Pencak Silat : The Beginning

Pencak Silat : The Beginning
Pencak Silat


__ADS_3

Selesai istirahat semua kelompok dari murid baru tanpa sabuk, sabuk hijau, sabuk putih, sabuk jingga, dan sabuk merah berkumpul menjadi satu membentuk lingkaran dan mengosongkan area tengah untuk latihan bertarung.


Semua persiapan telah selesai, salah satu pelatih yang akan bertindak sebagai wasit memanggil satu murid dari sabuk hijau dan satu murid dari sabuk putih untuk maju ke depan.


Kedua murid pun maju ke depan, kemudian mengenakan rompi pengaman dan bersiap berhadapan satu sama lain.


" Salam perguruan, haikk!!! ... "


Wasit memerintahkan kepada dua murid yang akan bertarung untuk melakukan salam perguruan dengan kedua telapak tangan membentuk segitiga, kemudian sedikit membungkuk tanda menghormati satu sama lain.


" Dilarang mengenai kepala dan alat berkembang biak " Wasit menjelaskan beberapa peraturan penting sebelum di mulainya pertarungan.


" Siaaap..., haikkk...!! "


Tanda pertandingan di mulai, kedua murid pun bersiap dan melakukan sikap pasang pencak silat.


**Dari sisi penonton.


" Pelatih Bima, mereka sedang melakukan apa?, mereka mau menari apa bertarung?"


Jinno yang merupakan murid baru perguruan pencak silat macan putih terlihat kebingungan tentang apa yang dilakukan oleh dua murid yang akan bertarung tersebut.


" Itu adalah sikap pasang dalam pencak silat. Sikap pasang merupakan sikap kuda - kuda yang telah dikembangkan dengan unsur seni atau keindahan. Kalau tidak ada unsur seninya tidak dapat dinamakan sebagai pencak silat, karena "pencak" mempunyai makna gerakan yang memiliki nilai keindahan sedangkan "silat" merupakan gerakan untuk melindungi diri, bukannya tadi sudah di jelaskan oleh Guru Besar Sura " Pelatih Bima menjelaskannya lagi kepada Jinno padahal sebelumnya sudah dijelaskan Guru Besar Sura. Karena lambatnya Jinno memahami sesuatu membuat pelatih Bima harus menjelaskannya berulang kali.


" Ohh jadi begitu, pencak silat adalah gabungan dari gerakan tari yang sebelumnya di padepokan seni tari dan gerakan beladiri yaa..."


Berkebalikan dengan Jinno, Nala sangat cepat dalam memahami sesuatu dan bisa dibilang Nala merupakan anak yang cerdas.


" Sepertinya cuma kamu yang sudah paham Nala " Puji pelatih Bima.


**kembali ke pertandingan.


" Uhhh... "

__ADS_1


Kedua murid pun sudah mulai mengadu jurus pencak silat mereka, murid yang bersabuk hijau terkena tendangan, terjatuh dan sedikit terluka.


Kemudian dia kembali bangkit.


"🎶🌱HEALING🌱🎶" Ucap murid sabuk hijau itu.


Tubuhnya dikelilingi energi hijau dan luka di tubuhnya perlahan menghilang.


" Wow..., apa itu hijau - hijau di sekitar tubuhnya? " Jinno sangat kagum melihat yang terjadi pada murid sabuk hijau itu.


" Gitu aja kagum Jinno, itu adalah kekuatan mantra yang di tanamkan kepada murid yang sudah mendapatkan sabuk hijau " Seorang murid wanita menjelaskan apa yang terjadi pada murid sabuk hijau tersebut.


" Kenapa kau bisa tau itu?, emm..., namamu Wulan kan? " Jinno penasaran bagaimana teman perempuannya yang juga masih murid baru mengetahui tentang apa yang terjadi pada murid sabuk hijau itu.


" Tentu saja, aku kan baca buku di ruang penyimpanan buku perguruan "


Di padepokan perguruan pencak silat macan putih juga ada sebuah ruangan khusus untuk menyimpan berbagai buku yang berisi tentang berbagai pengetahuan yang ada di Benua Lemuria. Selain itu, ruang buku tersebut juga menyimpan buku - buku yang berkaitan dengan padepokan pencak silat macan putih itu sendiri.


" Emang ada tempat seperti itu di perguruan ini? " Jinno belum mengetahui kalau ada ruangan seperti itu di dalam padepokan perguruan pencak silat macan putih.


" Iya yaa..., kemana Guru Besar Sura?, kaya hantu aja tiba - tiba muncul, tiba - tiba hilang " Sambung Jinno.


" Guru Besar sudah kembali tadi, kalian aja yang terlalu fokus ke pertarungan " Jawab Nala.


**Kembali ke pertandingan


Pertandingan pertama telah usai, kedua pemain pun melakukan pernafasan penutup. kemudian bersalaman sebagai tanda sportifitas dan rasa persaudaraan, kemudian kedua murid tersebut kembali ke tempat duduk mereka masing - masing.


Pertandingan kedua dan seterusnya pun telah usai.


" Latihan hari ini cukup sampai di sini saja, ingat apa yang sudah Guru kalian ajarkan hari ini. Jika kalian ingin mendapatkan gelar pendekar teruslah berlatih walaupun tanpa Guru kalian "


Pelatih yang menjadi wasit pertandingan memberikan sedikit ceramahnya sebelum membubarkan latihan.

__ADS_1


Satu persatu murid padepokan pencak silat macan putih mulai meninggalkan tempat latihan.


" Krucuk..., krucuk..., " Bunyi perut Jinno tanda lapar sampai kedengaran teman disekitarnya.


" Nala kita ke kantin dulu yuk " Ajak Jinno.


" Bilang aja, kalau mau minta di traktir " Ucap Nala dengan memalingkan wajahnya.


" Kita juga mau dong di traktir " Wulan berharap Nala juga mau mentraktirnya.


" Apa - apaan kau ini, ikut - ikutan aja " Respon Nala.


" Ayolah..., Nala ganteng dehh" Wulan mulai mengeluarkan bujuk rayuan setan sambil memegang tangan Nala.


Wajah Nala sedikit memerah dan langsung memalingkan wajahnya, kemudian tanpa ngomong sepatah kata pun langsung jalan aja menuju kantin.


" Eh tunggu Nala!! " Teriak Wulan


Mereka berempat pun menuju ke kantin dan memesan makanan.


"Jadi traktir kan Nala? " Tanya Wulan dengan menunjukkan makanan yang dipesannya.


" Wow..., "


Ketiga orang lainnya kaget setelah melihat makanan yang Wulan pesan begitu banyak.


" Kau ini manusia apa monster? " Tanya Jinno keheranan dan sedikit ejekan.


" Apa kau bilang!, apa matamu buta gadis cantik sepertiku kau bilang monster " Wulan sedikit marah karena ejekan Jinno kemudian duduk disebelah Dina.


" Banyak banget Wulan, apa tidak takut gemukan? " Dina tidak percaya dengan porsi makan Wulan.


" Enggak lah, kan kita mau menjadi pendekar, jadi juga harus makan banyak biar semakin kuat " Jawab Wulan dengan santainya.

__ADS_1


Sedangkan Nala terkejut dan hanya meratapi nasib karena sudah terlanjur mau mentraktirnya.


__ADS_2