
Kami masuk mengitari beberapa ruangan panjang yang begitu mewah, dengan pilar-pilar menjulang tingi berwarna putih, dipadukan dengan warna keemasan diujungnya sungguh enak dipandang.
"Assalamu'alaikum" salam lelaki itu sambil melangkah masuk.
"Wa'alaikum salam" teriak dari dalam.
"Ayo masuk!" ajak pria itu saat melihatku hanya berdiri diluar.
"Assalamu'alaikum" salamku mengikutinya dari belakang.
"Wa'alaikumsalam. eh, ada siapa ini bang?" tiba-tiba munculah perempuan paruh baya dari ruang tamu menyambut dengan senyum antusias.
"Teman ziyad bun, calon menantu bunda juga boleh. asal dia mau" candanya pada perempuan itu menyalaminya, sambil melirik kearahku.
"Jangan mau! dia anaknya suka jahil dan tengil, kamu anak baik-baik bisa terjerumus jika sering berada didekatnya" peringat candaan bundanya ziyad saat aku menyalaminya. aku jadi kikuk mendengarnya tidak tahu mau menjawab apa hanya bisa tersenyum tipis menanggapinya.
"Itu namanya pencemaran nama baik, bunda!" balasnya cepat.
"Kamu memang siluman rubah, sana ganti baju!" Perintah sang bunda, sambil menyuruhku duduk di sofa ruang tamu. lalu meninggalkanku menuju dapur membuat minum.
Aku memindai mata mengitari ruangan rumahnya, sungguh adem membuat hati terasa damai. design rumahnya bernuansa putih dengan sofa bed berletter L sepaket dengan mejanya juga berwarna putih.
Dari dibelakang sofa berjarak delapan meter, ada ruang bersantai. terdapat kursi dan meja kayu yang diukir pahatan tangan seniman, menghadap ke kotak persegi panjang yang dipasang kaca tembus pandang, sehingga dapat melihat tanaman pandan bali yang menjulang indah dari luar. lalu di samping ruang bersantai terdapat pehunghubung menuju dapur yang dari sini kelihatan sangat besar dan megah.
disamping kiri sofa terdapat tangga papan tebal bercat kecoklatan menuju lantai atas. di lantai atas terdapat dinding kaca hanya setengah badan untuk memantau tamu dari lantai atas. ruang kamar semuanya di tempatkan dilantai atas termasuk kamarnya ziyad pria tidak tahu malu itu.
disamping kanan sofa ada ruangan berwarna kuning keemasan, namun aku tidak tahu itu ruangan apa. Yangan pasti jika kita mengitari seisi rumah ini mungkin kita akan terseat.
"Ayo keatas bersihkan dirimu dulu, badanmu akan tidak nyaman jika berlama-lama didalam baju yang penuh keringat" tiba-tiba pria itu muncul disamping sofa dengan memakai pakaian rumahan yang lengkap.
"Temanmu sedang capek begini, bukannya dikasih minum dulu, malah disuruh langsung mandi. bener-bener tidak berhati nurani." marah seseorang dari belakang sofa dengan gelas ditangan memarahi anaknya.
"Minum dulu jangan pedulikan dia" sambungnya lagi sambil menyodorkan gelas padaku. aku memerimanya dengan tersenyum tipis lalu meneguk air itu hingga tandas. ibu dan anak itu menatapku dengan senyuman.
"Sudah kan, bun? aku bawa dia berganti pakaian dulu " Ucapnya sambil menarik tanganku kelantai atas.
__ADS_1
" ini... sepertinya tidak perlu, aku ganti dirumah saja nanti" ucapku canggung memasang muka datar saat sampai di depan sebuah kamar.
tidak mungkin kan, aku masuk kekamarnya? apalagi tidak ada baju gantiku saat ini, bagaimanapun dia laki-laki. apa dia merencanakan sesuatu? pikirku bertanya-tanya sambil menatapnya curiga.
"Kamu terlalu banyak berpikir, ayo masuk!" ajaknya sambil mendorong pintu masuk duluan. aku mengekorinya dari belakang dengan waspada.
Ini, tidak mungkinkan aku salah masuk kamar? dengan nuansa merah muda, terdapat banyak boneka. mulai dari boneka (elmo) berwarna merah, (paddington) boneka beruang khas negara inggris, (danbo) boneka karakter fiksi berbentuk robot terbuat dari kardus, hello kitty, boba, teddy bear, (bisque) boneka ini berasal dari benua eropa terbuat dari porselain. tertata dengan rapi diatas atas kasur berukuran quen size, sebagian lagi diletakan di dalam lemari kaca.
terdapat meja rias berukuran besar dan lemari pakaian berwarna putih semuanya tertata dengan rapi. disertai air humidifier aromatherapy led night, berbentuk bola bening bergambarkan bintang dan bulan, berwaran biru menyala diatas nakas.
Membuat paru-paru terasa sejuk saat menghirupnya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" lontarnya memecah keheningan, saat melihat aku seperti ingin membuka mulut tapi tidak jadi.
