
Setelah pertemuan pertama Anna dengan Mia sebagai calon adek iparnya itu hubungan keduanya pun semakin dekat dan akrab. Apalagi Mia dan Anna usianya memang sepantaran. Sehingga keduanya layaknya sahabat.
"Teh, kalau punya temen cowok yang masih jomblo kenalin aku, ya," ucap Mia kepada Anna.
"Emang Mia belum punya pacar?"
"Belum, Teh. Makanya aku minta cariin ke teteh." Mia menjawab tanpa rasa ragu dan rasa malu.
Kebetulan Anna memiliki nomor Fikry yang akhir-akhir ini sering kali menelponnya. Anna pun kemudian meminta izin kepada Mia untuk mengasihkan nomornya Mia itu kepada Fikry.
"Iya, Teh, boleh. Gak apa-apa." Mia menjawab dengan sangat antusias.
Tak berapa lama kemudian Anna mengirim nomor ponsel Mia ke hape Fikry.
["Itu nomor temenku pengen kenalan sama kamu."] Anna sekaligus mengirim SMS agar Fikry paham dengan maksud Anna yang tiba-tiba kirim nomor seseorang tanpa diminta terlebih dahulu.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Anna. Kemudian Fikry pun langsung sat set menelpon Mia. Kebetulan malam itu Fikry sedang main di rumah salah satu teman kampusnya yang sekampung dengan Mia.
"Saya sekarang mau main ke rumah Mia, boleh gak?" tanyanya kemudian.
Mia yang tak menyangka Fikry akan main ke rumahnya secara mendadak itu jadi galau karena sebenarnya ia belum siap untuk ketemuan saat itu juga lagi pula baru beberapa menit yang lalu mereka kenalnya juga melalui sambungan telepon.
["Teh, gimana ini si Fikry mau main ke rumahku sekarang?"]
Mia mengirim pesan kepada Anna untuk meminta pertimbangan terlebih dulu.
["Terserah Mia aja. Kalau udah siap ya, gak papa Fikri main ke rumah."] Anna mencoba memberikan saran.
Karena memang Mia merasa penasaran dengan sosok Fikry seperti apa gadis itu pun kemudian mengiakan dan mengizinkan Fikry untuk datang ke rumahnya malam itu juga.
Mia kemudian bersiap-siap untuk menyambut tamunya. Yang tadinya sudah mengenakkan baju tidur Mia pun ganti dengan baju tunik yang lebih sopan.
__ADS_1
Tak lupa perempuan berusia 23 itu pun memoles wajah dengan sedikit bedak padat secara tipis dan menggunakan lipstik berwarna merah bata untuk menyamarkan warna bibirnya agar tak terlihat pucat.
Tak sampai dua puluh menit kemudian Mia mendengar ada suara kendaraan roda dua yang terparkir di depan rumahnya.
"Tumben, Teh Mia ada yang ngapelin," ceplos keponakan Mia yang baru berusia 10 tahun saat melihat ada pemuda berpakaian rapi menghentikan motornya di depan rumah Mia.
"Bawel, kamu. Sono masuk kamar!" titah Mia kepada bocah kelas 4 SD itu sembari mengacak rambutnya dengan gemas.
Fikry turun dari motor kemudian berjalan pelan menuju pintu dan mengucap salam. Yang disambut oleh ibunya Mia yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Maaf, mau cari siapa, ya?" tanya ibunya Mia.
"Cari anak Ibu. Eh, maksud saya ini benar rumahnya Mia?" Rifky balik bertanya.
"Iya, ini rumah Mia. Ini siapa?"
"Saya Fikry, Bu, teman barunya Mia."
"Mia ... Mia .. Tuh, ada tamu katanya teman baru kamu." Sang ibu berbisik di telinga Mia memberi tahu jika tamunya Mia sudah datang.
"Iya, Bu."
Kemudian Mia beranjak dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Fikry.
Setelah bersalaman kemudian Mia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan lelaki yang menurut Mia lumayan cukup tampan dan berpenampilan rapi dan wangi.
