Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Salah Paham


__ADS_3

Hari ini aku berangkat ke sekolah bareng shankara, mengendarai mobil mercedes benz maybech S-Class berwaran merah pekat, tapi dengan satu syarat kami harus berangkat pagi agar tidak diketahui oleh banyak orang.


Setelah mobil berhenti aku segera turun dengan terburu-buru.


"hei...! Ara tunggu aku! ini masih pagi tidak ada yang akan melihatnya" Teriak shankara sambil berusaha mengejarku saat mobil sudah terparkir dengan baik.


"Kamu menyusul saja nanti, aku pergi duluan" seru ku sambil terus berlari tidak menghiraukan perkataan-nya.


Sampai di kelas terlihat masih sepi belum ada berpenghuni, aku segera meletak kan tas di kolom meja lalu berjalan keluar kelas.


Aku segera berjalan menuju kantin berniat untuk sarapan, karena lagi malas memasak, jadi memilih sarapan di sekolah saja.


BRUK


saat ditikungan jalan menuju kantin aku bertabrakan dengan seseorang, membuat kami terjatuh dilantai bersamaan.


Aku mengangkat wajah menatap orang itu begitupun sebaliknya.


"Kamu...! Kenapa bisa ada disini?" Seru ku melihat orang itu dengan kaget.


"Kenapa denganku? apa ada yang salah jika aku disini!" Jawab orang itu dingin tanpa ekspresi.


"Hah" aku melongo mendengar jawabanya.


Ini kenapa bisa jadi seperti ini, apakah si muka tebal setelah sakit beberapa hari jadi amnesia lalu menjadi dingin seperti ini? dimana sifat konyol dan seenaknya pergi?


Aku jadi bingung melihatnya, terus menatap dengan instens padanya mencari seseuatu yang janggal disana, namun tidak ada yang salah ini memang si muka tebal, wajah dan postur tubuhnya sama hanya sikapnya saja yang berubah.


"Ada apa denganmu? mengapa sikapmu jadi berubah setelah mengalami sakit beberapa hari?" Tanyaku sambil menatap ke arahnya dengan bingung.


Orang itu menatapku dengan sorotan mata tajam dan menakutkan.


Ada apa dengan si muka tebal ini? apakah dia bertemu dengan raja iblis diperjalanan? atau salah minum obat ketika dia sakit?


Aku segera menempelkan punggung tanganku di keningnya mengecek suhu tubuhnya, mungkin efek dia sakit membuatnya berubah jadi menakutkan seperti ini.


PLAK


Dia menepis tanganku dengan kasar, membuat aku terhuyung ke belakang.


Namun dengan cepat dia segera menahanku agar tidak terjatuh.


"Ada apa denganmu? Jika kamu tidak ingin disentuh katakan saja! jangan bertindak kasar seperti ini!" Marahku pada orang itu.


"Kamu menjauhlah! aku tidak ingin berdekatan denganmu!" Dia sedikit memundurkan tubuhnya, sambil mengeluarkan kata-kata penuh penekanan padaku.


"Kalau ingin mengatakan padaku untuk menjauh dan tidak perlu bertemu lagi denganmu, aku bisa mengabulkan nya! tapi jangan bertindak kelewatan seperti ini!" Balasku dengan aura berapi-api.


"Baguslah! jika kamu tahu batasanmu!" jawabnya lagi sambil memandangku dengan remeh.


"Kamu berani memandangku seperti itu?" Emosiku mulai tersulut, lalu memegang kerah bajunya dengan erat.


"Mengapa tidak? memangnya kamu siapa?" Tantangnya sambil memasang muka arrogant padaku.


BUK


Aku meninju mukanya dengan marah, membuat dia terhuyung ke belakang sambil memegang bibirnya yang berdarah, namun dia tidak membalasku.


"Kamu jangan pernah bertemu aku lagi! Aku membencimu mulai sekarang!" Tekanku padanya menarik pembatas diantara kami.

__ADS_1


"Asal kamu tahu yang mendekati duluan itu kamu! bukan aku!" Sarkasku padanya dengan penuh amarah.


Aku kecewa dengan sikapnya, aku pikir aku akan bisa menaruh kepercayaan pada seorang lelaki, dan bisa menaruh harapan lebih, ternyata alangkah lebih baiknya lagi jika tidak berurusan dengan makhluk yang namanya lelaki.


