Penakluk Hati Kecilku

Penakluk Hati Kecilku
Terjebak Di Ruang Lab


__ADS_3

Terpaksa, Kami harus menyusun kembali organ tubuh yang telah terbuka dari tempatnya. yang lebih parahnya lagi bukan hanya organ manusia, organ hewanpun termasuk. jadi harus melihat buku panduan baru bisa menyusun dengan benar.


Sekian lama berkutat mengatur tata letak semua organ, akhirnya selesai juga. Kemudian dia membantuku menyapu lantai ruangan.


"Hufft, akhirnya selesai juga" ucapnya sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.


Aku menoleh keluar jedendela,


"Seandainya kamu tidak berulah, mungkin semuanya telah selesai dari tadi" dumelku lalu mengecek handphone, namun layarnya tidak kunjung hidup.


dia segera mendekat ke arahku, lalu merongoh tasnya.


"Jangan marah-marah terus, aku tahu aku salah, aku juga tahu kamu capek. sekarang minum dulu, nih" ucapnya menenangkanku sambil menyodorkan botol air padaku.


aku hanya menatap saja tanpa berniat mengambilnya.


"Aku belum meminumnya, ambilah!" seakan tahu pemikiranku dia segera meyakinkan. aku menerimanya langsung meneguk hingga habis setengah, lalu menaruhnya di lantai.


'Swus' sebuah tangan mengambil alih botol itu lalu meneguknya hingga tandas.


Aku tercengang memandanginya. saat minum jakunya terlihat naik turun, apalagi saat air mengalir di tenggorokkan nya, terlihat seperti aliran air pegunungan terasa sejuk jika dipandang.


'Bodoh, apa yang kamu pikirkan?' peringatku membatin pada diri sendiri.


"Apa yang kamu lakukan? itu air bekasku" ucapku tidak mengerti dengan sikapnya.


"Aku juga haus, bagaimana mungkin aku tidak minum. lagian hanya minum air dari bekasmu, apa yang salah?" jawabnya santai tanpa beban. Aku melongo di buatnya.


"Aku tebak, Kamu berpikir kita berciuman secara tidak langsung. bukan begitu?" Sambungnya lagi.


"Apa yang kamu katakan, jangan bicara sembarangan" jawabku sambil memalingkan muka.


"Kamu pintar sekali mengelak, jika belum bisa mendapatkan secara langsung, secara tidak langsung begini juga bagus" ucapnya sambil tersenyum puas.


" Kamu---" dia membuatku kehabisan kata-kata.


"He...he...he... jangan mara-marah terus aluna... lihatlah kejendela! langit sorenya terlihat indah" dia mengalihkanku dengan menyuruh menatap keluar jendela, aku dengan dongkol mengikuti kata-katanya.


terlihat langit sore di sana, dengan burung-burung berterbangan di langit jingga, di barengi lampu jalanan yang menyala, memancarkan warna yang membuat hati terasa damai saat menatapnya.


Aku bangkit menuju jendela full kaca, berdiri sambil memperhatikan pergerakan matahari yang perlahan mulai tenggelam, barisan awan mulai menghitam, aku terhanyut dalam pandangan.


"Oh, ya. kamu tidak bertanya mengapa aku memanggilmu Aluna?" lontarnya sambil menyusulku.


"jika dilarang juga, kamu tetap akan memanggilku dengan nama itu" jawabku terlihat cuek.


"Aluna artinya buaian, pantas untukmu. kamu mampu membuat orang terbuai, dan terhipnotis dengan pesonamu" terangnya sambil menatap langit senja lalu menatapku.


"Minggir! aku mau pulang, sudah terlalu lama aku disini" elak ku menghindarinya. dia hanya menatapku tanpa beranjak dari tempatnya.


'Tek'


'Tek'


'Tek'


Sekuat tenaga aku memutar kenop pintu, tetap tidak bisa terbuka. aku melirik ke arahnya.


"Aku juga sudah mencobanya tadi, tetapi tidak bisa, sepertinya kita terkunci saat satpam memeriksa ruangan. sekarang sudah jam pulang semua orang telah kembali dari tadi," jelasnya padaku.


"Makanya aku mengalihkanmu agar kamu tidak takut, tapi kamu bertekad untuk pulang, aku tidak bisa apa-apa" ucapnya terlihat pasrah


"Lalu bagaimana sekarang?" tanyaku cepat.

