Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
kabar mengejutkan


__ADS_3

Namaku ziyad kawindra pramadana, biasa dipanggil ziyad atau jihad bebas mau memanggil aku dengan sebutan seperti apa.


panggil chagia juga boleh, eh... tidak! aku harus menjaga hati untuk si monster kutub yang dingin dan tidak berperasaan itu, jika aku berpaling darinya dia tambah menyueki aku jadi gagal aku mendapatkan nya.


Aku anak pertama dari 3 bersaudara, aku mempunyai saudara kembar yang tidak kalah dingin nya dari si monster kutub, yang satunya lagi adik cewek yang suka pecicilan sekarang dia sedang bersekolah diluar negri.


Hari ini seperti biasa aku selalu pulang terlambat, karena memilih nongkrong terlebih dahulu bersama ke empat orang temanku.


Saat ini kami sedang duduk dikantin diluar sekolah ditemani semangkuk bakso dihadapan masing-masing, sambil saling melempar guyonan satu sama lain.


"Hei! tengil, akhir-akhir ini kelihatan nya kamu sudah jarang berkumpul bareng sama kita semenjak bertemu dengan monster kutubmu itu, apa kamu mempunyai hubungan dengan dia?" Ucap salah satu temanku yang biasa dipanggil kevin, anaknya terbilang cukup cerewet dan Kepo.


"Biasalah masa pendekatan memang seperti itu jadi lupa sama teman, apa kamu tidak melihat tadi pagi ada terjadi tabrakan?" Lontar temanku yang satunya lagi dengan konyolnya, dia biasa dipanggil syakib.


"Tabrakan? Tabrakan yang seperti apa itu?" Ini si paling lemot dan polos dia bernama daniel, anak mami yang suka bermain game dan suka makan, namun tidak gendut.


"Tabrakan bibirlah! lalu apa lagi?"


Celetuk syakieb memimpali, selain konyol dia juga suka kelepasan kalau berbicara tidak difilter dulu langsung meluncur saja dari mulutnya.


"Kamu masih polos daniel jadi cukup menjadi anak yang baik saja, jika kamu terlalu sering bersama kami lama-lama otakmu bisa rusak nanti" ini brilian, biasa dipanggil bri.


Biasanya dia waras diantara teman-temanku yang lain namun untuk saat ini otaknya malah traveling ke tempat lain, karena entah mengapa dia malah meladeni ucapan teman-temanku yang tidak bermoral itu.


Beginilah adanya, aku yang ditanyai tapi yang lain yang menyahuti, bahkan mereka saling sahut menyahut tanpa menunggu jawaban dari orang yang bersangkutan.


"Aku polos karena orang tuaku merawatku dengan baik tidak sepertimu bri, orang tua sama anak sama saja otaknya" timpal daniel tidak terima dengan perkataan brilian.


"Sudah tidak udah berdebat, sekarang ini kita sedang membicarakan jihad bukan yang lain nya" lerai syakib menengahi mereka, namun mengembalikan topik pembicaraan kembali pada masalahku.


"Benar itu! Apa lagi saat ini sepertinya jihad kalah saing dengan murid baru itu, tadi aku melihat cewek itu pulang bersama abhinanda, sepertinya mereka terlihat dekat juga" lontar kevin mengompori, semakin menghebohkan suasana saat ini.


Perkataan Kevin benar! aluna kerap kali dekat sama abhinanda akhir-akhir ini, sebaikanya mulai saat ini aku harus lebih sering berinteraksi dengan nya supaya aku bisa menang dari abhinanda tidak kalah lagi seperti dulu, meskipun waktu itu aku kalah dari bayanaka namun itu lebih baik seperti itu, tapi untuk sekarang itu berbeda aku harus menang!


"Diamlah! aku tetap berada dipihak Adiyad bukan adira" celetuk daniel menimpali.


"Apa itu? Seperti nama anak saja, nama anaknya ziyad sama adiba yah? Yang cewek adira, yang cowok adiyad, bagus juga!" syakib ikut menaggapinya dengan pura-pura serius sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Maksudnya Adiyad itu (Adiba ziyad) sedangkan adira (Adiba shankara) bodoh...!" Jelas daniel dengan eksperi greget.


"Lah, ziyad juga ada akhiran namanya (ra) Ziyad kawindra, berarti adiba-nya tetap untuk ziyad kalau begitu" tutur syakib dengan muka bingung.

