
Lukman saat ini sedang berada di rumahnya. pria itu mengajak Anna untuk pergi ke suatu tempat untuk sekadar pelesir ke tempat wisata terdekat.
Kini Anna sudah duduk di belakang Lukman yang sedang mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
Hati Anna agak sedikit terhibur karena dirinya bisa menikmati pemandangan di luar bersama pria yang dicintainya.
Beberapa pantai tempat wisata yang berada di daerah sana sudah dilalui mereka tapi, Anna belum juga menemukan tempat yang terasa cocok di hatinya. Lukman pun meneruskan laju sepeda motornya hingga tak terasa kini mereka sudah memasuki wilayah pantai Anyer.
Lukman mulai memasuki area tempat wisata setelah sebelumnya membayar tiket masuk untuk mereka berdua. Tempat wisata itu terlihat lumayan ramai oleh para pengunjung. Tempat parkirnya pun terlihat padat oleh berbagai macam kendaraan dari roda empat maupun dari kendaraan roda dua yang sudah terparkir di sana.
Karena memang belum melaksanakan salat Zuhur. Anna pun kemudian langsung berjalan menuju musala yang memang disediakan di area tempat wisata tersebut.
Sebelumnya Anna menuju kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka sekaligus mengambil wudhu di sana.
Usai melaksanakan kewajiban Anna mencari keberadaan Lukman yang ternyata sudah sedari tadi menunggunya. Hampir menjelang sore mereka baru memutuskan untuk pulang agar tidak sampai kemalaman di jalan mengingat jarak tempuh yang sudah mereka lalui sudah cukup lumayan jauh.
Benar saja. Sudah hampir memasuki waktu Isya mereka masih berada di tengah perjalanan. Karena untuk pulang langsung ke rumah Anna cukup lumayan jauh. Anna pun kemudian meminta Lukman agar mengantarnya ke rumah temannya Anna yang berada di daerah terdekat di sekitar situ.
Lukman pun hanya mengiakan saja dengan permintaan Anna. Teman Anna yang sudah menikah dan memiliki satu anak itu menyambut Anna dengan perasaan kaget karena Anna tiba-tiba datang tanpa mengabarinya terlebih dulu di waktu malam hari pula.
"Dari mana kamu, Na? Jam segini mampir ke rumah?" tanya Asih yang merupakan teman sekampung dengan Anna yang kebetulan mengontrak di daerah sekitaran kecamatan yang sudah terbilang kota.
"Habis main kebetulan kemalaman di jalan. Jadi aku gak berani pulang ke rumah." Anna menjelaskan.
__ADS_1
"Yaudah, nginep di sini aja." Asih menawarkan.
"Iya, rencananya memang begitu," jawab Anna.
"Nitip Anna, ya, Teh. Saya mau pulang ke rumah dulu. Nanti pagi saya baru bisa jemput," ungkap Lukman kepada Asih, sang pemilik rumah.
"Iya, gak dijemput juga gak apa-apa biar Anna tinggal di sini saja," ucap Asih kemudian.
Lukman pun kemudian berpamitan dan langsung putar balik untuk pulang ke rumahnya. Kebetulan rumahnya sudah tidak terlalu jauh dari rumah Asih. Lukman sengaja memang tidak mengajak Anna ke rumahnya demi menjaga nama baik dan omongan miring dari tetangga jika dirinya sampai membawa wanita pulang ke rumahnya. Karena tentu saja akan memicu fitnah dari orang-orang sekitar.
Dan Anna pun tentu saja tidak akan pernah mau jika diajak pulang ke rumah Lukman. Karena Anna belum ada keberanian untuk bertemu dengan kedua orang tua dari lelaki yang sudah lama dikenalnya itu. Rasa malu dan minder masih terus menghantui Anna jika diajak untuk bertemu dengan keluarga besar dari Lukman. Kecuali dengan Mia. Adiknya Lukman. Itu pun Anna kalau bertemu dengan Mia jika tidak di rumah Anna sendiri paling di tempat yang lain. Bukan di rumah Mia sendiri.