__ADS_1


"Semua ruangan terkunci, jika dari jendela ini tidak mungkin kita melompat dari lantai tiga itu akan berbahaya. sekarang ikuti aku saja!" ajaknya sambil melangkah ke pintu samping, aku mengekorinya dari belakang.


"BANG"


"BANG"


"BRAK"


dia menendang pintu samping menuju ruang Uks.


"Untuk apa kamu membawaku kemari? kamu yakin ada jalan disini?" tanyaku tidak yakin dan mencurigainya.


Karena banyak isu yang beredar, orang ini adalah bad boys sekalian play boy, jadi bagaimana mungkin kamu tidak berpikiran buruk tentang dia.


'Tuk' sebuah toyoran mendarat di keningku.


"Apa di kepalamu hanya memikirkan hal buruk tentangku" dia menghadap ke arahku sambil menatapku dengan instens.


"Itu... aku hanya mewanti-wanti, karena wanita dan pria single berduaan diruangan yang sama itu tidak pantas " gugupku sambil menatap lantai.


"Jika aku mau, aku tidak perlu menunggu sekolah kosong. coba kamu pikirkan, seharian cuma guru piket yang kemari, apa tidak cukup waktu untuk melakukanya?" Terlihat mukanya sedikit tidak senang, membuat aku terdiam tanpa kata.


"Aku hanya melindungi diriku, apa yang salah?" lancangku menantang.


"Kamu tidak salah, malah bagus jika kamu bisa menjaga diri, tapi aku tidak akan melakukan tindakan bodoh itu. mengerti?" ucapnya meyakinkan dengan intonasi datar.


"Maaf " satu kata keluar dari mulutku dengan samar.


"Ehm" dehemnya lalu melangkah kaearah pintu dapur yang terhubung dengan ruang uks dan lab.


Dia melakukan hal yang sama seperti saat membuka pintu uks, menendang pintu dapur hingga terbuka.


"Tolong bantu aku carikan minyak goreng, baking soda, pewarna makanan, sendok takar, dan cuka" perintahnya tiba-tiba.


Didapur sekolah sangat praktis, semua bahan- bahan apa saja yang diperlukan sudah tersedia. terkadang jika para guru lagi ingin memasak makanan yang disukai, mereka akan memasak sendiri. berguna juga untuk ruang praktik senibudaya acara masak memasak.


"ini " sodorku padanya memberikan sesuai yang dia minta.


"Sekarang ayo pergi! " perintahnya sambil menarik tanganku kembali keruang lab.


"Kamu tidak menjadi bodohkan? karena kita terjebak di lab?" Tanyaku bingung atas sikapnya. dia hanya tersenyum, lalu menaruh bahan-bahan itu di lantai dan berjalan menuju rak gelas ukur.


Setelah mendapatkan dua gelas ukur, lalu dia menuang baking soda dua sendok ke dalam gelas ukur, Setelah itu dia menuang minyak goreng ke dalam gelas ukur lainnya sampai leher gelas.


Kemudian dia memasukan sedikit cuka kedalam gelas yang berisi baking soda, dan meneteskan pewarna makanan secukupnya, lalu mengoyangkan gelas hingga pewarna itu merata.


"Bukannya cari jalan keluar malah melakukan hal konyol" dumelku kesal.


"Kemarilah! jangan marah-marah terus, Saat nanti kamu melihat hasilnya pasti kamu suka" ajaknya sambil meyakinkanku akan hasil yang di lakukannya akan memuaskan.


Dengan malas aku berjalan mendekatinya.


Setelah itu dia merongoh tasnya mengeluarkan lampu led berwarna putih, lalu menaruhnya di bawa gelas yang berisi minyak goreng.


dia menuangkan isi gelas pewarna ke dalam gelas yang berisi minyak, saat digabungkan terlihat larut kebawa berpisah dengan minyak, namun lama kelamaan pewarna tersebut akan naik kepermukaan, seperti gelembung lecil yang larut lalu kembali mengapung.


Aku tertegun melihatnya benar-benar cantik bisa jadi penerang saat dalam kegelapan, dan juga menarik untuk di pandangi.



"Handphoneku mati, pintu utama tidak bisa di buka sembarangan karena memiliki sandi dari luar, lampu lab juga di matikan, jadi cuma ini yang bisa aku lakukan biar kamu tidak takut" kelakarnya sambil menatapku.


