Pencak Silat : The Beginning

Pencak Silat : The Beginning
Sesuatu Terjadi


__ADS_3

Hari ini Jinno dan Nala, sedang dalam perjalanan menuju ke Desa Penglipuran tempat tinggal Wulan dan Dina. Kemarin selesai latihan Wulan dan Dina mengajak Jinno dan Nala untuk melihat pagelaran seni budaya di Desa mereka.


Sampailah Jinno dan Nala di Desa Penglipuran.


" Waaahhh... Indah sekali Desa ini. Bangunannya penuh dengan ukiran seni dan tertata rapi, beda banget sama desaku yang semrawut ". Ucap Jinno takjub.


" Kau baru sekali ini, ke Desa ini Jinno?". Tanya Nala.


" Iyaa Nala,, Desa ini keren. Kau sudah pernah kesini ya?, kau kelihatan biasa saja.


" Iyaa tentu saja, dulu aku sering ikut ayahku berdagang ke Desa lain. Aku udah lihat banyak Desa yang unik - unik dan indah juga.


" hemm, begitu... , terus apa kau tau juga rumah Wulan dimana?". Tanya Jinno.


" Tidak tauu... , kita tunggu di gerbang Desa ini saja, Wulan dan Dina akan menjemput kita di sini ". Jawab Nala.


*Beberapa menit kemudian.


" Kalian sudah lama menunggu yaa?", maaf aku hampir lupa kalau harus menjemput kalian disini. hehe...".Ucap Dina.


" Hampir saja kau terlambat, baru saja kami berniat ingin pulang". Ucap Nala.


" Heeh,, emang kita tadi bilang gitu?". Ucap Jinno terlalu polos.


" Ya, itu cuma basa - basi *****,,". Ucap Nala sedikit kesal ke Jinno.


" Terus, Wulan kemana??, bukannya dia yang nyuruh kita kesini, malah tidak datang". Tanya Nala.


" Eehh anu... , Wulan tadi masih sibuk, jadi cuma aku saja yang menjemput kalian di sini". Ucap Dina.


Kemudian Dina, Nala dan Jinno menuju rumah Wulan di pandu oleh Dina. Dalam perjalanan menuju rumah Wulan, Dina sempat menjelaskan kenapa Desa Penglipuran bisa sangat indah dan bangunannya tertata rapi. Dina juga tak ketinggalan menunjukkan letak rumahnya.


* Dan sampailah di rumah Wulan.


" Selamat datang Nala, Jinno... , maaf aku enggak bisa ikut menjemput kalian di gerbang masuk Desa". Ucap Wulan.


" Emm,, bagus banget rumahmu Wulan. Apa kau seorang bangsawan atau semacamnya? ". Tanya Jinno.


" Mungkin saja, sejak kecil aku tinggal disini cuma sama pengasuhku. Orangtuaku tinggal di kota kerajaan, dan jarang sekali menengokku disini ". Jawab Wulan.


" Kenapa kau tidak tinggal saja di kota kerajaan bersama orangtuamu? ". Tanya Jinno lagi.


" Aku lebih suka tinggal di Desa daripada di Kota, disini lebih nyaman dan tak begitu ramai.


" Udah nanti saja bicaranya, sekarang ayo kita makan dulu. Sudah aku siapkan dari tadi. Kalian sudah rela datang kesini padahal Desa kalian jauh dari sini. Kalian pasti lapar kan? ". Ajak Wulan ke ruang makan.


" Waaaw..., banyak dan mewah sekali... , aku jadi lapar ". Sepertinya Jinno belum pernah makan makanan yang semewah itu. Maklum Jinno merupakan anak yatim piatu yang miskin.

__ADS_1


Mereka berempat duduk di tempat duduk yang sudah disediakan dan tak lupa berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing - masing dulu sebelum makan.


Jinno kelihatan sangat bernafsu makan. Jinno ambil porsi makan yang sangat banyak. Habis satu piring Jinno tambah satu porsi makan lagi. Karena sangat bernafsu, Jinno makan dengan cepat, sehingga Jinno tersedak.


" Hati - hati Jinno, ini minum air dulu ". Respon Dina dengan cepat mengambilkan air untuk Jinno.


" Makanya, kalau makan di rumah orang, tau malu dikit napa! ". Ucap Nala.


" Udah - udah enggak apa - apa kok. Aku malah seneng kalau Jinno makannya lahap gitu, berarti masakanku enak ". Ucap Wulan.


" Ehh,,, kau masak sendiri Wulan? ". Jinno sedikit terkejut.


" yahhh... Walau sebenarnya banyak dibantuin sama pengasuh. Hehe... ". Ucap Wulan merendahkan dirinya.


" hemm... , nanti kalau Wulan sudah menikah, pasti senang ya suamimu, kalau istrinya bisa masak ". Puji Dina.


" Apa - apa an, pikiranmu itu Dina?, kau masih 16 tahun tapi sudah berpikiran sejauh itu". Ucap Wulan dengan wajah terlihat malu - malu.


Semua telah selesai makan. Kemudian mereka berempat duduk santuy di teras lantai dua rumah Wulan, sembari menggu matahari tenggelam.


