Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Kebenaran Terungkap


__ADS_3

"Meng... mengapa muka Kalian sama persis?" Ucapku terbata sambil menyingkir dari tengah-tengah mereka, dengan mata membola dan mulut terbuka seakan sedang melihat hantu saja.


Mereka berdua menatap ke arahku dengan pandangan yang berbeda, yang satu menatap dingin dan tajam, yang satu lagi menatap lembut dan tenang.


"He... he... Mukamu lucu sekali kalau lagi kaget seperti ini" ucap salah satu dari mereka dengan terkekeh, sambil mencubit kedua pipiku dengan gemas.


Aku tebak ini pasti ziyad, lalu yang aku tabrak barusan itu siapa?


"Mengapa aku bisa bertemu lagi denganmu?" Lontar cowok yang barusan bertabrakan denganku, sambil menatap ke arahku dengan dingin.


Aku melepaskan tangan ziyad dari pipiku, lalu menatap ke arah orang itu dengan pandangan tidak senang.


"Kamu! cowok yang meniru mukanya ziyad mengapa nyolot sekali?" Tuturku sambil menghadap ke arahnya dengan tatapan tidak suka.


"Aku? Meniru mukanya? Yang benar saja, sebenarnya IQ mu berapa sih, bisa bodoh begini?" lontarnya memberi ejek kan padaku.


"Kamu mengataiku?" Ucapku sambil maju selangkah ke hadapanya.


"Apa yang salah dengan perkataanku?" Ucapnya dengan santai.


"Kamu benar-benar bermulut tajam!" Tuturku dengan kesal sambil menatapnya dengan nyalang.


"Apa ada masalah?" Ucapnya lagi sambil membalas tatapanku tidak kalah tajamnya.


"Beginilah jika kutub negatif bertemu dengan kutub negatif, akan saling tolak menolak" lontar ziyad tiba-tiba, masuk ditengah-tengah perdebatan kami berdua.


"Padahal kalian sama-sama berasal dari kutub yang sama, sama-sama ber-aurah dingin, tapi mengapa tidak bisa akur begini?" sambungnya lagi terlihat jengah dengan perdebatan kami yang tiada habisnya.


"Bukan urusanmu!"


"Bukan urusanmu!"


Seru kami bersamaan, sambil menatap ke arah ziyad berbarengan.


"Eh... mengapa jadi aku yang dibentak, memangnya ada yang salah dengan perkataanku?" Kagetnya, sambil memasang muka watados (wajah tanpa dosa) ke arah kami.


Hadeh, dia pikir ucapan nya barusan itu sebagai lelucon begitu? mengapa bisa aku bertemu dengan dua makhluk aneh ini? yang satu bermulut tajam, yang satu lagi bermuka tebal, benar-benar perpaduan yang tidak selaras.


Muka mereka sama tapi memiliki kepribadian yang berbeda, sebenarnya mereka dilahirkan dari rahim yang sama apa bukan sih? jika benar mereka kembar mengapa sifat mereka jauh berbeda sekali, bahkan jauhnya melebihi perkiraan.


"Lagian kalian meributkan apa sih?" Tutur ziyad sambil menatap ke arah kami secara bergantian dengan heran.


"Cewek ini berlagak sok kenal denganku, menuduh aku yang mendekatinya duluan lalu memukulku, lihat ini!" jelas cowok itu buka suara mencoba mengaduh pada ziyad, sambil menampak kan bibirnya yang sedikit berdarah akibat pukulanku.


"Buahahaha... makanya Kamu jangan main-main dengan monster kutubku ini, selain dingin dan cuek dia juga bisa menghajar orang" dia tertawa lepas hingga matanya sedikit mengeluarkan air, sambil menatap ke arah orang itu dengan lucu.


"Aku saja pernah merasakan pukulan nya memang sangat mantap sekali " Ucpanya lagi sambil merangkul pundak ku dengan senyuman bangga ke arah cowok itu.


