
Hari ini aku terlambat bangun, dikarena tadi malam menyelesaikan buku bacaanku yang sempat tertunda hingga tamat. dengan langkah lebar dan terburu-buru, aku melangkahkan kaki menuju lift ke lantai atas.
Aku menunggu lift terbuka dengan gelisa, hingga selang beberapa detik lift terbuka dan aku segera masuk kedalamnya. Lift akan segera tertutup aku dengan tidak sabar terus menunduk melihat jam ditangan.
Saat lift akan benar-benar tertutup, tiba-tiba munculah sebuah tangan menahannya, aku mendongak melihat ke arah pemilik tangan itu.
Terlihat pria gagah sedang berdiri di depan pintu lift, dengan menenteng tas belakang di punggungnya, sambil tertunduk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dengan muka serius, sehingga memancarkan aura maskulin pada dirinya serta sangat mempesona, membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.
Aku terpana seketika memandang ke arah orang itu. tiba-tiba pria itu mengangkat wajahnya dan balik menatap kearahku, saat itu mata kami saling bertemu. dia segera mengubah ekspresi mukanya dari serius menjadi lebih santai dengan mata berbinar.
"Aluna, ini sungguh kamu?"seakan tidak percaya aku berada di lift yang sama dengannya.
"Jika masih tidak ingin masuk juga, lebih baik tunggu lift selanjutnya" balasku malas sambil mengalihkan pandangan darinya.
"tidak... tidak... aku akan terlambat jika menunggu lift berikutnya." jawabanya tergesa-gesa, sambil melangkah dengan cepat ke dalam lift. aku segera menekan tombol angka ke arah yang dituju.
"kamu kenapa bisa terlambat?" Selidiknya sambil memutar arah menghadapku.
"Terlambat bangun" jawabku singkat, Sambil menatap ke dinding lift menghidari tatapanya.
"Sungguh persamaan yang tak terduga, mungkinkah kita di takdirkan bersama juga?" ucapnya sambil menaik-naikan kedua alisnya, dengan mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Jangan berlebihan! perbaiki postur tubuhmu!" peringatku padanya, sambil berusaha menetralkan aura muka.
"Mukamu terlihat merah, apa kamu gugup jika terlalu dekat denganku seperti ini?" tanyanya semakin mendekat ke arahku sambil maju satu langkah.
"Jangan melewati batas! aku tidak akan segan memukulmu!" peringatku padanya sambil mendorong bahunya.
"Ting" suara lift terdengar berbunyi, aku segera melangkah keluar dengan tergesa, disusul dengannya dari belakang.
Saat ini, aku sedang berhadapan dengan guru piket yang bertugas mengawas hari ini. Saat di pintu gerbang satpam tidak menahan murid yang terlambat, karena memberi hukuman akan dilakukan guru piket.
Ini sudah peraturan sekolah, dimana guru piket akan menunggu di persimpangan menuju kelas murid, jadi otomatis tidak bisa kabur malah akan bertemu dengannya.
"Kalian berdua terlambat 7 menit 15 detik, siap-siap menerima hukuman yang saya berikan." tegas guru cewe itu sambil melihat jam di tangannya.
"Kalian dihukum membersihkan lab, sekarang ikuti saya!" putus guru itu, sambil melangkah ke arah ruang laboratorium.
Sedangkan di ruang kelas, seorang pria bermata jernih kecoklatan, dari tadi sibuk melirik meja kosong yang tidak berpenghuni di pojokan.
__ADS_1
"Kemana perginya anak itu, sudah jam segini tidak muncul juga." gumamnya sambil melihat ke papan tulis dengan pikiran berkecamuk.
"Apa jangan-jangan dia sakit, gara-gara kejadian kemarin?" gumamnya lagi terus bertanya-tanya.
"Apakah aku akan mendatangi rumah itu untuk melihat dia? tidak... tidak..., itu akan bahaya jika ayah tahu" dia terus bergumam pada diri sendiri, dengan menggeleng-gelengkan kepala, hingga mengalihkan fokus guru dari depan ke arahnya.
"Ada apa abhinanda? dari tadi saya perhatikan kamu tidak fokus di mata pelajaran saya, apa sedang ada masalah?" tegur guru itu sambil menatap sang empuhnya.
"Ti-tidak buk, saya cuma kurang enak badan saja. iya cuma kurang enak badan" alibinya kikuk sambil mengusap tengkuk.
"Jika tidak sanggup masuk kelas, ke-Uks saja" saran guru itu.
