Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Menyambut Pagi Dengan Keributan


__ADS_3

burung berkicau bersahut-sahutan, udara sejuk masuk dari fentilasi udara menembus kedalam ruangan kamar.


Aku yang sedang tertidur sedikit menggeliat dengan mata merem, semakin menarik selimut menutupi tubuhku karena udara yang terasa dingin.


aku mencari ponsel untuk memastikan jam berapa sekarang, namun saat aku merabah kan tanganku, bukan ponsel yang aku dapatkan melainkan muka seseorang.


Aku merasa pinggangku terasa berat seperti tertimpah oleh sesuatu, dan guling yang biasa aku peluk saat aku tidur tidak empuk lagi melainkan keras.


Perlahan aku mulai membuka mata, dan betapa kagetnya aku di depan mukaku muncul muka orang lain.


BRUK


Karena kaget aku mendorong orang itu hingga terjatuh ke bawa ranjang.


"Aduh..." ringis orang itu dari bawa ranjang.


Aku menjulurkan kepalaku kebawa ranjang memastikan orang itu baik-baik saja, saat kepalaku sudah terjulur ke kolom ranjang betapa kagetnya aku ternyata itu si muka tebal, aku segera bangun langsung duduk dengan mata melotot.


"Kamu kenapa bisa ada disini? Kamu menyeludup masuk ke dalam kamarku yah? Awas saja kamu, aku akan menghajarmu!" tuturku segera turun dari ranjang lalu menghampiri orang yang sedang tergeletak dilantai.


"Sebentar! Lihat dinding kamarnya apakah ini kamarmu? Satu lagi aku baru selesai sakit apa kamu ingin langsung membunuhku?" Ucapnya padaku yang hendak memukulnya, dengan suara khas orang bangun tidur.


Aku memindai mata mengitari ruangan, dia benar ini bukan kamarku, lalu aku dimana sekarang?


"Lalu mengapa aku bisa berada disini?" Tanyaku dengan melototkan mata padanya.


"Kurasa kamu tidak mabuk semalam, jadi kamu pasti akan mengingat apa saja yang terjadi" tuturnya sambil berusaha bangkit sambil menepuk-nepuk bokongnya dari debu.


Aku berusaha mengingat apa saja yang telah terjadi semalam, mulai dari kami sampai di villa hingga aku merawat si muka tebal yang lagi sakit, hingga akhirnya aku ikut tertidur.


Aku menatap ke arahnya dengan malu karena telah menuduhnya sembarangan, apa lagi ini tempat punya dia mau ditaruh di mana muka ku ini.


Aku segera berlari ke kamar mandi menyembunyikan muka merah ku, namun pergerak kan ku ternyata di sadari olehnya dia juga segera melangkah menuju kamar mandi, akhirnya kami saling tarik menarik berebut ingin masuk duluan ke kamar mandi.


BRUK


Aku sengaja mendorongnya supaya aku bisa masuk ke kamar mandi duluan.


BLAM


aku segera menutup kamar mandi dengan kencang.


"Dasar monster kutub! dari tadi sudah dua kali kamu mendorongku, awas saja kamu tunggu pemabalasanku!" Ancamnya sambil berteriak dari luar pintu kamar mandi.


"Bodoh, bilang saja kamu malu karena telah kalah dariku" ejek ku dari dalam kamar mandi.


Aku segera melakukan ritual mandiku hingga bersih, setelah itu aku segera meraih handuk untuk mengeringkan tubuhku, namun ada yang tidak beres aku tidak menemukan handuk selain baju yang telah kupakai tadi yang ada digantungan.


Aku baru ingat bahwasanya aku lupa membawa handuk, gara-gara terburu-buru masuk kamar mandi ditambah lagi rebutan kamar mandi dengan ziyad, jadi tidak kepikiran dengan handuk lagi.


Aku mencoba membuka pintu kamar mandi dengan sedikit renggang, tidak membuka lebar lalu mengintip kedalam kamar apakah ziyad masih disana, ternyata dia ada disana namun bajunya telah berganti mungkin dia mandi dj kamar mandi lain.