Aku berusaha menyingkirkan tangan nya dari pundak ku, namun dia semakin merangkulku dengan erat, malas meladeni aku membiarkan nya saja.


"Aku salah mengenal orang kamu tidak harus marah-marah begitu padaku, lagian kamu juga mendorongku hampir terjatuh, jadi kita impas" tuturku membela diri.


"Jadi, maksudmu, kamu menyangka dia adalah aku? Ha... ha... ha... Pantas saja tadi saat aku memanggilmu kamu malah mengabaikanku, ternyata begitu" kelakar ziyad sambil mengangguk-angguk kan kepala seperti mengerti situasi kami saat ini.


"Karena mukamu sama persis dengan nya, jadi aku mengira dia adalah kamu, namun dia lebih buruk darimu" ucapku pada ziyad sambil menatap ke arah orang satunya lagi dengan pandangan tidak senang.


"Berarti ini kesalah pahaman, jadi kalian tidak perlu berdebat lagi!" Putus ziyad jadi penengah.


"Lagian kamu zayid sejak kapan mulai banyak bicara? Berdebat dengan wanita lagi, ini bukan gayamu, ayolah kemana dirimu yang kalem itu?" Tutur ziyad sambil memandang ke arah orang itu dengan heran.


"Ini semua gara-gara cewek ini, merusak moodku saja " dia malah menyalahkanku.


"Heh, mengapa kamu malah menyalahkanku? Kamu yang membuat keributan duluan" ucapku membela diri.


"Haish, sudahlah! kalian jangan berdebat lagi, kamu zayid minta maaf pada kakak iparmu!" Perintah ziyad pada cowok itu yang membuat aku kaget mendengarnya.


"Hah, kakak ipar?" Membuat dia jadi melongo sambil menatap ke arahku dengan tidak percaya.


Aku menyikut ziyad sambil melototkan mataku padanya dengan gumaman kecil, "Apa yang kamu katakan? Itu akan membuat dia salah paham, bodoh!"


"Biarkan saja, meski tidak sekarang nanti juga kamu bakal jadi kakak iparnya, jadi dia harus belajar menghargaimu dari sekarang" balasnya dengan gumaman juga padaku.


"Jadi benar, kalian sudah berpacaran?" tiba-tiba mucul sebuah suara ditengah-tengah kami.

__ADS_1


"Aku pikir kamu hanya bercanda dan hanya bermain-main saja dengan wanita ini karena ingin membuatku cemburu, ternyata kamu serius?" Lontar orang itu sambil menatap ziyad dengan sendu.


"Aku tidak pernah mempermainkan wanita, apalagi bermain-main dengan yang namanya cinta, terkecuali mungkin nona mona biasa melakukan nya" jawab ziyad dengan pandangan merendahkan ke arah orang itu.


Orang yang tiba-tiba muncul itu dialah mona, dengan kaki terbalut perban sambil menggunakan tongkat di kedua sisi tubuhnya, namun yang anehnya dia memakai seragam yang sama dengan kami, apakah dia bersekolah disini juga?


"Kamu tega melakukan ini semua padaku ziyad! apa kamu tidak mengingat kita dulu pernah kenal dan begitu dekat?" Dia berucap sambil meneteskan air mata.


"Itu semua sudah masa lalu, lagian kita bisa dekat dan kenal karena dulu aku bersahabat dengan bayanaka lalu bertemu denganmu, aku hanya menganggapmu teman tidak pernah menganggapmu lebih dari itu" tutur ziyad dengan santai, semakin membuat air mata wanita itu bercucuran.


"Kamu telah berubah ziyad, apalagi semenjak mengenal wanita ini, dia telah merebutmu dariku!" tuturnya dengan penuh penekanan, sambil mentap ke arahku dengan aura berapai-api.