"Tidak perlu buk, palingan sebentar lagi juga udah baikan" tolaknya halus memasang muka meyakinkan. guru itu hanya mengangguk lalu kembali fokus menjelaskan materi.
Beda halnya dengan diruang laboratorium, perempuan itu tidak tahu menahu bahwasanya ada seseorang yang mencarinya bahkan mengkhawatirkannya.
"Kalian bersihkah ruang observasi terlebih dahulu, baru ruang yang lainya. ingat! jangan menyentuh benda yang membahayakan, apalagi melakukan ke kacauan disini." intruksi guru itu.
"Jangan merusak, atau sampai menghancurkan barang yang ada diruangan ini" peringat guru itu lagi.
"Baik buk" jawab orang itu bersamaan.
"Saya keluar dulu, jika sudah selesai kembali ke kelas" pamitnya sambil melangkah keluar ruangan.
Aku bergegas menata rapi barang-barang terlebih dahulu, baru mengerjakan yang lainya.
ku lirik ke arah pria itu, dia sedang mengangkat kardus besar untuk dirapikan ketempatnya. dengan ekspresi serius, dia terus memindahakan kardus itu satu persatu.
Di sini dia terlihat sangat gagah, dengan lelehan keringat mengalir di wajahnya hingga ke leher, begitu menggoda terlihat tidak menyebalkan seperti biasanya.
"Apa yang kau lakukan? Jika kardusnya kau susun keatas seperti ini, akan rawan pecah. Kau membuat masalah saja" cegahku padanya dengan kesal.
"Baiklah, dengar apa katamu. kalau begitu bantu aku menyusunnya, biar aku yang mengangkatnya dari sana" usulnya padaku.
"Ck, merepotkan, padahal aku belum menyelesaikan pekerjaanku" dumelku padanya.
"Bantu aku dulu, nanti aku akan membantumu setelah ini" usulnya.
Kami menyelesaikan menyusun kardus, yang berisikan barang-barang optik dan perlengkapan raboratorium dengan baik, tanpa lecet satu apapun, lalu bergegas menyusun alat peraga biologi torso manusia ketempatnya dengan tertata rapi.
__ADS_1
Namun kefatalan terjadi dengan tiba-tiba.
"Duk" suara benturan mengenai sesuatu.
"Brak"
"Trak"
"Tak"
"Tuk"
Aku menoleh ke sumber suara. Astagfirullah, apa yang dia lakukan?
dengan posisi tiarap dia di tindih alat peraga biologi torso manusia, sebagian berjatuhan kemana-mana.
"Ziyad apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba guru piket itu muncul di sampingku.
"Eh, ini buk. he...he..., tadi patungnya gerak minta turun dari raknya, tapi ziyad tidak bolehin, jadi dia inisiatif turun sendiri malah jatuh seperti ini, memang dasar patung bandel" ocehnya memarahi benda mati itu, sambil mengangkat beberapa organ yang berserakan.
Guru itu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Kalian beresin sampai selesai, kalau tidak jangan masuk kelas!" tegas guru itu sambil beranjak pergi.
"Memang tidak bisa diandalkan, malah membuat masalah, kalau begini kapan selesainya?" omelku padanya.
"Jangan marah, tadi aku tersandung" elaknya, memasang muka lesuh dengan tatapan sendu.
'Sungguh menggemaskan. tidak! apa yang aku pikirkan?' ucapku membatin segera mengalihkan pembicaraan.
"Sudahlah, pergi beli makanan! aku sudah lapar" suruhku padanya.
dia tidak bicara langsung pergi, tanpa menunggu aku yang memberi uang terlebih dahulu.
'sudahlah saat dia kembali saja baru diberikan' pikirku, Sambil melanjutkan membereskan.
Selang beberapa lama, dia datang sambil menenteng kantong plastik di tangannya. akhirnya kami makan dulu baru lanjut membereskan lagi. baik aku maupun dia tidak berbicara lagi, mungkin karena lelah, apa lagi aku hanya sedikit sarapan roti dari rumah.
Dalam hidup kita tidak tahu akan bertemu siapa, dan seberapa lama kita bersama, tapi semuanya harus kita terima konsekuensinya, karena semuanya berjalan tanpa bisa kita cegah dan kita minta.
__ADS_1
Begitupun aku, seberapa banyak yang pergi dari hidupku tidak mampu kubuat bertahan, dan seberapa banyak yang datang tidak akan mampu ku larang apalagi mencegahnya.
Ketakutan terbesarku adalah yang datang di hidupku hanya mampir untuk singgah, bukan datang untuk sungguh~adiba ara kaluna