
Peperangan ini ternyata belum berakhir. ketika sampai dikelas semua mata tertuju padaku, dengan muka dingin aku berjalan santai kemejaku seolah tidak terjadi apa-apa.
"Adiba tadi kami semua melihat di bawa laci mejamu ada sebuah kotak, tapi kami tidak tahu siapa pengirimnya" saat aku lagi membereskan semua kekacauan di mejaku, tiba-tiba datanglah seorang cewek berambut sebahu, memberitahu kiriman kotak padaku.
tanpa menjawab, aku melihat isi laci mejaku. Dan... benar saja ada kotak berwarna merah tua disana. aku segera mengeluarkan dari laci lalu mengecek isinya, ternyata berisikan fotoku yang mukanya telah dicoret-coret dengan tinta merah. dilukis dengan corak gambar kepala hewan berhidung love, lalu di samping gambar tertulis 'you are in danger' sebuah peringatan.
"Kurang kerjaan" gumamku terlihat santai, sambil membuang kotak pada tempat sampah. Sehingga semua mata melihatku dengan bingung, namun mereka tidak memberi tanggapan apa-apa karena mereka tidak ingin berurusan denganku.
"Kamu mendapat teror lagi?" tiba-tiba muncul sebuah suara dari pintu kelas, membuat semua pandang mata tertuju padanya. sosok itu berjalan menghampiri kearahku, dan memungut kotak yang kubuang barusan.
"Maaf ara, aku telah membuatmu dalam masalah" ujarnya seketika sambil meremas kotak itu, lalu melemparkan kembali ketempat sampah.
"Baguslah jika kamu tahu," balasku dingin. aku yakin pasti dia telah membaca tulisan di kertas yang berserak dilantai lokerku.
"Selanjutnya menjauhlah dariku agar tidak menimbulkan banyak masalah" sambungku lagi. lalu segera duduk dikursi dan menelungkupkan kepala dimeja beralaskan tangan. Shankara tidak bisa berbuat banyak hanya menatapku dari jauh dengan pandangan rumit.
Hari ini silvia tidak hadir, dikarenakan tepat hari ini dimana silvia mengikuti lomba bulu tangkis antar provinsi, dan kemungkinan beberapa hari berikutnya kami tidak akan bertemu sementara waktu. karena dia akan melakukan penginapan sampai menunggu pengumuman pemenang.
"Ara---Ara---" terdengar sebuah suara dari samping diiringi tepukan di bahuku.
Aku mengedarkan pandangan kesekeliling ternyata kelas sudah kosong.
"Kenapa masih disini?" Tanyaku dingin pada shankara.
"Menunggumu bangun," responya sambil mengangkat tas kepundaknya.
"Ambil tasmu! Ayo pulang!" Ucapnya memerintah. aku mengikuti arahanya sambil menyampirkan tas dipundak mengikutinya dari belakang.
"Brukk" tiba-tiba sebuah dorongan dari belakang membuatku jatuh tengkurap. orang itu menyerangku dalam keadaan tidak siap.
"Ara!" Teriak shankara saat mendengar suara terjerembab dari belakang, sambil berlari menghampiriku.
"Awas! ada orang dibelakangmu---" teriakku pada shankara. dia segera berbalik sambil melakukan tendangan memutar ke arah orang itu. aku segera bangkit melawan orang yang tadi mendorongku.
disitu terjadilah baku hantam satu lawan satu. terlihat pihak lawan mulai kewalahan dan tersungkur ketanah.
"Kau tidak apa-apa, ara?" Shankara segera berlari menghampiriku.
"Serangg...!" Tiba-tiba datang serombongan orang lagi menyerang kearah kami tepat saat shankara sudah didekatku.
"Ara belakangi aku agar pihak lawan tidak menyerang kita dengan mudah" ucap pelan shankara. Aku mengikuti instruksinya.
"Akh"
__ADS_1
"Gedebuk"
"Blam"
Suara jeritan dan pukulan terdengar riuh diarea parkiran. aku dan shankara mulai kehabisan tenaga melawan mereka, yang jumlahnya tidak sedikit itu. satpampun tidak ada yang muncul menengahi, kejadian hari ini seakan sudah disetting sedemikian rupa.
"Aluna, tangkap!" Teriak seseorang tiba-tiba melemparkan tongkat bisbol padaku yang sudah kelihatan lelah. aku menagkapnya dengan enggan sambil menatap heran orang itu, yang memanggilku dengan nama belakangku.
"Ara jangan bengong!" Peringat shankara tiba-tiba menyadarkanku.
Sehingga pertempuran itu kembali terjadi, dan orang yang memberiku alat tadi segera bergabung membantu melawan pihak lawan.
kami berada ditengah-tengah saling membelakangi dan melindungi. Sekarang aku tidak sekewalahan tadi, karena telah di beri tongkat bisbol oleh ziyad menjadi alat serangku.
"Aku sudah sangat lelah. aku... aku akan keluar dari barisan," ucap pelan shankara.
"Aku akan kabur diam-diam. alihkan mereka sebentar ara! jika tidak aku akan mati disini" ucap lemah shankara yang terlihat tidak terlalu jago berkelahi.
"Baiklah" jawabku singkat.
