Pencak Silat : The Beginning

Pencak Silat : The Beginning
Ladang Kepala Desa


__ADS_3

Bagaimana pelatih Bima bisa ada disini? ". Tanya Jinno dengan ekspresi terkejut.


" Kenapa kalian terkejut gitu?, seorang pendekar hanya membutuhkan waktu dua jam saja untuk sampai kesini. Sedangkan kalian butuh waktu seharian sampai kesini, jadi aku sengaja tidak mengikuti kalian agar aku tidak membuang - buang waktuku dan sampai kesini lebih cepat ".


" Hanya dengan alasan itu, Pelatih Bima sengaja tidak mengikuti kami?. Tak hanya itu, pelatih Bima sengaja mengarah kami supaya melewati jalan yang berbahaya untuk sampai kesini kan?, kenapa pelatih melakukan itu?, bukankah seharusnya pelatih melarang kami melewati jalan yang berbahaya? ". Saut Nala dengan mencecar pelatih Bima dengan pertanyaan - pertanyaan yang menyudutkan.


Pelatih Bima menyeringai...


" Sekarang aku tanya balik, Kalau kau tau aku hal tersebut dari awal, terus kenapa kau masih saja memilih jalan tersebut?, kenapa kau tidak ikut temanmu yang lain yang memilih untuk melewati jalan yang tidak berbahya? ".


" Ya awalnya aku akan memilih jalan yang berbahaya, walupun harus sampai sini malam hari, tetapi saat Jinno berkata seorang pendekar harus memilih jalan yang berbahaya, aku jadi berpikir bahwa pelatih Bima sedang menguji kami siapa yang pantas jadi pendekar. Apa aku salah pelatih? ". Tanya Nala dengan percaya diri.


" Ya kau sangat peka Nala, tetapi itu tidak sepenuhnya benar. Pantas tidaknya kau jadi pendekar akan dibtentukan setelah ini ".


Setelah melewati jalan yang sulit dan melelahkan, Jinno dan lainnya pergi ke kamar mandi untuk mandi dan ganti pakaian. Selesai mandi ternyata, makanan yang banyak dan bermacam - macam menu sudah di siapkan oleh pemilik penginapan yang merupakan kepala Desa. Setelah cukup kenyang mereka pergi ke kamar masing - masing untuk istirahat.


Sementara itu, kelompok lainnya baru sampai ke Desa tersebut dan terkejut pelatih Bima ternyata ada di Desa tersebut. Mereka juga bertanya kenapa pelatih Bima ada di Desa tersebut, kemudian pelatih Bima juga menjelaskan seperti yang dikatakannya tadi siang. Namun mereka tidak tau, kalau sebenarnya pelatih Bima sedang menguji mereka.


****


Keesokan harinya, semua murid telah bersiap di halaman penginapan untuk latihan.


" Ohh kalian terlihat semangat sekali hari ini? ". Ucap pelatih Bima melihat para muridnya sudah siap untuk latihan.


" Ya tentu saja, aku sudah jauh - jauh kesini memempuh perjalanan yang bahaya, tidak akan pulang dengan tangan hampa ". Jawab Wira dengan penuh semangat.


Perkataan Wira semakin membuat murid lainnya penuh semangat juga dan tidak sabar untuk menjalani latihan, tetapi mereka tidak tau bahwa latihan yang akan di jalani sangat sulit dari yang mereka bayangkan.


" Bagus kalau gitu, tapi sebelum itu kalian harus membantu kepala Desa terlebih dahulu ". Ucap pelatih Bima dan menyeringai...,


Pelatih Bima dan para muridnya, kemudian pergi menuju sebuah ladang punya kepala Desa. Di sebelah ladang tersebut masih ada lahan kosong seluas 2 ha dan kepala Desa berniat membuka lahan tersebut untuk di tanami sayuran.

__ADS_1


" Kalian lihat lahan kosong ini, sekarang kalian bantu kepala Desa untuk membersihkan rumput liar tersebut seluruhnya dan harus selesai sebelum tengah hari ". Perintah pelatih Bima.


" Terus kami pakai apa membersihkannya? ". Tanya seorang murid yang kebingungan karena tidak menemukan alat apapun untuk membersihkan rumput liar setinggi satu meter tersebut.


" Bukanya kalian masih punya tangan? ".


" Haahh...,". Semua murid terkejut mendengar ucapan pelatih Bima.


" Pelatih Bima bercanda?, mana mungkin lahan seluas ini akan selesai setengah hari hanya menggunakan tangan? ". Sauut Wulan yang berpikir hal tersebut mustahil dilakukan.


" Ya itu terserah kalian, kalau tidak selesai sebelum tengah hari, kalian semua takkan dapat makan siang ". Ucap pelatih Bima membalikkan badan dan meninggalkan mereka.


