Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Makan Di Luar


__ADS_3

Sampai di Villa semua pelayan segera mendekat melihat apa yang telah terjadi.


"Mbok ija, tolong buatkan teh hangat untuk aluna!"


"Mang panji, tolong isikan bathtub dengan air hangat"


"Mbok narmi, tolong pilihkan pakaian untuk dikenakan aluna"


"Mang satrio, tolong bawakan handuk yang ada di kamarku! nanti bawakan kemari secepatnya!"


Dia memerintahkan semua pelayan villa dengan cepat, membuat semua orang panik pergi dengan tergesah-gesah.


"Apa yang kamu lakukan? itu sangat berlebihan!" Ucapku saat dia telah meletak kan aku di atas sofa.


Dia menatapku dengan pandangan merasa bersalah.


"Tidak sebanding dengan nyawamu." tuturnya sambil duduk disampingku.


"Apa masih dingin? tunggu sebentar, mang panji lagi mengisi air, setelah ini kamu bisa berendam air hangat" ucapnya sambil membalutkan handuk di tubuhku yang telah di antarkan oleh mang satrio.


Aku diam tanpa merespon ucapan nya, karena aku masih kesal padanya.


Dia mendekap tubuhku dari samping dengan hati-hati, seolah aku ini barang antik yang tidak bisa disentuh


Sembarangan, akan mudah pecah.


Aku sedikit menggigil kedinginan, karena tempratur air kolam yang sangat dingin jika digunakan di pagi hari, maka sering digunakan pada siang hari atau sore hari, Karena airnya langsung bersumber dari pergunungan.


"Ini teh-nya den" ucap mbok ija yang tiba-tiba muncul.


Ziyad mengambil alih gelas itu dari tangan mbok ija.


"Terimakasih, mbok"


Si mbok hanya mengangguk lalu pergi, aku tidak banyak bicara hanya diam dengan bibir sedikit bergetar.


Inilah aku cewek super kuat dengan tinjuan dan pukulan, tapi akan kalah dengan sentuhan air kolam, dibalik watak ku yang keras dan mendominasi ada sisi lemahku yang tersimpan.


Aku melakukan semua hal tanpa ada bimbingan dari orang terdekatku. ibu yang terlalu sibuk, aku juga tidak memiliki saudara selain abang yang sudah meninggal, saudara dari papa dan mama mereka tidak terlalu dekat denganku, sehingga untuk menjadi kuat dan tangguh aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri.


Aku harus menjadi anak yang mandiri sejak berumur 13 tahun, disitu watak ku berubah dari yang ceria dan lembut menjadi keras dan dingin.


"Minum dulu teh-nya, untuk membantu mengusir hawa dingin di tubuhmu." tuturnya padaku sambil menyodorkan gelas ke mulutku.


"Hati-hati airnya masih panas" sambungnya lagi memperingatiku.


Aku menyeruput airnya sedikit demi sedikit, dengan bantuan-nya yang memegang gelasnya.


Setelah itu langsung menuju ke kamar mandi untuk berendam, setelah mang panji selesai mengisi air.


Saat aku kembali ke ruang tamu, dia telah mengganti pakaian nya yang basah tadi dengan pakaian kasual, terlihat sangat pas ditubuhnya.


"Bagaimana sekarang apa masih dingin?" Tanyanya padaku saat aku berjalan menuju ke arahnya.


"Tidak! Aku mau pulang sekarang!" Lontarku cepat sambil duduk di sofa lain disamping nya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu!" Tekadnya.


"Tidak perlu! aku bisa sendiri!" tolak ku dengan tegas.


"Kalau begitu kamu tidak boleh pulang!" ngototnya


"Apa hak mu melarangku?" Tantangku melawanya.


"Aku yang membawamu kemari, jadi aku yang harus mengantarmu!" Tegasnya tidak ingin dibantah.


Lama kami berdebat akhirnya dia mengantarku pulang, jika tidak begini akan panjang urusan nya.


Sampai di depan gerbang rumahku aku segera menyuruhnya untuk cepat pergi, dia merasa bingung namun tetap mengikutinya juga.