"Lets go" teriaku pada ziyad sambil mengkode mata, lalu menggenggam sebelah tangannya berlari kencang menerobos kerumunan. Sehingga shankara telah dilupakan dan bisa kabur menuju mobil. aku kembali membuat formasi segera membelakangi ziyad dan kembali mengahadapi lawan.
"SWUSS"
"BUGH"
"DAG"
"DAG"
"BUGH"
15 menit berlalu, ziyad terus menyerang dengan tangan kosong. sedangkan aku terus memukul mereka dengan tongkat bisbol dengan kekuatan penuh.
"Kamu masaih kuat, tidak?" Tanyanya khawatir.
"Kamu tidak perlu pedulikan aku, urus saja urusanmu dulu. jika kamu tidak berhati-hati kamu akan terluka dari serangan mereka" peringatku padanya.
"Kamu khawatir denganku?" Dia tersenyum senang Sambil melihat sekilas kearahku.
"Fokuslah! jangan bertingkah. jika kita lengah sedikit saja kita akan kalah. bahkan mungkin kita akan pulang dalam keadaan tubuh yang terpisah-pisah" teriak ku padanya, membayangkannya saja aku bergidik ngeri.
"Uwiw---uwiw---uwiw"
__ADS_1
Sirine mobil polisi bergema, tiba-tiba para polisi segera berlari menangkap pelaku dan memasukannya kemobil.
"Kalian pulanglah! kami akan mengurusnya. jika sudah ada hasil kami akan memberitahu" salah satu polisi mendekat, sambil membawa seorang pelaku dengan borgolan tangan kebelakang.
"Baik pak" jawab ziyad sambil menariku kemobilnya. aku yang telah lelah hanya mengikuti saja, soalnya
akan lama jika menunggu taksi lagi pikirku.
"Bajumu telah dibasahi oleh keringat, kita mampir dirumahku saja dulu. dekat kok, dari sini" sarannya padaku sambil melajukan mobilnya berlawanan arah menuju rumahku.
Aku diam tidak menanggapi, menggerakan tangan menyetel musik dimobilnya agar tidak terlalu canggung. dia hanya melirik dan tersenyum simpul sambil fokus menatap jalanan.
"Barusan shankara mengirimiku pesan, dia telah sampai dikediamannya dengan selamat" ucapku bersuara memecahkan kecanggungan.
"Baguslah. Kalian sepertinya terlihat sangat dekat, yah?" simpulnya sambil melirikku.
"Tidak juga, baru saja kenal. sama sepertimu" balasku cuek. dia mengangguk mengerti.
Selang beberapa menit mengemudi, kami sampailah di sebuah rumah mewah bergaya klasik.
"Ayo turun! kita sudah sampai." titahnya padaku. aku bergeming ditempat.
"Tidak usah gugup begitu, calon mertuamu tidak akan mencampakkanmu keluar. percayalah!" Seakan dia meyakinkan calonnya yang dia bawa kerumah, Sehingga aku melotot kearahnya.
"Jaga ucapanmu!" Peringatku padanya.
" ha...ha...ha... soalnya mukamu lucu sekali, persis seperti calon menantu yang akan mengunjungi rumah mertuanya" godanya lagi sambil tertawa puas.
"Diamlah! kamu terlalu berisik" tegurku padanya.
"Baiklah. ayo! aku tidak akan menggodamu lagi" dia berjalan kedepan aku mengekorinya dari belakang.
ini pertama kalinya aku berkunjung dikediaman orang lain, Selain rumah silvia dan saudara dekat. sungguh membuatku tidak nyaman.
Aku takut jika yang kuhadapi nantinya sama seperti yang terjadi di cerita yang pernah kubaca. dimana saat cewek dibawa kerumah cowo, lalu orang tuanya mengata-ngatai si cewe dengan kasar. bahkan mengulik hal buruk keluarganya, itu yang membuatku tidak tenang.
Sebelum masuk aku mengitari pandangan kesekelilng, terlihat rumah besar bak istanah yang megah. Rumah bertingkat dengan perkarangan dan ukuran rumah yang membentang luas. terdapat paviliun bernuansa klasik tidak jauh jaraknya dari rumah mewah ini. Bisa jadi itu tempat pertemuan bisnis atau tempat perkumpulan keluarga.
Terdapat pula kolam renang dan taman bunga yang luas di depanya, serta perpohonan yang rindang menjulang tinggi keatas diperkarangannya.
Semuanya sangat mewah tidak heran jika keluarga Oisca menjadi orang terkaya di kota Alpend.
Afiqah Oisca, nenek dari Ziyad kawindra pramadana. dengar-dengar meskipun sudah tua, namun bakatnya dalam seniman masih sangat populer dikalangan para pebisnis luar. dia sangat dihormati karena ketegasanya dalam bertindak, dan keluwesannya, serta kebijaksanaanya.
__ADS_1
Dalam beberapa tahun terakhir ini dia masih suka mengoleksi barang antik kuno, bahkan juga alat musik bergaya eropa. namun saat ini banyak yang mengatakan dia masih berada diluar negri sudah lama tidak kembali kedalam negri.
Jika tidak ada serangan dari lawan kamu tidak akan tahu apa itu perjuangan dan rintangan~ Adiba ara kaluna