Dia menatap ke arahku dengan bingung, sambil menelisik dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Kamu sepertinya sudah gila! Memukulku,lalu menuduh aku yang mendekatimu, kamu pikir aku orang yang seperti apa mendekati orang yang tidak dikenal sepertimu?" Ucapnya datar sambil menatap ke arahku dengan dingin.


Ada apa dengan orang ini? tidak mau mengakui bahwasanya dia yang terlebih dahulu menggangguku? lalu sekarang bersikap dingin padaku seolah-olah tidak pernah bertemu denganku?


"Dasar pria muka tebal dan menyebalkan, mulai sekarang aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!" ucapku dengan muka kesal sambil beranjak pergi.


Dia juga melangkah pergi sambil memasang muka dingin nya.


♤♤♤♤♤♤♤


Di tempat lain, seorang lelaki tengah berjalan di lantai koridor dengan ke empat teman nya, sambil saling bersenda gurau.


Tiba-tiba segerombolan orang saling berdesak-desak kan dari arah belakang mereka, berjalan menuju mading sekolah.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Lontar salah satu dari teman lelaki itu dengan bingung.


"Hei, lihat! Sepertinya ada berita baru disana?" tutur salah satu teman nya lagi sambil menunjuk ke arah mading.


"Berita apa yang membuat semua orang pada berkumpul di depan mading dengan ramai?" Celetuk salah satu lagi dengan penasaran.


"Mending kita langsung kesana saja untuk melihatnya" saran salah satu dari ketiga teman lelaki itu yang sedari tadi terus berbicara.


"Kalian hanya terus berencana akan pergi, tapi tidak melangkahkan kaki, mending kalian tunggu disini biar aku yang pergi melihatnya" putus lelaki itu malas meladeni teman-teman nya yang terus beradu argument tanpa bertindak.


"Huh, mentang-mentang kau seorang bos suka bertindak seenaknya, kami juga ingin melihat" dumel salah satu dari mereka bertigan tidak terima dengan keputusan si bos.


Dia Berbeda dengan yang lainya, sedari tadi hanya menyimak tidak berbicara satu katapun, mungkin cuma ini teman nya yang waras dan lelaki tulen yang tidak ceriwis dari ketiga teman nya.


"Ziyad, cepat kamu lihat itu! Bukankah itu cewek yang belakangan ini dekat denganmu? Ya ampun dia sedang bersama anak baru itu, apakah mereka sedang berkencan?" Teriaknya Heboh sambil menatap foto di mading dengan mata melotot.


"Aku sudah lihat! mataku masih berfungsi dengan jelas, tidak perlu kamu perintahkan lagi!" Jawab orang itu sambil menatap dengan malas ke arah teman nya.


"He...he... aku hanya sedang memperjelasnya padamu, agar kamu melihatnya dengan baik" jawab cowok itu dengan cengengesan karena malu.


"Uh so sweet, aku ingin berada di posisinya"


"Sangat serasi sekali, aku ingin jadi pendukungnya"


"Hanya foto cowok yang sedang menyanggah tubuh cewek yang hampir jatuh, apanya yang romantis?"


Berbagai tanggapan dari para siswa dengan perspektif masing-masing.


"Sepertinya anak baru itu sedang mendekati wanitamu, kamu harus berhati-hati!" peringat teman nya yang terbilang cukup dewasa, diantara ketiga teman nya yang lain sambil menepuk pundaknya.


"Aku mengerti apa yang harus kulakukan! Kali ini aku tidak akan kalah lagi dari lawan, apalagi yang diperebutkan ini si monter kutub yang berharga, aku tidak akan melepaskan nya! apalagi mengalah!" tekad lelaki itu sambil menatap foto di mading dengan instens.


Terlihat disana seorang cowok yang sedang menyanggah tubuh si cewek yang hampir terjatuh, dan di saksikan oleh banyak orang yang lewat.


"Ayo pergi, jangan lihat lagi!" Ajak salah satu temanya mengalihkan pandangan lelaki itu.


Akhirnya mereka berlima beranjak pergi meninggalkan mading.


******

__ADS_1


Aku memutuskan tidak jadi pergi ke kantin malah balik ke kelas, karena sudah tidak berselera lagi untuk makan setelah bertemu dengan si muka tebal yang sudah berubah menjadi dingin dan amnesia tiba-tiba.


