
PLETAK
Suara benda jatuh menghantam lantai, pistol itu terlepas dari tangan kami berdua.
mataku tertuju pada orang yang datang, di sana ada pak satpam yang sudah tergeletak di lantai memegangi kakinya yang berlumuran darah, lalu di belakangnya berdiri ziyad dan kelima temanya.
Aku melirik ke arah wanita itu, dia terdiam mematung sambil memandang ke arah ziyad.
Tiba-tiba wanita itu breaksi cepat ingin kabur, namun aku segera menyadarinya dan menekuk kan kakinya dengan lututku, sehingga membuatnya jatuh terjerembab.
"Kamu jangan coba-coba berani kabur! Pertanggung jawabkan apa yang telah kamu perbuat!" tukasku menghentikan-nya sambil mengunci tangan-nya kebelakang.
"Lepaskan aku! kamu jangan coba-coba menghalangiku!" teriaknya garang.
"Bukankah Katamu aku harus menjauhi ziyad? jika kamu kabur tidak akan tahu apa yang terjadi di belakangmu" provokasiku dengan tersenyum miring.
"Kamu dasar perempuan tidak tahu malu! Lepaskan aku!" Makinya dengan memberontak.
Terlihat pak satpam sudah di bantu oleh ke tiga teman-nya ziyad, segera di larikan ke rumah sakit.
"Lihat! orang yang kamu inginkan ada di depan, apa kamu tidak ingin mengatakan-nya untuk menjauhiku secara langsung padanya" tanyaku memanasinya, sambil menatap pada ziyad dan salah satu teman-nya yang berdiri menatap ke arah kami.
"Kamu..." dia kehabisan kata-kata.
SWUSH
Tiba-tiba dia mengulurkan salah satu kakinya ke lantai, untuk menggapai pistol yang tergeletak.
Aku berusaha menggapai pistol itu dengan satu tangan, tangan lainya memegangi kedua tangan wanita itu, namun aku kalah cepat darinya.
Karena peganganku yang sedikit mengendur karena hendak menggapai pistol, membuat dia jadi mudah melepaskan diri, dengan cepat dia mengambil pistol itu lalu mengarahkan nya padaku.
Aku jadi kelabakan mengangkat kedua tangan ke atas.
"Sekarang kamu masih berani mengancamku?" lontarnya sambil menatapku sengit.
"Tidak berani! sekarang letak kan dulu pistolnya tadi sudah mengenai seseorang, kamu jangan menambah korban lagi, apa kamu tidak melihat ada ziyad di belakangmu melihat ini?" Aku mencoba menyadarkan-nya.
Dia berbalik arah menatap ke arah ziyad dan temanya, lalu tiba-tiba dia menarik leherku dan membelenggunya dengan satu tangan, lalu tangan lainya mengarahkan pistol ke kepalaku.
"Jangan mendekat!" Teriaknya pada mereka berdua, saat ziyad dan teman-nya mulai mendekati kami.
"Kamu lepaskan dia dulu, kita bicarakan baik-baik, oke?" Bujuk ziayad pada wanita bertopeng itu.
"Tidak! Jika kalian maju satu langkah lagi aku akan menembaknya!" Ancamnya pada mereka.
Jika saja bukan pistol yang ada di tangan-nya, mungkin aku sudah bisa bertindak sedari tadi.
Aku sedikit melirik ke samping melihat preman suruhan-nya berada, namun sudah tidak ada, ternyata sudah kabur melarikan diri.
"Baik... baik... kami tidak akan mendekat lagi" ziyad mencobah mengalah, dan mundur ke belakang beberapa langkah.
Aku sempat melirik dengan ekor mataku ke arah ziyad, gerak geriknya ziyad terlihat mencurigkan seperti sedang merencanakan sesuatu, sambil memasukan kedua tangan-nya kedalam kantong celana.
DOR
"Akhhhh..."