__ADS_1


"Bukan begitu konsepnya, sakit...! maksudnya nama adiba digabungkan dengan nama mereka berdua, terjadilah nama pasangan disitu" jelas daniel dengan frustasi menghadapi sikap syakib.


"Sakit, sakit. SYAKIB dodol! S-Y-A-K-I-B (Syakib) akhiran B bukan T bodoh...!" gerutu syakib dengan kesal.


"Apa sudah selesai kalian membicarakanku? apa kalian tidak bisa diam? Sedari tadi hanya membahas tentang aku saja coba lihat brilian mempunyai 2 cewek tapi tidak diperbincangkan" Lama-lama mendengar omongan mereka aku jadi kesal juga.


"Brilian, kau diam-diam ternyata sangat berbahaya, aku tidak menyangka dengan tampang seriusmu itu, ternyata kau pencinta wanita?" tutur kevin dengan mata membola dan mulut sedikit terbuka, sungguh raja drama.


"Tutup mulutmu bodoh, bauh nya sampai kemari" ucap syakib sambil mengibas-ngibaskan tangan seolah mengusir hawa bauh dari hidungnya.


"Jika dia tidak mencintai wanita, apa dia menyukai lelaki, apa begitu maksudnya? aku jadi takut jika itu benar!" Timpal daniel dengan ngeri.


Teman-temanku yang lain hanya geleng-geleng kepala, mendengar penuturan daniel yang diluar nalar.


Sungguh tingkah teman-temanku ini membuat pusing saja, karena malas meladeni mereka aku memilih fokus melanjutkan makan, sedangkan mereka masih terus membahas hal seputaran wanita yang tidak ada habisnya.


Ditengah-tengah asiknya melahap semangkuk bakso dengan nikmatnya tiba-tiba ponselku berbunyi, tertera dilayar ponselku nama Future wife (calon istri) nama Aluna di ponselku.


Dengan senyum mengembang aku beranjak dari kursi tempat duduk ku, sedikit menjauh dari hiruk pikuk di sekeliling terutama keributan yang ditimbulkan dari teman-temanku.


Terlihat mata-mata penasaran temanku menatap ke arahku dengan curiga, yang tadinya heboh sekarang jadi hening mereka makan dengan tenang, namun memasang telinga dengan baik untuk mendengar obrolanku dengan orang yang menghubungiku.


"Hallo? tumben menghubungi duluan, ada apa? Kangen yah?" Tuturku dengan semangat sambil menggodanya.


Jujur saat ini aku sungguh khawatir padanya, meskipun aku tahu dia sangat mahir dalam bela diri namun dia tetap seorang perempuan apalagi kata shankara mereka dikepung oleh sekelompok orang, dan mungkin mereka hanya berdua saja jadi bagaimana bisa mengahadapi lawan yang lebih banyak dari mereka.


"Ziyad, apa kamu mendengarku? Kamu cepatlah kemari! jika tidak mungkin Ara akan kewalahan untuk melawan dan dia akan dikalahkan oleh mereka" tutur Abhinanda dari sana dengan panik.


"Baiklah aku akan segera kesana, tunggu sebentar!" Aku langsung mengakhiri panggilan lalu menyambar jaketku yang diatas meja, dengan terburu-buru segera meninggalkan kantin begitu saja.


"Kau mau pergi kemana dengan terburu-buru begitu?" Cegah brilian sambil bangkit dari kursinya menghampiriku.


"Aku akan pergi ke jalan Permai blok A, kamu siapkan pasukan untuk menyerang, segera kumpulkan anak demon of death sekarang juga!" perintahku pada brilian.


Demon of death adalah nama klan yang didirikan oleh kami berlima, namun bukan hanya kami saja yang berperan didalamnya ada lagi sebagian orang yang ikut andil sebagai anak buah kami, mereka bukan sembarang orang tetapi dibawa dari kepercayaan orang tuaku yang kutarik menjadi geng kami.


Kami menamainya demon of death karena jika sudah berhadapan dengan lawan kami akan seperti iblis yang akan menjemput kematian lawan, kami akan bengis tanpa welas kasih apalagi pada lawan yang tidak mempunyai hati nurani kami tidak akan mengampuninya.


Terlihat teman-temanku segera bangkit dari kursinya langsung paham dengan perkataanku, syakib berjalan menuju pemilik kantin untuk membayar makanan kami setelah itu mereka berjalan mengikutiku dari belakang.


