
***
"Hallo ... ini siapa?" tanya Anna ketika ada nomor baru kembali masuk ke ponselnya.
"Kenalin, saya Adi teman suaminya Mira dari Panimbang. Saya dapet nomor Neng Anna dari Mira juga." Lelaki yang mengaku bernama Adi itu memperkenalkan diri.
Sedangkan Anna hanya menjawab dengan ber-oh ria. Mendengar dari suaranya gadis itu bisa mengira jika usianya tidak setua seperti lelaki yang bernama Romy kemarin. Yang membuatnya memilih mengambil jurus langkah seribu.
Setelah mengobrol cukup lumayan panjang. Lama kelamaan terselip rasa nyaman di hati Anna ketika bercengkrama dengan Adi yang ternyata memang masih berusia 28 taunan itu. Anna bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Lukman yang akhir-akhir ini sering membuatnya kecewa dengan sikap Lukman yang menurut Anna tidak peka dan terlalu cuek kepadanya.
Anna berpikir tak ada salahnya ia mencari kenyamanan sendiri daripada harus merasa terpuruk terus menerus karena mengharapkan satu cinta dari satu lelaki yang memang tidak pernah menghargainya sama sekali.
"Udah punya pacar belum?" tanya Adi to the point.
"Belum, dong." Anna menjawab dengan perasaan mantap surantap tanpa beban. Mengingat seperti apa yang pernah dilakukan oleh Lukman kepada dirinya tempo hari dengan bangga mengaku jomblo. Kalau sudah inget tentang hal itu mendadak Anna ingin menimang-nimang balik kayu lalu dilemparkan ke muka para lelaki mata buaya itu.
"Besok rencananya saya mau main ke rumah Mira. Neng Anna ada di rumah gak?"
"Ya, saya adanya di rumah saya bukan di rumah Mira." Anna menjawab gamblang.
"Ya, maksudnya biar sekalian. Saya mau ada perlu sama suaminya Mira sekaligus nanti bisa ketemu Neng Anna juga, gitu."
"Ya, gimana lihat nanti besok aja."
Usai telepon ditutup. Anna langsung ngibrit ke rumah Mira teman masa kecilnya itu. Rumahnya tepat di sebelah rumah Yuli persis berjejeran. Tujuannya tak lain dan tak bukan hanya untuk mengorek informasi sebanyak-banyaknya tentang si Adi tadi yang sudah menelpon dirinya. Info penting kali ini harus ia dapatkan secepat mungkin sebelum terlambat agar kejadian seperti kasus di Romy kemarin bisa dihindari sedini mungkin oleh gadis itu.
Anna tak ingin dicap sebagai pelakor apalagi jika sampai dilabrak istri orang. Iiih ... perempuan itu bergidik ngeri walaupun hanya baru sebatas membayngkannya.
"Ya, mana ketehe. Sama yang namanya Adi itu . Orang aku sendiri belum pernah kenal dan ketemu sama orangnya." Jawaban dari Mira malah membuat Anna seperti kehilangan jejak. Niat hati tadinya ingin bermain detektif-detektifan malah langsung terpatahkan karena narasumbernya tidak bisa diandalkan.
__ADS_1
Sedangkan suaminya Mira memang tidak ada di rumah karena bekerja di luar kota dan balik ke rumah hanya sebulan sekali dan kadang tak menentu karena tidak bisa dipastikan sehingga Mira pun sering mengeluh kekurangan duit sedangkan kebutuhan anak dan dirinya sendiri semakin bertambah.
Anna yang sering mendengar curhatan Mira tentang kehidupan rumah tangganya hanya mampu menjadi pendengar setia saja tanpa bisa ngasih solusi apapun karena diri sendirinya pun belum paham tentang ilmu perumahtanggaan yang dilihatnya begitu rumit bagai gak ada sama sekali manis-manis nya.
***
"Sekarang saya sudah di rumah Mira sedang ngopi bareng suaminya Mira," ucap Adi melalui sambungan telepon.
Benar saja hari ini ternyata Adi memang membuktikan omongannya kemarin yang akan menemui Anna.
