
Jika boleh berkata jujur, saat Mia menceritakan tentang kabar bahagianya dan permintaannya tentang kado itu dalam hati Anna terbersit perasaan iri. Iya, perempuan itu akan merasa iri tiap kali ia mendapat kabar atau undangan tentang pernikahan baik dari teman lamanya ataupun sahabat dekatnya sendiri. Bukan. Bukannya Anna merasa iri dan dengki dengan kebahagiaan yang akan dimiliki oleh orang lain. Tapi, tepatnya ia merasa iri karena ingin juga dalam waktu dekat ini bisa merasakan ada lelaki yang bersedia untuk meminang dan melamarnya juga bukan malah disuruh menunggu hingga entah kapan karena waktunya belum terlihat dengan jelas.
Namun, tentu saja gadis itu harus pandai menyembunyikan perasaannya itu agar tak terlihat langsung di hadapan Mia.
"Teh, aku ingin pas aku nanti jadi ratu dalam sehari alias jadi pengantin. Teteh yang harus selalu ada di sampingku, ya, dari mulai akad sampai nanti acara resepsi Tetap yang harus duduk di sebelahku," pinta Mia dengan sorot mata menunjukkan keseriusan.
"Iya, Mi. Siap. Pokoknya Teteh akan mengabulkan permintaan Mia selama itu bisa menyenangkan hati Mia." Anna menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
Yang tentu saja jawaban yang ia lontarkan barusan sangat bertentangan dengan hati nuraninya sendiri. Anna sendiri tidak yakin jika dirinya sanggup dan bisa hadir di acara pernikahan Mia nantinya. Karena dalam hati kecil Anna terselip perasaan kagum atau entah perasaan apa namanya kepada sosok Farid sejak pertama kali Anna melihat sosok pria bertubuh tegap dan gagah saat di rumahnya beberapa waktu yang lalu.
Anna menyudahi suapan mie terakhirnya lalu kemudian menyeruput teh manisnya hingga tandas tak tersisa.
"Makasih banyak, ya, Mi, udah bersedia ntaktir aku," ucap Anna dengan tulus.
"Ih, Teteh, kayak ke siapa aja. Kita, kan, sahabat sekaligus calon ipar jadi gak usah sungkan, gitu, dong," jawab Mia sambil tertawa renyah.
"Iya, makasih, ya, calon adek iparku yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung," tutur Anna kemudian sambil menjawil pipi Mia yang terlihat chaby dan berisi karena memang Mia hoby makan banya.
Mia dan Anna kemudian tertawa lepas menertawakan polah mereka berdua. Sehingga para pengunjung yang lain menoleh ke arah kedua gadis berhijab segi empat itu.
Mia pun lalu mengantar kembali Anna ke rumahnya setelah sebelumya gadis itu membayar semua pesanan dua mangkuk mie ayam dan dua gelas teh manis yang kini sudah berpindah tempat ke dalam perutnya sendiri dan perut sahabatnya.
__ADS_1
***
Pagi ini Farid sudah terlihat sibuk mempersiapkan diri untuk acara wisuda kelulusannya yang diadakan di di kota yang cukup lumayan jauh dari tempat kostnya. Tak ada keluarga besar yang mengantar dan membersamainya di acara bersejarah dalam hidupnya itu.
Setelah dirasa semuanya rapi dan cukup pria berhidung bangir itu pun kemudian menyetop angkot yang akan membawanya ke tempat tujuan. Yaitu gedung serba guna sekaligus hotel yang disewa pihak kampus untuk mengadakan acara akbar wisuda seluruh mahasiswa dan mahasiswi seluruh kampus tempat Farid menimba ilmu di sana.
Di halaman gedung Farid bertemu dengan Mia yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Farid. Karena acara memang tinggal hitungan menit lagi akan segera dimulai Mia pun segera mengajak Farid untuk memasuki gedung.
Sedangkan, kedua orang tua dan kakak-kakaknya Mia bertanya-tanya mengenai sikap Farid yang terlihat acuh kepada keluarga Mia yang ikut hadir mengantar Mia.
