
" Apa tujuanmu menjadi pendekar, Jinno?" Tanya Mahesa.
" Aku ingin menjadi salah satu dari "" Delapan Pendekar Mata Angin"" yang bertugas menjaga Kerajaan Pancanegara ini. Supaya aku bisa mendapatkan penghidupan yang layak, sehingga aku dan kakek bisa tinggal di rumah yang bagus, dan tidak perlu lagi kesusahan mencari makan. Ibuku juga meninggal karena tidak mampu membayar perawat desa saat melahirkanku " Terang Jinno panjang lebar.
" Jika tujuanmu adalah uang, sebaiknya kau berhenti mengejar cita - citamu menjadi pendekar ".
Mahesa membalas ungkapan Jinno, dengan menjatuhkan perasaannya.
" Haahh..., kenapa??, apa salahnya dengan uang?, bukannya semua orang membutuhkan uang? " Tanya Jinno meminta jawaban atas ungkapan Mahesa yang telah menjatuhkan perasaannya.
" Pendekar sejati adalah pendekar yang mampu melindungi yang lemah tanpa mengharapkan timbal balik apapun " Balas Mahesa dengan keyakinannya.
" Terus apa yang harus aku lakukan supaya bisa menjadi seperti kak Mahesa? ".
" Kau harus memiliki keyakinan bahwa kau bisa melewati segala rintangan yang kau hadapi. Jangan pernah merasa kuat dari siapapun dan jangan pernah berhenti berlatih sampai kau mati".
Mahesa memberitahu Jinno bahwa menjadi pendekar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan banyak hal yang harus dilewati.
" Apa kak Mehesa juga melewati rintangan yang sulit itu hingga menjadi pendekar? ".
Tanya Jinno.
" Tentu saja bodoh...!!,
" Gelar pendekar tidak bisa di dapatkan semudah yang kau bayangkan. Aku saja butuh waktu 10 tahun hingga aku dapat gelar pendekar tingkat dua " Jawab Mahesa.
" Tingkat dua?, memang pendekar ada tingkatannya? " Tanya Jinno polos.
" Tentu saja ada!. Kalau tidak tau tingkatan - tingkatan pendekar bagaimana kau mau menjadi salah satu dari "" Delapan Pendekar Mata Angin ""?".
Mahesa geram dengan kepolosan Jinno dan ketidaktahuan Jinno tentang dunia pendekar dan jalan yang harus dilewati seorang pendekar.
" Hehehe..., aku mendengarnya dari kakek kalau pendekar yang terhebat di Kerajaan Pancanegara ini adalah "" Delapan Pendekar Mata Angin "", dan mereka memperoleh bayaran yang sangat tinggi dari Kerajaan " Ucap Jinno.
" Baiklah!, akan ku jelaskan tingkatan - tingkatan yang harus kau lalui sampai menjadi pendekar yang kau inginkan. Dengarkan baik - baik !!.
ππΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπ
Berikut level kekutan dari yang terbawah sampai yang teratas:
1). Murid tanpa sabuk/pemula.
2). Murid sabuk hijau.
3). Murid sabuk putih.
4). Murid sabuk jingga.
5). Murid sabuk merah.
__ADS_1
6). Pendekar tingkat I ( termasuk pelatih perguruan pencak silat ).
7). Pendekar tingkat ll.
8). Pendekar tingkat III ( 8 Pendekar Arah Mata Angin ).
9). Pendekar Agung ( Guru Besar Sura ).
ππΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπΆπ
" Waaahh... banyak banget ternyata yang harus aku lewati". Jinno pingsan, kemudian bangun lagi.
" Kenapa?, Kau menyerah?. Kalau mau menyerah sekarang waktu yang tepat. Kau belum pernah melewati masa - masa yang sulit diperguruan pencak silat macan putih ".
Mahesa sedang mencoba menurunkan semangat Jinno untuk menjadi pendekar dan menguji seberapa besar keyakinannya bisa melalui jalan yang panjang untuk menjadi pendekar.
" Siapa yang mau menyerah?, justru aku semakin penasaran rintangan apa saja yang akan aku hadapi. Bukankah kak Mehesa sendiri yang bilang bahwa sulit atau tidaknya tergantung seberapa yakin kita bisa menghadapinya".
Tampaknya Jinno malah tambah semangat. Mahesa senang mendapat jawaban seperti itu dari Jinno.
Waktu terus berlalu, matahari mulai tenggelam, teletubis berpamitan...,
eh... author salah server.
Waktu terus berlalu, matahari mulai tenggelam, Jinno pun pulang ke rumahnya diantar oleh Mahesa karena Jinno tidak tau arah jalan pulang.
**Dan sampailah mereka berdua di depan rumah Jinno.
" llohh kenapa tidak istirahat di rumahku dulu?. Ini kan hampir malam, walaupun rumahku jelek masih bisa buat sekedar melepas lelah" Saut Jinno mencoba menawarkan tempat menginap.
" Bukan menolak tawaranmu Jinno, aku masih ada misi yang harus aku selesaikan" Terang Mahesa.
" Haah..., apa kak Mahesa bercanda?, malam juga masih menjalankan misi?" Tanya Jinno keheranan.