Aku takut dia akan bertemu dengan shankara, dan itu akan membuat masalah.


Aku segera melangkah kan kaki masuk ke dalam rumah, langsung di sambut dengan shankara yang sedang menonton televisi di ruang tamu.


"Apakah setelah mengantarmu silvia langsung pulang? apa tidak mampir dulu?" Lontaran pertanyaan langsung dia berikan padaku, namun fokusnya tetap mengarah ke layar televisi.


"Tidak! dia lagi terburu-buru" jawabku sambil duduk di sofa lain di sampingnya.


Aku ikut menatap layar televisi, disana tertera film si kembar botak yang tidak pernah tamat TK meski setiap hari belajar dan sekolah, apalagi kalau bukan upin dan ipin.


"Mengapa rumah terlihat sepi? apa mereka pergi lagi?" Tanyaku sambil mengedarkan pandangan mencari penghuni lain yang ada dirumah.


"Iya, kali ini mereka melakukan perjalanan bisnis keluar negri, sepertinya juga akan lama" jawabnya sambil menatap ke arahku.


Mama tidak memberi tahuku soal ini dia hanya menitip pesan lewat shankara, mungkin kali ini urusan yang sangat penting sehingga memberi kabar padaku saja tidak sempat.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Belum, kamu sudah makan?" Tanyanya balik padaku.


"Belum"


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan lewat delivery" tawarnya padaku.


"Aku sedang tidak ingin makan makanan pesan online" tolak ku


"Lalu kamu mau makan apa?"


"Aku ingin makan batagor di komplek depan sekalian cilok" jawabku memberi ide.


"Tidak ada layanan siap antar kalau itu" jawabnya.


"Tidak perlu pesan online, datangi saja langsung itu lebih baik" saranku padanya.


"baiklah, Ayo!" Ajaknya, segera mematikan televisi langsung menyambar kunci motor di atas meja, tanpa mengganti pakaian lagi.


Akupun begitu tidak menganti baju lagi langsung mengikutinya berjalan dari belakang.


"Pegangan ara...!" gregetnya padaku saat sudah diatas motor tapi tidak mau pegangan.


"Sudahlah, lanjut saja! jangan hiraukan aku" balasku cuek.


Aku tidak mengikutinya malah membantahnya.


"Jangan keras kepala ara! kamu bisa bahaya!" tegasnya sambil menarik tanganku lalu melingkarkan di pinggangnya.


Saat aku hendak melepaskan nya dia malah mengancamku untuk tidak pergi lagi, karena aku lapar aku hanya bisa menurutinya saja.


Entah mengapa saat di dekatnya aku merasa aman dan tidak dapat menolak setiap perkataan nya, padahal dia bukan adik kandungku, namun sifat keras kepalaku bisa diruntuhkan oleh nya dengan ancaman yang membuat aku tidak dapat berkutik.


"Ayo turun! kita sudah sampai" tuturnya sambil mencari tempat untuk memarkirkan motor.


PLAK


Aku memukul kepalanya yang masih memakai helm dengan kesal.


"Sabar bodoh, motornya masih berjalan" umpatku kesal padanya.


"He...he... Aku pikir kamu tertidur di sepanjang perjalanan, makanya aku membercandaimu" ucapnya dengan cengengesan.


"Tidak juga, aku hanya mengecek apakah aku membonceng manusia, apa mahkluk lain soalnya tidak berbicara sedari tadi" jawabnya santai dengan guyonan.


"Maksudmu aku setan?" Sarkasku.


"Aku tidak mengatakan-nya begitu, yah" Elaknya.


PLAK


aku kembali melayangkan pukulan di atas kepalanya, saat telah turun dari atas motor.


"Sama saja bodoh! dasar adik tidak tahu diri" umpatku padanya.


"Ya ampun, apa kamu sudah menganggapku adik?" Serunya sambil menyembulkan mukanya di hadapanku, sambil mengedip-ngedipkan mata seperti orang kelilipan.


