Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Teror Mistrius


__ADS_3

"Indhira! bantu aku mengobati mereka!" Panggilku pada indhira dengan dingin saat sampai di uks. aku tidak akan beramah-tamah pada siapapun. Kedua orang yang kubawa tadi duduk di brankar masing-masing dengan diam.


"Iya dib" angguknya sopan. Indhira termasuk salah satu anggota PMR disekolah ini, Dengan beberapa petugas lainnya.


"Yang lain kemana?" Tanyaku saat melihat dia cuma seorang diri saja.


"Lagi sibuk tugas sekolah" jawabnya pelan. Aku mengangguk dengan ekspresi datar.


"Obati mereka!" Perintahku pada indhira.


"Tapi dib, saat ini kita lagi kekurangan obat. Bagaimana ini?" Tanyanya padaku. Aku menatapnya dengan aura muka dingin, lalu merongoh saku mengeluarkan handphone.


"Halo dib, ada apa?" Terdengar suara dari seberang telephone.


"Via! pergi keapotik terdekat, belikan salep thrombhopob gel. sekalian beli es batu diwarung, bawa ke Uks" Perintahku pada via.


"Siap dib!" Jawabnya menyanggupi. lalu terdengar suara telephone terputus.


"Lain kali kalian jangan merepotkanku seperti ini, paham?" peringatku pada mereka berdua dengan aura berapi-api. Yang satu duduk bengong dan yang satu lagi terbaring lemah. Mereka mengangguk patuh seperti ayam mematuk.


"Kenapa kamu bisa tahu obatnya itu dib? akukan belum kasih tahu kamu salepnya apa?" Tanyanya heran ke arahku. aku mengalihkan padangan pada indhira.


"Panggil saja adiba! kita tidak sedekat itu. masalah kenapa aku bisa tahu, karena aku anak judo, jadi bukan hal aneh kalau aku tahu itu" jawabku cuek. Indhira mengangguk paham.


'Krek' terdengar knop pintu diputar, lalu munculah seseorang didepan pintu.


"Ini dib, yang kamu minta" ucap via mengulurkan kantung pelastik kearahku.


"Hancurkan esnya bungkus dengan kain biar tidak terlalu dingin!" Perintahku pada indhira seolah dia bukan petugas disini. namun dia tetap melakukanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya via berbisik sambil melirik kearah dua orang itu.


"Woah, dib. bukanya itu sitampan yang tadi pagi yah?" Sambungnya lagi dengan Pandangan takjub. mata membola, sambil menutup mulut dengan satu tangan.


"Mereka berantem. Kamu kemana disaat kejadian? malah tidak membantuku!?" Cercahku pada via, Mengabaikan kekagumannya pada anak baru itu.


"Aku dipanggil pak samwilton buat latihan bulu tangkis, soalnya tandingnya beberapa hari lagi. Mereka Kenapa bisa berantem?" Jelas via memberi alasan mengapa dia tidak disana saat kejadian.


"Ini esnya sudah selesai dihancurkan" tiba-tiba indhira menyodorkan bungkusan es ketanganku, Sehingga Memotong pembicaraanku dengan via.


"Indhira bantu aku obati anak baru itu! aku akan mengobati yang satu lagi," perintahku pada indhira. Via dan indhira menatap kearahku dengan bingung.


"Aku yang telah menyebakan dia seperti ini, jadi aku harus bertanggung jawab atas itu" sambungku lagi menjelaskan pada mereka agar tidak berpikir berlebihan.


"Bangun!" Perintahku padanya. dia bangkit dari pembaringan lalu menatap kearahku.


"Aku baik-baik saja, Lihat! Tubuhku sangat kuat. jadi pukulan seperti itu bukan apa-apa bagiku" pamernya sambil membusungkan dada, lalu menepuk-nepuknya dengan satu tangan terkepal untuk menyombongkan diri dihadapanku.


"Eum, sangat hebat yah?" tanyaku sambil mengangguk-anggukan kepalaku, dengan memegang dagu berpura-pura mengakuinya. Setelah itu aku tersenyum menyeringai.


