
"Apa yang barusan kamu lakukan? kamu benar-benar tidak tahu malu!" Cercaku padanya saat kami sudah menjauh dari kerumunan.
Saat ini kami sedang berada disamping ruangan perpustakaan, menghindar dari orang-orang banyak.
"Mencium mu! lalu apa lagi? Urat maluku akan putus jika berada didekatmu" jawabnya dengan santai sambil tersenyum menatap ke arahku.
Sangat menyebalkan, dia tidak memikirkan bagaimana jika berada diposisiku menanggung malu yang luar biasa, yang membuatku sangat marah lagi dia telah merebut first kissku tanpa seisinku.
"Dasar pria muka tebal, kamu telah membawa first kissku, aku menyumpahimu menjadi drakula buruk rupa!" Aku mengumpatinya, sambil memukul tubuhnya bertubi-tubi dengan muka kesal.
"Ha...ha...ha... kamu sangat suka megataiku, aku baru tahu ternyata itu first kissmu, dan aku orang pertama yang membawanya? sungguh beruntung sekali!" dia terlihat sangat senang sekali sambil menghindari pukulanku dan terus tertawa.
"Kamu... benar-benar siluman rubah licik! kamu membuat aku malu saja, sekarang aku harus bagaimana menghadapi orang-orang?" tuturku dengan muka garang padanya dan berhenti memukulnya.
"Kalau begitu tidak perlu menghadapi mereka menghindar saja, lagian sejak kapan kamu mulai peduli dengan penilaian orang-orang tentang dirimu? bukankah kamu orang yang dingin sebelumnya?" jawabnya sambil menatapku dengan serius.
Dia benar! aku dulu tidak akan memperdulikan omongan orang-orang padaku, aku yang dingin, cuek, dan tidak suka berinteraksi dengan orang lain, kini mulai sensitif dengan tanggapan orang lain terhadapku, apakah ini masih diriku yang dulu?
Dengan kehadiran nya semuanya mulai berubah, bahkan aku baru menyadari saat ini aku sudah tidak lagi terus menempel dan berada di sisi silvia, aku mulai bisa berintraksi dengan orang luar.
Mulai bisa menerima kehadiran shankara di keluarga, meskipun aku belum mengakuinya dan menerimanya sepenuhnya, bahkan sekarang aku bisa berintraksi dengan ziyad seperti ini, dan yang lebih anehnya lagi sekarang aku sudah mulai banyak berbicara selain pada silvia.
Semenjak bertemu dengan nya aku mulai banyak berubah, yang dulunya jika terjadi intraksi dan bermasalah dengan orang lain, aku tidak ingin berurusan seperti ini bahkan aku akan pergi begitu saja tanpa memperdulikan nya, namun mengapa sekarang aku malah menuntut dan mau beradu mulut pada ziyad seperti saat ini?
"Ini semua salahmu! kamu membuat masalah untuk ku, setelah ini aku pasti bakalan diserbu para penggemarmu," tuturku dengan aurah muka tidak senang menatap ke arahnya.
"Belum lagi orang-orang mengira aku ada hubungan sesuatu denganmu, kamu benar-benar pembawa sial untuk ku!" Disini aku benar-benar marah! Setelah datang masalalunya yang menyerangku, kedepanya masalah apa lagi yang akan aku temui karenanya?
Pada akhirnya aku akan tetap melakukan perdebatan dengan nya, karena gejolak dalam diriku mulai berubah dari yang bisa mengontrol emosi, bersikap tenang, dan tidak peduli, kini tidak dapat lagi kukendalikan.
Dengan nya aku bebas brekpresi mau marah atau memakinya, dan itu membuatku puas dan lega rasanya, meskipun terkadang aku kesal setengah mati dibuatnya
"Kalau begitu mari kita membenarkan rumor itu menjadi nyata saja, ayo kita menjalin hubungan mulai sekarang!" tututrnya dengan tenang tanpa beban.
Benar-benar tidak tahu malu, bukanya meminta maaf malah mencari keuntungan dalam situasi seperti ini.
"kamu merasa tidak bersalah setelah menciumku di depan umum? sekarang ingin membuatku mati berdiri ditangan para penggemarmu? benar-benar tidak berperasaan!" Aku semakin kesal dengan kelakuan nya, apalagi dia sangat suka membuatku marah, sehingga inilah yang membuatku jadi banyak bicara.
"Mukamu memerah, itu karena malu atau karena marah? Ha...ha...ha... kamu lucu sekali" ucapnya sambil menusuk-nusuk kan satu jari telunjuknya di pipiku.
