
Tak menunggu lama Anna meminta diantar pulang. Wanita itu mendadak merasa tidak nyaman dan merasa risih setelah menyadari kini dirinya sedang bersama lelaki beristri.
Adi berusaha meminta kepada Anna agar tidak menjaga jarak walaupun Anna sudah mengetahui setatusnya sebagai pria beristri.
Sedangkan Anna tidak menjawab iya ataupun mengatakan tidak.
Sebelum mengantar pulang di luar dugaan Anna. Adi mengajukkan persyaratan yang berat kepadanya.
"Saya mau anterin kamu pulang tapi ada syaratnya," ucap Adi kemudian.
"Sarat apa?"
"Saya menginginkan kamu seutuhnya."
Deg! Jantung Anna seolah berhenti berdetak. Tak dinyana lelaki yang disangkanya baik itu memiliki pemikiran bejat seperti itu. Mungkin Adi menilai Anna sama seperti wanita lainnya yang bisa diajak pergi lalu dengan mudah diperdaya oleh lelaki berhati kotor.
Hati Anna menolak keras dengan apa yang disampaikan oleh pria yang kini bagi Anna sangat menakutkan dan mengerikan. Tadinya Anna berinisiatif untuk pulang sendiri tanpa harus minta diantar laki-laki itu. Tapi, ternyata dompet miliknya sepertinya tertinggal di rumah. Tergeletak begitu saja di meja kamarnya tanpa sempat ia masukkan ke dalam tas.
__ADS_1
Anna berusaha bersikap senormal mungkin di depan Adi. Jangan sampai penolakan darinya malah membuat pria itu tersinggung dan malah mengancam keselamatan jiwa Anna sendiri. Karena sudah begitu banyak di berita yang disiarkan media karena nekat pergi berdua dengan orang yang baru dikenal berakhir dengan penganiayaan bahkan hilangnya nyawa. Anna bergidik ngeri mengingat itu semua jika harus terjadi kepada dirinya sendiri.
'Ya Allah, yang maha pengampun, maha pelindung. Mohon selamatkan hamba dari marabahaya dan kejahatan orang lain.' Dalam hatinya Anna tak berhenti berdoa agar dirinya terlepas dari orang-orang yang akan berbuat baik atas dirinya.
Adi kembali menagih dengan apa yang tadi diutarakannya. Sementara Anna memutar otak bagaimana caranya agar Adi bisa percaya kepadanya sedangkan Anna sendiri bisa selamat dari keinginan pria itu yang menurutnya sangat fatal karena bisa menghancurkan masa depannya Anna sendiri.
Bukan hanya itu. Di lubuk hati Anna terbayang dosa besar yang akan ditanggungnya bila wanita itu terjerumus ke dalam jebakan setan dengan melakukan dosa besar yang hukumannya hanya bisa hilang jika sudah dicambuk seratus kali untuk perempuan yang sama sekali belum pernah menikah seperti dirinya dan harus dirajam, yaitu dikubur hingga batas leher dan dilempari batu hingga meninggal untuk pelaku yang sudah pernah menikah. Rasa takut kepada Allah itulah yang sudah kuat tertanam dalam dasar hati Anna hingga gadis itu berjanji kepada dirinya sendiri agar sebisa mungkin harus bisa menjaga dirinya dari perbuatan zina yang ia takutkan.
Seandainya semua perempuan yang masih gadis memiliki pemikiran sehat seperti Anna. Mungkin tidak akan pernah ada wanita yang terjebak dalam perbuatan dosa besar yang akan merugikan diri si pelakunya itu sendiri. Karena bisa saja di dunia orang itu bisa terlepas dari hukuman, atau azab di dunia ini. Tapi, di akhirat kelak dia tidak akan bisa lari dari siksa dan hukuman yang pedih.