"Menjauh bodoh! Ini ditempat ramai jangan berbuat konyol seperti ini" aku malu, hampir setiap orang yang lewat melihat ke ara kami.


"Biarkan saja, mereka tidak tahu bahwasanya aku sangat senang saat ini, karena aku sudah mempunyai kakak" tuturnya sambil menggoyang-goyangkan lengan tanganku, seperti anak kecil yang meminta permen.


"Menjauhlah! jika tidak aku akan memukulmu" ancamku.


"Kakak Ara, kau sungguh kejam! mengapa kau menindasku yang hanya orang lemah ini" ucapnya dengan nada bicara dibuat-buat, semakin menarik perhatian orang-orang ke arah kami.


"Shankara jangan berlebihan! Aku sudah sangat lapar sekarang, jika kamu membuat ulah lagi aku akan membuang kucing peliharaanmu yang ada di rumah" ancamku padanya.


Saat mendengar ancamanku dia langsung menyingkir memberiku jalan, aku segera menuju bapak-bapak penjual batagor langsung memesan makanan.


Dia mengikutiku dari belakang lalu duduk di sebelahku dengan patuh, saat aku melirik ke arahnya melihat mukanya yang tegang, dan seperti tertekan membuat aku ingin tertawa.


"Tidak perlu begitu tegang aku hanya menakutimu saja, agar kamu tidak bertingkah" tuturku padanya sambil mengacak rambutnya.


"Kamu membuatku takut saja, jika kamu benar-benar membuang kucing kesayanganku aku tidak akan punya teman lagi" ucapnya dengan muka sedih, itu terlihat imut dan menggemaskan.


"Sudahlah, ayo makan! jangan memikirkan kucingmu lagi aku tidak sampai sejahat itu" tuturku padanya.


Dia segera menormalkan aura mukanya dan kembali santai seperti tadi, sebenarnya dia anak yang ceria dan konyol mungkin hidupnya mendapat kasih sayang dan perhatian yang seimbang, sehingga kelihatan nya tidak ada beban yang dia emban.


Kami terus makan, hingga masing-masing menghabiskan dua porsi batagor.


"Apa kita perlu membeli cilok lagi?" dia membuka suara memecahkan keheningan.


"Tidak perlu! ini sudah terlalu kenyang" jawabku menolak.

__ADS_1


"Baiklah, setelah ini kita akan pergi kemana lagi?" Tanyanya.


"Pulang! aku ingin segera istirahat" jawabku memutuskan untuk pulang karena aku ingin segera tidur.


"Ayo! kalau begitu mari kita pulang, aku juga ingin segera bermain game sampai di rumah" tuturnya sambil berjalan menuju penjual batagor dengan ceria.


Dia segera membayar makanan kami, karena dia melarangku untuk membayar sendiri.


Setelah selesai, kami segera menuju motor untuk segera pulang, namun sesuatu malah terjadi, tiba-tiba seseorang menabrak ku sehingga membuat aku hampir terjatuh.


"Kamu tidak apa-apa ara?" Untung saja shankara segera menahan tubuhku, kalau tidak aku sudah jatuh telungkup.


"Tidak apa-apa" jawabku segera menegak kan tubuhku, menjauh dari shankara.


"Maaf"


"Maaf"


Ucap kami bersamaan meminta maaf, aku menatap ke arah orang itu begitupun sebaliknya dia menatapku.


"Kamu"


"Kamu"


Seru kami bersamaan, betapa kagetnya aku saat mengetahui dia orangnya.


"Haish, sepertinya tidak cukup mendekati satu cowok, sekarang malah lagi jalan sama cowok lain, benar-benar handal!" nyinyir orang itu.


"Sepertinya anda mengatakan nya pada diri sendiri, bukan? Lihat disampingmu cowok apa bukan?" Jawabku telak membuat dia terdiam.


"Kamu sungguh berani berselingkuh dari ziyad? Kalau sudah m*rahan pasti akan tetap m*rahan!" Ejeknya dengan tersenyum miring.


"Siapa yang kamu katakan m*rahan?" Shankara melangkah maju kedepan sambil menatap tajam orang itu, aku segera menghalanginya dengan tanganku agar tidak terjadi keributan.