__ADS_1
sebuah peluru melesat ke arah kami dengan gesit, di barengi sebuah jeritan. aku reflek menutup mata.
Saat membuka mata aku melihat cewek itu telah terkapar di lantai, dengan pistol yang telah terpelanting jauh, lalu darah menetes membasahi lantai.
"Apa kamu baik-baik saja?" tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.
Aku menoleh ke samping, terlihat ziyad sedang merangkul pinggangku untuk menyanggah tubuhku agar tidak terjatuh.
Aku mencoba mencerna apa yang telah terjadi barusan, dengan mengedip-ngedipkan kedua mataku menatap ziyad dengan tidak percaya.
Saat menoleh, mukaku dengan mukanya ziyad bertemu hingga menyisakan sedikit jarak.
"Hei, bicaralah! apa kamu syok?" Tanyanya lalu membawaku kedalam pelukan-nya sambil menepuk-nepuk belakangku untuk menenangkan.
Perlahan aku melepaskan pelukan-nya dengan gugup, entah mengapa aku menjadi lambat breaksi, antara syok dengan kejadian tadi atau karena di peluk ziyad secara tiba-tiba.
"Aku baik-baik saja" jawabku berusaha menetralkan ekspresi.
Lalu aku berjalan menuju wanita itu dan menarik topeng dari mukanya, hingga terpampanglah muka aslinya.
"Kamu!" Lontar ziyad tiba-tiba.
Aku menatap mereka secara bergantian, terlihat cewek itu terdiam menunduk tanpa berani berbicara, apa mereka saling kenal? pikirku.
"Untuk apa kamu kemari?" Ucap ziyad tidak senang.
"Aku ingin menemuimu ziyad, aku minta maaf telah membuatmu terluka, tolong kamu jangan marah yah?" Cewek itu mulai angkat bicara mengutaran maksud tujuan-nya, sambil berusaha bangkit menggapai ziyad.
Tapi ziyad malah melangkah mundur menepis tangan cewek itu, aku terdiam menonton pertunjukan yang mereka lakukan.
"Lalu untuk apa kamu menemui alauna dan melibatkan-nya, hah?" Hardik ziyad dengan muka sangar.
"Karena aku tidak suka kalau dia dekat-dekat sama kamu! Kamu hanya boleh sama aku!" Protesnya dengan posesif.
"Siapa kamu? Kamu pikir kamu itu pantas?" Perkataan tajam dia lontarkan pada cewek itu, membuat aku menahan tawa.
"Ziyad kamu jangan begini, kamu membuat aku terluka" ucap cewek itu dengan muka minta di kasihani.
"Apa aku peduli? Dimana cowok itu apa dia telah meninggalkanmu?" Tanya ziyad dengan tersenyum miring.
"Jangan bahas dia, oke. sekarang kita bicarakan tentang kita" ucap cewek itu penuh harap.
"Tentang kita apanya? Perasaan kamu dan aku tidak pernah menjadi kita" tunding ziyad.
Aku dan temanya ziyad hanya terdiam tanpa breaksi apa-apa, seakan lagi menonton serial drama.
Cewek itu terbungkam menunduk kan kepalanya, dengan darah yang masih mengalir dari kakinya.
"Itu... apa sebaiknya kita membawannya kerumah sakit dulu? nanti baru di selesaikan lagi pembicaraan-nya" Aku mencoba buka bicara menengahi mereka.
"Tidak perlu!"
"Tidak perlu!"
Jawab mereka bersamaan, aku dan teman-nya ziyad bingung harus bagaimana menengahi mereka.
"Apa kamu tidak berhati nurani hanya kepadaku? tapi kepada orang lain yang bahkan hampir membunuhmu kamu masih peduli?" Sekarang dia
__ADS_1
Malah marah kepadaku.
Aku tidak mengerti dengan situasi ini sekarang dia malah memarahiku, apa sih maksud orang ini?
