Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Kehangatan Yang Menghilang


__ADS_3

Kian lama aku semakin mendekam dalam selimut tebalku. perlahan mataku mulai terpemejam, dan melenyapkan suara hujan diluar sana. hingga semuanya gelap dan tak ada suara lagi yang terdengar.


"Ra, ara. bangun sayang!" Sebuah suara tiba-tiba mengganggu pendengaranku, disertai tepukan ringan di pipi. mbok? mana mungkin ini dia.


panggilan ini? tidak sembarangan orang yang mengetahuinya, itu-pun sudah begitu lama aku tidak mendengarnya. lalu ini siapa? Aku mulai mengerjap dan membuka mata. tampaklah sosok menjulang di hadapanku di iringi senyum manis miliknya.


"Mama?" aku mengerjap berkali-kali memastikan sosok yang di hadapanku. benarkah sosok mama yang di depanku saat ini? atau aku masih dialam mimpi? aku mulai bangun dan memposisikan diri untuk duduk sambil menatap mama dengan instens.


"Iya sayang, ini mama" seakan mengerti kebingunganku, mama langsung meyakinkan kalau ini nyata bukan hanya mimpi. aku masih tertegun melihatnya.


"Kenapa? kangen yah? Sini peluk mama sayang!" Ucapnya terkekeh sambil merentangkan tangan.


Aku diam tidak bergeming malah menatap kosong kedepan. mama langsung merengkuh tubuhku dalam pelukanya, sambil mencium puncak kepalaku seperti biasa dia lakukan dulu.


Aku hanya mematung tanpa berniat membalas pelukan mama. mungkin, jika dulu mama memeluk-ku seperti ini, aku akan sangat senang dan membalas pelukanya dengan antusia.


Tapi, untuk saat ini entah mengapa aku merasa canggung dan merasa asing, bahkan mungkin aku sudah tidak membutuh itu lagi.


"Em, diba mau mandi dulu" alibiku menghindarinya sambil keluar dari pelukannya, lalu bengkit menyambar handuk dari gantungan menuju kamar mandi.


mama tertegun melihat sikapku yang berubah. mungkin dia kecewa saat melihat anak gadisnya yang dulunya sangat ia manja, dan selalu dekat dengannya, kini berubah jadi seperti orang yang tidak dikenalinya.


Bukan aku yang mau seperti ini, tapi mamah sendiri yang menarik tali pembatas diantara kita, aku hanya mengikuti aturanya. Jika kamu sudah tidak diperdulikan, jangan memaksakan diri untuk mendapat perhatian.


Mungkin mamah kaget dengan perubahanku yang tiba-tiba. tapi ada yang harus dia ketahui, bahwa aku telah terbiasa tanpa kehadiranya, aku telah mandiri tanpa bantuannya, dan aku telah tumbuh jadi anak yang tidak merepotkan lagi.


Selang beberapa menit, aku telah selesai mandi dan segera menuruni anak tangga. turun kebawah untuk makan malam bersama. entah sudah berapa lama aku tertidur, yang pasti saat ini sudah tidak ada cahaya dari luar lagi, malah sudah berganti gelap.


Aku segera duduk menuju kursi meja makan, dan duduk di antara mama dan mbok.


"Bagaimana sekolahnya, lancar?" tanya sebuah suara memecahkan keheningan.


"Iya" jawbku seadanya tanpa melihat lawan bicara. dan itu yang selalu membuat mama naik darah.


"Diba! yang sopan sama ayah, kalau ayah lagi ngomong itu dilihat bukan dicuekin begitu saja" nasihat mama yang kesekian kalinya.


Aku tidak menanggapi, malah asik mengunyah wortel dengan gaya seolah-olah nikmat sekali. sambil memakan sayur terus menggigit dari pinggir kanan ke pinggir kiri.


"Diba! Dengar tidak kamu?" murka mama sambil menggebrak meja. mbok yang hampir bisa menusuk daging dengan garpu jadi gagal, daging itu kemabali melompat, bahkan kali ini jatuh kebawah meja. mbok memilih diam, lalu mentap ke arahku dengan iba.


"Ngomong di marahin, diam di bentakin, jadi serba salah. sebenarnya mau kalian apa sih?" Jawabku kesal sambil berdiri menatap mama di hadapanku. hanya meja makan yg jadi pembatas di antara kami.


