
"Kita sudah sampai, ayo turun!" ajaknya sambil menggenggam tanganku membawaku menuju sebuah villa.
"Untuk apa kamu mengajakku kemari?" Tanyaku sambil berusaha melapsakan tangan dari genggamannya, namun tidak berhasil dia malah menggenggamnya semakin erat.
"Kamu akan tahu nanti" balasnya sok mistrius sambil tersenyum simpul.
Aku mengikuti langkahnya masuk kedalam villa. Disana sudah berdiri empat orang wanita dan tiga orang laki-laki parubaya, berdiri sejajar memberi hormat padanya, Dia mengangguk sambil tersenyum lalu duduk disofa berwarna silver dengan santai.
"Mbok-mbok dan mang-mang sekalian gimana kabarnya?" Ujarnya buka suara.
"Alhamdulillah baik den"
"Baik den"
"Sehat den"
Jawab mereka beragam, aku hanya diam dan sedikit tersenyum jika mereka menyapa. lalu mereka bubar menyisakan aku dan simuka tebal.
"Ayo ikut aku!" ajaknya lagi sambil menarik tanganku menuju kesuatu ruangan.
Saat pintu terbuka, dia langsung berlari menaiki prosotan berwarna merah, sehingga membuatnya terjun bebas kesebuah bak yang berisi bola dengan berbagai warna.
dengan gembira, dia menghamburkan bola-bola itu keatas, sambil tersenyum merekah, seakan tidak ada beban masalah yang dia punya.
sesekali dia membanting dirinya ketumpukan bola itu sambil tidur terlentang, memandang keatas dengan senyuman khasnya, kita yang melihanya akan tertular energi semangat darinya.
"Hei, sini!" Panggilnya dengan semangat kepadaku, yang hanya menatapnya dari jauh.
Perlahan aku mendekat kearahnya dengan muka lesuh, karena melihat tingkah konyolnya.
"Sini! mukanya jangan lemes gitu dong" ajaknya lagi padaku sambil protes dengan ekpresiku.
"Ada apa?" Tanyaku malas.
"kamu harus cobain deh, pasti suasana hatimu langsung membaik" tawarnya padaku.
Aku dengan tidak bersemangat, mulai menaiki tangga perosotan dan bersiap meluncur.
"Kenapa masih belum meluncur? Kamu takut?" Tanyanya sambil mengangkat alis.
"Mana mungkin, aku bisa kok" balasku cepat agar dia tidak menganggapku lemah.
"Yasudah, meluncurlah! jika kamu takut aku akan menangkapmu" ucapnya penuh yakin dengan muka serius.
Mendengar kata-katanya aku jadi tertegun, dan terdiam mengingat kejadian saat itu.
"Ayo turun!" ucap seseorang anak cowok berumur lima tahun pada adik perempuannya.
"Aku takut Abang" balasnya dengan muka ingin menangis. Saat ini dia tengah memanjat sebuah pohon rambutan yang tidak terlalu tinggi, namun begitu tinggi untuk anak seusia dia.
"Lompatlah! jika kamu takut aku akan menangkapamu" balas anak lelaki itu dengan penuh yakin.
"Baiklah, aku akan meluncur" tekadku dengan penuh yakin setelah terdiam cukup lama.
'Hap' aku masuk kedalam pelukanya, lalu jatuh bersama keatas bola dengan posisi aku menindihnya, membuat bola berhamburan kemana-mana.
Aku menatap mata jernih itu, yang juga menatapku, aku terhipnotis dengan mata hitam pekatnya yang menatap intens padaku, dengan bulu mata lentik yang berbaris indah dan tatapan kuat yang mampu menikam.
Deru napasnya mengenai ceruk leherku membuat bulu kuduk-ku merinding seketika, tangannya dengan erat memeluk pinggangku membuatku bergeming.
"Hei! apa yang kamu lakukan?" Teriak-ku saat tiba-tiba tubuhku melayang diudara. dia hanya tersenyum tipis tanpa bersuara.
Dia menggendongku lalu melemparku keatas tumpukan bola, sehingga membuat bola-bola itu terlempar kemana-mana.
"Bagaimana? Seru bukan?" tanyanya.
"Sungguh kekanak-kanakan." jawabku mengejek.
"Hei! kau mau apa?" Teriak-ku saat tiba-tiba dia menarik tanganku keluar dari bak bola, lalu menggendongku ke atas tangga dan meletakkanku di atas perosotan.