Dan malam pun telah tiba, akhirnya pagelaran seni budaya di balai Desa Penglipuran akan dimulai. Mereka berempat bersiap menuju tempat pagelaran seni budaya tersebut.


" Aku kira bakalan wahh gitu,, ternyata sederhana yaa... ". Ucap Jinno melihat situasi pagelaran seni budaya.


" Kau kira ini kota kerajaan??, ini cuma pagelaran seni budaya biasa. Tentu saja yang nonton cuma orang - orang Desa aja ". Balas Wulan.


" Yaah... apa salahnya aku membayangkan sesuatu yang lebih meriah?". Balas Jinno.


" sudahlah kalian jangan bertengkar, acaranya sudah dimulai". Ucap Dina.


Acaranya telah dimulai...


Pertunjukan dimulai dari tari - tarian dan di akhiri dengan pertunjukkan wayang kulit yang sangat lama. Saat pertunjukkan wayang kulit baru saja dimulai, tiba - tiba Jinno pengen buang air kecil. Jinno mencari toilet kemana - mana tapi tidak ketemu, akhirnya Jinno terpaksa buang air di bawah pohon.


Selesai buang air, Jinno kembali ke tempat pertunjukkan. Sesampainya di tempat itu Jinno terkejut tempatnya jadi sangat ramai sekali dan banyak pedagang makanan.


" Nak - nak ... , sini !! ". Seorang nenek tua memanggil Jinno.


Jinno pun menghampiri nenek itu.


" Ada apa nek? " . Tanya Jinno.


" Ini sate nak ". Ucap nenek tersebut menawarkan sate itu.


" Ma'af nek, saya tidak bawa uang ". Ucap Jinno.


" ini gratis kok nak, ambil semaumu nak ". Ucap nenek itu.

__ADS_1


" Beneran ni nek ". Tanpa basa - basi lagi Jinno langsung makan sate itu sebanyak - banyaknya.


Kemudian Jinno ke tempat penjual lainnya.


" Apakah ini gratis juga kek?". Tanya Jinno ke seorang kakek - kakek.


" iyaa..., semua yang ada disini gratis nak". Jawab kakek itu.


Jinno pun makan apapun yang ia suka sampai kenyang. Saat Jinno sudah kenyang, Jinno tersadar bahwa Jinno harus mencari Nala, Wulan dan Dina. Jinno mencari ke semua tempat tapi tidak ada. Jinno berpikir, mungkin mereka sudah kembali ke rumah Wulan. Kemudian Jinno memutuskan untuk kembali ke rumah Wulan juga dan tak lupa membungkus makanan untuk di makan di rumah Wulan.


***Di rumah Wulan.


" Kemana ya Jinno, kok belum kembali?, apa mungkin dia tersesat? ". Ucap Dina mengkawatirkan Jinno.


" Ngapain juga kau mengkawatirkan Jinno, palingan bentar lagi balik, salah dia sendiri pergi enggak bilang - bilang ". Ucap Wulan jengkel.


Sedangkan Nala hanya cuek saja, tanpa memikirkan Jinno kemana.


Tok... Tok... Tok...


Tok... Tok... Tok...


" Uhh itu Jinno, aku akan membukakan pintunya... ". Ucap Dina bergegas membukakan pintu.


Dibukalah pintu itu...


Cekrekk....


" Aaaaahhh.... ". Teriak Dina dan langsung pingsan.


Mendengar teriakan Dina, Wulan dan Nala langsung bergegas menghampiri Dina.


" Apa yang terjadi padamu Jinno !!!... Teriak Wulan.


" Apa yang kau bawa itu, menjijikkan sekali... ". Ucap Nala.


" Apa maksud kalian, kenapa Dina ketakutan melihatku". Ucap Jinno kebingungan.


Kemudian Jinno menyadari bahwa baju dan sekitar mulutnya penuh dengan lumuran darah. Sedangkan bungkusan yang di bawa Jinno berupa potongan kepala ular.


Menyadari itu Jinno langsung berlari dan pergi membuang bungkusan yang ia bawa tadi. Kemudian Jinno terus ke kamar mandi untuk membersih tubuhnya yang berlumuran darah dan mengganti pakaiannya serta membuang pakaian yang berlumuran darah itu.


Selesai mandi Jinno terus kepikiran, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


Setelah Jinno sudah sedikit tenang, Wulan dan Nala bertanya kepada Jinno, apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan Dina masih belum bangun.Kemudian Jinno menjelaskan apa yang ia lakukan dari tadi.


๐Ÿ“œ ๐ŸŽถ**Penjelasan Author๐ŸŽถ ๐Ÿ“œ

__ADS_1


**Sebenarnya saat Jinno kembali setelah buang air, Jinno tanpa sengaja memasuki dimensi kedua, yaitu dimensi dimana para iblis tinggal. Semua orang yang Jinno lihat waktu itu adalah para iblis yang berwujud manusia, sedangkan makanan yang Jinno makan merupakan binatang liar, seperti ular, kodok, kambing hutan dsb****.


__ADS_2