Aku dan ke empat temanku langsung berjalan menuju parkiran, dengan langkah tergesah aku berusaha mempercepat langkah agar segera sampai di mobil.

__ADS_1


Setelah sampai dimobil aku langsung mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata, aku membawa mobil seperti orang kesetanan tanpa memperdulikan lagi orang-orang disekitarku, bahkan banyak orang yang sudah kulewati terkadang juga aku membunyikan klakson dengan bertubi-tubi untuk menyuruh mereka menyingkir.


kami mengendarai mobil masing-masing jadi tidak harus menunggu mereka lagi, mobilku meluncur duluan kedepan membelah jalanan dengan gesitnya.


Selang beberapa lama mengemudi aku mulai mengurangi kecepatan mobil, karena aku menemui dua mobil yang berhenti di depan sana, bisa jadi itu mobil mereka salah satunya.


Aku menghentikan mobilku tepat dibelakang mobil yang kelihatanya sedang mogok karena ban mobilnya kempes, dengan ragu aku turun dari mobil untuk memastikan apakah itu mereka?


Namun, yang membuat aku kurang yakin ialah apa yang diceritakan Abhinanda tidak sesuai dengan yang terlihat, soalnya tidak ada banyak mobil disini hanya ada dua mobil saja padahal dia mengatakan ada sekelompok orang yang sedang mengepung, namun terlihat tidak ada tanda-tanda pergerakan di depan sana.


"Ziyad, akhirnya kamu datang juga" tutur abhinanda berjalan menghampiriku dengan napas terlihat tidak stabil.


"Dimana aluna?" Aku langsung menanyakan keberadaan aluna yang tidak terlihat bersama dengan Abhinanda.


"Ziyad Aluna diculik sekelompok orang itu, kita harus segera menyelamatkan nya!" Tutur seseorang tiba-tiba muncul dari arah belakang abhinanda.


"Kamu? Mengapa kamu bisa berada disini? Apalagi yang sedang kamu rencanakan? Aku peringati kamu sebaiknya jangan coba macam-macam pada aluna jika tidak kamu akan menerima resikonya!" peringatku pada mona yang barusan tiba-tiba muncul.


Disini aku mencurigainya karena dia orang yang sangat keras kepala, dan juga sebagai orang yang membenci aluna jadi tidak menutup kemungkinan jika itu dia yang melakukan nya.


"Percaya padaku ziyad, bukan aku yang melakukan nya, akus serius!" Tuturnya dengan sungguh-sungguh.


Namun aku tidak mudah percaya dengan omongan nya, melihat bagaimana sikapnya sebelumnya pada aluna membuat aku berhati-hati terhadapnya.


Tiba-tiba muncul seseorang lagi dari belakang mona, orang yang sangat familiar dimataku.


"Apa yang sedang kalian rencanakan? dimana aluna sekarang? Kalian jangan main-main denganku!" Tegasku dengan suara sedikit meninggi.


"Mona mengatakan yang sebenarnya ziyad! jika kamu terus menunda waktu lagi mungkin aluna tidak sempat untuk kita selamatkan dan kita juga akan kehilangan jejak, sebaiknya kita selamatkan dia dulu baru nantinya kamu menghakimi kami berdua" tutur bayanaka membela mona.


"Mereka benar ziyad, sebaiknya kita menemukan aluna terlebih dahulu baru nanti dibahas lagi masalah ini" timpal Abhinanda mengiyakan omongan mereka.


Aku melirik ke arah shankara yang terlihat khawatir dengan hilangnya aluna, lalu segera menarik pandangan berbalik menuju mobil mengikuti perkataan mereka untuk segera menemukan aluna, aku tidak mempermasalahkan lagi karena saat ini yang lebih penting adalah menemukan aluna.


'Tunggu aku aluna, aku akan segera menemukanmu!' tekadku sambil membuka pintu mobil, seiring dengan itu juga muncul mobil teman-temanku bersamaan dengan mobil demon of death anak buahku.


Aku segera masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesin mobil melesat cepat membelah jalanan, terlihat dibelakangku diikuti beberapa mobil termasuk mobil yang dinaiki mona dan bayanaka, karena mobil shankara mogok mungkin dia menumpang pada mobil mereka.


Dimanapun kamu berada aku akan menemukanmu, karena dihatimu terdapat radar cintaku~ Ziyad kawindra pramadana


Tbc❤

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir...😘


__ADS_2