
Farid menepati janjinya untuk ketemuan di sebuah kafe kecil yang tak jauh dari kampus dengan Mia. Pria bertubuh tegap itu memilih tempat duduk di sebelah pojok sebelah kiri. Baru saja Farid duduk di kursi. Tak lama ia melihat sosok Mia dari jarak beberapa meter yang sedang berjalan masuk ke dalam ruangan kafe.
Untuk memberitahukan keberadaannya Farid lalu melambaikan telapak tangannya ke arah Mia sebagai isyarat jika ia sedang menunggunya.
Pandangan Mia menyapu seisi ruangan yang sudah lumayan dipadati oleh pengunjung kafe yang cukup lumayan elit itu. Setelah Mia melihat keberadaan Farid ia pun melangkahkan kakinya menuju meja di mana Farid di sana sedang menunggunya.
"Udah lama nunggu, ya?" tanya Mia berbasa-basi.
"Enggak. Baru datang juga, kok." Farid menjawab sambil menarik kursi di hadapannya lalu kemudian menyilakan Mia untuk duduk.
"Terima kasih," ucap Mia kemudian.
Mereka berdua kemudian memesan dua minuman dan beberapa cemilan untuk sekadar teman ngobrol. Pembicaraan antara Farid dan Mia tak jauh dari masalah Zaskia yang kini sudah dijodohkan dengan pria lain oleh sang ayah.
Hampir satu jam Farid dan Mia bercengkrama dari mulai mengobrolkan topik tentang Zaskia hingga kepada obrolan tentang diri mereka masing-masing.
Semenjak pertemuan pertama yang tanpa sepengetahuan dari Zaskia itu hubungan antara Mia dan Farid semakin intens. Hampir tiap hari mereka berkomunikasi walaupun hanya melalui telepon baik via SMS ataupun telepon langsung.
Terkadang juga mereka sesekali bertemu untuk bisa ngobrol secara langsung di antara aktivitas mereka di kampus. Sehingga bibit-bibit cinta di hati Mia semakin bermekaran. Begitu pun dengan Farid lama kelamaan seiring berjalannya waktu mulai rasa tumbuh perasaan nyaman kepada wanita bertubuh sedikit berisi itu. Mungkin pepatah Jawa yang berbunyi 'Weteng tresno jalaran soko kulino' itu benar adanya. Yang artinya Perasaan cinta akan tumbuh jika sering bersama.
"Mi, saya ingin hubungan di antara kita mulai dari sekarang gak hanya sekadar teman biasa," ungkap Farid di sela pembicaraan mereka melalui panggilan telepon.
"Maksudnya?" tanya Mia kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Padahal aslinya ia ingin sekali salto, kayang di lantai kamarnya saat itu juga karena saking senangnya. Akhirnya perasaan sukanya kepada cowok ganteng itu tidak hanya bertepuk sebelah tangan.
"Saya ingin kamu jadi calon istri saya," ucap Farid menegaskan.
__ADS_1
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Farid barusan hampir saja Mia mendadak pingsan saking bahagianya. Hingga membuat Mia terdiam membisu hampir beberapa menit.
"Kenapa diam? Gak suka ya, sama saya?" tanya Farid kemudian yang menangkap sinyal seolah Mia tidak merespon dengan semua yang sudah diutarakan oleh dirinya barusan tadi.
"Enggak, enggak ... Bukan begitu, kok, maksudnya. Jujurly ya, Mas, saya sangat senang dan gembira karena Mas sudah berani dengan gentle mengungkapkan perasaan Mas ke saya. Dan jawabannya dari saya. Saya bersedia menjadi yang Mas Farid pinta tadi."
Entah dapat kekuatan dari mana tiba-tiba Mia bisa berbicara banyak dan selancar itu. Sungguh luar biasa memang kekuatan cinta dalam sekejap mampu merubah seorang Mia yang tadinya kadang suka gagap saat di situasi tertentu tapi menjadi pandai berorasi seperti itu.