"Mia, bukannya itu Farid calon suami kamu, kok, gak mau salaman sama kakak, minimal sama ibu dan bapak gitu," bisik kakak perempuan Mia.
Saat berjalan menuju dalam gedung itu Mia mencoba bertanya kepada Farid.
"Mas, tadi di depan ada ibu sama bapak aku, lho. Kenapa gak salaman?" tanya Mia kemudian.
"Serius tadi ada orang tua kamu, Mi? Kok, saya gak lihat," jawab Farid yang memang tidak menyadari keberadaan calon kedua mertuanya itu.
"Duh ... Dasar calon mantu lucknut. Calon mertua sendiri gak bisa mengenalinya," ujar Mia sambil tertawa kecil.
"Beneran tadi saya sama sekali gak melihat dan menyadari jika ada keluarga kamu tadi di halaman." Farid berusaha meyakinkan Mia jika memang dirinya tidak terlalu memperhatikan orang-orang di sekeliling.
__ADS_1
"Yaudah, lah, gak apa-apa. Tapi lain kali jangan diulangi lagi ketemu calon mertua ya, minimal nyapa," tutur Mia kemudian.
"Iya, tolong sampaikan permintaan maaf saya sama keluarga besar kami tadi," ungkap Farid.
MC mulai terdengar membuka acara dengan membawakan beberapa susunan acara yang akan diikuti oleh semua peserta calon wisudawan dan wisudawati yang sudah hadir di dalam ruangan mewah dan eklusif itu.
Semua rangkaian acara diliput oleh kamera yang sudah disewa pihak kampus untuk dijadikan dokumen dalam sebuah kaset CD yang bisa ditonton ulang di rumah nanti jika sesekali ingin melihatnya.
Tibalah saatnya setiap calon wisudawan dan wisudawati untuk maju ke depan untuk mendapatkan simbol wisuda berupa diberi sebuah tabung panjang dan simbol lainnya.
"Peserta Selanjutnya yaitu Farid Ramadhan, silakan untuk maju ke depan," ucap pembawa acara melalui pengeras suara yang memanggil nama Farid.
Farid dengan memakai baju khusus wisudawan dan topi toga berjalan tegap dan gagah memancarkan kharisma ketampanannya. Sehingga ada perasaan bangga yang terselip di hati Mia karena lelaki ganteng itu sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Sedangkan di kursi lain yang terletak di deretan terdepan ada seorang perempuan yang menatap Farid dengan tatapan nelangsa saat memandang sosok Farid yang sedang berjalan menuju depan di mana puluhan dosen sudah berdiri dengan tugas-tugasnya masing-masing. Wanita itu tidak lain adalah Zaskia yang kini di dalam perutnya sudah berisi janin dari laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya sendiri.
Namun, dalam hati kecilnya Zaskia masih menyimpan perasaan cintanya kepada lelaki yang pernah mengisi hari-harinya selama masa KKN dulu. Sehingga tiap kali wanita itu tak sengaja harus bertertemu atau berpapasan dengan Farid hatinya akan terasa nelangsa dan bersalah karena sudah tega meninggalkan lelaki itu demi baktinya kepada seorang ayah walaupun harus mengorbankan perasaannya sendiri karena harus menikah dengan pria pilihan orang tua yang sama sekali tidak Zaskia cintai.
Beruntung pandangan Farid tetap lurus ke depan semenjak lelaki itu berdiri dari duduknya dan mulai berjalan ke arah depan. Sehingga ia sama sekali tidak melihat keberadaan Zaskia yang kini sedang duduk berdampingan dengan suaminya yang selalu setia menemani Zaskia kemana pun Zaskia pergi.
Jika saja pandangan Farid bertemu dengan tatapan mata Zaskia sudah tentu akan membuyarkan konsentrasi pria itu yang sedang mengikuti rangkaian acara yang langsung disaksikan oleh puluhan ribu mata yang tertuju ke arahnya.
__ADS_1