
Saat ini aku sedang berbaring di kasur dengan damai, setelah mengantar si muka tebal pulang.
karena dia sakit, terpaksa aku harus mengantarnya, di karenakan dia tidak bisa mengendara dalam keadaan seperti itu.
Bundanya ziyad malah menyuruhku membawa pulang mobilnya, agar tidak repot lagi menunggu taksi.
Hari ini cukup menyenangkan namun juga cukup melelahkan bagiku, apalagi ziyad saat sakit sangat bertingkah.
"Hei, bangun! Hujannya sudah reda" ucap cewek itu sambil memukul-mukul bahu si cowok.
"Eugh" namun si cowok malah menggeliat saja lalu tidur lagi.
"Ziyad! Kamu jangan membuatku kesal yah? jika saja kamu tidak sakit aku sudah memukulmu" kesal cewe itu.
"Aku sehat kamu marah-marahin, aku sakit juga kamu marah-marahin, kamu sungguh kejam!" Protes lelaki itu sambil berusaha bangkit dari pelukan sang cewek dengan linglung.
Saat lelaki itu berdiri, karena dalam keadaan yang tidak stabil membuat dia hampir terjatuh, namun segera di tahan oleh si cewek, akhirnya cewek itu memutuskan memapah tubuh si cowok masuk ke dalam mobil.
"Biar aku yang menyetir! mana kuncinya?" lontar si cewek saat melihat keadaan lelaki itu tidak memungkinkan mengendara.
"Ini" sodor lelaki itu.
"Pakai seat belt-nya!" perintah sang cewek.
namun saat melihat ke arah si cowok yang malah memilih menutup mata, lalu menyender di sandaran kursi mobil. Cewek itu akhirnya memilih memasangakan seat belt cowok itu.
Saat memasangkannya deru napas si cowok menerpa wajahnya, membuat si cewek merinding seketika lalu menatap wajah cowok itu dengan lama, namun tiba-tiba cowok itu membuka matanya.
"Eum, kamu tidur saja dulu, jika sudah sampai nanti aku akan membangunkanmu" ucap cewek itu datar, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang, lalu segera ke posisi semula .
Namun si cowok malah bertingkah, semakin mempersulit si cewek.
"Hei! duduk yang benar jangan nyender-nyender, ini lagi nyetir" omel cewek itu.
"Kepalaku pusing aluna, biarkan aku menyender yah?" Pinta cowok itu sedikit memohon.
"Huek" tiba-tiba cowok itu muntah, untung saja tidak mengenai si cewek.
"Eh, kamu... sebentar, aku akan menepikan mobilnya dulu" kaget sang cewe menatap si cowo, sambil mencari tempat pemberhentian yang tepat.
"Ini tissue, lap mulutmu!" Perintah si cewe sambil menyodorkan tissue.
"Kamu ini benar-benar tidak berperasaan, tidak bisakah kamu membantuku mengelap?" protes cowok itu dengan nada lemah.
Tanpa banyak bicara cewek itu mengelap mulut si cowok, sekalian mengelap pakaian cowok itu yang terkena muntahan.
"Ini minum dulu," sodor cewek itu memberi sebotol air padanya, lalu cowok itu meminum sedikit airnya dan mengembalikan kembali botol itu pada si cewek.
"Jaketmu terkena muntahan jadi buka saja" ucap cewek itu sambil membuka jaket si cowok, lelaki itu nurut saja.
"Sekarang bagaimana?" Tanya cewek itu.
"Aku sangat lelah bisakah aku menyender padamu?" Tanya cowok itu dengan suara lemah.
__ADS_1
"Hem" dehem cewek itu tanda mengizinkan.
Tanpa sungkan sang cowok langsung menyender pada si cewe, sambil memeluk pinggannya dari samping.
"Kamu..." ucapan cewek itu terpotong.
"Aku terasa dingin, bisakah kamu jangan mengomel terus?" ucap cowok itu dengan suara lemah, sambil mencari posisi ternyaman di pundak si cewek.
Malas berdebat cewek itu kembali melajukan mobil mengantar si cowok pulang kerumah.
Teringat kejadian tadi sore, membuatku menghembuskan napas dengan kasar, lelah sekali rasanya.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Non diba, di suruh nyonya turun ke bawah untuk makan malam" suara dari balik pintu.
"Iya mbok diba akan turun" sahutku dari dalam kamar.
Aku segera turun dari ranjang dan menuju meja makan, namun saat turun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar dan si mbok buru-buru membuka pintu.
"Assalamu'alaikum" terdengar suara seseorang memberi salam.
mama yang lagi duduk segera bangkit di susul suaminya, karena penasaran aku juga menyusl dari belakang, saat sudah sampai di pintu betapa kagetnya aku melihat siapa orangnya.
Mereka bertiga saling bertatapan, semakin membuatku bingung, hingga mataku tertuju pada koper di tangan shankara.
"Tunggu! kamu mau apa membawa koper kemari?" Tanyaku mulai curiga.