"Oh, sudah berani melawan yah? sekarang kamu berani melawan mama?" Ucapnya marah sambil berjalan menghampiriku.


"Bukan aku yang mau ma, tapi mama sendiri yang memintanya" tantangku menatap sengit mama.


"PLAKK" sebuah layangan tangan menempel di pipiku, aku tertegun. ini kali pertama aku mendapatkannya. namun, aku hanya tersenyum miring menanggapinya. ini belum ada apa-apanya dengan rasa sakit yang aku pendam di dalam sana.


"Dasar anak kurang ajar, pergi kamu dari sini!" Usir mama murka.


"Beneran? nanti kangen lagi sama boneka mainannya" balasku memanasi, Sambil beranjak pergi.


"Kamu... euggh" kesal mama sambil mengerang kesal dan ingin mengejarku. namun, lelaki itu menahan lengan tangannya dan memeluk mama untuk menenangkan. Mbok hanya bisa menyaksikan tanpa bisa melakukan apa-apa.


Selang beberapa menit, aku turun dengan tas rangsel yang kujinjing di pundak, lengkap dengan keperluan yang kubutuhkan. aku berjalan melewati mereka, mbok melihatku uring-uringan antara ingin mendekat namun takut melakukannya.


"Non diba mau kemana? ini sudah malam, kalau terjadi apa-apa bagaimana?" akhirnya mbok mengeluarkan suara juga, ingin aku menangis rasanya saat mendengarnya. lagi-lagi mbok yang selalu hawatir denganku, selalu mengerti bagaimana keadaanku.


mama mulai menguraikan pelukannya dari lelaki itu, berbalik menatapku dengan senduh.

__ADS_1


"Tidak usah hawatir mbok, diba akan baik-baik saja kok" ucapku menenangkan dengan senyum miris kearahnya. kulihat dia mulai mengeluarkan air mata, ingin sekali aku memeluknya.


wanita yang selalu ada saat tidak ada mama disisiku, wanita yang selalu menemani hari-hariku, bahkan melayani aku setiap waktu.


dengan tatapan sayu, mama mulai berjalan menghampiriku. kulihat dia ingin mencegahku, mungkin menyesal dengan apa yang telah dilakukannya barusan. namun, sebelum dia sampai menjangkauku, sudah duluan aku berjalan membuka daun pintu dan menghilang di balik sana.


Aku sudah berdiri di samping trotoar jalan raya tidak jauh dari rumahku. segera menelepon via agar cepat menjemputku, jika tidak? mungkin orang bakal mengira aku orang gila yang berkeliaran dijalanan.


Dengan gelisah, aku terus menghubungi via namun tidak diangkat juga, terpaksa aku mengirim pesan lewat wa.


Namun, saat lagi sibuk mengutak-atik handphone, melintaslah sebuah mobil mercedes berwarna silver berhenti tepat di hadapanku. segera aku menoleh kearah mobil itu, disana terlihat beberpa orang anak muda seumuran denganku. salah satu diantaranya mulai turun menghampiriku, disusul dengan teman-temannya.


skakmat. Bagaimana ini? aku segera bersiap ambil ancang-ancang, jika mereka berniat akan menyerang, aku telah siap. jangan salah, biarpun begini aku tahu juga bela diri, aku pernah ikut les judo khusus saat smp dulu.


"Kenapa berdiri disitu? mau menakuti orang lewat yah? Sedikit mirip sih sama setan penunggu jalanan, tapi tidak juga bawa tas begitu, seperti baru diusir saja" todong orang paling depan dengan gaya menyebalkan luar biasa. seandainya dia tau itu yang sebenarnya terjadi, mungkin dia sudah puas menertawakanku.


"Malah diam, kamu manusia kan?" Ucapnya lagi. sungguh manusia tidak mempunyai mata kepala, jelas-jelas ini manusia malah bertanya lagi. Eh, tapi tunggu dulu, mukanya seperti familiar gitu? dan sikap songong ini seperti pernah ketemu, tapi dimana yah?


"Eh, kamu cewe penunggu rooftop disekolah waktu itu kan? Kenapa bisa disini? mengikuti aku yah?" belum juga selesai aku berpikir, dia sudah buka suara. tunggu, apa tadi katanya 'Cewe penunggu rooftop diskolah?'


benar-benar cowok payah, tidak bertata krama langsung nyerocos begitu saja.


aku tetap tidak mengubris ucapannya, saat ini keadaanku benar-benar sedang tidak baik meladeni perkataanya. niat ingin menjawab ucapanya dan memberi pelajaran untuknya, seperti tekadku waktu dirooftop. namun kali ini dia selamat lagi dari amarahku.


