
Di tempat latihan perguruan pencak silat macan putih, semua murid baru telah berkumpul untuk memulai latihan yang sangat keras supaya menjadi pendekar yang tangguh secara fisik di masa depan.
" Apa kalian sudah menyiapkan semua perlengkapannya? ". Tanya pelatih Bima.
Para murid pun segera memeriksa perlengkapan yang harus dibawa dalam latihan kali ini. Setelah semua siap, pelatih Bima memberikan dua buah gulungan peta yang menunjukkan tempat yang harus di tuju olehn Jinno dan temannya.
" Jadi pelatih Bima tidak ikut?, terus siapa yang melatih kami disana? ". Tanya Wira.
" Nanti akan ada orang yang menjemput kalian sesampainya di tempat itu dan sebelum matahari terbenam kalian harus sampai disana ". Jawab pelatih Bima.
Beberapa saat kemudian Jinno dan teman - temannya pun berangkat bersama - sama. Ketika sampai di persimpangan jalan perdebatan pun dimulai untuk mengambil jalan yang mana. Kedua jalan itu merupakan jalan menuju ke tempat yang di tuju Jinno dan teman - temannya, bedanya jalan yang pertama merupakan jalan dengan rute terpanjang tetapi sangat mudah di lewati. Sedangkan jalan yang kedua merupakan jalan dengan rute terpendek, tetapi juga berbahaya untuk di lewati.
" Aku akan lewat rute yang terpendek, pelatih Bima tadi bilang harus sampai sebelum matahari terbenam. Kalau lewat rute panjang akan sampai sana malam hari ". Ucap Wira.
" Tapi itu, jalan yang sangat bahaya. Aku akan ambil rute terpanjang walaupun sampai malam hari, aku tidak akan mengambil resiko ". Ucap seorang murid yang lainnya.
" Aku setuju dengan Wira, seorang pendekar harus berani mengambil jalan yang berbahaya untuk mencapai suatu tujuan ". Saut Jinno.
" Terserahlah, aku tidak akan mengambil resiko ". Murid tersebut kemudian bejalan ke arah rute yang panjang.
Murid yang lainnya pun kebingungan memutuskan untuk lewat jalan yang mana. kebanyakan murid memilih melewati rute yang panjang dan tidak berbahaya, hanya Jinno dan Wira saja yang memilih rute yang pendek. Sedangkan Nala, Wulan, Dina, dan Sekar belum memutuskan lewat jalan yang mana.
" Nala, kau pilih rute yang mana? ". Wulan meminta pendapat ke Nala.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Nala memutuskan rute yang pendek. Mendengar hal tersebut tanpa berpikir panjang, Sekar langsung setuju dengan keputusan Nala. Sedangkan Wulan dengan sedikit terpaksa mengikuti Nala karena cemburu dengan Sekar. Dina hanya mengikuti Wulan dan senang bisa berada dengan kelompok Jinno.
Akhirnya kelompok terbelah menjadi dua,
__ADS_1
Kelompok pertama merupakan kelompok yang memilih rute terpanjang, sedangkan kelompok yang kedua merupakan kelompok yang memilih rute terpendek.
Kurang lebih satu jam perjalanan kelompok Jinno belum menemui jalan yang berbahaya.
" Ngomong - ngomong kenapa kau memilih rute ini Nala?, biasanya kau tidak mau merepotkan dirimu dengan hal yang berbahaya ". Tanya Wulan.
"Humm..., ada yang aneh aja. Aku hanya berpikir bahwa pelatih Bima sudah mengetahui kalau hal seperti ini akan terjadi. Pelatih Bima tadi memberikan gulungan peta yang sama dua buah saja, di tambah lagi pelatih Bima menyuruh kita harus sampai ke tempat tersebut sebelum matahari terbenam artinya dia sudah tau kalau kita akan terbelah jadi dua kelompok. Terus ketika Jinno berkata bahwa seorang pendekar harus memilih jalan yang berbahaya untuk mencapai tujuannya, aku jadi berfikir kalau mungkin ini merupakan sebuah ujian untuk mengetahui siapa saja dari semua murid baru yang sungguh - sungguh ingin menjadi pendekar.
" Hebat sekali kau Nala, bisa berpikir sampai sejauh itu ". Puji Sekar.
"Ya itu cuma perkiraanku saja sih".
Beberapa saat kemudian Jinno dan teman - temannya akhirnya menemui jalan yang berbahaya yaitu sebuah jurang dengan jembatan gantung yang rusak. Melihat hal tersebut keraguan pun muncul untuk melewati jalan tersebut dan berusaha mencari jalan yang lain, namun mereka tidak menemukannya. Tak ada pilihan lain selain melewati jalan tersebut, Wira dengan keberaniannya mencoba melewati jembatan tersebut.
