
Para murid melakukan tapa agni yang cukup lama, dan mulai berkeringat karena energi panas yang dialirkan ke seluruh tubuh semakin banyak. Setelah api padam mereka pun menghentikan tapa agni di akhiri dengan tarikan dan hembusan nafas yang cukup panjang.
Matahari ☀️ telah terbit dari barat, eh timur. Bayu, pelatih Bima serta murid - muridnya kembali ke Desa. Mereka semua beristirahat untuk melepas letih dari latihan yang cukup keras sambil menunggu sarapan pagi siap. Saat yang lain sedang santai - santai melepas lelah, Wira justru duduk bersila dan mencoba melakukan tapa untuk menyerap energi penciptaan tanpa media seperti air atau api.
" Huft..., susah ternyata melakukan tapa tanpa adanya tekanan dari energi penciptaan ". Gumam Wira.
Setelah semua murid sarapan, pelatih Bima kembali mengumpulkan mereka di halaman untuk persiapan latihan lanjutan.
" Selanjutnya latihan akan dilakukan di puncak Mahameru, tapi kalian harus memakai ini terlebih dahulu sebelum mendaki gunung ". Ucap pelatih Bima dan menunjukkan rompi pemberat kepada para murid.
" Duuhh..., Duuu..., Duuhh..., berat banget ". Ucap Jinno saat mau memakai rompinya.
" Uhhh... ". Wulan dan murid perempuan lainnya bahkan kesulitan mengangkatnya.
" Eh..., punyaku kok ringan ". Ucap Wira.
" Haahh..., curang kau..., sini aku coba ". Ucap Jinno yang iri terhadap Wira.
Kemudian Wira dengan entengnya melemparkan rompinya ke Jinno.
" Ringan gundulmu..., ".Ucap Jinno setelah menangkap rompi Wira yang ternyata sama beratnya.
Bagi Wira rompi tersebut memang ringan karena dia telah berlatih mengangkat benda yang lebih berat daripada rompi itu. Setelah persiapan selesai, Bayu dan pelatih Bima mengajak para muridnya untuk mulai mendaki menuju puncak Mahameru yang merupakan gunung tertinggi di kerajaan Pancanegara. Mendaki gunung itu cukup menguras tenaga terutama pada kaki ditambah lagi mereka harus menahan beban berat dari rompi yang mereka pakai.
Baru sampai setengah perjalanan banyak murid yang mengeluh dan tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan terutama murid perempuan. Melihat hal tersebut pelatih Bima kemudian pelatih Bima mengijinkan murid - muridnya untuk beristirahat sejenak.
Setelah dirasa cukup istirahat perjalanan pun dilanjutkan.
" Ini sangat membosankan ". Gumam Wira.
" Hey..., Jinno bagaimana kalau kita balapan siapa yang paling cepat sampai ke puncak? ". Wira menantang Jinno untuk balapan.
__ADS_1
" Siapa takut, bersiaplah untuk kalah Wira..., ". Balas Jinno.
" Aku ikut, aku tidak akan membiarkan kalian bersenang - senang sendirian, eh berduaan ". Saut Nala.
" Bagus..., aku suka semangat kalian, aku juga ikut ". Saut Bayu.
" Haahh..., apa kau bercanda, tentu saja kami tidak mungkin mengalahkan pendekar sepertimu ". Ucap Nala
" Tenang saja, aku tidak akan menggunakan energi penciptaan, aku hanya akan murni menggunakan kekuatan fisik saja ".
" Satu...,
" Dua...,
"Tiga...,
Balapan dimulai, Jinno, Wira ,Nala mulai berlari. Wira memimpin di depan, diikuti Jinno, dan Nala di belakang Jinno, sedangkan Bayu meremehkan mereka hanya dengan berjalan santuy saja.
" Dasar laki - laki, sok sekali mereka ". Gumam Wulan.
" Kalian lambat sekali, sudah ditentukan siapa pemenangnya ". Ucap Wira menyombongkan diri sambil menoleh ke belakang.
" Braakkk...,
" Aduhh... duu... duhh...," Wira menabrak pohon dan mengalami luka ringan.
" Hahaha..., kau baik - baik saja Wira?, aku duluan yaa..., aku yang akan menjadi pemenangnya ". Ucap Jinno dan meninggalkannya.
" Daahh..., ". Nala juga mengabaikan Wira.
" Jangan senang dulu kau Jinno, ". Ucap Bayu dengan kecepatan tinggi dan menyalip mereka bertiga.