Aku hanya tertunduk, kembali mengingat peristiwa dirumah tadi. baru kali ini mamah mengusirku dari rumah, bahkan berani main tangan padaku, satu hal yang tidak biasa dilakukanya. demi membela suaminya ia rela mengeluarkan anaknya dari rumah. sungguh disayangkan.


Selang beberpa menit meluncurlah sebuah mobil BMW dari arah berlawanan. turunlah seorang cewe dari mobil itu lalu menghampiri kami. akhirnya via datang juga.


Aku berjalan menghampirinya, tapi dia malah melewatiku. kutolehkan pandangan kebelakang tanpa memutar badan, ia menghampiri cowo-cowo itu. mau apa dia? Pikirku.


kulihat dia mulai melangkah meninggalkan mereka lalu menghampiriku, tidak mau mengambil pusing aku langsung melangkah memasuki mobil, di susul dengannya.


"diusir" jawabaku


"Hah, kenapa bisa? pasti kamu buat masalah lagikan sama ayahmu itu?" kagetnya dengan menebak apa yang sedang terjadi sambil memandang ke arahku.


Aku hanya mengangguk membenarkankan. dia menghembuskan nafas pelan, lalu kembali fokus menyetir. kulirik sekilas ke arahnya terpancar wajah rasa kasihan padaku, mengapa tidak? ia telah lama mengikuti alur jalan cerita hidupku, dari sd hingga sekarang ia masih berperan dalam kisahku.


Selang beberpa menit kami sampai dirumah via, kebetulan orang tuanya tidak dirumah lagi keluar kota. tapi, meski mereka ada di rumah pasti tidak bakalan marah juga, malah seneng kalau aku datang.


Aku sempat cemburu melihat ke hangatan keluarga via, meski orang tuanya sibuk bekerja namun masih menyempatkan waktu buat kumpul bersama.


via adalah anak semata wayang sepertiku. namun sebenarnya aku bukan anak satu-satunya di keluarga, masih ada abang. itu dulu, sekarang posisiku sama seperti via.


maka dari itu mama via menyuruhku memanggilnya mama saja sama seperti via, bahkan tidak segan-segan mengenalkan pada orang kalau aku anaknya juga. kembaran via katanya. mendengarnya membuatku senang, disinilah aku mendapat kasih sayang yang telah hilang.


"Kenapa bengong nyai belorong" selorohnya saat melihatku bengong. aku memeluknya dari belakang saat tangannya hendak memutar kenop pintu. dia sempat terpekik kaget dengan pelukanku tiba-tiba, kemudian memutar badan mengadapku lalu membalas pelukanku.


Aku terus memeluknya tanpa kata, hanya isak tangis yang terus kutumpahkan sambil menaruh dagu pada pundaknya.


Disinilah kelemahanku terungkap dan terlihat, hanya dengannya aku terlihat lemah dan rapuh, dan dengannya terlihat diriku yang sebenarnya.


Perlahan ia menuntunku masuk dan menyuruhku duduk di sofa ruang tamu, lalu kembali mendekapku.


Dia terus berusaha menenangkanku, dengan elusan tanganya di bahuku yang terus berguncang, menumpahkan rasa sesak di dada. kini punggungnya


yang jadi korban bermandian air mataku.


setelah dirasanya aku mulai tenang, dia segera mengurai pelukannya lalu melangkah meninggalkanku tanpa suara. selang beberapa menit ia datang dengan segelas air ditangannya.

__ADS_1


Saat seperti ini dialah yang selalu memberi perhatian padaku, selalu jadi tempat berteduh saat aku rapuh. selalu bisa melepas beban masalah di pundakku, dan selalu ada di saat aku butuh. dialah pengobat semua luka saat aku jatuh. terimakasih sahabat toaku.


"Minum dulu dib, kamu butuh tenaga setelah banyak menguras air mata" kelakarnya sambil menyodorkan gelas ditangannya padaku. Aku meraih gelas itu dan langsung meneguk isinya hingga tandas.