'Busyet, ini yang namanya Mia? Kenapa orangnya seperti ini, sih. Udah mah gendut, pendek, idup lagi.' dalam hatinya Fikry membatin dan mengejek fisik Mia.
Mia tidak menyadari jika pria yang sedang duduk di hadapannya itu bukanlah lelaki baik yang tulus bisa menerima kekurangan fisik lawan jenisnya.
Fikry ternyata hanya laki-laki play boy yang selalu merasa tidak cukup untuk mengenal hanya satu perempuan saja. Sudah banyak sekali beberapa wanita yang menurutnya cantik dan sexy yang didekatinya lalu dirusaknya kemudian ditinggalkan dan dicampakkan begitu saja.
__ADS_1
Mia kemudian bangkit dari duduknya meminta izin untuk membuatkan minum tamunya itu. Fikry hanya mengangguk jengah tanpa senyuman di bibirnya.
Walaupun Mia menangkap sinyal jika lelaki itu seperti tidak senang saat bertemu dengannya tapi Mia berusaha untuk tetap bisa ramah dan menghormati Fikry sebagai tamu yang datang ke rumahnya.
Setelah memastikan Mia pergi ke belakang. Laki-laki itu pun kemudian merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel lalu mengaktifkannya.
Fikry menelpon temennya yang sekampung dengan Mia sambil berbisik pelan dia berucap, " Hei, bro ... kenapa Lo gak bilang kalau penampakkan si Mia ini udah kek mirip makemak umur 40 tahunan, sih."
Temanya menjawab dengan tertawa terbahak-bahak mendengar Fikry menggerutu seperti itu.
"Makanya Lo Fik. jangan mau cari cewek cakep melulu. Sekali-kali Lo kenalan sama buntelan karung itu." Temannya menjawab dengan balas mengejek dan mengolok penampilan Mia.
"Sialan, Lo!" rutuk Fikry kemudian.
Sepertinya Fikry dan temannya itu sama-sama jahatnya. Yang sudah biasa mengolok-olok dan menghina fisik orang lain untuk bahan ejekkan dan tertawaan mereka.
Fikry kemudian memutuskan sambungan teleponnya setelah melihat sosok Mia menyembul dari arah pintu ruang tamu sembari membawa nampan berisi satu gelas kopi yang kemudian dihidangkan di hadapannya.
"Terima kasih," ucap Fikry kemudian sekadar berbasa-basi.
"Sama-sama." Mia menjawab sambil tersenyum senang.
Tidak sampai lima belas menit Fikry duduk bersama Mia lalu laki-laki itu pun berpamitan untuk cepat balik ke rumahnya dengan alasan seperti akan turun hujan. Pria itu sama sekali tak menyentuh minuman yang tadi berusaha disuguhkan oleh sang tuan rumah yang sudah berusaha menyajikannya.
Mia hanya menatap kecewa karena kopi yang ia buat seperti tidak dihargai oleh tamunya.
Setelah beberapa menit Fikry meninggalkan rumah Mia saat Mia mencoba menghubungi nomor telepon Fikry ternyata dirinya sudah tidak bisa menelponnya lagi.
Mia baru menyadari jika nomor teleponnya sudah diblokir oleh laki-laki yang barusan mampir ke rumahnya itu. Mia hanya bisa menghela napas panjang menikmati kekecewaan yang kerap kali gadis itu rasakan tiap kali ia sesudah ketemuan dengan teman lawan jenisnya itu. Kadang Mia berpikir, kenapa hampir kebanyakan kaum Adam itu sepertinya hanya memandang fisiknya saja? Kenapa tidak pernah menilai dari kebaikan dan ketulusan hati seorang perempuan?
Mia bukan hanya sekali itu saja mengalami rasa kecewa dan sakit hati karena setiap lelaki yang sudah bertemu langsung dengannya pasti akan pergi menjauh dan langsung memutuskan kontak komunikasi di antara mereka seolah tidak ingin mengenalnya lagi.
__ADS_1