Setelah Anna berbicara panjang lebar dan berusaha mencoba menaklukan hati lelaki itu. Adi pun kemudian bersedia mengantar Anna pulang. Sepanjang perjalan keduanya kebanyakan diam membisu. Anna sibuk dengan kecamuk perasaannya yang diliputi ketakutan dan perasaan was-was khawatir Adi melakukan hal-hal yang di luar nalar.
Anna baru menyadari jika tindakannya yang keluar rumah bersama laki-laki itu selain menimbulkan fitnah untuk dirinya sendiri juga bisa mendekatkan kepada hal-hal yang tidak baik dan dosa besar lainnya.
Di tengah perjalanan tiba-tiba ponsel Adi berdering nyaring. Adi kemudian menepikan motornya di bahu jalan. Merogoh saku celana Levis yang ia kenakan. Setelah telepon tersambung. Anna samar mendengar seperti suara perempuan sedang berbicara.
"Yah, Ayah masih di mana, sih? Udah lewat Maghrib lho, ini kenapa Ayah belum sampai rumah?"
__ADS_1
"Iya, Mah. Ini Ayah masih di jalan. Sebentar lagi Ayah pulang, kok, Mamah gak usah khawatir." Adi berusaha menenangkan istrinya di rumah yang ternyata sedang menunggu kepulangannya sedari sore tadi.
"Emang sebenarnya Ayah sekarang lagi di mana? Sama siapa?" cecar sang istri dengan nada menyelidik.
Sekilas Adi melirik ke arah Anna. Jari telunjuknya diletakkan di bibirnya sendiri seolah meminta agar Anna tidak menimbulkan suara yang dapat menimbulkan rasa curiga istrinya di rumah.
"Emh ... Anu ... anu sekarang ini Ayah masih di rumah temen. Ini lagi mau pamitan. Bentar lagi mau pulang ke rumah." Pria itu menjawab dengan terbata-bata berusaha menyembunyikan kebohongannya.
"Anakmu rewel terus ini dari siang tadi. Nanyain Ayahnya terus. Kamunya ditungguin sampe sore bahkan sampe lewat Maghrib malah gak pulang-pulang."
"Nanti bentar lagi Ayah pulang bawa martabak, ya," ucap Adi berusaha merayu dan melunakkan hati sang istri yang terdengar mulai uring-uringan.
Adi menutup sambungan telepon berharap istrinya di rumah tidak bicara lebih panjang lagi.
Melihat dan mendengar percakapan suami istri itu Anna merinding ngeri membayangkan jika dirinya yang berada di posisi istri Adi. Pasti akan merasa hancur lebur perasaannya. Suami yang sedang dinanti sepanjang hari kedatangannya ternyata sedang pergi bersama wanita lain. Dan lebih ironisnya lagi sang suami tanpa merasa berdosa meminta hal yang seharusnya ia dapatkan dari istri yang sudah betul-betul sah malah mencari kesenangan kepada perempuan yang jelas tidak ada ikatan apa-apa. Beruntung wanitanya bisa menolak dengan tegas dan berusaha menyadarkan kekeliruan lelaki yang sedang khilaf itu sehingga tidak sampai terjadi kejadian yang buruk untuk keduanya.
Sepanjang perjalan Anna terus berusaha menceramahi Adi agar pria itu bisa menyadari jika yang dilakukannya itu telah melenceng jauh. Anna pun tidak akan mau diajak ke luar rumah jika ia sudah mengetahui status Adi yang sudah mempunyai keluarga kecil di kampungnya.
__ADS_1
Anna minta diturunkan di tengah jalan beberapa ratus meter sebelum datang di rumahnya.
Anna menyeru syukur selama dalam perjalanan ia selamat dan tidak mengalami hal-hal buruk yang menimpa dirinya. Walaupun muka Adi terlihat cemberut dan terlihat seperti tidak suka atas penolakan Anna. Tapi, tak masalah bagi Anna yang penting dirinya bisa selamat dari jeratan yang membuat dirinya terjerumus ke dalam perbuatan yang dimurkai oleh-NYA.