" Bagi pendekar malam dan siang sama saja Jinno. Kita harus siap menjalankan misi kapanpun dan dimanapun". Jawab Mahesa.
" Sampai jumpa Jinno..., jalan menjadi pendekar tidak mudah Jinno, persiapkan dirimu!..., ".
Mahesa berjalan menjauhi rumah Jinno untuk menyelesaikan misinya yang belum tuntas.
" Baik kak..., hati hati di jalan!! "
Setelah Mahesa sudah tak kelihatan dari pandangan, Jinno membuka pintu rumah dengan pelan - pelan. Tiba - tiba sebuah sandal swallow melayang mengenai muka Jinno.
" Darimana aja kamu Jinno?, di suruh bantuin kakeknya malah kelayapan sendiri. Tidak ada jatah makan malam untuk kamu "
Kakek Jinno sangat marah kali ini karena meninggalkan kakeknya saat mencari kayu bakar di hutan, di tambah lagi Jinno baru pulang ke rumah malam hari.
" Anuu..., kek,
__ADS_1
" Anuu... Anuu..., cepet mandi sana terus tidur " Perintah kakek Jinno yang marah.
Jinno pun terus mandi, dan selesai mandi terus ke kamar tidur.
" Huuft,, untung tadi udah makan daging beruang banyak, hehehe..., " Gumam Jinno.
Jinno terus kepikiran tentang jalan menjadi pendekar yang telah di jelaskan Mahesa tadi siang. Bahkan setelah menjadi pendekar pun malah harus menjalankan misi siang dan malam.
Jinno akhirnya menyadari kalau tujuannya menjadi pendekar hanya karena uang, Jinno tidak akan menjadi pendekar seperti yang di katakan Mahesa siang tadi. Setelah menyadari hal itu, Jinno menarik nafas dalam - dalam, menghembuskannya kemudian tertidur lelap.
**Sementara itu.
Mahesa tengah berjalan, di jalan setapak penghubung antar Desa. Jalan terlihat sepi dan hanya di terangi sedikit cahaya bulan. Mahesa terus melanjutkan perjalanan. Setelah sudah cukup jauh berjalan, Mahesa merasa seperti ada yang aneh. Seharusnya ini waktunya orang - orang yang bekerja di Kota kerajaan kembali ke Desa.
" Mau kemana anak muda?, bajumu bagus sepertinya kau membawa banyak uang. Sudikah kau menyerahkan semua uangmu padaku?". Tiba - tiba seseorang mencegat Mahesa dan menyuruhnya menyerahkan uang yang ia miliki.
" Kau tidak bisa lari kemana - mana anak muda, haha... hahaa..., ". Seseorang muncul di belakang Mahesa.
" Oohh jadi kalian para begal yang dirumorkan para warga Desa sekitar sini. Kalian mau ini?". Mahesa memperlihatkan sekantong uang emas.
" Silahkan ambil ini..., tapi bohong, haha... hahaa..., ". Mahesa mengembalikan sekantong uang kembali ke saku.
" Sial kau ********!!!. Berani sekali mempermainkan kami..., ku bunuh kau..., "
Kedua orang itu langsung mengeluarkan senjatanya untuk menyerang Mahesa. Salah satu orang menggunakan golok dan satunya lagi menggunakan celurit.
Di serang kedua orang begal itu, Mahesa hanya menghindarinya terus menerus tanpa balik menyerang. Mahesa tak tergores sedikitpun, sedangkan kedua orang itu terlihat kelelahan dan berhenti menyerang.
" Siapa kau sebenarnya??, kenapa kau bisa menghindari semua serangan kami ". Tanya salah satu orang terlihat keheranan.
" Apa kalian sudah lelah aku baru saja mulai..., "
Mahesa melepaskan jubahnya dan mengeluarkan dua senjata karambit satu di tangan kiri dan satu di tangan kanan.
" Tatoo itu (π―)..., itu tato pendekar dari perguruan macan putih". Ucap salah satu orang setelah melihat tato kepala harimau di lengan kiri Mahesa.
" Oooh..., jadi kau seorang pendekar yaa?, bos pasti akan senang jika kami bisa membawa kepalamu " Ucap seorang yang lainnya.
Dua orang itu kemudian bersiap menyerang Mahesa, namun kini tidak menyerang secara langsung seperti yang mereka berdua lakukan tadi. Kini dua orang itu melakukan sikap pasang pencak silat sebelum bertarung.
" Jadi kalian bisa pencak silat juga yaa?"
Salah satu orang melakukan sikap pasang perguruan macan putih dan satunya lagi Mahesa tidak mengenal sikap pasang itu.
" Jadi kau pernah jadi murid perguruan pencak silat macan putih yaa " Ucap Mahesa kepada salah satu orang.
" Ya walaupun aku cuma sampai sabuk Jingga, tapi aku mengetahui jurus - jurusnya" Balas seseorang itu.
" Sabuk jingga yaa..., kau pikir bisa mengalahkanku dasar pencundang!!"
__ADS_1
Mahesa mencoba memancing kemarahan kedua begal tersebut.
** Pertarungannya antara kedua orang begal dan Mahesa pun siap dimulai.