"Kretekk...,
Sebuah patahan kayu jembatan tersebut jatuh. Wira sudah sampai di seberang jurang dan berusaha menyemangati yang lainnya yang belum melewati jembatan itu. Kaki Jinno dan lainnya terlihat gemetaran, dan mencoba menguatkan dirinya, sedangkan Dina terduduk lemas karena ia punya phobia terhadap ketinggian.
"Kletak...,
Kayu pada injakan Dina patah, membuatnya sangat ketakutan dan secara reflek memegang erat jinno. Jinno pun berusaha menenangkan Dina sampai mereka berdua berhasil melewati jembatan itu.
Kini tinggal Nala, Wulan dan Sekar yang belum melewati jembatan itu. Karena ketakutan Sekar langsung memegang erat tangan Nala, sedangkan Wulan yang cemburu dengan Sekar ikut - ikutan memegang tangan Nala yang satunya lagi. Tak ada pilihan lain mereka bertiga akhirnya berusaha melewati jembatan itu bersama - sama, Sekar jalan paling depan di ikuti Nala dan Wulan. Jembatan gantung yang sudah rusak tersebut tidak kuat menopang mereka bertiga dan sedikit goyang.
Akhirnya Sekar sudah berhasil melewati jembatan tersebut di ikuti oleh Nala, namun ketika Wulan hampir sampai dan tinggal melangkahkan kakinya ke seberang jembatan, tiba - tiba jembatan ambruk dan Wulan terjatuh.
"Ahhh..., teriak Wulan dengan memejamkan matanya.
__ADS_1
Namun dengan sigap Nala memegang tangan Wulan dan menariknya ke atas, Wulan pun selamat dari kematian. Setelah mereka semua berhasil melewati jembatan kematian tersebut, Wira, Jinno dan Nala saling menyalahkan diri.
" Ini salahku, aku yang pertama bilang mau lewat sini ". Ucap Wira.
" Aku juga salah, aku yang ngotot lewat sini, aku terlalu percaya dini mengenai kata seorang pendekar harus berani mengambil jalan yang berbahaya, padahal kita belum menjadi pendekar ". Saut Jinno.
" Tidak..., ini salahku. Seharusnya aku mencegah kalian melewati rute yang berbahaya ini. Aku terlalu berbahaya kalau ini sebuah ujian bagi para pemula seperti kita ". Ucap Nala.
" Sudahlah, kita sudah membuat keputusan untuk melewati jalan ini. Sebaiknya kita terus berjalan dan harus sampai disana sebelum matahari terbenam ". Sekar menenangkan keadaan.
Perjalanan di lanjutkan dan rintangan yang lain sudah menunggu. Setelah berhasil melewati jembatan kematian, kini Jinno dan teman - temannya harus melewati sungai tanpa jembatan. Biasanya sungainya tidak berbahaya ketika musim kemarau tapi kali ini adalah musim hujan, jadi aliran sungainya cukup deras. Masalah ini cukup bisa diatasi, karena Wira membawa tali yang cukup panjang yang dapat digunakan untuk menyeberangi sungai supaya tidak terbawa arus.
Rintangan belum usai, selanjutnya harus mendaki bukit yang cukup curam dan terjal. Mereka cukup lelah untuk melanjutkan perjalanan sehingga diputuskan untuk beristirahat sebentar dan memakan bekal mereka.
"Apa masih jauh?, rasanya aku mau pingsan saja. Setelah kita melewati jalan - jalan yang sangat berbahaya ". Ucap Wulan.
"Tunggu sebentar lagi, dibalik bukit ini tempat tujuan kita ". Jawab Nala.
Setelah cukup istirahat, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan dengan mendaki bukit dan menuruninya lagi. Dibalik bukit itu, ada sebuah Desa dan sebuah Danau.
" Wow..., bagus banget Desanya di dekat Danau ". Ucap Dina yang terperanga melihat keindahan Danau dan Desanya.
" Itu namanya Danau Pane ". Saut Nala.
" Darimana kau tau namanya Nala? ". Tanya Jinno.
" Taulah..., kan ada di peta ". Jawab Nala.
__ADS_1
Jinno hanya mengrenyitkan dahinya.
Sampailah mereka di Desa tersebut, dan seseorang sedang menunggu di sana. Mereka sangat terkejut setelah melihat orang yang menunggu mereka ternyata adalah pelatih Bima.