"Aku sih tidak peduli padanya, tetapi ini menyangkut soal nyawa, jika dia kehabisan darah akan jadi bahaya" tuturku menjelaskan.
"Mona!" Tiba-tiba seorang lelaki muncul dengan langkah tergesa-gesa.
Lalu dia segera menghampiri cewek itu dengan muka panik.
"Ziyad jika kamu ingin marah jangan melampiaskan-nya pada mona, kamu hadapi saja aku langsung!" Tutur orang itu memandang ke arah ziyad.
"Dia sudah memilihku kamu harus terima itu, kamu jangan mencelakainya seperti ini" ucap orang itu lagi sambil menggendong cewek yang bernama mona itu, dengan mata menatap ke arah ziyad dengan kesal.
"Kamu pikir karena aku kalah taruhan waktu itu, makanya aku mencelakainya seperti ini?" Tutur ziyad dengan muka mengejek.
"Kamu salah! Aku melakukan ini karena dia hampir membunuh pacarku!" Lontar ziyad dengan penuh tekanan.
Semua orang kaget mendengar omonganya termasuk aku, siapa yang pacarnya? orang ini padai sekali mengada-ngada.
"Lagian cewek hasil taruhan seperti dia tidak pernah melintas di pikiranku, kalianlah yang memaksaku menerima taruhan itu" bebernya memberi tahu kebenaranya.
Aku menatap ke arah si cewek, dia menangis di dalam gendongan cowok itu, antara menahan sakit di kakinya atau di hatinya.
"Sudahlah, kamu bawa dia dulu kerumah sakit! sepertinya dia sudah banyak mengeluarkan darah nanti lagi kalian meributkan-nya" putusku menyuruh cowok itu agar segera melarikan cewek yang bernama mona itu ke rumah sakit.
Cowok itu melirik ke arahku setelah itu menatap ziyad dengan tidak suka, lalu beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa.
"Jaga pacarmu! jangan sampai dia bertemu denganku lagi, apa lagi mencoba mencelakai pacarku, mungkin hanya ini yang kulakukan saat ini, jika lain kali nyawanya pun tidak kuhiraukan!" teriaknya kejam pada lelaki itu yang sudah berjalan jauh.
namun masih bisa terdengar sepertinya, soalnya dia masih sedikit menoleh pada ziyad, lalu berlari dengan cepat membawa cewek itu kerumah sakit.
"Apa kamu tidak ingin menyusul mereka? untuk memastikan dia baik-baik saja?" Tanyaku sambil menatap ke arahnya.
TUK
dia malah menyentil keningku.
"Apa yang kamu pikirkan? nyawamu hampir melayang, tapi kamu masih memikirkan oran lain? Aku itu memikirkan kamu! bukan dia!" Tuturnya sambil menatapku dengan dalam.
"Hah?" responku dengan ekspresi tidak percaya.
Aku pikir dia akan membela cewek itu karena mereka sudah kenal dari lama, tidak kusangka dia malah terlihat santai seolah tanpa beban setelah melukainya.
"Kamu amankan pistol-pistol ini, lalu suruh orang untuk membersihkan lantai" suruhnya pada temanya.
"Baiklah"
Dia menerima pistol dari tangan ziyad, lalu memungut pistol yang tadi tergeletak di lantai, setelah itu dia melangkah ke dalam gudang yang biasa mereka kujungi.
Sepertinya aku mengerti sekarang, mengapa mereka sering ke gudang sekolah, mungkin untuk menyimpan barang-barang itu.
"Apa yang kamu lihat? Ayo kita pergi!" ajaknya sambil menarik pergelangan tanganku beranjak pergi.
Ketika kamu lebih dipilih, disitu kamu merasa sangat berarti dan merasa dihargai~ Adiba ara kaluna
Tbc...
__ADS_1
Terimakasih udah mau mampir... bantu like, komen, dan subcribe nya yah manteman...❤