"M*rahan atau bukan kamu pasti bisa melihatnya, sudah punya pacar tapi masih menggoda orang lain itu bagusnya di sebut apa yah? J*lang? atau kegatelan?" Tembak ku langsung padanya sambil mengetuk-ngetuk kan jari ke dagu.


"Sudahlah mona, ayo kita pergi! kamu baru pulang dari rumah sakit" orang yang disamping berusaha membujuk perempuan itu untuk pergi.


Yah, dialah mona perempuan masalalu-nya ziyad yang susah move on, meskipun sudah mempunyai kekasih namun tetap mengganggu orang lain, dan cowok disampingnya bayanaka saingan cintanya ziyad, meskipun taruhan.


"Ini semua gara-gara cewek ini, jika dia tidak memanggil ziyad hari itu aku tidak akan mengalami hal seperti ini!" Geramnya sambil menunjuk muka ku dengan emosi.


"Jadi maksudmu jika bukan kamu yang celaka sekarang, jadi aku yang harus celaka begitu?" Cibirku padanya.


"Kamu ingin membunuh tapi tidak mau terbunuh, kalau begitu tidak usah membawa pistol bersembunyi saja dibalik tiang untuk berlindung, lagian bukan aku yang menyuruhnya datang tapi karena kemauan nya sendiri" cemoohku padanya.


"Sudah mona, sekarang kamu butuh istirahat untuk pemulihan" desak orang itu sambil menarik tangan sang cewek.


"Sebentar, aku belum selesai dengan nya" jawabnya dengan gaya tidak santai.


"Lebih baik ikuti apa kata pacarmu, daripada kamu membuang tenagamu yang tidak seberapa itu, apalagi kamu baru pulang dari rumah sakit" saranku diiringi kata ejekan.


"Satu lagi lebih baik jangan membuat masalah! karena kejahatanmu menembak satpam itu belum di proses jadi lebih baik kamu berhati-hati!" Peringatku padanya.


"Kamu..." geramnya sambil menggertak kan gigi ingin memukulku.


"Lebih baik bawa pacarmu pergi, jangan membuat keributan disini!" Usir shankara pada mereka.


Akhirnya cowok itu memapah mona pergi, sambil berjalan tertatih-tatih karena luka tembak kemarin.


"Kamu ada masalah apa dengan mereka?" Selidik shankara sambil mentapku dengan instens.


Akhirnya aku menceritakan kejadian kemarin padanya, namun tidak mengatakan aku menginap di villa bersama ziyad.


"Mengapa tidak memberitahuku?" Tanyanya dengan muka serius.


"Kamu datang juga tidak akan membantu apa-apa" jawabku santai.


"Jadi menurutmu kedatangan ziyad sangat membantu, begitu?" Sindirnya padaku.


"Tidak juga! karena dia penyebab dari masalahnya" jawabku menyalahkan perkataanya.


"Lain kali jika bertemu lagi jangan hiraukan mereka, kalau bisa menghindar saja" larangnya padaku untuk tidak berurusan dengan mereka lagi.


"Baiklah, ayo pulang! aku ingin segera istirahat" tuturku sambil berjalan duluan kedepan.


"Heum" jawab singkat shankara lalu segera menaiki motor membela jalanan.


Aku merentangkan tangan sambil menghirup udara, menikmati pemandangan disepanjang perjalanan, terkadang shankara mengomeliku karena tidak berpegangan, namun aku tidak menghiraukan nya.


Aku bisa merasa kehadiran sosok seorang abang pada diri shankara, meskipun aku tahu dia bukan saudara kandungku, apalagi dia sebagai sosok adik dari beda ibu dan ayah denganku.


Meskipun begitu entah mengapa seiring dengan berjalan nya waktu, aku mulai bisa sedikit menerimanya meskipun belum sepenuhnya.


Aku harap kedatanganmu bukan hanya singgah dan sekedar menyapa, tapi sungguhan dan selamanya~ Adiba ara kaluna

__ADS_1


__ADS_2