Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Bukan Pertemuan Pertama


__ADS_3

"Bun, baju jihad mana?" Teriak seorang anak laki-laki dari dalam kamar.


"Bentar, bunda cariin" balas sang bunda menghampiri kamar si anak.


Ibu itu mengubek-ubek lemari si anak untuk mencari baju yang diminta. tidak perlu waktu lama baju yang di cari sudah ketemu dan segera menyerahkan pada sang anak.


"Terimakasih bun, atas bantuanya" ucap si anak sembari mencium pipi sang bunda.


"Lain kali kalau nyari sesuatu itu diliat dengan baik, jangan teriak-teriak dulu" nasehat sang bunda.


"He...he... iya bun, maaf. sekarang bajunya udah ketemu nih, jadi bunda bisa lanjut masak lagi soalnya jiyad mau ganti baju dulu" ucap sang anak mengusir halus bundanya.


"Giliran udah ketemu bundanya diusir, pas lagi krepotan triak-triak minta bantuan, hadeh" dumel sang bunda pura-pura sebel.


"Maaf bunda, maaf. abang tidak mengusir kok, cuma nyuruh bunda pergi aja soalnya abang mau ganti baju dulu" jelas si anak merasa bersalah.


"Bunda becanda sayang, jangan dibawa kehati. ayo cepet! siap ini jangan lupa sarapan!" perintah sang bunda.


"Siap kanjeng bunda" jawab anak itu sambil mengacungkan jempol ke arah sang bunda, yang hanya di balas dengan geleng-gelengan kepala. lalu segera mengganti jubah mandi dengan seragam sekolah, setelah sang bunda keluar dari kamarnya.


Sungguh keluarga yang satu ini luar biasa harmonis. Keluarga pramadana. yang di pimpin oleh zikri pramadana, dengan wakil Afifah oisca hinara. beserta anggotanya Ziyad kawindra pramadana, Zayid kawindra pramadana, dan Alindra oisca hemavati.


rumah tampak rame jika sudah berkumpul semua. namun dibalik itu ada satu es yang suka mendinginkan suasana, siapa lagi kalau bukan zayid kawindra pramadana.


Jika berada di dekatnya kita merasa seperti di pulau tidak berpenghuni. terasa sepi, hening, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. begitulah seorang zayid kawindra anak yang cuek dan dingin, sehingga dia jarang memiliki teman.


Beda halnya dengan kedua saudari dan saudaranya, selain ramah tamah mereka juga humble kepada siapapun. terutama sang kakak yang memiliki daya tarik tersendiri sehingga meninggalkan kesan pada semua orang.


Sehingga tidak jarang juga dia memiliki banyak teman, apalagi sikap konyol dan humorisnya membuat smua orang nyaman berada di dekatnya.


Seperti yang di lakukannya pagi ini dimeja makan membuat sang bunda gemas dengan ulahnya.


"Abang, itu bukan piring, loh. itu cambung bang, buat tempat sayur bunda tuang" peringat sang bunda dengan nada greget.


"Tidak apa-apa bun, abang sudah terlambat ini. nanti saja yah kita bedain mana baskom, mana piring mana gelasnya, yang penting sekarang abang makan dulu" balasnya sambil makan dengan tergesa-gesa.


"Padahal adek lagi ngambilin piringnya, tidak sabaran banget. Ini sayurnya jadi lama dituang nih, gara-gara abang" kelakar sang bunda pura-pura kesal.


"Yasudah bun tinggal di ambil lagi apa susahnya. Sudah yah bun, jangan ajak ngomong lagi nanti abang lama makannya" ucap si anak sambil mengunyah makan dengan gaya tidak santai.


"Bun, abang pergi dulu ya, Assalamu'alaikum" salamnya sambil mencium pipi sang bunda dengan salaman terburu-buru.


"Loh bun, si abang kemana? ini piringnya sudh diambilin" dengan terburu-buru datanglah anak prempuan dari arah dapur sambil kebingungan melihat sang abag sudah tidak ada di tempat.


"Kelamaan kamu dek, itu abangmu sudah di teras depan" tunjuk sang bunda. anak itu langsung melihat ke arah yang dimaksud.


"Hei bang ini piringnya sudah diambilin jangan pergi dulu!" triaknya pada si abag yang sedang mengeluarkan motornya.


"Simpen aja lagi nanti abang pulang baru dipakai, tapi tidak janji. lain kali kalau mau bawa piring pakai jet, biar cepat sampai jangan pakai kapal. yasudah abang pergi dulu, bye... " ucapnya terburu-buru sambil menaiki motornya.