"Aow, sssst--- sakit..." jeritnya sambil mengeluh. Sengaja aku menekan kuat saat mengoleskan salep di sekitar wajahnya.


"Sakit? Katanya hebat, luka ketekan sedikit saja langsung mengeluh, heh. dasar kulit bayi!" Serentetan ejekan kulontarkan padanya.


"Itu... karena kamu tidak hati-hati melakukannya" sangkalnya membela diri. aku mengabaikannya, terus fokus mengoles salep dengan serius. aku meratakannya memakai jari telunjuk karena tidak ada cotton buds saat ini.


Kulihat dia menutup mata, sepetinya dia menahan geli dari sentuhan tanganku. aku melirik mukanya yang putih mulus seputih dan selembut bunga dandelion. rahangnya yang kokoh, bulu mata lentik, dan hidungnya yang bangir.


Bibir tipis berwarna pink seakan memakai pewarna bibir, dipadukan dengan gaya rambut middle parted ala korea. bukan gaya dilan cepmek yang pastinya. sungguh pahatan sang pencipta yang sempurna.

__ADS_1


'Aish... apa yang sedang aku pikirkan? cowok jelek seperti dia tidak pantas dikagumi. Dasar bodoh!' umpatku membatin pada diri sendiri. Perlahan dia mulai membuka mata menatapku dengan sorotan mata teduh.


"Kenapa? terpesona yah? He...he...he..., anak ganteng bunda mah, diatas rata-rata." bangganya dengan seyum melengkung lebar. Saat ia tersenyum aku baru menyadari ternyata ia masih memiliki pesona lain. lesung pipi yang indah dan gigi berginsul, Sungguh membuatku terpanah seketika.


"Jangan pandang muka saya berlama-lama tidak baik, nanti kalau sudah halal saja yah? biar kamu bisa puas-puas melihatnya" godanya padaku dengan menaik-naikan kedua alisnya.


Aku membalikan muka kesamping, ternyata pandangan ketiga orang disebelah dari tadi mentap kearah kami. anak baru itu juga ternyata telah selesai diobati indhira.


'Tuk' satu toyoran kulayangkan ke kepalanya. dia meringis lalu mengusap-usap kepalanya dengan muka merenggut.


"Sakit tahu, kenapa di getok?" Gerutunya dengan muka merenggut.


"Jangan bertingkah! berhentilah berbicara!" kesalku padanya langsung segera menyelesaikan mengoles salep padanya. dia tampak cemberut langsung diam.


'Krek' terdengar suara pintu dibuka lalu muncul sekelompok anak lelaki mentap kearah kami berdua. aku segera bangkit berdiri menghindari kesalah pahaman.


"Es-nya mulai mencair segera kompreskan di lukamu yang bengkak." Intruksiku padanya dengan muka datar sebelum berjalan menghampiri via.


"Via Ayo pergi! " Ajaku pada via sambil berjalan duluan kedepan. Saat menuju pintu aku berpapasan dengan sekelompok anak cowok yang sebaya denganku, mereka mentap kearahku mengintimidasi. aku cuek saja terus berjalan, saat akan menarik handle pintu aku melihat kebelakang tanpa berbalik badan.


Terlihat dibelakangku bukan hanya via seorang tapi ada indhira dan anak baru itu turut mengikutiku. Kami berempat keluar bersama menyisakan cowok tengik itu dan teman-temannya yang tadi baru masuk ruangan.


♧♧♧♧♧♧♧


"Dib, kamu berhutang penjelasan padaku. ayo ceritakan apa yang terjadi kemarin!" ungkit via lagi saat kami lagi di kelas. Kemarin tidak sempat kujelaskan pada via karena mama buru-buru menelponku untuk segera pulang mengobati mbok, pembantu dirumahku yang lagi sakit. dan mama ternyata sudah pergi lagi bersama suami barunya itu.


"Ribut mau deket sama aku, terus saling meledek dan merasa paling hebat. berujung babak belur, berakhir masuk Uks" jelasku dengan suara pelan sambil mataku memperhatikan guru yang lagi menjelaskan didepan.


"Oh ternyata begitu" responya sambil manggut-manggut tanpa melihat kedepan.