__ADS_1
Bayu telah sampai di puncak Gunung Mahameru, dia sangat sangat senang sekali berada di puncak gunung tersebut karena banyak energi penciptaan yang sangat melimpah. Bayu sering latihan di gunung tersebut hingga dia menemukan bentuk dari ajian-nya yang merupakan wujud dari jati dirinya yaitu "Ajian Berwujud Angin". Kemudian Bayu duduk bersila serta kedua tangannya di satukan di depan wajahnya, dan melakukan "Tapa Adri". Perlahan - lahan Bayu menyerap energi penciptaan dan mengalirkannya ke seluruh tubuh, selaras dengan tarikan nafasnya. Bayu tanpa henti menyerap energi penciptaan dan mengalirkan ke tubuhnya hingga melebihi kapasitas yang dapat di tampung di dalam inti kehidupan di tubuhnya sehingga keluarlah warna aura Bayu yang berwarna perak di sekitar tubuhnya.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Jinno sampai juga di tempat Bayu, dan di ikuti Nala. Setibanya di puncak gunung Jinno dan Nala langsung terkapar karena kehabisan nafas. Beberapa saat kemudian Wira juga telah sampai dengan memegang tangan kirinya yang sedikit terluka, kemudian terduduk dengan nafas terengah - engah. Dan tak lama kemudian, pelatih Bima dan murid lainnya juga telah sampai dan terlihat sangat kecapekan.
Belum selesai melepas lelah, Jinno dan teman - temannya harus bersiap untuk memulai latihan lagi dan latihan kali ini merupakan latihan untuk mengetahui warna aura yang dimiliki setiap murid. Bayu bertugas membimbing mereka dalam latihan kali ini dan mulai menjelaskan bagaimana cara untuk mengeluarkan aura dalam tubuh manusia yang mencerminkan emosi, kepribadian, dan jati diri seseorang.
" Warna aura tidak bisa dilihat oleh orang biasa, hanya orang yang yang sudah bisa mengeluarkan aura mereka yang bisa melihat dan merasakan aura orang lain ". Terang Bayu sebelum mengintruksikan untuk mempraktekkan apa yang sudah dijelaskannya dengan cara tapa adri.
" Tapa adalah cara yang paling mudah untuk menyerap energi penciptaan dan mengalirkannya ke seluruh tubuh, tetapi suatu saat nanti kalian juga harus bisa menyerap energi penciptaan saat dalam pertarungan ". Tambah Bayu.
Kemudian Jinno dan teman - temannya mempraktekkan apa yang di intruksikan oleh Bayu dan memulai bertapa untuk menyerap energi penciptaan serta memejamkan mata supaya dapat berkonsentrasi dalam menyerap energi penciptaan.
Sampai sore hari, belum ada satupun murid yang mampu mengeluarkan warna aura mereka, namun ketika latihan hampir selesai seorang murid mampu mengeluarkannya.
" Humm, akhirnya ada yang bisa mengeluarkannya ". Ucap pelatih Bima.
" Warna putih yaa, itu warna yang sangat langka ". Saut Bayu.
Mendengar pembicaraan Bayu dan pelatih Bima, murid lainnya pun membuka mata mereka.
" Woow..., seluruh tubuhmu bercahaya Dina ". Ucap Jinno.
Dina tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Jinno dan tetap memejamkan matanya serta fokus menyerap energi penciptaan. Dina baru membuka matanya saat mendengar ucapan pelatih Bima dengan memegang pundaknya dan melihat dirinya di selimuti cahaya putih yang merupakan warna aura Dina.
" Kau bisa melihatnya Jinno?, apa kau sudah bisa mengeluarkan auramu? ". Tanya Nala yang tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh Jinno.
" Aku tidak tau, karena memejamkan mata tadi ".
" Pelatih Bima apa aku sudah bisa mengeluarkannya tadi? ". Tanya Jinno yang penasaran.
" Aku belum melihatmu mengeluarkan auramu, dan seharusnya kau merasakan diselimuti energi penciptaan di tubuhmu, kalau kau sudah bisa mengeluarkan aura ". Jawab pelatih Bima.
__ADS_1
" Ini sangat aneh, kenapa Jinno bisa melihat aura orang lain padahal dia belum bisa mengeluarkan auranya sama sekali ". Ucap pelatih Bima dalam hati.
Latihan di puncak gunung Mahameru telah selesai, semua kembali ke Desa dan sampai sebelum matahari 🌞 terbenam. Sampainya di Desa mereka langsung istirahat dan mempersiapkan tenaga untuk perjalanan kembali pulang esok hari.