Hari ini adiba pergi sekolah dengan mata sedikit bengkak karena menangis semalam. meskipun telah di kompres dengan es namun masih terlihat sedikit sembab. Saat ini dia sedang mengantri makan siang dikantin sekolah bareng sahabatnya, silvia.


Kantin terlihat ramai sekali, banyak pembeli yang berdesak-desakan saat mengambil makanan. termasuk adiba dan silvia.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya adiba dan silvia mendapat makanannya. mereka duduk di meja pojok sebelah kiri bagian depan pintu masuk kantin.


"Pesan seperti biasa, kami tunggu disana" suruh seseorang pada temannya memecahkan susana heboh dikantin sekolah, sambil menunjuk ke arah yang dituju.


mataku mengikuti arah telunjuknya, ternyata mejanya selisih satu meja dengan tempat aku dan via. dia langsung duduk dengan ketiga temannya. mereka berlima dengan dua orang lagi memesan pesanan kepada ibu kantin.


Saat aku lagi menatap ke arah mereka tidak sengaja mata kami bertemu, dia menatapku dengan muka terkejut sambil menyipitkan kedau alis matanya, sedangkan aku langsung buang muka.


"Kamu kenapa dib?" Tanya via bingung melihatku.


"Lihat kearah samping kanan, yang selisih satu meja dari kita, lihat yang pakai hodie hitam" Ucapku cepat. Via melihat sebentar kearah sana lalu kembali memandang kearahku.


"Terus kenapa dib?" Tanyanya bingung.


"Orang itu yang bertemu sama aku di rooftof waktu itu" jawabku menjelaskan.


"Maksudmu Ziyad kawindra pramadana kelas sebelah, the most wanted boy disekolah ini?" ucap via tidak percaya.


"Mana aku tahu siapa dia" jawabku acuh tak acuh.


"Yaudah pergi yuk, sebentar lagi waktunya masuk kelas" ajakku pada via.

__ADS_1


"Oke" jawabnya santai sambil menggeser kursi ke belakang lalu menyamakan langkah kaki denganku. Aku melihat sekilas ke arah lelaki itu lagi, dia juga menatap kesini. Aku langsung berjalan cepat dengan muka datar.


Semenjak semuanya pergi dari hidupku, tidak pernah ada lagi senyuman di bibir ini. bahkan muka datar dan aura dingin yang selalu terpancarkan setiap waktu. Banyak yang mengatakan aku menpunyai aura dingin, angkuh, dan sombong.


sehingga tidak jarang orang-orang takut mendekatiku baik cewek maupun cowok. Jadinya aku tidak mempunyai teman selain silvia. namun aku juga nyaman seperti ini, tidak akan ada yang mengganggu ketenanganku.


Aku bersekolah di SMA Oisca senior high school. pemiliknya afiqah Oisca, keluarga ternama dari kota Alpend.


Sekarang aku sudah menginjak kelas 2 SMA diruang kelas IPA2. Disini hanya jurusan IPA yang terpilih, jadi dibagi menjadi dua kelas IPA 1 dan IPA 2. Sedangkan IPS tahun ini di tiadakan, karena ada permasalahan ditahun lalu.


Hari ini aku menerima piket kelas. Jadi, karena tidak ada guru yang masuk kelas disebabkan ada suatu perihal, terpaksa aku keperpustakaan membawakan buku untuk dicatat di papan tulis.


Aku melangkah masuk keperpustakaan tanpa melihat sekeliling langsung menuju rak buku. Penjaga perpustakaan lagi menyusun buku disebelah, aku jadi tenang karena tidak harus berbasa-basi lagi.


"Eh, ketemu lagi kita. Kamu kenapa disini?" tiba-tiba sebuah suara muncul dari belakangku dengan muka sumringah. membuat langkahku terhenti, lalu melihatnya dengan ekor mataku tanpa berbalik.


"Tidak ada urusannya denganmu" jawabku dingin.


" Ya, ampun. kamu bisa ngomong ternyata. Jadi aku salah mengira selama ini, aku pikir kamu autisme" dia tampak syok sambil menutup mulutnya dengan sebelah telapak tanganya, dibarengi dengan mata membola lalu mendekat ke arahku.


Aku berbalik menatap kearahnya, dengan tatapan tidak suka. Aku menatapnya dengan malas.


"Kamu kenapa bisa disini?" Tanyanya lagi sambil melirik ke arah rak buku yang kutuju.


"Aku bilang tidak ada urusannya denganmu, berarti tidak ada urusanya " jawabku ketus. aku langsung mengambil buku itu lalu beranjak pergi.


