atas meja, semua penghuni kelas telah mengisi kursi dengan rapi tinggal menunggu guru masuk kelas.
"Ting" tiba-tiba suara handphoneku dari dalam tas berbunyi, aku segera mengeceknya.
"Jika kamu ingin tahu siapa yang melukai abangmu, temui aku besok di samping gudang, tunggu sekolah sepi!" bunyi pesan masuk itu.
"Jika aku mengatakan tidak ingin bagaimana?"Tantangku pada si pemilik nomor misterius itu.
__ADS_1
"Jika kamu tidak mau ya sudah, kamu akan terus dihantui dalam bayang-bayangan penasaran dan ketakutan, mending terima saranku saja!" balasnya percaya diri.
"Kamu terlalu percaya diri, tapi sayangnya aku tidak tertarik" balasku mengetikan balasan pesan padanya.
"Kamu telah menyia-nyiakan kesempatan, untuk mengetahui atas kematian abangmu. setidaknya kamu bisa mencari keadilan untuk dirinya, dia pasti akan merasa tenang disana" profokasinya.
Aku tidak membalas pesan itu lagi langsung mensilentkan handphone, dengan muka menggelap sambil menggertakan gigi, memancarkan aurah membunuh. Lalu mengepalkan kedua tangan hingga memutih menatap lantai dengan kosong.
"Adiba ada apa denganmu?" Sentaknya sambil menggoyangkan kedua lenganku.
"Adiba!!!" Teriaknya saat melihatku tidak mendengrkan perkataanya sambil menatap mataku.
"mana mungkin aku membohongimu" jawabku menenangkannya. dia hanya mengangguk namun tetap menatapku dengan curiga.
'Maaf via aku tidak bisa memberi tahumu, aku tidak mau kamu terlibat. Aku telah terlalu banyak merepotkanmu' batinku.
Saat ini waktunya jam istirahat, banyak pengunjung kantin yang masih menunggu antrian mendapatkan makanan. Tapi tidak dengan aku dan via kali ini karena kita datang lebih awal.
"Boleh bergabung?" seru sesorang sambil mengangkat mangkok berisikan soto ditangannya. Terlihat familiar, sepertinya ini temannya simuka tebal.
Via menatap kearahku meminta persetujuan. Aku menatap kearah kelima orang itu.
"Saya keberatan cari tempat lain" suruhku tanpa sungkan.
"Ta-tapi mejanya sudah penuh semua cuma meja ini yang masih kosong" ucap seseorang lagi dengan tergagap. Aku melihat sekeliling dengan ekspresi datar, memang benar semuanya telah dipenuhi pembeli lain.
"Tidak baik bersikap egois sepeti itu, meja ini bukan punya kita pribadi, mending sekarang kita duduk bersama saja. Aluna lagi dalam mood yang tidak baik jadi kalian jangan menggaduh, duduklah!" nasehatnya padaku sambil memberi perintah pada teman-temanya.
"Iya"
"Baiklah"
"Oke"
Jawab teman-temannya beragam tanggapan. Aku diam tanpa kata, saat ini suasana hati benar-benar tidak baik, seperti yang dikatakan si muka tebal.
Di sini dia kelihatan lebih dewasa dan bijaksana, berbeda saat dia lagi menggodaku dan mengolok-olokku dia kelihatan sangat menyebalkan.
Aku menatap kearahnya dengan ekspresi mengintimidasi, dia duduk tepat berada disampingku. jadi saat aku menatapnya semua orang tidak akan melihatnya karena fokus menyuapi makanan kemulutnya.
"Ada apa? makanlah! aku tidak akan mengganggumu" ucapnya ringan,
Sambil balas menatapku dengan lembut.
Lalu merapikan anak rambutku yang terjuntai jatuh, Semua orang dimeja yang sama melihat kearah kami saat ini.
"Tidak ada, kamu lanjut makan saja" balasku cuek sambil menyeruput kuah bakso dengan nikmat. Melihat semuanya baik-baik saja mereka kembali keposisi semula.
Sekarang gantian dia yang menatapku diam-diam, sambil memberi sedikit senyuman manisnya. Aku melirik kearahnya.
'Ekspresi apaan itu jelek sekali' batinku menyangkal, padahal jelas-jelas mukanya saat ini sangat imut. Aku memalingkan muka menyembunyikan ekspresi.
"Apa kamu lihat tadi bos merapikan rambut cewek itu dengan lembut" bisik seseorang pada temannya disamping.
"Benar aku juga melihatnya tersenyum sambil menatap cewek itu" balas yang disebelah lagi.
Mereka berbisik-bisik, tapi aku bisa dengan jelas mengartikannya. Waktu kecil aku diajarkan abang bahasa bibir, dia selalu melatihku sambil mengajak ku bermain.
Kami akan main tebak-tebakan siapa yang bisa menebak apa yang di ucapkan, mereka akan meminta uang jajan lebih dari papa.
Haish, aku jadi teringat masalalu. 'Abang, jika benar ada yang mencelakaimu, maka mereka akan membayar cass atas kematianmu!' batinku bertekad.