__ADS_1


"Ziyad, bantu aku membawakan baju ganti, aku lupa membawanya" teriak ku dari dalam kamar mandi.


"Bawa saja sendiri, itu sebagai karma mendorong calon suami" balasnya dari sana.


"Calon suami kepalamu botak, aku tidak ingin punya suami tengik sepertimu" jawabku dengan berteriak.


"Yasudah, kalau begitu aku tidak ingin mengambilkan nya untukmu, keluar saja seperti itu" jawabnya dengan santai.


"Dasar kamu tidak tahu berterima kasih! semalam aku sudah membantu merawatmu tapi kamu tidak ingin membantuku kembali?" Ucapku dengan emosi.


"Siapa suruh kamu mendorongku hingga dua kali terjatuh di lantai" jawabnya lagi.


"Jika aku tidak begini, aku sudah menghajarmu!" teriak ku dari dalam kamar mandi dengan marah.


"Coba saja! aku akan menunggu hajaranmu dengan senang hati" pancingnya dari sana semakin membakar emosiku.


"Dasar pria muka tebal, tidak tahu terimakasih, kalau saja kamu tidak menolongku kemarin aku tidak akan merawatmu semalam, biarkan saja kamu mati kesakitan disitu" umpatku kesal padanya.


"Kamu selalu saja mengumpatiku, aku sudah mengambilkan nya sedari tadi saat aku berganti pakaian, karena aku tahu saat kamu ke kamar mandi kamu tidak ada persiapan, tapi kamu selalu saja mengata-ngataiku dengan kasar, kamu keterlaluan!" tuturnya dari sana dengan suara rendah.


"Kamu pantas mendapatkan nya!" jawabku lagi.


"Aku taruh di gagang pintu kamu ambil saja sendiri, aku akan turun kebawah untuk sarapan, setelah selesai nanti kamu segera turunlah kebawah untuk sarapan" ucapnya dengan serius tidak menggodaku lagi.


Apa dia marah? mungkin dia sakit hati dengan perkataanku barusan, tapi biarkan saja siapa suruh dia menggodaku terus.


Saat aku mendengar langkah kaki semakin menjauh hingga tidak terdengar lagi, baru aku membuka pintu dan segera mengganti pakaian setelah itu segera turun menyusulnya kebawa untuk sarapan.


Kami berdua makan dalam keheningan tanpa berbicara, apalagi ini pertama kalinya kami makan bersama, aku merasa canggung apalagi baru selesai berdebat dengan nya membuat nafsu makanku menurun.


"Mengapa makan nya tidak habis?" Tanyanya sambil menatap ke arahku dengan bingung soalnya aku makan terlalu sedikit.


"Aku tidak lapar" jawabku singkat tanpa menatapnya, aku merasa takut melihat ke arahnya.


Dia tidak bicara lagi segera meninggalka meja makan melangkahkan kaki keluar villa, aku mengikutinya dari belakang dengan diam.


Ini pertama kalinya aku di abaikan oleh seseorang, biasanya aku yang mengabaikan orang lain.


Aku mengikitutinya kemana dia melangkah, aku berjalan di belakangnya tanpa bersuara.


"Apa kamu akan tetap berjalan di belakangku?" Dia mulai buka suara saat keheningan yang cukup panjang tercipta diantara kami.


Duk


Aku malah menabrak belakangnya karena dia berhenti secara tiba-tiba.


Melihatku yang terantuk di punggungnya, dia segera berbalik menggenggam tanganku lalu kembali melanjutkan jalan.


Kami berjalan beriringan sambil berpegangan tangan, namun tidak berbicara satu sama lain, kami berjalan-jalan di sekitar villa melihat-lihat pemandangan dalam diam.


"Apa kamu mau melihat pemandangan di sekitar kolam renang? disana ada taman bunga dan ada air terjunnya juga." Akhirnya dia buka suara lagi.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, dia segera membawaku kesana.