__ADS_1
"Swush" dia mendorongku hingga aku meluncur kebawa dan menabrak bola-bola itu.
Aku menatap ke arahnya dengan diam, ternyata idenya tidak buruk juga, saat meluncur seakan semua beban menghilang dengan sendirinya, tubuh merasa santai dan ringan.
Tanpa dipaksa lagi olehnya, aku keluar dari bak bola dan menaiki tangga sendiri, lalu meluncur kebawah sambil merentangkan kedua tanganku.
Kulihat dia tersenyum puas melihatku mulai berinisiatif sendiri menaiki tangga, lalu meluncurkan tubuhku diatas prosotan dengan semangat.
Sehingga aku mulai merasa bosan sendiri karena melakukanya terus menerus.
"Aku tidak mau main lagi, aku sudah bosan" keluhku padanya.
"Baiklah, ayo lihat yang lainya mungkin kamu akan suka" ajaknya lagi sambil menarik tanganku.
"Aaaaaaaaaa"
"Huaaaaaaa"
"Aaaaaaaaa"
Teriak-ku menjerit-jerit ketakutan, saat ini kami sedang berseluncuran disebuah terowongan bawah tanah miliknya. terlihat lobang yang tidak memiliki cahaya terang, hanya sinar dari lampu led aquascepe berwarna biru menyinari mukaku.
Terlihat sangat ekstrim sekali, apalagi kecepatanya diatas rata-rata, kita tidak mampu mengendalikanya.
karena memang tidak ada pengendalian yang bisa menghentikannya, selain menunggu sampai diakhir terowongan.
"Bruk" aku menendang patatnya ziyad saat sudah di akhir terowongan,
dia yang berada di depanku otomatis ketendang oleh kakiku saat di luncuran terakhir.
"Kamu menendangku?" Tanyanya dengan muka ditekuk.
"Tidak sengaja" jawabku datar.
Dia berdiri sambil mengibas-ngibas pakaiannya yang kotor.
Aku menatap sekeliling saat telah sampai di sebuah rumah mini, berukuran sangat kecil yang hanya bisa dimasuki dua orang saja.
Taman bunga yang membentang luas dengan aneka ragam bunga di dalamnya, terdapat juga kursi taman untuk tempat beristirahat, disertai pohon-pohon rindang tempat berteduh dari sinaran matahari.
Aku membaca sebuah pamplet 'Taman Syurga Pramadana' tidak salah ini disebut taman syurga selain sejuk juga enak untuk dipandang.
"bagaimana?"
"Lumayan"
"Apa tidak ada kata lain selain itu?" Tanyanya jengkel.
Aku mengangkat bahu tanpa melihat ke arahnya, pandangan mataku tertuju pada seekor kelinci putih yang berkeliaran di sekitar bunga-bunga.
Aku berjalan mendekat ke arahnya hendak menangkapnya, namun dia sudah melompat terlebih dahulu kedalam tumpukan bunga-bunga.
"Kamu menyukainya? Apa perlu aku menangkapnya untukmu?" Tanyanya sambil menghampiriku.
"Tidak perlu! biarkan saja dia bermain semaunya" jawabku sambil berbalik menghampiri rumah mini.
"Apa kamu mau masuk?" Tanyanya lagi hendak membuka pintu.
"Tidak perlu! kita sudah terlalu lama diluar, via akan mengkhawatirkanku. lagian kita harus segera kembali kesekolah"
"Baiklah"
Dia mendekat ke samping rumah mini lalu menginjak sesuatu, sehingga munculah sebuah kotak persegi panjang dari dalam tanah ke permukaan, dia melambaikan tangan memanggilku untuk mendekat.
"Ayo masuk!" Ajaknya sambil menarik tanganku. kami masuk ke dalamnya, ternyata ini lift ruang bawa tanah.
Selang beberap detik kami sudah sampai di depan vila, lalu ia berjalan mendekat ke arah tukang kebun di villa ini dan mengajak orang itu bicara.
Aku hanya melihat dari jauh, mereka sepertinya membicarakan sesuatu karena jarak terlalu jauh aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Ayo pulang! Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan" ajaknya sambil berjalan duluan ke depan.
Aku menatap ke langit memang benar cuaca agak mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.
"Tadi saat pulang, kita naik lift ruang bawa tanah, tapi kenapa saat pergi kita tidak naik itu saja?" Tanyaku memecahkan keheningan saat kami sudah di dalam mobil.