"Dia adikmu anaknya ayah, yang mama katakan padamu tadi pagi, yang akan pindah kemari" jelas mama, sambil mengambil alih kopernya shankara menariknya masuk.
" jangan bilang kamu mendekati aku karena kamu sudah tau, bahwasanya ayahmu dan mamaku mempunyai ikatan?" Todongku padanya.
"Dan kamu mencoba mendekati aku, agar kamu bisa masuk ke rumah ini?" Sambungku lagi dengan ucapan pedas.
"Ara kamu terlalu berpikir berlebihan, aku juga tidak tahu kalau kamu yang bakal menjadi saudariku yang dikatakan oleh ayahku itu" jawabnya menjelaskan.
"Akan lebih baik lagi, jika bukan kamu yang berada disini sekarang, dan aku berharap yang berada disini itu orang lain" ucapku sambil menatap shankara dengan nyalang.
"Karena jika kamu anaknya dia, aku akan membencimu, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukanya padamu, dan itu sangat menyebalkan" marahku dengan mata memerah terlihat sangat kesal dengan situasi ini.
entah mengapa dengan shankara, aku tidak bisa berbuat lebih, selalu saja ada yang menghalangi dari diriku untuk tidak mencelakainya.
"Kamu memang tidak seharusnya melakukan tindakan yang membahayakan pada abi, adiba!" Tekan mama yang muncul tiba-tiba setelah mengantar kopernya shankara.
"Mama selalu saja egois, mama tidak pernah memikirkan perasaan aku" marahku lalu beranjak pergi.
"Adikmu akan tinggal di kamar sebelahmu, kamu jangan macam-macam sama dia, jika kamu berani kamu akan tahu akibatnya!" Ancam mama saat aku hendak melangkah kembali ke kamar.
__ADS_1
Dua pria itu hanya diam, menyaksikan kami beradu argumen. aku kembali ke kamar tanpa menyentuh makan malamku.
Saat sampai di kamar aku terduduk di belakang pintu kamarku, sambil menangis tanpa suara, memeluk lutut dengan tubuh berguncang, semuanya pergi dan datang secara tiba-tiba hingga aku tidak siap menerimanya.
Saat mendengar dering handphone aku segera mengangkat kepala, menatap ponselku yang tergeletak di atas kasur, aku membiarkannya terus berbunyi beberapa kali baru aku berjalan ke kasur mengangkat telephone itu.
"Hallo, ada apa?" Tanyaku malas dengan suara serak karena habis menangis.
"Kamu kenapa? Kamu sakit, yah?" Jawab orang itu dari seberang.
"Tidak" jawabku datar.
"Lalu ada apa dengan suaramu?" Tanyanya heran.
"Tidak ada, kamu ada apa menghubungiku malam-malam begini?" Tannyaku pada intinya.
"Aku hanya memastikanmu sudah sampai dengan selamat. oh ya, satu lagi nanti besok mungkin aku tidak ikut sekolah, jadi kamu bawa saja mobilku ke sekolah" ucapnya santai tanpa beban.
"Aku masih punya mobil di rumah, lagian aku bisa naik taksi" jawabku membantah omongannya.
"Gini deh, bawa mobilku ke sekolah sekalian pulang sekolah bisa kamu kembaliin. gitu aja yah, aku tutup dulu bye..." pamit nya lalu mematikan sambungan telephone.
Dasar si muka tebal yang suka seenaknya, sebelumnya belum ada lelaki yang berani sama aku seperti dia, namun dia melakukan-nya, membuat aku jadi kesal.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, aku teringat pada shankara mungkin saja itu dia, aku butuh ngomong dengan-nya.
Aku segera menghapus sisa-sisa air mata lalu segera membuka pintu.
Ceklek
"Ada apa?" Tanyaku datar.
"Kita perlu bicara ara!" Ucapnya serius.
Aku segera keluar dari kamar dan mengikutinya, saat sampai di lorong yang sudah di rasa aman kami berhenti disitu.
"Ara maafkan aku, jika kedatanganku mengganggumu, aku tidak tahu akan seperti ini" ucapnya dengan raut muka merasa bersalah.
"Lupakan! sudah terjadi juga bagaimana aku bisa menolaknnya," ucapku pasrah.
"Tapi aku minta padamu jangan terlalu dekat denganku disekolah, kita harus jaga jarak jangan sampai mereka tahu kita saudara" sambungku lagi.
"Baiklah! aku akan jaga sikap selayaknya kita teman biasa, tapi kamu jangan memusuhiku" pintanya.
"Hem" jawabku singkat.
"Yasudah tidurlah! aku juga akan kembali ke kamar" ucapnya lalu berjalan menuju kamarnya tanpa banyak bicara lagi.
__ADS_1
Aku juga kembali ke kamar ingin segera beristirahat, lelah dengan semua masalah yang tidak ada habisnya.
Aku berharap bukan kamu orangnya, akan lebih baik jika itu orang lain, tapi nyatanya itu sungguh kamu~ Adiba ara kaluna