
Di depan gerbang pedepokan perguruan pencak silat macan putih tertulis dengan jelas " Perguruan Pencak Silat Macan Putih ", dalam huruf sansekerta.
Nala, Wulan dan Dina sedang berdiri di depan gerbang menunggu kedatangan Jinno.
" Kemana temanmu itu Nala?" Wulan terlihat kesal karena Jinno tak kunjung datang juga.
" Maksudmu Jinno?, mungkin dia masih tidur, kita tinggal saj...a "
Sebelum Nala selesai dengan ucapannya, terlihat Jinno dari kejauhan sedang berlari menuju ke arah gerbang untuk menghampiri mereka bertiga.
" Haah..., itu dia " Wulan menghela nafas.
Tak perlu waktu lama, Jinno pun sudah sampai depan gerbang dan menemui mereka bertiga.
" Maaf semua, tadi aku bangun kesiangan. hehehe..., " Jinno sadar ia telah datang terlambat dan mencoba untuk meminta maaf.
" Kami sudah sampai di sini dari pagi dan kau masih enak - enakan di tempat tidur..., kita menunggumu di sini sampai kaki kita berakar, lihatlahh..!!! " Wulan mengungkapkan kekesalannya kepada Jinno.
" Lebay amat nenek sihir, lagian aku kan cuma terlambat sepuluh menit dari perjanjian kita " Balas Jinno dengan ejekan terhadap Wulan.
" Apa Kau bilang!!??....,"
Jinno telah membuat Wulan marah. Jinno tidak tahu kalau dia sedang datang bulan dan jadi sangat sensitif sehingga mendengar ejekan ringan Jinno membuat Wulan pun langsung memukul Jinno tepat di kepalanya hingga pingsan sekali pukul.
Melihat hal tersebut Dina dan Nala sangat kaget, hingga mereka berpikir tidak akan pernah mencari masalah dengan Wulan kalau tidak mau bernasib sama seperti Jinno.
Wulan merasa bersalah telah membuat Jinno pingsan dan terkapar di tanah. Wulan melepas selendang yang dipakai di pinggangnya dan mengikat Jinno yang sedang pingsan seperti mummy.
Kemudian mereka bertiga memutuskan untuk menuju ruang pengobatan dan Wulan berjalan dengan menyeret Jinno yg sedang pingsan menggunakan selendangnya tadi.
__ADS_1
**beberapa langkah mereka berjalan, Nala teringat sesuatu.
" Kalian pergi duluan aja, aku ada urusan pribadi, nanti aku menyusul kalian ke ruang pengobatan. "
" Haahh?, gimana temanmu ini? " Wulan kebingungan mendapati tingkah Nala.
" Kan kamu yang memukul dia tadi, jadi kamu yang bertanggung jawab, bukannya Jinno temanmu juga??". Jawab Nala dengan santainya.
" Siapa juga yang sudi berteman dengannya, aku hanya mau berteman denganmu saja Nala ". Balas Wulan dengan sedikit rayuan serta berharap Nala mau membantunya membawa Jinno ke ruang pengobatan.
Nala hanya diam tanpa memperdulikan Jinno yang sedang pingsan, dan pergi begitu saja tanpa bilang sepatah kata pun.
" Dasar laki - laki tak bertanggungjawab ". Gumam Wulan yang kesal kepada Nala.
" Tapi kamu suka dia kan wulan? " Bisik Dina lirih kepada Wulan setelah Nala berjalan menjauh meninggalkan mereka bertiga.
" Mana mungkin aku suka sama laki - laki kaya dia " Wulan mengelak tuduhan Dina, namun tersipu malu dan memalingkan wajahnya.
" Memang aku pernah bilang seperti itu? " Wulan menyangkal dan kembali berjalan sambil menyeret Jinno.
**Sementara itu, Nala sampai di kantin.
" Ini kekurangan saya kemaren, maaf merepotkan Anda " Nala menyerahkan sejumlah uang kepada penjaga kantin.
" Ohh tidak apa - apa. Hari ini kan tidak ada jadwal latihan, sedang apa kamu di sini?, apa kamu ada latihan tambahan atau semacamnya? " Tanya penjaga kantin.
" Saya dan teman - teman mau ke ruang buku padepokan, kami ingin mengetahui lebih banyak sejarah tentang perguruan pencak silat macan putih dan dunia persilatan " Jawab Nala.
" Jadi begitu, terus dimana temanmu?, apakah temanmu yang perempuan itu juga ikut?" Tanya penjaga kantin.
__ADS_1
" Maksud anda Wulan?, dia sedang berada di ruang pengobatan dengan yang lain. Karena dia lah uangku habis untuk membayar makanan yang dia pesan kemarin". Jawab Nala dengan nada sedikit kesal.
" Ruang pengobatan?, bukannya tadi kau bilang mau ke ruang buku? " Tanya penjaga kantin.
" Tadi ada sedikit kejadian, seorang teman kami terluka dan perlu pengobatan " Jawab Nala
Setelah tanya jawab yang lumayan panjang selesai, Nala pun pergi ke ruang pengobatan menyusul teman - temannya.
**Di ruang pengobatan
Di ranjang ruang pengobatan Jinno terbangun dan di kepalanya yang memar tertempel ramuan obat pereda nyeri.
" Kamu baik - baik saja Jinno?" Dinna cemas dengan Jinno.
" Ugh...,, aku baik - baik saja ". Jinno memegang kepalanya yang benjol sebesar bakpao.
" Dasar laki - laki lemah, begitu aja pingsan " Ejek Wulan.
" Kau memukulku tepat di kepala, siapa yang tidak pingsan kalau di pukul seperti itu di kepala" Sangkal Jinno.
" Halah ngeless..., kau aja yang lemah". Ejek Wulan lagi.
" Sudah kalian hentikan, jangan debat mulu tidak capek apa." Dina mencoba menghentikan perdebatan Wulan dan Jinno.
" Ngomong - ngomong kemana Nala?, bukannya tadi dia bersama kita? "
" Dia bilang ada urusan pribadi tadi, dan pergi begitu aja" Wulan terlihat kesal terhadap Nala.
**Terdengar suara langkah kaki.
__ADS_1
" Mungkin itu Nala " Ucap Wulan.
Dan Seseorang muncul...