Ingin rasanya aku mengarunginya lalu melemparkan nya ke sungai Amazon, biarkan saja dia diterkam oleh belut listrik, ikan piranha, dan berang-berang raksasa ganas yang berada disana.
"Kamu benar-benar membuatku marah saja! kamu minta dipukuli sepertinya" tuturku sambil mengangkat tinju ke arahanya, karena dia semakin gencar menggodaku membuatku kehabisan kesabaran.
"Kamu suka sekali memukulku, apa kamu tidak kasihan padaku?" Ucapnya sambil menggenggam kepalan tanganku menurunkan nya secara perlahan, dengan memasang tampang muka kasihan.
"Tidak! Karena kamu sangat menyebalkan" jawabku dengan ketus.
"Baiklah kalau begitu aku minta maaf, dan akan mengembalikan nya padamu lagi" ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Tiba-tiba dia mendekat ke arahku lalu mengecup bibirku dengan cepat, membuat aku terkejut membelalak kan mata.
__ADS_1
"Aku sudah mengembalikan first kissmu, kamu jangan marah lagi! sesungguhnya itu juga first kissku tapi aku tidak mengapa, nanti ketika kamu sudah siap kamu juga bisa mengembalikan nya padaku" tuturnya dengan santai seolah-olah dia hanya melakukan hal biasa.
"Benar-benar pria mesum! bukan nya memperbaiki keadaan malah semakin menimbulkan masalah saja" ucapku dengan marah sambil menendang tulang keringnya sedikit keras.
"Arghhh.... kamu benar-benar kasar sekali! ketika mengamuk seperti macan, setiap marah pasti selalu melakukan kekerasan" dumelnya sambil memegang kakinya yang sakit, dengan kaki satu terangkat dan kaki yang lain menopang ke tanah.
"Rasakan itu! kamu pantas mendapatkan nya" tuturku sambil beranjak pergi.
"Hei! mau kemana? Setelah menendangku kamu pergi begitu saja?" Ucapnya dengan muka tidak percaya.
"Aku pergi dulu bye...bye... jalan nya yang benar jangan sampai melukai kaki yang satunya lagi" Teriak ku padanya, sambil tersenyum mengejek ke arahnya lalu berjalan meninggalkan nya.
"Dasar monster kutub betina! Kalau menyerang tidak kira-kira, awas saja aku akan membalasmu!" teriaknya balik padaku dengan muka kesal.
"Ditunggu pembalasan nya Pria muka tebal" tuturku dengan tersenyum puas lalu berlari meninggalkan nya.
¤¤¤¤¤
KRIET
aku mendorong pintu kelas dengan cepat lalu segera melangkah masuk, semua mata dengan serentak tertuju ke arahku.
Dengan cuek aku berjalan ke tempat duduk ku, dimana sudah ada via duduk disampingnya.
"Pergi kemana sama babang ziyad? Melanjutkan yang tadi yah?" Lontarnya saat aku sudah duduk, dia menatap ke arahku dengan mata berbinar sambil tersenyum menggoda.
Seketika aku teringat dengan ciuman kami saat di samping perpustakaan, membuat pipiku jadi menghangat.
"Cailah... apakah putri kutub akan berubah menjadi putri gurun sekarang?" Lontarnya terus menggodaku.
"Apa kamu ingin sahabatmu ini sebentar lagi akan di amuk oleh penghuni kelas? Apa kamu ingin mendorongku ke jurang permasalahan lagi?" Tuturku padanya dengan muka serius.
Seketika silvia langsung terdiam dan mengedarkan pandangan nya, melihat pasang mata yang menatap ke arah kami dengan pandangan tidak bersahabat.
"He...he... maaf dib, aku tidak bermaksud begitu, baiklah aku tidak akan mengganggumu lagi" cengirnya sambil memperbaiki postur duduknya kembali menghadap ke depan.
Saat ini guru belum juga memasuki kelas, jadi semua murid bebas melakukan kegiatan apa saja.
Karena tidak belajar suasana kelas menjadi sangat heboh, ada yang bergosip, ada yang menulis, ada yang main tik tok, dan ada juga yang berkejar-kejaran memperebutkan sesuatu, semuanya terlihat sangat membosankan.
"Kamu ada hubungan apa dengan ziyad?" Lontar sebuah suara tiba-tiba dengan suara pelan agar tidak di dengar yang lainya.
"Tidak ada! Memangnya kenapa?" Jawabku sambil menatap ke arah orang itu.
"Jadi tadi itu apa?" Tuturnya mengintrogasi.