Tidak ingin diketahui oleh kedua orang tua dan orang-orang sekitar agar tidak berkesan melayani setiap lelaki yang datang Anna pun meminta agar menemuinya di suatu tempat saja.
Setelah waktu Zuhur lewat Anna keluar rumah sengaja dengan berjalan kaki menyusuri jalanan yang terlihat agak sepi. Saat Adi menelponnya ia mengatakan jika sedang di jalan. Adi pun bersiap menyusul Anna dengan sepeda motornya.
Hati Anna mulai berdegup kencang ketika didengarnya suara ada suara motor yang semakin mendekat. Karena penasaran Anna membalikkan tubuhnya ingin memastikan pemilik suara motor tersebut.
Gadis itu melihat seorang pria bertubuh tegap memakai kaos putih dengan jaket yang tersampir di pundak sebelah kirinya.
'Bagaiman ini? Bagaimana ini ... tolong!' suara hati Anna semakin tak karuan.
'Tenang, Na. Tenang! Tarik napas ... Lalu embuskan perlahan,' Otak memberi instruksi sendiri kepada dirinya.
Kini motor itu berhenti tepat di pinggir Anna. Mau tidak mau Anna harus menolehkan muka nya ke arah pemilik motor dengan jarak hanya beberapa langkah.
Kini Anna bisa melihat sosok Adi dengan lebih jelas lagi yang ternyata lelaki itu memiliki tinggi badan menjulang serta warna kulit putih bersih. Sepertinya kulit Anna pun kalah putih dengan pria yang sedang mengamatinya dari jok motor itu dengan bibir menyunggingkan senyum yang entah.
Sekilas Anna menangkap bibirnya yang sedang menyunggingkan senyum itu terlihat berwarna merah alami mungkin karena pengaruh kulit muka yang putih sehingga bibirnya pun terlihat memerah. Dengan potongan rambut pendek yang disisir rapi sehingga terlihat klimis karena memakai minyak rambut.
Sepertinya laki-laki itu sangat memperhatikan penampilan agar selalu terlihat rapi dan wangi. Berbanding balik dengan Lukman yang sering tampil apa adanya dan cenderung cuek dengan penampilan. Terkadang Lukman cukup memakai sandal jepit ketika menemui Anna di rumahnya. Semua orang memang memiliki alasan sendiri-sendiri mengenai hal penampilan dan yang lainnya.
__ADS_1
"Mau kemana, Neng, siang bolong begini jalan sendirian?" tanya Adi berbasa-basi.
"Mau ke depan." Anna menjawab asal.
"Ayo naik!" ajak Adi kemudian.
"Naik kemana?" Anna balik nanya.
"Mau naik ke pelaminan sekarang? Yuk ... Sat set!" jawab Adi yang seketika membuat pipi Anna mendadak mirip buah tomat kematengan. Merah merona.
Anna melihat ke sekeliling seakan memastikan tidak ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
"Ayo cepet. panas, nih!" ajak Adi kedua kalinya.
Dengan ragu Anna naik dan duduk di bagian jok belakang dengan posisi menyamping.
"Serius duduknya kayak gitu? Gak takut jatoh?" tanya pria yang menguarkan bau wangi parfum saat Anna tadi pertama duduk persis di belakangnya.
"Enggak." Anna menjawab pendek.
"Serasa bawa nenek-nenek saya," ujar Adi seraya tertawa renyah.
"Ya, gak apa-apa saya dianggap nenek yang sedang dibonceng cucunya," timpal Anna tak mau kalah.
"Iya, Nek. Nanti kita beli sirih di pasar, ya." Adi masih terus menggoda perempuan yang sedang dibonceng di belakangnya.
Kendaraan roda dua itu mulai berjalan perlahan mungkin karena membawa penumpang yang duduknya menyamping khawatir terpental atau nggelundung.
Saat melintasi pos ronda di depan rumah salah satu tetangga. Anna mulai ketar-ketir karena di sana sedang berkumpul beberapa makemak yang biasa ngumpul ngerumpi.
__ADS_1
'Sepertinya setelah ini aku yang akan menjadi bahan gibah selanjutnya,' batin Anna.