Keesokan harinya. Baru jam tujuh pagi Lukman sudah datang di rumah Asih untuk menjemput Anna. Karena masih terlalu pagi Anna pun minta diantar ke rumah saudaranya yang memang ada di daerah situ.
Anna tidak menjawab apa pun selain tersenyum malu.
Lukman kemudian diajak berbincang empat mata oleh uwaknya Anna. Tepatnya diintrogasi mengenai kedekatan antara Lukman dan Anna.
Sedangkan Anna sendiri memilih bermain di teras depan bersama beberapa keponakannya lalu mengajaknya ke warung untuk sekadar membeli jajanan.
Lukman yang tidak merasa siap dintrogasi seperti itu merasa gugup dan sedikit nervous ketika harus menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh uwaknya Anna itu.
"Kapan mau menikahi Anna?" Satu pertanyaan yang sangat berat untuk Lukman akhirnya harus diterimanya. Walaupun lelaki tidak bisa memberikan jawaban yang pasti tiap kali mendapat pertanyaan serupa.
__ADS_1
"Jika memang tidak pernah untuk menikahi keponakan saya. Lebih baik dijauhi saja mulai dari sekarang," tutur uwaknya Anna yang tentu saja membuat Lukman merasa terpojok dan tak mampu menjawab sepatah kata pun.
Setelah dari warung membeli beberapa jajanan dan beberapa bungkus kopi Anna menuju dapur untuk membuat kopi mix kemudian menyuguhkannya kepada uwak dan Lukman yang terlihat masih serius membicarakan sesuatu yang Anna sendiri pun tidak mengetahuinya.
"Silahkan diminum dulu kopinya," ucap Anna berbasa-basi sembari meletakkan kedua cangkir berisi kopi ke hadapan dua orang dewasa yang sedang terlibat pembicaraan serius itu.
Setelah itu Anna kembali ke dapur untuk membantu memasak dan menyiapkan makan siang dengan saudara sepupunya yang sedari tadi memang sudah sibuk di dalam dapur.
Saudara sepupu Anna yang sudah berstatus janda beranak dua itu meminta Anna agar membantunya mengulek bumbu dan menyiangi sayuran yang sudah disiapkan sebelumnya.
Tidak sampai dua jam kini semua hidangan makan siang sudah siap di meja makan. Kemudian sepupunya Anna mengajak untuk segera makan siang bersama.
Walaupun merasa sangat canggung Lukman pun dengan terpaksa mengikuti tuan rumah yang mengajaknya untuk beranjak menuju meja makan. Berempat mereka mulai menikmati hidangan sederhana itu. Diselingi dengan obrolan ringan di sela-sela suapan makan siang yang diadakan secara mendadak.
"Nanti kalau mampir ke sini lagi. Harus sudah sambil membawa surat undangan kamu ya, Na," ucap sang uwak sengaja memancing Anna dan Lukman.
"Iya, Wa, doanya saja biar semuanya dimudahkan dan dilancarkan," jawab Anna penuh harap.
Sedangkan Lukman masih belum berani membuka suara karena pria itu merasa seperti sedang diadili di hadapan keluarga Anna saat ini yang mampu membuatnya seketika seperti mati kutu dibuatnya.
Lukman memang tidak pernah berani menjanjikan waktunya kapan mengenai niat serius untuk menikahi Anna yang sebenarnya sudah mulai merasa bosan jika terus menerus dituntut untuk sabar menunggu.
Hingga Anna pernah kepikiran dirinya akan menerima lamaran dari laki-laki lain jika saja ada yang bersedia datang meminangnya dalam waktu dekat dan dirinya merasa cocok dan sehati dengan pria yang akan melamarnya itu. Tapi, hingga kini belum juga ada yang datang.
__ADS_1