"Itu... tidak seperti yang kamu pikirkan" Aku jadi gelagapan tidak tahu mau menjawab apa, karena aku tidak punya kata-kata yang tepat untuk menjelaskan nya.
"Kamu tidak perlu takut begitu aku cuma bertanya saja, tidak akan melapornya pada mama kamu tenang saja" tuturnya padaku dengan muka meyakinkan.
"Siapa yang takut? kamu jangan mengada-ngada shankara" balasku dengan pelan agar tidak di dengar orang lain termasuk silvia, untung saja saat ini dia pergi ke meja teman yang lain ikut bergosip bersama, jadi dia tidak mendengarnya.
__ADS_1
Yang mengajak ku barusan berbicara dialah shankara si tukang banyak bicara, biasanya aku menyingkatnya dengan (TUBABI) Tukang banyak bicara.
"Haish, tidak mau mengaku ya sudah, tetapi aku punya mata menyaksikan apa yang terjadi saat itu, abang ipar benar-benar melakukan nya dalam keadaan sadar aku rasa dia..." belum selesai dia berbicara aku sudah menyentil keningnya.
"Aduh... sakit sekali! Kamu suka sekali menindasku, kakak macam apa kamu?" Gerutunya sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.
"Siapa yang menganggapmu adik?" Jawabku dengan pedas.
"Aku tidak dianggap? Baiklah, jangan meminta tolong atau berbicara padaku lagi aku tidak akan menghiraukanmu, nanti pulang kamu pulang sendiri saja jangan menumpang padaku" rajuknya sambil memasang muka cemberut.
"Hei jangan marah aku hanya bercanda, jika kamu tidak memberiku tumpangan aku akan mengusirmu dari rumah!" Bukan nya membujuknya aku malah mengancamnya.
"Baiklah, aku akan memberimu tumpangan, sebagai lelaki sejati akan mengalah dan bersabar menghadapi wanita" tuturnya sambil menepuk dada dengan bangga.
Benar-benar kekanakan! malas meladeninya aku memilih tidur dengan beralasan kedua tangan di tekuk tertumpuh di atas meja.
■■■■■■
Saat ini kami sedang berada di parkiran, shankara sedang mengeluarkan mobil dari antara kendaraan yang lain nya.
Hari ini benar-benar menguras tenaga menghadapi berbagai masalah yang terjadi.
Satu hal yang aku ketahui lagi, ternyata mona menjadi murid baru di kelasnya ziyad bersama dengan cowok yang bernama bayanaka mantan teman nya ziyad.
Berteman dari SMP dan sekarang mereka kembali bertemu lagi, entah bagaimana mereka menyikapinya apalagi ada perang dingin diantara mereka, bahkan menyeret aku masuk di dalamnya.
Malas memikirkan nya aku memilih duduk di tangga menuju parkiran, menunggu shankara mengelaurkan mobil.
Tiba-tiba aku jadi merinding seketika, dibelakangku terasa seperti ada yang aneh, seperti ada bayangan yang mengintaiku, saat aku menoleh kebelakang tidak ada siapa-siapa.
Karena aku merasa risih aku segera menghampiri shankara yang sudah berhasil mengeluarkan mobil.
"Kamu kenapa?" Tanya shankara padaku saat aku sudah duduk di kursi mobil, sambil melihat ke arah ku dengan heran.
"Tidak apa-apa, sepertinya aku sedang tidak enak badan" tuturku mencoba menepis kegelisahanku tentang keanehan saat ditangga tadi.
Aku tidak bercerita pada shankara karena belum yakin dengan yang aku alami barusan, bisa jadi hanya ilusiku saja.
"Mungkin kamu kelelahan, karena mengahadapi begitu banyak masalah hari ini" ucap shankara mencoba mengerti kondisiku.
"Mungkin saja begitu" aku mencoba membenarkan ucapanya.
Setelah itu mobil kami segera melaju keluar dari area parkiran menuju jalanan, aku dan shankara tidak berbicara lagi sehingga keheningan yang tercipta diantara kami, aku memilih menatap keluar jendela melihat pemandangan di sekitar jalanan.
Tidak sengaja tiba-tiba mataku tertuju pada kaca spion mobil, terlihat seperti ada mobil yang sedang mengikuti kami, aku menatap ke arah shankara tanpa bicara, dia seperti mengerti pikiranku langsung tancap gas membelah jalanan.
Banyak cara membuat orang dapat berubah dari faktor apa saja, seperti cara dia mengubahku menjadi banyak bicara~ Adiba ara kaluna
Tbc❤
Terimakasih yang udah mampir, semoga sehat selalu...😘
__ADS_1