"Ini tidak mungkin kamarmu, kan?" Tanyaku ragu-ragu.
"Oh, he...he... ternyata kamu berpikir seperti itu?" ucapnya sambil terkekeh ringan. aku menatapnya bingung.
"Jika bukan, kamar siapa?" Tanyaku menahan malu, karena tertangkap basah berpikir buruk tentangnya.
"Itu kamar mandinya, dan untuk pakaian ganti kamu pakai baju dia yang ini saja. masih ada labelnya kok." tunjuknya sambil mengeluarkan baju dari lemari, lalu meletakan diatas kasur bersama handuk.
"Aku rasa ukuran tubuh kalian juga sama itu sebabnya aku membawamu kemari. kalau kamarku ada disebelah, tapi kamu belum bisa melihatnya, tunggu aku menghalalkanmu dulu, oke?" saat kalimat diakhir dia berbisik mendekat ketelingaku, membuat bulu kudukku merinding dengan muka tegang. dia menjauh sambil tersenyum puas melihat reaksiku.
"Sudahlah, cepat keluar! kamu terlalu banyak bicara." usirku padanya tanpa segan.
"Aku tunggu dibawah" dia menatapku dengan tersenyum menggoda lalu keluar dari pintu.
"Pria sinting!" umpatku sambil membawa baju ganti dan handuk menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit aku telah selesai berganti pakaian, lalu segera turun kebawa menghampiri pria sinting itu.
Saat aku berada disetengah anak tangga semua mata tertuju padaku, namun sekarang bertambah satu orang lagi lelaki paruh baya. kutebak itu ayahnya ziyad.
aku berjalan pelan dengan perasaan gusar segera turun dari anak tangga.
__ADS_1
"Ayo duduk makan dulu, bunda masak banyak hari ini" ajak wanita itu sambil menghampiriku, menuntunku menuju meja makan diikuti dua orang yang tadi sedang duduk disofa.
"Ini siapa bun?" Tiba-tiba terdengar suara berat dari pria paruh baya itu, saat hampir menuju meja makan. perempuan itu hanya tersenyum menaggapinya.
"Hallo om, namaku Adiba ara kaluna" ucapku memperkenalkan diri sambil salam takhzim padanya.
"Nama om, zikri pramadana. oh, pacarnya ziyad?" tebaknya seketika.
"Em, bukan. Bukan, om. Aku temannya" jawabku sambil melambaikan tangan dengan panik, menyalahkan tebakan lelaki itu.
"Tapi bakalan jadi pacarkan?" ucapnya sengit, Saat telah duduk dimeja makan.
"Doakan saja biar jadi calon menantumu" balas pria itu menanggapinya dengan godaan mata menatapku.
"Ha...ha...ha... aku tunggu kabar baiknya" balas pria paruh baya itu sambil tertawa. aku tertegun melihatnya. ternyata hanya tampang saja yang seram tapi tingkah lakunya tidak jauh beda dari anak lelakinya. Sama-sama tengik pastinya.
"Percayakan padaku, aku pasti bisa diandalkan" jawabnya bangga sambil menegakkan tubuh menepuk dada.
"Sudah-sudah, ayo makan. nak diba pasti sudah lapar" sergah perempuan itu menengahi anak dan ayah yang terus saling melempar canda.
Aku melihat keluarga ini terasa damai, dan hatiku tiba-tiba menghangat. Pria ini sungguh beruntung mempunyai keluarga sehangat ini, mempunyai ayah yang hebat dan ibu yang baik. sesibuk apapun mereka pasti ada waktu luang untuk berkumpul dengan keluarga, sungguh keluarga harmonis.
"Sibocah kaku belum pulang?" dalam kehening tiba-tiba terlontar pertanyaan dari pria dewasa itu.
"Masih nginap, tungguh dua hari lagi." jawab wanita itu singkat.
Aku yang tidak mengerti hanya diam saja. Perempuan itu terus menumpuk makanan kepiringku hingga hampir menggunung. aku diam saja tidak berbicara.
"Dua hari lagi adikmu baru pulang dari pertandinganya, kamu gantikan dia sebentar liat perusahaan meskipun hari ini bukan giliran kamu" tutur sang bunda pada anaknya.
"Iya sebentar lagi ziyad akan keperusahaan, setelah mengantar aluna" jawabnya singkat. aku menatapnya dengan bingung seakan bertanya, bukankah adiknya lagi di finlandia? Seakan mengerti kebingunganku dia segera menjelaskan.
"Yang ini adik lelakiku, saat ini dia sedang mengikuti perlombaan bulu tangkis. perwakilan tim putra dari sekolah kita" ucapnya padaku menjelaskan. aku hanya manggut-manggut mengerti sambil lanjut makan. sedangkan kedua orang tua itu saling tatap lalu saling melempar senyum.
Pekerjaan memang tidak bisa ditinggalkan namun kebersamaan tetap harus diutamakan. anak jangan dilupakan dan ditelantarkan karena mereka bukan hanya cuma butuh makan, tapi mereka juga butuh perhatian dan kasih sayang. ~Adiba ara kaluna
__ADS_1