Dengan memasang aurah muka dingin, mataku menatap meja dengan tajam, sambil mengencangkan cengkraman tanganku pada sendok, hingga buku-buku tanganku memutih.
"Aluna!!!"
"Adiba!!!"
Teriak dua orang bersamaan. Aku menoleh menatap mereka dengan bingung.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyaku santai. Sambil ditatap penduduk kantin.
"itu... dib, tanganmu... jika kamu teruskan lagi mungkin akan membahayakanmu" jelas via sambil memelankan suaranya dengan takut-takut.
Aku melirik tanganku yang sudah memutih akibat cengkraman yang kuat pada sendok, untung saja tidak ada kuku yang panjang, jika tidak? mungkin tanganku sudah mengeluarkan darah.
"Kamu, jika marah jangan melampiaskannya pada diri sendiri, itu dapat membahayakan bagi kamu" nasihatnya dengan suara pelan agar tidak didengar pengunjung lain.
"Kalian terlalu berpikir berlebihan" jawabku cuek sambil lanjut makan.
Mereka berdua saling menatap dengang mata membola, via terbengong dan menganga atas sikapku. lalu ziyad memberi kode mata agar zivia tenang dulu.
"via aku pinjem temanmu, yah?" izinnya tiba-tiba menarik tanganku yang hendak minum karena baru selesai makan.
Via mengangguk sambil tersenyum mengizinkan. Teman-teman ziyad menganga lebar dengan bola mata melotot, Semua penduduk kantin menatap kearah kami dengan pandangan keingintahuan.
"apa yang kamu lakukan?" Tanyaku tidak senang.
"Ikut denganku, jangan membantah! ini minumlah! tadi kamu belum sempat minum kan?" perintahnya sambil menyodorkan botol aqua saat kami sampai dimobil.
'Brumm'
'Swushh'
'Brummm'
Suara deru mobil melesat kencang, membuatku ketakutan setengah mati. Aku segera berpegangan pada hand grip agar tubuhku tidak terombang-ambing.
"Apa kamu gila? Aku masih belum ingin mati!" teriak-ku padanya.
"Berteriaklah!" Perintahnya.
Laki-laki ini sungguh tidak berperasaan, membawaku kebut-kebutan seperti ini, untung jalanan senggang.
'Eh, tapi ini sepertinya jalanan bawah tanah, karena tidak ada pengemudi lain yang lewat dari tadi'
"Aaaaaaaaaaaaaa"
"Kyaaaaaaaaaaaaa"
"Huaaaaaaaaaaaa"
Teriak-ku saat ada turunan dan tikungan, dengan begini aku seperti naik roller coaster manual. Tiba-tiba kecepatan mobil mulai melambat.
"Apa kamu sudah lebih baik sekarang?" Tanyanya sambil menoleh kearahku.
"Tambah buruk, bahkan sekarang aku ingin membunuhmu" ungkapku padanya.
"Kalau mau bunuh tidak masalah, tapi tunggu sebentar setelah aku menunjuk-kan sebuah tempat, lalu mengantarmu pulang dengan selamat. baru bisa membunuhku" jawabnya santai.
"Kamu pikir aku tidak berani?" Tantangku padanya
"Tidak. karena bagaimanapun juga, kamu akan dicurigai tersangka karena banyak saksi mata yang melihat kita saat keluar dari kantin." Jawabnya dengan yakin.
"ada sahabat aku, dan sahabat kamu, ditambah lagi pengunjung kantin yang tak terhitung jumlahnya. Oh, ada lagi fans fanatik aku juga sepertinya tadi melihat kita. ck...ck... kamu tidak berhasil kali ini" sambungya lagi dengan ekspersi yang dibuat-buat.
Sungguh manusia menyebalkan, dia tidak tahu jika aku mengatakannya tidak serius, dia malah mencari pelindungan dengan cara membuatku tertekan.
"Bilang saja kamu takut, tidak perlu membuat alasan sedemikian rupa" ejekku.
"Sudahlah, jangan berdebat lagi. lihat! keluar kaca mobil, pemandangannya sangat bagus" dia langsung menengahi pembicaraan lalu menyuruhku mengalihkan pandangan.
'Dasar pria menyebalkan!' Umpatku dalam hati.
Karena asik berdebat dengannya, tanpa sadar kami sekarang sudah berada dijalan perkebunan, terlihat pemandangan di pinggir jalan yang sangat asri, deretan pohon glodokan tiang berbaris rapi dipinggir jalan, bentuk pohon ini seperti piramida simetris sangat indah saat dipandang.
Aku menghirup udara segar di sepanjang perjalanan, sambil memandang pemandangan keluar jendela mobil, bersender di jendela dengan tumpuan tangan.
Terlihat kebun teh yang menghijau di sebelah kiri jalan, dan persawahan yang membentang luas disebelah kanan jalan, Semuanya tampak sejuk saat mata memandang.
__ADS_1
Dengan dirimu aku tahu rasanya melampiaskan amarah tanpa harus bicara, namun mampu menenangkan tanpa merugikan~ Adiba ara kaluna