
Hanya sekitar 5 hari Anna bermain ke Tangerang. Kini ia sudah kembali berada di kampungnya sendiri. Tadi malam Anna ditelepon oleh Mia memberitahukan jika Mia katanya akan main ke rumah Anna diantar oleh Farid sekaligus untuk memperkenalkan Farid kepada Anna.
"Tenang, Teh, nanti aku ke rumah tetehnya sambil bawa ikan mas 2 kilo sama bahan-bahan yang lain buat bikin sambelnya. Teteh tinggal sedia beras saja buat kita babacakan di rumah Teteh," ucap Mia berharap Anna tidak menolak permintaannya untuk main ke rumah Anna.
Sedangkan Anna hanya terdiam tidak menjawab iya ataupun berkata jangan melarang niat Mia yang akan datang ke rumahnya. Karena Anna merasa tak enak hati juga jika menolak kedatangan Mia.
Tidak sampai satu jam Anna melihat ada sepeda motor yang terparkir di halaman rumahnya. Tak lama kemudian terdengar suara salam..
Anna yang sedang melipat pakaian langsung menyambar kerudung instannya yang tergantung di kastok dinding ruangan.
"Waalaikumsalam," jawab Anna kemudian. Tangan kanannya memegang besi gagang pintu lalu memutarnya perlahan setelah itu pintu terbuka dengan lebar.
Anna melihat Mia sudah berdiri di balik pintu yang langsung menyambut Anna dengan bersalaman lalu kemudian cipika-cipiki khas sahabat lama yang baru bertemu.
Sementara Farid masih memarkirkan kendaraan roda duanya di bawah pohon mangga yang tumbuh rimbun persis di halaman depan rumah orang tua Anna tersebut. Mungkin agar tidak terkena sinar matahari secara langsung yang mulai terasa terik karena memang hari sudah beranjak siang.
Melihat sosok Farid yang masih membelakanginya hati Anna sendiri mendadak terasa berdebar halus. Apalagi saat pria berperawakan tinggi menjulang itu membalikan tubuhnya dan Anna mulai bisa melihat raut muka Farid secara keseluruhan yang terlihat rupawan dengan sorot mata yang meneduhkan.
__ADS_1
'Duh ... Ada apa dengan hatimu, wahai Anna?' Gadis itu membatin sendiri.
Ketika Farid hendak menuju pintu masuk dan berpapsan dengan Anna yang masih berdiri mematung. Anna pun kemudian mengulurkan telapak tangan kanannya untuk bermaksud mengajak bersalaman. Tapi spontan Farid menangkupkan kedua belah tangan di depan dadanya sendiri sambil menganggukkan kepala sembari tersenyum ramah ke arah Anna.
Melihat itu mendadak Anna jadi merasa malu sendiri dibuatnya. Kemudian perlahan gadis itu menarik tangannya sendiri sambil tersenyum meringis berusaha menyamarkan raut mukanya yang tadi sempat memerah.
Anna kemudian mengajak Mia dan Farid untuk masuk ke dalam rumah lalu menyilakan kedua tamunya itu duduk.
"Aku tinggal ke belakang dulu, ya, Mi, buat bikin minum. Itu si masnya mau kopi apa teh?" tanya Anna berbasa-basi.
"Teh saja," ujar Farid mewakili jawaban dari Mia.
Setelah ngobrol beberapa saat kemudian Mia berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke luar rumah mengambil keresek hitam berukuran sedang yang berisi ikan mas yang dibelinya tadi di jalan sewaktu sebelum ke rumah Anna. Sedangkan di dalam keresek putih terlihat ada bawang merah, bawang putih, cabe rawit, tomat, terjadi dan bahan pelengkap lainnya untuk membikin sambal.
