
** Di depan gerbang padepokan perguruan pencak silat macan putih.
Jinno dan nala sedang berdiri di depan gerbang dan tak lama kemudian Wulan dan Dina juga datang.
" Dina, apa kau baik - baik saja?, maaf aku mengagetkanmu kemarin ". Ucap Jinno terhadap apa yang dia lakukan kepada Dina kemarin.
" Oh.., aku tidak apa - apa kok, aku tidak tau kalau kemarin itu cuman cat. Aku kira kau berlumuran darah ". Balas Dina.
" Ya, itu salahku. Seharusnya aku membersihkan diri dulu sebelum kembali ke rumah Wulan ". Ucap Jinno menyalahkan dirinya.
Kemudian mereka berempat memasuki gerbang. Wulan dan Dina masuk duluan diikuti Jinno dan Nala.
"Apakah kita harus membohongi Dina terus kaya gini Nala? ". Bisik Jinno ke Nala.
" Ini kan sudah jadi kesepakatan kita kemarin". Balas Nala berbisik juga.
***kembali ke episode sebelumnya.
Setelah Jinno selesai menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Wulan dan Nala, mereka bertiga sepakat untuk memberitahu kepada Dina, kalau yang dia lihat pada saat Jinno berlumuran darah, hanyalah tumpahan cat berwarna merah. Karena mereka bertiga berpikir Dina takut dengan darah, dan supaya Dina melupakan kejadian tersebut, mereka bertiga sepakat membohongi Dina.
*** kembali ke episode ini.
**Di halaman padepokan perguruan pencak silat macan putih.
Latihan sudah dimulai...
Para murid tanpa sabuk terlihat memperagakan teknik dasar tendangan dan sapuan secara serentak di pandu oleh pelatih Bima. Pertama - tama pelatih Bima menyuruh para murid untuk melakukan kuda - kuda depan, kemudian dengan aba - aba dari pelatih Bima para murid melakukan berbagai teknik tendangan dan sapuan sesuai intruksi pelatih Bima. Setelah beberapa kali para murid memperagakan tendangan dan sapuan secara serentak, kini pelatih Bima menyuruh para murid untuk berpasangan dan saling berhadapan.
" Anu... pelatih, saya tidak memiliki pasangan". Ucap seorang murid.
__ADS_1
" Oh yaa..., jumlah kaliah lima belas. Kalau gitu kamu berpasangan dengan saya". Ucap pelatih Bima.
" Baik pelatih... ". Jawab murid tersebut.
Sementara itu, Jinno berpasangan dengan Wira, Dina dengan Sekar, dan Nala dengan Wulan.
" Kenapa aku berpasangan denganmu Nala, menyebalkan! ". Ucap Wulan memalingkan wajahnya.
" Sebenarnya aku juga enggak mau berpasangan denganmu. Aku terpaksa mengajakmu karena kasian kamu enggak punya pasangan". Ejek Nala.
" Pelatih Bima, apa yang harus kami lakukan?, Apakah ini saatnya kami bertarung? ". Tanya Jinno.
" Tentu saja ini belum waktunya Jinno. Sekarang kalian harus berlatih tendangan dan sapuan dengan pasangan kalian masing - masing. Ketika salah satu satu melakukan tendangan yang satu lagi melakukan sapuan. Ini hanya latihan, jadi kalian tidak boleh mengenai teman kalian". Pelatih Bima menjelaskan.
Setelah itu, para murid latihan dengan pasangan masing - masing sesuai arahan pelatih Bima agar mereka melakukan gerakannya secara serentak. Setelah pelatih Bima merasa latihannya sudah cukup, kemudian mengistirahatkan para murid.
Istirahat telah selesai...
" Pengumuman : hari ini kita kedatangan tamu yang merupakan para pendekar lulusan dari perguruan pencak silat macan putih ini ". Ucap salah satu pelatih.
Kemudian muncullah dua orang dari arah dalam padepokan, sepertinya mereka berdua sudah menunggu di dalam padepokan.
" Haah..., bukannya itu kak Mahesa, ngapain disini?". Gumam Jinno.
" Kamu kenal mereka Jinno?". Tanya Nala yang di sebelah Jinno.
" Aku kenal yang laki - laki kak Mahesa, aku pernah bertemu dengannya. Kalau yang perempuan aku tidak tau dia siapa". Jawab Jinno.
" Baiklah semua aku akan perkenalkan mereka satu persatu. Yang di sebelah kiriku ini adalah Mahesa dan yang di sebelah kananku Melati. Mereka berdua lulusan perguruan pencak silat macan putih dan mereka kini menjadi pendekar tingkat dua penjaga gerbang barat kerajaan Pancanegara". Terang pelatih tersebut.
__ADS_1
" Baik..., sekarang kalian sudah mengenalku. Aku akan ambil alih latihan tanding kali ini ". Ucap Melati penuh semangat.
" Eeeh..., tidak ada kesepakatan seperti itu tadi. Tiba - tiba aja bilang mau ambil alih latihan ". Ucap pelatih yang kaget mendengar ucapan Melati.
" Emang apa masalahnya, aku dengar kau melatih mereka terlalu santai Raka. Jadi aku akan memberikan pelatihan ekstra kali ini ". Melati bersikukuh mengambil alih latihan.
" tapi...
" Sudahlah Raka, biarkan Melati yang mengambil alih latihan. Kalau ada apa - apa aku yang bertanggung jawab ". Ucap Mahesa menenangkan keadaan.
" ya terserah lah ... ". Ucap pelatih Raka pasrah.
Pelatih Raka kemudian menyuruh semua murid untuk membuat lingkaran seperti biasanya. Namun kini lingkarannya jauh lebih luas dari biasanya, pelatih Raka menduga sesuatu akan terjadi ketika Melati yang mengambil alih latih tanding.
Setelah semua murid telah membentuk lingkaran yang luas, Melati pun berdiri di tengah lingkaran itu.
" Sekarang murid sabuk merah maju dan tunjukkan kepadaku jurus - jurus yang sudah kalian kuasai". Ucap Melati dengan lantang.
Kemudian majulah seorang murid dari sabuk merah.
" Saya akan melawanmu, mohon bimbingannya ". Ucap murid itu.
" Ohh,, bagus lah..., aku suka calon pendekar yang pemberani sepertimu ". Ucap Melati.
Seperti biasa sebelum pertandingan di mulai salah seorang Pelatih akan bertindak sebagai wasit dan menjelaskan peraturannya.
Siap ...
Mulaii ...
__ADS_1
Kemudian Melati dan murid sabuk merah itu saling berhadap - hadapan dan melakukan salam penghormatan dilanjutkan sikap pasang.
" Majulah..., calon pendekar... ". Ucap Melati.