"Aku benci wanita perebut sepertimu! Kamu telah menghancurkan hubungan kami!" Teriaknya dengan frustasi padaku, sehingga membuat orang-orang disekeliling berdatangan mengerubuni kami melihat apa yang terjadi.


"Apa benar cewek dingin dan cuek itu perusak hubungan orang?"


"Aku rasa begitu, soalnya cewek itu tadi mengatakan hubungan mereka hancur karenanya"


"Aku tidak menyangka dia melakukan hal rendahan seperti itu, aku pikir orangnya pediam ternyata perebut pacar orang"


Berbagai tanggapan mereka lontarkan untuk menyudutkanku, padahal mereka tidak tahu apa yang dikatakan wanita itu semua palsu bahkan dia hanya ingin menekanku.


Haish, sejak kapan aku jadi perebut? perasaan disini aku tidak melakukan apapun yang merugikan orang lain, apalagi merusak hubungan orang seperti yang dikatakan wanita ini, mengapa kejadian hari ini begitu banyak sekali yang terjadi? Begitu merepotkan.


"Dia tidak seperti itu, dan dia tidak merebutku darimu karena kenyataan nya aku tidak pernah jadi milikmu, jadi sepertinya disini kamulah yang jadi pengganggu" tutur ziyad memberi pembelaan padaku.


Muka cewek itu jadi memucat, dan membuat dia tertunduk lesuh saat mendengar perkataan ziyad.


"Tapi dia orang baru dihidupmu, kamu jangan percaya padanya! kemarin dia barusan jalan dengan cowok lain, dia itu menipumu tidak benar-benar serius denganmu" dia masih tidak mau menyerah mencari celah untuk menyudutkanku.


"Aku tahu soal itu, dia sudah memberi tahuku terlebih dahulu, karena saat itu dia sedang ada keperluan dan aku sudah mengizinkan nya, jadi kamu tidak perlu lagi memberitahuku" tutur ziyad seolah-olah kami benar memiliki hubungan.


Sejak kapan aku memberi tahunya jika kemarin aku jalan bareng shankara? dia benar-benar pandai sekali memainkan peran.


"Bagus sekali dengan kemunculanmu disini, karena aku ingin menanyakan sesuatu padamu" ucapku angkat bicara.


Membuat cewek itu terdiam, menunggu pertanyaan yang akan aku lontarkan.


"Apa kamu orang yang menyebarkan fotoku dengan shankara dimading sekolah?" Tanyaku sambil mendekat ke arahnya.


"Ada lagi, yang mengirimkan kotak misterius berisikan fotoku yang tercoret dengan tinta merah, apakah ulahmu juga?" Tukasku padanya sambil menatapnya dengan instens.


"Lalu, mengapa kamu ingin mengulik perihal kematian abangku? dan mengajak ku untuk bertemu?" Aku kembali membahas tentang abangku dihadapanya.


"Aku rasa masih ada orang lain dibelakangmu yang jadi penyokongmu untuk membantu, benarkah begitu?" tembak ku ingin mengetahui reaksinya.


Cewek itu terlihat sangat gugup dan tertekan, dia hanya menunduk kan kelala tidak berani menatapku apalagi menjawab pertanyaanku.


"Ya ampun sepertinya kita salah mengenali orang, cewek dingin itu mulai mengungkapkan fakta yang mengejutkan"


"Iya, ternyata perkataan cewek itu tidak benar, nyatanya disini dialah orang yang sangat berbahaya sebenarnya"


"Iya aku tidak menyangka dia akan berbuat sedemikian rupa"


"Jika benar dia melakukan itu semua sungguh menakutkan sekali, berani sekali dia meneror orang lain sekarang kita harus berhati-hati dengan-nya"


Sekarang malah berbanding terbalik, orang-orang kini mulai menyudutkan nya bahkan memandang dengan takut ke arahnya.


Mereka tidak tahu saja cewek itu telah berbuat sejauh mana, bahkan dia telah menembak satpam hingga terluka.