Sampai aku di kelas ternyata sudah ramai, tidak seperti tadi aku meninggalkan kelas tidak ada seorangpun di sana.


"Hei! apa tadi kalian melihatnya? Adiba si cewek dingin itu jatuh di pelukan abhinanda si anak baru, menurut kalian apakah mereka berpacaran?" Celetuk salah satu dari seorang cewek berambut pirang melancarkan gosipnya pada yang lain.


"Iya sepertinya begitu, padahal apa yang dilihat dari cewek muka datar dan ber-aurah dingin itu? tidak ada yang menarik sama sekali" timpal salah satunya lagi dengan muka sinis.


Aku berjalan mendekat ke arah mereka, membuat semua mata tertuju padaku.


Orang yang sedari tadi sedang bergosip segera bubar, ternyata mereka kakak kelas dari sebelah yang main ke kelasku.


"Dib, apa kamu telah melihat mading? Fotomu dengan abhinanda telah tersebar di sekolah" via segera mendekat ke arahku, memberitahu kejadian yang sedang ramai di perbincangkan para murid.


Aku segera berjalan keluar kelas menuju mading, ingin melihat foto apa yang sedang di permasalahkan oleh banyak orang.


Sampai disana masih ada juga yang terus mengerubuni ingin melihat.


Aku segera menyingkirkan mereka dari jalan, untuk melihat foto yang di mading.


Ternyata foto saat shankara menyanggah tubuhku, yang hampir terjatuh kemarin saat membeli batagor.


Dengan cuek aku beranjak pergi, tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang melihatku dengan berbagai pandangan.


"Aluna!" Teriak seseorang padaku saat aku sedang berjalan hendak kembali ke kelas.


Aku hanya melirik ke arah orang itu sebentar, lalu kembali melanjutkan jalan tanpa menghiraukan nya.


"Aluna ada apa? Mengapa kamu mengabaikanku?" Tanya orang itu mengahadang jalanku dengan berdiri di hadapanku.


"Kamu masih berani mendatangiku? Bukan nya kamu sudah amnesia tidak mengingatku lagi?" Sindirku padanya.


"Hah" respon orang itu terlihat bingung.


"Kamu jangan mengira aku ini bodoh yang bisa di permainkan seperti cewek yang jadi taruhanmu dengan cowok itu, tadi kamu baru saja melupakanku dan menyuruhku untuk menjauh darimu dan sekarang kamu kembali mendekatiku?" Sarkasku padanya sambil menatap ke arahnya dengan nyalang.


Malas berurusan dengn nya, aku segera melanjutkan jalan melewatinya begitu saja, dia terlihat bingung mendengar perkataanku.


"Aluna, seharusnya disini aku yang meminta penjelasan darimu soal foto dimading, kenapa malah kamu yang marah padaku?" Lontarnya sambil menarik pergelangan tanganku untuk menahan agar aku tidak pergi.


"Tanya saja pada dirimu sendiri, aku tidak ingin berurusan denganmu lagi" jawabku sambil menyentak kan tanganku dari genggaman-nya.


"Aluna kamu kenapa jadi marah begini padaku? Memangnya aku melalukan kesalahan apa padamu?" Tuturnya Sambil kembali menarik pergelangan tanganku, membuat aku menghadap ke arahnya.


"Kamu benar-benar tidak tahu malu! tadi jelas-jelas kamu menyuruhku untuk menjauh darimu dan sekarang kamu malah mendekatiku lagi? Dasar pria muka tebal!" Umpatku marah padanya sambil membalik kan badan melangkah pergi.


BUK


Saat berbalik aku malah menabrak seseorang, hidungku terantuk di dada orang itu.


Dengan keadaan salah satu tanganku masih dalam genggaman tangan-nya ziyad, aku mengangkat kepala melihat ke arah orang itu.


"Hah" aku jadi melongo menatap orang itu tidak percaya.


Aku menatap ke arah ziyad dan orang itu secara bergantian, membuat aku bingung dengan keadaan saat ini, aku hanya bisa terdiam mematung di antara kedua orang itu, dengan muka kaget dan tidak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.


Jangan mengambil suatu kesimpulan untuk sesuata yang belum kamu ketahui penjelasnya, terkadang kamu bisa salah beranggapan dan salah pemahaman dengan suatu kejadian ~Adiba ara kaluna


Tbc❤

__ADS_1


terimakasih sudah mampir...😘


__ADS_2