"Ada apa via? Kamu sudah mengerti?" Tiba-tiba buk citra selaku guru biologiku berjalan mendekat kearah meja kami.


"Oke, kalau begitu sebutkan bunyi hukum mendel 1 via! " tantang buk citra pada via, seketika suasana kelas jadi hening.


"Hu... hukum mendel 1 buk?" tanya via memastikan lagi seolah dia salah dengar, dengan memasang muka panik sambil cengengesan.


"Iya! ayo via, silakan dijawab! " ucap ibu itu meyakinkan.


"Em... saya tidak tahu buk" jawab via sambil tersenyum masam.


"Kalau tidak bisa, dengarkan saya saat sedang menjelaskan! jangan sibuk sendiri. Oke, yang lainya ada yang bisa jawab?" peringat ibu itu penuh penekanan, sambil mengalihkan pertanyaan pada yang lain. dia termasuk salah satu guru killer di sekolah.


"Hukum mendel 1 berbunyi; Dalam pembentukan gamet (sel kelamin keturuan), kedua gen induk yang merupakan pasangan alel akan berpisah, dan menyebabkan setiap gamet menerima satu gen dari induknya" jawab seseorang dari samping kiri. hingga Semua mata tertuju padanya.


"Bagus sekali. nama kamu siapa?" Puji guru itu sambil membetulkan letak kecamatanya.


"Abhinanda shankara karuna, buk" jawabnya bangga. yang dapat menjawab pertanyaan itu dialah Abhinanda shankara, anak baru itu.


'Ternyata dia pintar juga, tapi kenapa tidak masuk kelas sebelah saja?' Pikirku bertanya-tanya. Karena disini terdapat dua kelas disatu tingkatan.


Kelas IPA1 dan IPA2. biasanya IPA1 lebih banyak murid pintarnya karena waktu pendaftaran mengutamakan murid berprestasi dikelas itu.


disekolah ini tidak ada anak IPS baru tahun lalu tutup kelas, karena ada pertikaian besar-besaran yang dilakukan anak IPS tahun lalu. Jadi biar banyak murid, tetap dibagi dua kelas. tapi tetap pada jurusan IPA.


"Oh, kamu murid pindahan itu, ya?" tebak guru itu.


"Iya buk, pindahan dari SMA globe" jawabnya antusias. guru itu manggut-mangut lalu menuju ketempat duduknya, segera memeriksa buku tugas.


'Huuff' saat melihat guru itu sudah tidak bertanya lagi semua orang membuang nafas dengan lega.

__ADS_1


"Dikelas ini memang akan seperti kuburan jika ada guru yang bertanya?" tanya murid baru itu buka suara kearah via sambil menoel-noel lengan via.


"Ya begitulah, kamukan tahu sendiri kalau dikelas ini IQ muridnya banyak yang kurang memadai" balas via meladeni.


"Pantesan tadi aku melihat muka-muka mereka seperti disambar petir, menggelap dan tidak enak dilihat. hehe..." komentarnya sambil terkekeh lucu. Mereka terus mengobrol seakan sudah kenal dari lama. aku memilih tidak menghiraukan mereka, malah bermain handphone sibuk sendiri.


■■■■■■■


Hari ini aku pergi kesekolah hanya seorang diri, Karena hari ini via tanding bulu tangkisnya. jadi aku tidak bisa ikut karena bukan salah satu peserta, jadi hanya bisa menyumbangkan doa saja padanya.


"Bruk"


"Swuss"


"Pletak"


Saat aku membuka loker semua isi didalamnya berhamburan keluar. L


lembaran kertas berwarna berterbangan kemana-mana. Aku terpaku melihat semua benda yang beserakan dilantai denga kacaunya.


mataku tertuju pada satu kertas berwarna hijau dengan tulisan hitam pekat diatasnya.


"JAUHI ZIYAD! KAMU TIDAK PANTAS!" isi tulisan dikertas itu memberi peringatan.


"SUDAH MENDEKATI ZIYAD, SEKARANG MENDEKATI ANAK BARU ITU. KAMU SENGAJAKAN? MURAHAN!" Kertas berwarna pink selanjutnya berisi hinaan.