Aku terdiam menatap lampu itu yang terus menggelembung, lalu menatap ke arahnya.

__ADS_1


Dia berusaha membuat aku agar tidak takut dalam kegelapan?


meminta bantuan belum tentu secepatnya bisa dilakukan, tapi dia tidak kehabisan ide, bahkan dengan bahan seadanya dia mampu mengahsilkan penerang buatan.


Aku telah keterlaluan berani berpikir sembarangan tentangnya, padahal dia berusaha membuat aku bisa tenang, bahkan menghawatirkan akan ketakutan yang menyerang.


Sungguh beruntung yang akan bersamanya nanti. Pikirku membatin. aku tersentuh atas sikapnya yang tidak hanya memikirkan diri sendiri.


"Apakah kamu terharu sekarang? bagaimana dengan lampunya bagus, bukan?" Ucapnya bangga.


"Sapa yang terharu? Bisalah tidak terlalu buruk" sangkalku.


"Eum, baiklah jika tidak mau jujur." pasrahnya.


"Kemarilah! malam ini malam tahun baru, pasti sebentar lagi akan ada kembang api" ajaknya untuk mendekat ke jendela melihat kembang api. tanpa bicara aku berdiri di sampingya.


'Nyiat'


'Duarrrr'


"Nyiat


'Duarrrr'


Terdengar suara ledakan dilangit, sehingga membuat langit jadi berwarna, terlihat sangat indah. Pandangan dari lantai tiga dapat melihat gedung-gedung bertingkat, dengan lampu bola berwarna kuning di jalanan, dan perpohonan hijau di sekelilingnya membuat hati terasa nyaman.


Ledakan kembang api terus terdengar, cahaya memercik di kala telah terlepas ke langit, hatipun terasa damai melihatnya.


"Selamat tinggal tahun 2022, dan selamat datang tahun berikutnya. aku menanantikan kejutan selanjutnya, di tahun ini tuhan berencana apa untuk hidupku" dengan perasaan antusias dia meletakan satu tanganya di bahuku lalu menarikku mendekat ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan macam-macam!" ancamku sambil membawa ancang-ancang.


"Selain menuduhku yang bukan-bukan, Apa lagi otakmu ini yang bisa dia pikirkan?" Tanyanya tidak senang.


"Kamu bertindak tiba-tiba, bagaimana bisa aku tidak waspada" jawabku membela diri.


"Aku hanya ingin berbagi kebahagian denganmu, makanya merangkulmu. dan lagi aku takut kamu kedinginan" ucapnya perhatian.


"Sudahlah! kembang apinya sudah tidak ada lagi, sekarang cari cara untuk keluar dari sini, lampunya tidak terlalu terang" elakku menghindar lalu berjalan ke dekat lampu buatan itu.


'Swush' tiba-tiba sesuatu menempel di belakangaku.


'Plak' suara geplakan terdengar.


'Hap' lalu pergelangan tanganku di tangkap.


"Kamu benar-benar siaga, ke depannya aku harus lebih berhati-hati, jika tidak? kamu bisa membuatku mati berdiri" candanya sambil memasangkan jaket ke tubuhku dengan telaten.


Ternyata saat berjalan dia mengikutiku dari belakang, lalu membawakan jaket dari dalam tasnya, bahkan dia membantuku memasangkannya.


Karena dia memasang dari arah belakang, maka saat menarik resleting jaket terpaksa mengungkung tubuhku dalam pelukanya. badanku langsung menegang, tidak berani bergerak sambil menahan nafas.


"Lepaskan!" Rontahku berusaha terlepas dari pelukanya.


"Bisa, tidak? jangan membrontak saat aku lagi peduli padamu?" Tanyanya jengah terlihat mukanya mulai lelah.


"Tidak bisa! aku tidak terbiasa dengan tindakanmu yang tiba-tiba" jawabku ngotot.


"Baiklah ke depanya aku akan membuatmu terbiasa" ucapnya tanpa beban, aku melongo di tempat.


"Dasar pria muka tebal" umpatku padanya, dia hanya tersenyum lalu duduk di sampingku. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing, sambil memandang lampu buatan itu dengan tenang.


Kamu mungkin belum sadar dengan kehadiranku, tapi aku akan membuatmu sadar akan takut kehilanganku ~Ziyad kawindra pramadana

__ADS_1


__ADS_2