"Kamu sungguh keterlaluan telah memfitnahku tanpa bukti yang nyata, aku akan menuntutmu!" Tuturnya dengan tegas.


"Aku memang belum mendapatkan bukti untuk saat ini, tetapi jika kamu terbukti melakukan nya, kamu mau hukuman yang seperti apa?" Tuturku padanya.


"Lakukan saja, aku tidak takut!" dia malah menantangku.


"Aku tahu kamu telah merusak semua bukti jejakmu termasuk Cctv, namun jika aku bisa menemukan nya kamu mau menjelaskan nya seperti apa?" Aku terus menekan nya agar dia mau mengakuinya.


Aku sangat yakin sekali bahwasanya dia dalang dibalik semuanya, karena aku sempat mengecek Cctv ada yang bersangkutan dengan- nya, meskipun Cctv itu banyak yang hilang karena terhapus, aku menduga kemunculan nya mengajak ku untuk bertemu pasti ada sangkut pautnya dengan-nya.


"Tenang saja aluna, aku bisa membantumu untuk mengembalikan rekaman yang hilang, disini kita hanya menunggungnya untuk mengakuinya saja" tutur ziyad membantuku untuk berbicara.


Terlihat cewek itu semakin gelisah, sambil menatap ke arahku dan ziyad dengan gugup dan tidak tenang.

__ADS_1


"Ziyad, kamu memihaknya? Bahkan ingin membantunya juga? Kamu benar-benar telah diperdaya olehnya, aku tidak habis pikir dengan ini semua" cewek itu terlihat frustasi dengan keputusan ziyad, yang memilih membantuku untuk menyerangnya.


"Sudahlah, tidak usah banyak drama, disini kamu hanya perlu mengakuinya saja, tidak penting aku berada dipihak siapa yang terpenting kamu menyadari kesalahanmu" ucap ziyad dengan memandang malas ke arah orang itu.


"Apakah kamu percaya jika aku mengatakan aku tidak melakukan nya?" Ucap cewek itu dengan ekspresi senduh.


"Jika bukan kamu lalu siapa lagi yang ingin menyerangku?" Tanyaku dengan cepat.


"Aku tidak tahu soal itu karena aku murid baru disini, aku baru mengalami kecelakaan beberapa hari lalu, jadi aku minta diri ingin beristirahat karena kakiku sudah keram berdiri terus sedari tadi" terlihat dia ingin menghindar sepertinya.


"Kalau begitu kita duduk dikursi panjang itu saja untuk menyelesaikan nya" tunjuk ku pada kursi memanjang di depan kelas tempat bersantai para murid jika jam istirahat, aku tidak memberinya peluang untuk kabur.


"Tidak perlu! berdiri disini saja" jawabnya dengan ketus, tidak seperti tadi yang sempat melembutkan suaranya.


"Lebih baik kamu mengatakan yang sebenarnya, sebelum aku menindak lanjuti atas perbuatanmu yang sebelumya!" ancamku padanya, sambil menatapnya dengan dingin.


"Kamu mengancamku?" Tuturnya sambil menatapku dengan berani.


"Aku tidak mengancam, hanya saja melakukan yang seharusnya" jawabku dengan yakin.


"Itu terjadi karena ulahmu, kamu telah merebut ziyad dariku, hari itu aku benar-benar ingin membunhmu! seharusnya kamu yang berada diposisi satpam itu dan kamu seharusnya sudah mati sekarang!" Amuknya dengan penuh emosi sambil berjalan tertatih ke arahku.


"Kamu dasar wanita penggoda dan perebut, kamu telah membawa ziyad dariku, kamu harus mati!"Teriaknya lagi sambil melemparkan satu tongkat ditangan nya ke arahku.


PRANG


Tongkat itu tidak mengenaiku namun jatuh menghantam lantai dan pecah.


Seiring dengan itu, ziyad segera menarik ku kedalam pelukan nya untuk menghindari lemparan.