"Hayu, Teh, kita langsung eksekusi sekarang!" ajak Mia sembari menyerahkan keresek hitam berisi ikan mas ke arah Anna. Anna menerimanya lalu mengajak Mia menuju belakang. Meninggalkan Farid yang sedang duduk seorang diri di ruang tamu sambil asyik memainkan ponsel yang berada dalam genggamannya.
Anna mulai mengambil beras dari karung sekitar 5 gelas lalu mencucinya hingga bersih untuk segera diliwet. Sedangkan Mia membersihkan ikan dan semua bahan-bahan yang untuk membuat sambal.
__ADS_1
"Mi, suruh Mas Farid, tuh, untuk bikin tusukkan dan memanggangnya sekalian!" titah Anna kepada Mia. Karena jika dirinya yang langsung menyuruh merasa tidak enak hati masa belum kenal sudah berani nyuruh-nyuruh.
Mia pun mengiakan perintah Mia dengan langsung menghampiri Farid yang ternyata sudah berada di luar rumah sedang berkeliling mengamati sekitaran rumah Anna yang terlihat masih asri karena dikelilingi dengan berbagai pepohonan yang lebat dan rimbun.
Setelah Mia memintanya untuk membantu memanggang ikan Farid pun kemudian mengiakan dan berjalan ke arah dapur untuk turut serta membantu kesibukan Mia dan Anna.
Setelah semuanya siap karena dikerjakan bahu membahu Anna mulai mengambil sebilah daun pisang yang kemudian dibentakannya di lantai dapur. Setelah itu Mia menuangkan nasi liwet yang terlihat sangat panas itu karena masih mengepulkan asapnya.
Farid membawa satu nampan besar berisi ikan mas yang sudah selesai dipanggangnya tadi menuju daun pisang yang sudah dibentangkan oleh Anna barusan.
"Simpan dulu buat orang tua Teteh ikannya. Jangan dihabisin semua. kita, kan, cuman bertiga doang masa ngehabisin ikan mas dua kilo," saran Mia. Tangannya lalu sibuk memisahkan beberapa ekor ikan yang sudah matang semua itu lalu menyerahkan kepada Anna. Anna lalu menerima dan menyimpannya ke dalam rak khusus tempat penyimpanan makanan yang terdapat di dapur.
Sudah menjadi tradisi di tempat tinggal Anna dan Mia jika sedang kumpul-kumpul bersama seperti itu pasti akan merasa seperti ada yang kurang jika tidak mengadakan acara babacakan atau makan bersama dengan menggunakan daun pisang sebagai alas tempat nasi, lauk, sambal dan lalapannya sebagai pelengkap.
Di tengah acara makan bersama itu sesekali Anna mencuri pandang ke arah Farid. Hatinya berdebar-debar tatkala mata elang laki-laki itu pun sedang tertuju ke arah Anna. Pandangan mereka berdua beradu walaupun hanya sekilas karena Anna dengan spontan langsung mengalihkan penglihatannya itu ke arah lain agar tidak kentara jika di hatinya terselip rasa kagum entah suka kepada pria yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya Anna.
Untuk Mia yang duduk di samping Anna tidak terlalu memperhatikan sikap Anna dan Farid. Karena Mia sedang khusu dengan makanan di hadapannya yang sedari tadi ia tunggu. Selera makan gadis berperawakan agak sedikit berisi itu pun seketika meningkat sembilan puluh persen saat mencium aroma ikan bakar dan sambal jeruk yang tadi sudah dibuatnya.
__ADS_1
Mia terlihat sangat lahap tanpa merasa malu ataupun sungkan walaupun ia sedang menyuap nasi persis di hadapan pria tampan sekalipun. Bawaannya yang cuek dan bodo amat membuatnya bebas beraksi tanpa harus menahan-nahan diri demi hanya menjaga image.
"Makan yang banyak, Teh Anna atuh. Biar badannya bisa sedikit ngisi kek aku, nih," ucap Mia kepada Anna di sela-sela suapannya yang entah sudah beberapa kali.