"Tunggu! Sepertinya Kamu salah mengambil buku, deh" tiba-tiba dia menahan langkahku sambil menatap buku yang ada ditanganku dengan mata menyipit. aku mengikuti arah pandangannya.


'Kaulah bintang dihatiku' tiga kata itu membuat aku tertegun. dengan malu aku mengembalikan buku itu ke rak kembali. dengan tergesa-gesa aku melangkah ke-rak yang lain segera mencari buku.


"Sepertinya kamu mencari buku ini, bukan?" Ucapnya lagi, ternyata dia mengikutiku dari belakang, sambil memegang satu buah buku ditangannya.


'Hah, kenapa dia bisa tahu' batinku dalam hati.


"Berikan padaku" mintaku ketus sambil berusaha merebut buku itu dari tanganya.


"Eits, aku duluan yang menemukanya, jadi punya aku dong kalau begitu" ucapnya sambil menjauhkannya dari jangkauanku. membuat aku kesal dengan tingkahnya, dia pikir aku bakal sperti di novel-novel bakal menjangkaunya lalu jatuh kepelukannya dan saling tatap-tatapan mata. Jangan mimpi! Aku tau trik bodohnya itu sungguh bisa ketebak.


'Krekk'


"Kamu... " perkataannya terpotong saat melihatku berjalan pergi. dia berusaha bangkit lalu berjalan dengan kaki terpincang-pincang.


"Tunggu aku menaklukkanmu monster kutub" terdengar suara teriakan dari arah belakangku.


Membuat langkahku terhenti sebentar, aku sedikit menoleh ke belakang lalu melanjutkan langkahku kembali dengan cuek.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya. koridor tampak begitu ramai, dipenuhi dengan murid siswi-siswi yang heboh, sehingga membuat orang berdesak-desakan.


"Ada apa sih, ribut-ribut?" Tanya silvia sambil menyingkirkan orang yang lagi berkerumunan, dengan membuka jalan untuknya. Aku mengangkat bahu dengan cuek melihat dari kejauhan.


"What! ganteng banget!" Pekiknya seketika saat dia sampai disana. membuat perhatianku tertuju padanya. aku menatap via dengan malas dikerumunan sana. bukan hanya via orang lain juga pada heboh teriak-teriak tidak jelas.


'Memuakkan' gumamku, sambil membalikan badan hendak pergi.


"Duk" seketika kepalaku terbentur sesuatu, aku tercengang. tiba-tiba didepan mukaku muncul muka lain. menimbulkan tidak ada jarak diantara kami, mataku beradu dengan mata orang itu hingga deru nafasnya terhembus ke mukaku. membuat aku refleks mundur seketika.


"Ha... hai" sapanya sambil melambaikan sebelah tangannya dengan canggung kearahku. aku menatapnya jengah lalu berjalan melewatinya.


"Hei tunggu! kamu yang namanya adiba, bukan?" Teriak seseorang dari belakang, sambil berusaha keluar dari kerumunan orang-orang berjalan menuju kearahku. Dengan malas aku memutar badan menatap orang itu.


"Benar! Kamu memang benar adiba. akhirnya aku bertemu denganmu" antusiasnya dengan mata berbinar.


"Ada apa mencariku?" Todongku cepat.


"Eh... tidak ada yang terlalu serius. hanya ingin berkenalan denganmu saja" jawabnya sambil mengusap tengkuknya dengan ekspresi canggung.


'Ada apa dengan orang ini?' Ucapku membatin. Sambil menatapnya bagai laser yang lagi menyorotinya, dari ujung kaki hingga ke-ujung rambut untuk Menilainya.


Cowok bermata coklat, hidung mancung, bibir tipis. dengan kumis tipis, jauh lebih tinggi dariku. Sungguh tubuh yang bagus sehingga membuat para sisiwi bertriak histris saat melihatnya. Terecuali aku.


"Eum... namaku Abhinanda shankara karuna, kamu bisa memanggilku abi. aku diruang XI IPA2 " dia tersenyum kaku, sambil mengulurakan tangan memperkenalkan diri.


Tiba-tiba orang di sebelah breaksi.

__ADS_1


"Oh anak baru yah? Perkenalkan Aku ziyad kawindra pramadana, biasa dipanggil ziyad. anak XI IPA1 dari kelas sebelah" mengulurkan tangan menjabat tangan orang itu dengan kuat, sambil tersenyum dibuat-buat.


"Ah, iya. senang berkenalan denganmu" balas orang itu menarik tanganya seolah tersadarkan. Sambil memasang muka canggung dan sedikit kecewa, saat tangannya tidak kusambut malah disambut oleh tangan orang lain.