"LIHAT SAJA! BAGAIMANA AKU MEMBERESKANMU YANG SOK JAGOAN ITU!" selanjutnya aku menuju kertas yang berwarna orange, yang berisi kata-kata mengancam. dan masib banyak lagi kertas yang lainnya berisi kata-kata hinaan dan ancaman yang seperti tadi. bahkan barang-barangku membasahi lantai.


hingga aku merasakan hangatnya sebuah dekapan ditubuhku, ternyata sebuah tangan mendekap badanku dengan erat. tubuh kokoh itu berdiri menjulang dihadapanku sambil memeluk erat tubuhku hingga daguku tersandarkan dibahunya.


sambil aku menyaksikan sisa air dihadapanku yang masih berjatuhan dari atas, Aku mendongak keatas menatap baskom tergantung dengan tali. Kami berdua berdiri di tengah-tengah genangan air yang tertumpahkan.


'Kejadian ini, pelukan ini, dan rasa dilindungi ini, semuanya terasa familiar' batinku dalam hati.


"Shankara! apa yang kamu lakukan?" Aku segera tersadar dari keterkejutanku berusaha melepaskan diri dari pelukannya dan mendorongnya dengan cepat. orang itu sempat tertegun sesaat lalu segera menetralkan raut mukanya.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi ara? air hampir menyiramimu tapi kamu masih diam saja? Kamu batu! hingga tidak tahu caranya menghindar?!" Semprotnya padaku terlihat emosi sambil menggoyang kedua bahuku lalu menggerakkan matanya menuju kelantai.


"Kamu tidak perlu khawatir aku tahu menjaga diriku sendiri" balasku cuek. Sambil menepis tangannya dibahuku.


"Ini kenapa bisa begini? semua isi lokermu berhamburan dilantai, terus sekarang semua barangmu sudah tersiram air begini. sebenarnya kamu kenapa, ara?" Tanyanya mengintrogasi. aku tersentak kaget melotot kearahnya saat dia menyebut nama kecilku. dan lagi apa-apaan dengan ekspresinya itu seakan mengkhawatirkanku teramat sangat.


"Kenapa kamu memanggilku dengan nama itu?" Selidikku balik bertanya sambil memegang kerah bajunya sangat kuat dengan aura dingin. dia diam untuk sesaat.


"Nama kamu adiba ara kaluna, jadi tidak masalah aku memanggil dengan nama tengahmu" balasnya santai. Aku melepaskan tangan dengan kasar dari kerah bajunya.


Ingin aku katakan, 'Jangan panggil aku dengan nama itu!' Tapi lidahku serasa keluh dan terasa berat mengatakannya. akhirnya aku hanya bisa mengusap muka dengan kasar, lalu menutup lokerku dengan cepat.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku ara!" Sergahnya sambil menahan tanganku yang hendak mengunci loker.


"Jangan ikut campur! semuanya jadi begini juga kamu terlibat salah satu penyebabnya " serangku padanya lalu berjalan keluar menuju kelas.


Dia tertegun di tempat saat mendengar perkataanku, aku tidak tahu apa yang dipikirkanya, yang pasti aku harus menjaga jarak darinya agar tidak menyebabkan banyak masalah kedepanya.


Murid SMA disini terkenal denggan Bullying yang menggenaskan, jika tidak hati-hati bisa membahayakan diri sendiri.


Bahkan ada yang mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menerima tekanan dari pengganggunya. Jadi sekarang aku harus mewanti-wanti agar tidak memiliki banyak musuh lagi. Bukan aku takut namun, lebih baik menghindari.


'Kamu telah melewati banyak masa sulit sendirian, ara. aku tahu kamu cuek dan dingin seperti ini karena menghadapi kerasnya hidup yang kamu lalui, aku tidak akan membiarkana ada orang lain lagi yang akan melukaimu, tidak akan!' tekadnya membatin sambil melihat belakang punggung orang itu telah menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


Jangan membenciku ketika kamu tahu keberadaanku, aku harap kamu dapat menerimaku separuh dihidupmu~ Abhinanda shankara karuna


__ADS_2