"Emang Mas gak mau kalau punya pacar gak good looking seperti saya?" tanya Mia malu-malu.
"Siapa juga yang menginginkan kamu jadi pacar saya?" pancing Farid.
"Lho, bukannya barusan tadi Mas Farid sendiri yang bilang. Belum lima menit, lho, Mas." Hampir saja Mia patah arang, eh, patah hati mendengar ucapan Farid barusan.
"Ya, saya, kan, gak bilang dan gak minta kamu jadi pacar saya. Yang saya mau kamu jadi calon istri." Farid menandaskan.
Karena bagaimana pun juga ia harus menjaga image dong, biar tidak kentara kegeeran di hadapan laki-laki pujaannya itu.
"Iya, Mas, saya mau jadi calon istrinya Mas Farid." Hanya kalimat seperti itu akhirnya yang keluar dari mulut Mia.
"Terima kasih banyak, ya, Mia, selama ini kamu sudah andil membuat saya bangun dari keterpurukkan beberapa Minggu yang lalu," pungkas lelaki tampan itu.
"Iya, Mas, sama-sama."
Memang benar adanya semenjak pertemuan pertama antara Farid dan Mia di tempat kafe itu Mia terus berusaha memberikan semangat dan dukungan kepada Farid agar dirinya cepat bisa melupakan Zaskia tentu saja dengan harapan agar dirinya bisa menjadi pengganti Zaskia dalam ruang hati Farid.
__ADS_1
Yang ternyata segala bentuk usaha Mia selama ini ia lakukan membuahkan hasil. Bahkan hasil yang di luar dugaan dirinya sendiri karena Farid tanpa ia minta sudah dengan sendirinya berani mengungkapkan isi hatinya kepada Mia.
'Rezeki anak solehah,' ucapnya dalam hati.
Kabar bahagia itu langsung Mia sampaikan kepada Anna yang sudah dianggapnya sebagai calon teteh ipar sekaligus sahabatnya itu.
Karena akhir-akhir ini hubungan Mia dengan Zaskia semakin hari semakin merenggang karena dalam waktu dekat Zaskia sudah akan segera melangsungkan pernikahan yang akan di gelar di tempat gedung termewah yang disewa oleh calon suami pilihan sang ayah.
Sehingga membuat Mia menjadi mencari sahabat yang asyik diajak curhat dan ngobrol dengannya dan kebetulan ia sudah mengenal Anna semenjak Lukman mengajak Mia main ke rumah Anna beberapa waktu yang lalu.
Anna yang mendengar kabar bahagia dari Mia ikut serta merasa senang karena Mia kini sudah tidak berstatus jomblo lagi.
***
Anna sedang tiduran di dalam kamarnya ketika ada telepon masuk di ponselnya. Yang ternyata dari Teh Lina teteh sepupunya yang tinggal di kota Tangerang.
"Na, besok kamu bisa main ke sini gak? Sekalian nanti jagain Dana dan antar jemput sekolah Dana. Kebetulan kemarin pengasuhnya Dana sedang pulang kampung," pinta Teh Lina melalui sambungan telepon.
"Iya, Teh. Insyaallah nanti besok Anna ke sana," jawab Anna menyanggupi.
Pagi harinya Anna bangun tidur lebih awal dan langsung bersiap-siap untuk berangkat ke rumah teteh sepupunya. Ia membawa beberapa pakaian untuk ganti serta barang yang diperlukan lainnya.
Dari rumah Anna diantar oleh tetangganya yang berprofesi sebagai tukang ojek menuju jalan raya besar di mana Anna harus menunggu bus yang akan membawanya ke kota.
Anna sangat menikmati selama perjalanannya di dalam bus. Karena dirinya tidak pernah mengalami mabuk kendaraan. Bagi Anna sendiri naik bus dengan perjalanan jarak jauh malah jadi hiburan dan kesenangan tersendiri.
__ADS_1
Hampir menjelang Maghrib Anna baru tiba di rumah Teh Lina.