"Yah, senang berkenalan denganmu juga. semoga kedepanya kita bisa menjadi teman" jawabanya dengan mempertahankan senyum paksanya itu.


Malas meladeni dua orang bodoh ini. aku memilih memutar badan melanjutkan langkah menuju kelas.


"Sebentar! kita belum kenalan!" Cegat seseorang mempercepat langkahnya, hingga berhasil mengiringi langkahku.


"Kamu tidak ingin berkenalan denganku?" tanyanya sambil berusaha menyamakan langkah kakiku yang berjalan begitu cepat


"Tidak tertarik" jawabku cepat.


"Ayolah, aku sudah membantumu terhindar dari orang tadi, mana mungkin kamu tidak memberiku muka didepan orang banyak seperti ini. setidaknya kamu beritahu nama lengkapmu" desaknya terkesan memaksa.


'Kepala kotakmu membantuku, yang


ada kamu sama menyebalkannya dengan orang itu' ucapku membatin.


"Hei, bicaralah! jangan membuatku malu. bagaimana dengan repurtasiku sebagai seorang cowok keren spertiku, malah diabaikan cewek di depan umum. bagaimana nanti aku menjelaskan pada bundaku anak gantengnya malah diabaikan?" celotehnya panjang lebar membuatku muak.


"Swuss" sebuah gerakan tangan terkepal kuarahkan kemukanya namun dapat ditangkisnya dengan sigap. dia menangkap genggaman tanganku lalu memutar kedua tanganku, membalikan tubuhku menjadi aku membelakanginya. dengan kedua tanganku dikuncinya kebelakang.


"Lepaskan!" Teriakku sambil meronta. Meski aku telah berlatih judo, namun tenagaku tidak bisa dibandingkan dengannya. Bagaimanapun juga, lelaki memiliki tenaga yang jauh lebih besar dibandingkan perempuan.


"Aku bukanya tidak sopan. tapi... hanya ingin memberi tahumu bahwa, kamu sangat menggemaskan kalau lagi marah seperti ini" bisiknya ditelingaku.


"Oh tidak! mengapa oppaku direbutnya?"


"Pacarku jangan berpaling dariku! dasar wanita perebut!"


"Wah, sangat so sweet"


"Sungguh membuat iri saja"


"Dasar perempuan tidak tahu malu, malah mendekati pacarku" berbagai teriakan mendukung, serta caci makian dari siswi cewek seakan ingin melahapku hidup-hidup.


"Akhhhh" terdengar sebuah jeritan seketika.


Dengan gerakan cepat, aku membalikan keadaan. menggenggam kedua tangannya yang mengunciku lalu Membantingnya kelantai.


Aku menatap sekeliling semua orang sudah berkerumun mengelilingi kami. koridor dibuat penuh sampai sulit untuk bergerak sangking padatnya.


Semua mata melotot tak percaya melihat kearah orang yang lagi meringkuk dilantai dengan menahan rasa sakit.


"Hahaha... katanya cowok keren, sekali dibanting langsung KO?" Tiba-tiba dari kerumunan muncul seseorang dengan tertawa mengejek.


"Abang banting dedek bang, abang cekik dedek bang. Udah lama Abang gak banting adek, Sudah lama abang gak cekek adek" Dilanjutkannya bernyanyi dengan memasukan kedua tangan kesaku celananya, Sambil berjalan cool mendekat kearah kami.


Orang yang diejek tersebut berdiri seketika.


"Buk" sebuah bogeman melayang kemuka orang yang mengejek tadi, sehingga membuat iya terhuyung mundur kebelakang.


"Jangan melampaui batas kesabaranku, b*jing*n!" umpatnya murka.


"Buk" sekarang keadaan berbalik orang itu tidak mau kalah membalas orang yang meninjunya.


"Kamu yang ba*jing*n! dari tadi kamu yang berulah duluan menghalangiku dekat dengan adiba" balas orang itu sengit tidak mau kalah.


'Bak'


'Buk'


'Bak'


'Buk'


mereka terus saling menyerang tidak ada yang mau mengalah satu sama lain


"Sungguh kekanakan! membuang tenaga untuk urusan yang tidak penting dilakukan," ejekku pada mereka.


"Ikut denganku! Kalian jangan menyeretku ikut serta masuk keruang Bk" peringatku pada mereka, sambil menarik lengan keduanya menyeret mereka keruang uks.


Semakin kamu mengacuhkanku, semakin kamu mengacaukan pikiranku~Ziyad kawindra

__ADS_1


__ADS_2