Namun kembaran nya ziyad juga telah menangkis tongkat itu, agar tidak mengenaiku dan ziyad dia menahanya dengan tangan nya hingga terlempar kelantai.


"Puas kamu sekarang! lihat semua orang membelamu, bahkan kembaran nya ziyad yang super dingin saja berada dipihakmu!" Sarkasnya padaku.


"Karena sudah begini aku akan menjawab semuanya! Kamu benar, aku yang melakukan-nya, aku yang menerormu melalui komplotanku yang berada disekolah ini!" Tuturnya dengan tatapan tajam ke arahku.


"Aku melakukan itu semua karena ingin memisahkanmu dari ziyad! dan mengenai soal foto dimading itu bukan aku!" Ucapnya dengan tegas.


"Memang benar ada orang lain dibelakangku, namun aku tidak akan memberitahumu!" dia mengakuinya jika masih ada orang lain selain dirinya yang juga mengintaiku, tapi itu tidak penting untuk saat ini, yang terpenting membereskan nya terlebih dahulu.


"Aku yakin jika ziyad hanya bermain-main denganmu dia tidak serius, setelah dia bosan dia pasti akan membuangmu, ha...ha...ha..." tuturnya dengan tertawa devil.


Dia sudah awut-awutan tidak karuan karena tadi mengamuk, aku jadi ngeri melihatnya dan oran-orangpun menatapnya dengan takut.


"Kamu mengklaim bahwasanya aku cowok yang tidak berpendirian?" Lontar ziyad dengan tegas.


"Baiklah, kamu mau bukti yang seperti apa untuk meyakinkanmu?" Tutur ziyad dengan tegas ke arah cewek itu.


"Apakah kamu berani menciumnya saat ini di depan umum?" Lontar cewek itu menantang.


Membuat aku melongo mendengarnya, aku menatap ziyad dengan tatapan agar tidak menyanggupi permintaan cewek itu.


Namun padangan mataku menggelap seketika hanya pergerkan bayangan yang dapat kurasakan, bibirnya ziyad langsung menempel di bibirku, dia mengecup bibirku dengan singkat membuat mataku melotot tidak percaya.


Belum sempat aku breaksi dia kembali mengecup keningku dengan lembut, membuatku seperti tersengat aliran listrik dan menjalar keseluruh tubuhku, jantungku berdegup bertalu-talu.


"Apakah sudah cukup membuktikan?" Lontar ziyad pada cewek itu.


Cewek itu langsung jatuh terduduk, dengan air mata kembali menetes sambil menangkupkan kedua telapak tangan ke muka.


Semua orang masih dalam keadaan melongo menatap kami, aku masih dalam keadaan syok tidak mampu breakasi karena mendapat serangan tiba-tiba dari ziyad, apalagi itu first kiss ku yang telah lama kujaga.


Dengan cuek dia merangkul pundaku lalu membawaku pergi dari kerumunan, semua orang masih belum pulih dari keterkejutan atas kejadian tadi, hanya menatap kepergian kami dengan bungkam tanpa kata.


Ziyad tidak memperdulikan cewek itu yang sudah terduduk dilantai dengan begitu hancurnya, dia malah membawaku pergi. kembaranya ziyad sempat terkejut menyaksikan kejadian barusan namun segera pergi setelah itu.


Aku yang masih syok bercampur malu, hanya mengikuti ziyad yang membawaku pergi menjauh dari kerumunan orang-orang.


Mungkin menurutmu menjatuhkan lawan adalah sebuah pilihan, namun kamu tidak sadar kekuatanmu untuk menang masih belum sepadan ~Adiba ara kaluna


Tbc❤


Terimakasih sudah mau mampir dan selalu nungguin cerita aku...😘

__ADS_1


Mohon maaf baru bisa post buat yang nungguin, soalnya aku habis sakit jadi tidak sempat lanjutin...🙏


__ADS_2