"Aku mau, dengan membawamu ke terowongan kamu bisa meluapkan emosimu dengan bebas, menjerit sekencang-kencangnya, lalu kamu bisa melupakan masalahmu" ia mengutarakan niatnya sambil menatapku sekilas.
Aku terdiam tanpa kata. meski dia belum mengenalku begitu lama, tapi dia bisa mengerti kondisi dan situasiku, aku salut padanya bahkan mungkin kita bertemu baru beberapa kali, namun dia tanpa di minta begitu peduli dengan perasaan dan keadaanku.
Diluar rintikan hujan mulai turun, bahkan sekarang semakin deras. benar dugaannya, pasti akan turun hujan.
"Sepertinya hujannya semakin kuat, bagaimana kalau kita berteduh dulu? tidak baik mengemudi di dalam hujan deras, itu akan berbahaya" saranya sambil menanyai pendapatku.
"Sepertinya di depan ada gubuk kita berhenti di situ saja" jawabku sambil terus melihat ke arah gubuk itu.
Dia segera meminggirkan mobil tepat di hadapan gubuk, kami segera turun dengan berlari ke dalam gubuk itu.
Mungkin ini gubuk tempat peristirahatan para petani dan pemetik teh, namun saat ini sedang tidak ada berpenghuni.
"Ayo duduk!" ajaknya sambil menaiki gazebo gubuk bambu itu. aku mengikutinya untuk duduk.
"Pakai ini, udaranya sangat dingin jika berada di luar seperti ini" ucapnya sambil mengenakan jaketnya di tubuhku, tanpa menunggu respon dariku dulu.
Aku diam saja tanpa bicara satu katapun, bagaimanapun kita melarangnya dia akan bertindak sesukanya.
'Hacyim' terdengar suara bersin darinya sambil menggosok hidung yang memerah.
Aku menoleh ke arahnya, melihat tampangnya yang sedang memeluk kedua lutut dengan tubuh menggigil.
"Ck, sudah tau tubuhmu lemah masih aja mementingkan diri orang lain" dumelku sambil membuka jaket dari tubuhku lalu memasangkan padanya, lalu membuka tas mencari sesuatu.
"Karena kamu cewek, lagian aku tidak lemah, mungkin karena efek aku sakit semalam" jawabnya santai.
'Semalam anak ini sakit? tapi masih nekad juga pergi sekolah, bahkan masih berani membawaku pergi keluar? Benar-benar ini anak! 'batinku
"Berikan tanganmu!" Perintahku padanya.
Saat tanganya terulur, aku segera membalur minyak kayu putih itu di tanganya lalu di kakinya juga.
"Bagaimana? apa ada lagi bagian yang tidak enakan?" Tanyaku menatapnya.
"Ada" jawabnya cepat.
"Apa?"
"Aku masih dingin" ucapnya dengan muka serius.
"Lalu bagaimana?" Tanyaku juga dengan ekspresi serius, bahkan khawatir, karena tidak ada seorangpun untuk di minta pertolonga saat ini.
"Peluk" ucapnya manja dengan ekspresi muka imut.
'Haish, dia berani menipuku?' batinku memasang muka sangar.
"Kalau tidak bisa ya sudah, biarkan saja aku mati kedinginan" ambeknya sambil memutar tubuh, membelakangiku dengan muka merengut.
Kulihat tubuhnya masih sedikit gemetar, mungkin efek terlalu dingin, apa lagi tadi katanya semalam dia sakit, dengan terpaksa aku harus mengalah kali ini.
"Iya...iya... cepat hadap sini! katanya tadi mau peluk?" ngalahku seperti membujuk anak kecil yang lagi marah.
'Hap' tanpa aba-aba dia langsung menerjang ke dalam pelukanku, lalu membalikan tubuh menyender seutuhnya di tubuhku, lalu membawa kedua tanganku melingkarkan di tubuhnya.
Aku terdiam kaku menatap kelakuanya, namun orang itu sudah menutup mata seakan tak peduli dengan yang terjadi.
'Menyebalkan! giliran udah di bolehin, malah nyelonong tanpa sungkan. dasar si muka tebal!' umpatku dalam hati dengan kesal.
Baru kali ini aku mau saja di bodohin sama pria tengil seperti dia, bahkan aku juga mengikuti apa maunya, tapi anehnya aku tidak bisa menolak, apa lagi marah padanya.
Banyak hal yang telah lama menghilang, namun kamu mencoba mendatangkannya bahkan membuatku kembali mengenang~ Adiba ara kaluna
__ADS_1