Aku sempat terpana melihatnya, pemandangan nya sangat indah apalagi kolam renangnya bersatu dengan alam menciptkan suasana yang menenangkan, airnya yang berwarna biru bening dipadukan dengan bebatuan di sekelilingnya kita seperti melihat kolam syurga dunia.



Aku berjalan di sekitarnya menikmakti pemandangan sambil menghirup udara segar.


"Apa kamu menyukainya?" Tanyanya padaku.


"Iya, ini sangat bagus" jawabku dengan mata berbinar.


Saat ini aku lagi dipinggir kolam dia malah tersenyum jahil ke arahku, lalu mendorongku dengan pelan kedalam kolam.


"Kalau begitu kamu mandi lagi sekali, ini pemabalasanku karena kamu telah mengumpatku, selamat berendam tuan putri" ucapnya dengan ceria sambil tertawa terbahak-bahak melihatku kecebur kedalam kolam.


Aku yang tidak tahu berenang menjadi panik, berusaha menggapai-gapaikan tangan ke atas sambil berusaha menyembulkan kepala kepermukaan, namun sedetik kemudian aku kembali tenggelam.


Dia tidak mengetahui apa yang terjadi padaku malah melangkah pergi dengan santai, namun saat dia melihat tidak ada respon dariku dan mendengar kata-kata umpatan yang biasa aku lontarkan padanya, dia segera berbalik melihat kondisiku.


Aku dapat melihat dia dari dalam air meskipun aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, dia terlihat panik dan takut segera melompat ke dalam kolam.


Lalu dia segera meraih pinggangku membawaku naik ke atas dengan cepat, setelah itu meletak kan aku di pinggir kolam.


"Aluna! bangun aluna!" Teriaknya sambil menangkupkan kedua tanganya di pipiku.


Melihat tidak ada reaksi dariku dia segera menekan dadaku dengan kedua telapak tanganya, aku masih dalam keadaan setengah sadar dan tidak bisa membuka mata.


Karena tidak ada pergerakan dariku dia segera membuka mulutku dan memberikan napas buatan, dia melakukanya hingga tiga kali pengulangan baru aku mulai terbatuk dan menyemburkan air dari mulutku.


"Kamu sudah sadar?" Ucapnya saat melihat aku mulai membuka mata.


"Dasar kamu gila! apa kamu ingin membunuhku?" Maki ku padanya dengan berteriak.


"Maaf, aku pikir kamu tahu berenang, makanya aku melakukan itu" tuturnya membawaku kedalam pelukanya merasa bersalah, sambil memeluk ku dengan erat.


"Dasar kejam! membalaskan dendam padaku hingga hampir merenggut nyawaku, kamu jahat! lepaskan aku!" Teriak ku sambil merontah berusaha lepas dari pelukanya.


"Maafkan aku aluna! Maaf Aku telah membuatmu hampir tenggelam, maafkan aku..." ucapnya dengan suara rendah sambil membelai rambutku dengan sayang, sesekali mencium puncak kepalaku sambil terus melontarkan kata maaf yang tiada habisnya.


"Kamu benar-benar ingin membunuhku, aku benci padamu!" Aku terus merontah di dalam pelukanya hingga akhirnya aku lelah sendiri dan berhenti memberontak.


"Maafkan aku, aku janji tidak akan melakukanya lagi. ayo kita kembali ke villa untuk menganti pakaianmu agar kamu tidak masuk angin" tuturnya langsung menggendongku membawaku ke villa.


Aku tidak bisa memberontak lagi karena untuk saat ini aku sudah kehabisan tenaga, hanya bisa mengalungkan tanganku ke lehernya dan diam di dalam gendongan nya.


Lewat kesalahan kita mengenal kata maaf, lewat kata maaf kita memperbaiki kesalahan~ Adiba ara kaluna


TBc❤


Terimaksih udah mampir...😘

__ADS_1


__ADS_2