Setelah meminum air yang di berikan via, aku langsung di todong dengan berbagai pertanyaan. Aku menceritakan semua yang telah terjadi, dia tak menyangka mama akan berbuat sedemikian tega, tapi kali ini mama benar-benar melakukannya.


"Yang kuat yah, kamukan tembok. tembok itu biasanya tidak akan menuntut saat di aniaya, tidak akan berontak saat di hancurkan, biasanya juga cuek aja, tapi kenapa kali ini temboknya lemah?" Kelakarnya padaku.


"Aku capek via!" Ucapku lirih.


"Ulu... ulu... temboknya mulai rapuh ternyata, udah bisa bangun yang baru nih, sepertinya" dia terus membalas ucapanku dengan candaan.


"Viaaa..." rengekku.


"He... he... canda" cengirnya. aku mendengus, lalu berlari kekamarnya dan rebahan disana layaknya kamar sendiri.


"Belum juga di izinin udah tiduran aja" sindirnya menyusulku masuk kamar.


"Kelamaan, menunggu ijin darimu bisa jamuran aku lama-lama" sewotku.


"Semerdeka nenekmulah" timpalnya pasrah. beginilah saat aku dirumahnya tidak ada lagi rasa sungkan-sungkannya, begitupun sebaliknya.


"Tadi kamu ngomongin apa sama mereka?" tanyaku padanya yang sedang memakaikan hanbody di tanganngnya.


"Tidak ada, cuma menyapa saja" jawabnya singkat, lalu berbaring di sampingku.


"Kamu kenal mereka?" tanyaku memastikan.


"Tidak terlalu sih, cuma dulu sempat papasan aja. waktu itu mereka keluar dari gudang, dan aku mau ke-rooftop nyusulin kamu" jelasnya.


"Jadi bener yah, mereka itu sering main kegudang. kamu tahu apa yang mereka lakukan disana?" tanyaku sedikit penasaran.


"Bagaimana aku bisa tahu, aku tidak termasuk teman mereka. Sudahlah tidak usah dibahas lagi, tidur sana!." suruhnya padaku.


"Kamu juga tidur jangan main game terus" peringatku padanya. dibalas dengan elusan ringan di rambutku, semakin membuatku haru dan bersyukur memiliki sahabat sepertinya.


Aku menengadah menatapnya dengan sendu, dia balas dengan senyuman hangat yang biasa dia berikan padaku. semakin kueratkan pelukanku padanya seakan tak mau kehilangannya. dialah alasan aku tetap masih bertahan selain tuhan, dialah penguatku saat aku mulai tidak karuan.


Kutatap langit-langit kamar terbit senyum dibibirku, lalu mentap via yang sudah tertidur pulas disampingku. lalu kutarik selimut dan menyusulnya ke alam mimpi.


¤¤¤¤¤¤¤


"Via bangun! Sudah subuh, ayo sholat" seruhku padanya sambil mengoyangkan lengannya, tak lupa menyentil-nyentil hidungnya untuk mengusik tidurnya. disini jiwa kenakalanku meronta-ronta.


"Diba jangan ganggu!" Triaknya sambil menarik selimut tebalnya, lalu menutupi selururuh tubuhnya untuk menghindari tangan usilku.


"Ayo bangun! jangan malas" kutarik selimutnya dan membangunkannya secara paksa.


"Masih ngantuk diba...!" kesalnya dengan mata masih merem duduk bertumpuh pada lutut.


"Mau diseret apa diangkut" tawarku padanya.


"Tidak mau dua-duanya, maunya disayang aja" balasnya manja. semakin membuatku jengkel melihatnya. dengan sekali gerakan dia sudah berada dipunggungku membuatnya terkejut dan matanya langsung melotot menatapku, tapi aku mengabaikanya.


Dengan langkah cepat menuju kamar mandi, lalu mendudukannya kedalam bak mandi yang berisi air setengah. namun sdikit kelalaianku malah mendapat kesialan, malah mengikut sertakanku terseret kedalam karna tarikan dari tangannya.


kami berkelimpungan berdua di dalam bak saling tarik menarik, berebut ingin keluar tapi tidak ada yang berhasil. bisa mati kedinginan kalau begini ceritanya.


*Aku tidak menyalahkanmu hanya saja aku kecewa dengan tindakanmu~ Adiba ara kalun***a**

__ADS_1


__ADS_2