Pencarian Cinta

Pencarian Cinta
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Walaupun acara lamaran diadakan dengan cukup sederhana. Tapi tetap saja tak luput dari kesan mewah. Itu karena Zaskia merupakan anak satu-satunya dari keluarga bapak haji Mahpudin sebagai orang terpandang di desanya.


Makanan yang terhidang di meja semua terlihat enak dan melimpah mungkin dipesan dari tempat catring termahal yang berada di daerahnya. Pakaian yang dikenakan oleh kedua orang tua dan keluarga besar Zaskia begitu indah berkelas. Begitu sangat memukau mata bagi siapa saja yang memandangnya.


Seorang bapak-bapak sebagai perwakilan dari keluarga Farid mulai berdiri dan mulai membuka pembicaraan untuk menyampaikan maksud dan tujuan dari kedatangan mereka yang disambut hangat oleh semua keluarga besar dari Zaskia.


Namun, keakraban dan kehangatan yang terjalin diantara dua keluarga besar itu ternyata hanya bertahan hitungan menit saja, karena tiba-tiba Pak Mahpudin menolak mentah-mentah pinangan dari keluarga Farid dengan alasan keluarga Farid tidak mampu memberikan sejumlah uang untuk biaya pernikahan nanti yang sesuai dengan Pak Mahpudin harapkan.


Laki-laki yang berusia lebih dari setengah abad itu menginginkan pernikahan Zaskia bisa terlaksana dengan pesta resepsi yang mewah dan meriah. Karena dirinya sebagai sesepuh dan bisa dibilang orang penting di desa bahkan sekecamatan.


Bagi Pak Mahpudin sebagai keluarga orang terpandang dirinya merasa terhina ketika anak gadisnya dilamar hanya dengan jumlah uang yang sedikit dan barang bawaan ala kadarnya. Yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya selama ini.


"Maaf, jika Nak Farid dan keluarga tidak mampu memberikan mahar dan biaya pernikahan yang sesuai dengan yang saya pinta. Lebih baik lamaran ini dibatalkan saja sebelum hari pernikahan benar-benar terjadi nanti." Ungkapan Pak Mahpudin barusan bagi Farid bak godam palu yang menimpa dadany. Sesak yang ia rasakan seketika.


Impiannya untuk bisa hidup bersama sang gadis pujaan sirna sudah. Bagai terhalang oleh tebing tinggi yang tak mampu ia jangkau.

__ADS_1


Semua pasang mata yang hadir hanya saling berpandangan tanpa suara. Semua bungkam seolah tak mampu menyangkal dengan apa yang sudah diucapkan oleh sang tuan rumah.


Farid menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seakan tak mampu mengangkatnya kembali. Dirinya seperti sudah kehilangan kepercayaan diri di hadapan banyak oran. Harga dirinya runtuh seketika karena merasa dipermalukan oleh sang calon bapak mertua yang dikiranya berjiwa bijaksana itu.


Namun, ternyata kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi. Takdir kehidupan seolah sedang mempermainkan Farid. Sehingga pria yang terlihat tangguh itu seketika menjadi rapuh.


"Sabar, Nak. Masih banyak gadis di luaran sana yang bisa menerimamu apa adanya. Kamu anak ibu yang tampan, gagah, baik dan soleh." Sang ibu mengelus lembut pundak Farid seolah ingin menyalurkan energi positif kepada anak lelakinya itu.


Keluarga besar Farid memutuskan untuk langsung berpamitan setelah mendapat penolakan mentah-mentah dari bapaknya Zaskia.


Sedangkan Zaskia sendiri langsung berlari menghamburkan diri ke arah kamarnya. Gadis itu mengunci dan mengurung diri tak mampu menyembunyikan perasaan hatinya yang sama-sama hancur lebur seperti yang dialami oleh Farid. Tapi, bagi Zaskia dan ibunya tak ada kekuatan dan tak ada nyali untuk membantah setiap ucapan dan keputusan yang keluar dari mulut sang ayah yang seolah mempunyai kuasa sepenuhnya di dalam keluarga besar mereka.


Zaskia mulai terisak sambil memeluk kedua lututnya. Hijab lebarnya mulai basah terkena tetes bening yang tak henti berderai mengaliri pipi mulus gadis bernasib malang itu. Seakan ada benda tak kasat mata yang mengiris bagian rongga dadanya hingga desir perih itu begitu terasa di hati Zaskia membayangkan takdir buruk yang sedang mempermainkannya saat ini.


Sementara Mia di luar masih terus mencoba berusaha mengetuk pintu kamar Zaskia berharap sahabatnya itu bersedia membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Walaupun jauh di lubuk hati Mia merasa ada setitik bahagia melihat dan mendengar penolakan dari ayahnya Zaskia tadi, Tapi, tetap saja hati nurani Mia sebagai sahabat baik ia tak rela melihat Zaskia merasa terpuruk sendiri dengan kejadian yang sedang menimpanya saat ini.


"Zas ... buka dulu pintunya, Zas. Ini aku Mia. Tolong buka pintunya, Zas!" ucap Mia dengan suara pelan berharap Zaskia mengizinkan untuk masuk ke kamarnya.


Mia sangat merasa khawatir jika tak didampingi olehnya sahabatnya itu akan berani melakukan hal-hal nekat yang di luar kendali dan di luar dugaan.


Karena suatu waktu dulu Mia pernah mendapati Zaskia hendak mengakhiri hidupnya sendiri dengan meminum cairan pembersih lantai kamar mandi kampus jika saja dirinya telat menghampiri Zaskia yang sedang depresi karena hubungan asmaranya dengan salah satu teman kuliahnya berakhir tragis karena si pria lebih memilih perempuan pilihan orang tuanya dibandingkan Zaskia.


Dan kini Zaskia harus menerima kenyataan pahit kali keduanya setelah ia mengenal Farid yang dikiranya akan mampu mengobati luka hati dan bisa mengubur semua duka masa lalunya itu ternyata terpatahkan oleh ayahnya sendiri hanya demi ambisi kemewahan dunia dan kepopularitasan di mata manusia hingga rela mengorbankan hati dan perasaan sang anak yang luluh lantak.


Seandainya sang ayah tahu jika jiwa anak gadisnya itu begitu rapuh dan gampang terguncang oleh keadaan. Pasti Pak Mahpudin tak kan berani mengambil sikap dan keputusan gegabah yang malah mengancam mental Zaskia.


Namun, karena sang ayah tidak pernah tahu bahkan seolah tak mengenal pribadi anaknya karena sibuk dengan urusan kerja dan kerja setiap harinya hingga lelaki paruh baya itu tahunya Zaskia merupakan anak gadisnya yang tumbuh cantik, bahagia, berkecukupan tak pernah kurang suatu apa pun.


***

__ADS_1


Farid masih membisu selama berada dalam perjalanan pulang menuju ke rumahnya. Sang ibu yang sudah berusia sepuh itu masih setia duduk di sebelah dengan tak henti berusaha memberikan nasihat demi menguatkan hati sang buah hati.


Bagaimanpun Farid yang kini sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa dan sudah terbiasa mandiri dari kecil, tetap saja di mata ibu Halimah Farid itu sebagai anak kecil yang masih butuh sandaran dan arahan dari orang yang paling mengasihinya yaitu ibu kandungnya sendiri. Yang sudah mengandung, melahirkan, dan merawat dengan sepenuh jiwa hingga sang anak tumbuh dewasa dan mulai mencari kehidupan sendiri dengan berniat mencari pendamping untuk dijadikannya istri.


__ADS_2