Ketika murid lainnya merasa hal yang diperintahkan pelatih Bima terasa mustahil namun berbeda dengan Wira. Dengan penuh semangat Wira menantang Jinno untuk menentukan siapa yang paling cepat membersihkan lahan tersebut. Jinno menerima tantangan Wira dan mulai mencabuti rumput liar tersebut sambil berlomba.


" Siall..., aku sudah tau kalau bakal terjadi hal seperti ini, tapi ini berlebihan ". Ucap Nala dalam hati.


Nala merobek kedua lengan bajunya, kemudian menggunakan kain sobekan tersebut untuk mengikat telapak tangannya supaya tidak terluka dan mulai menyusul Wira dan Jinno.


Setelah mengetahui rahasia Nala yang membuat bekerja dengan cepat, kemudian Wira dan Jinno pun juga meniru cara Nala.


Melihat Jinno, Wira dan Nala sudah memulai bekerja dengan cepat murid laki - laki lainnya juga termotivasi untuk meniru cara Nala dan mulai mencabuti rumput. Sedangkan para murid perempuan masih kebingungan apa yang harus dilakukanya.


" Krekk...,


Tiba - tiba Wulan merobek selendangnya di perutnya jadi dua, satu bagian dipakai lagi sedangkan satu bagian lagi di robek jadi dua untuk di ikat di tangan.


" Tujuan ikut perguruan pencak silat macan putih pada awalnya hanya untuk mengejar seseorang, tapi kini aku sadar aku harus jadi lebih kuat supaya tetap bisa mengejarnya ". Ucap Wulan memotivasi dirinya sebelum mulai mencabuti rumput liar.


Melihat semangat Wulan, Dina dan lainnya juga ikut termotivasi dan mulai mencabuti rumput.


****

__ADS_1


Waktu sudah hampir tengah hari, Jinno, Wira dan Nala telah menyelesaikan bagiannya.


" Huuft..., akhirnya selesai juga. Aku tidak sabar buat makan siang ". Ucap Jinno setelah mengembuskan nafas letihnya.


" Aku juga tidak sabar mau minum air satu gentong". Saut Wira


" Kalian jangan senang dulu! ". Timpal Nala yang jengkel.


" Apa maksud kau Nala? ". Tanya Jinno dengan polos seperti biasa.


" Lihat ladangnya! ".


Jinno dan Wira kemudian menoleh ke arah ladangnya, mereka baru menyadari kalau pelatih Bima berkata bahwa semua harus selesai sebelum tengah hari atau semua tidak akan mendapatkan makan siang. Sedangkan yang lainnya belum dapat separuh bagian mereka dan para wanita baru menyelesaikan beberapa meter saja. Melihat hal tersebut Jinno, Wira dan Nala tak ada pilihan lain selain membantu yang lain menyelesaikannya sebelum tengah hari. Selain itu, Jinno juga menyemangati yang lainnya supaya bekerja lebih cepat dan menganggap semu itu sebagai latihan dan langkah awal menjadi pendekar.


" Emang ini bukan latihan? ". Dalam hati Nala.


Nala sudah menyadari kalau sebenarnya setelah pelatih Bima memberikan gulungan dan menyuruh para murid menuju ke Desa tersebut, latihan sudah dimulai.


**flashback ke episode 15


Sesaat sebelum pelatih Bima memberikan dua buah gulungan kepada para murid.


" Sebentar lagi kita akan melakukan latihan yang sangat keras, persiapkan mental dan fisik kalian. Namun sebelum itu, kalian harus pergi ke sebuah Desa yang berada pada gulungan peta ini ".


**Kembali ke apa yang dipikirkan Nala.


Kata sebentar lagi menunjukkan waktu saat keberangkatan, kalau sudah ganti hari lebih tepat menggunakan kata besok atau lusa. Selanjutnya selalu menggunakan kata sebelum itu, untuk menggantikan kata latihan yang memiliki arti latihan selanjutnya. Sehingga, apabila kata tersebut di susun lagi akan menjadi, " latihan akan dimulai saat kalian berangkat menuju Desa untuk membentuk mental dan fisik, sebelum latihan selanjutnya di Desa ".


**flashback ke pagi hari di halaman penginapan.


" Sebelum itu, kalian harus membantu kepala Desa terlebih dahulu". Yang berarti sebelum latihan yang selanjutnya, latihan yang harus dilakukan adalah membatu kepala Desa.

__ADS_1


" Terus kenapa pelatih Bima menggunakan kata - kata yang rumit seperti itu, bahkan masih banyak murid yang menganggap ini bukan latihan ". Pikir Nala dalam hati.


__ADS_2