Pencarian Cinta

Pencarian Cinta
Telepon tak Terduga


__ADS_3

Malam ini Anna sudah berada di dalam ruangan favoritnya yaitu sebuah kamar berukuran sedang yang merupakan tempat ternyaman bagi gadis berkulit cokelat itu.


Anna baru saja menyelesaikan kewajiban salat Isya dan sedang melipat mukena yang baru dibukanya ketika terdengar ponselnya berdering dengan nyaring.


Terlihat nama Mia tertera di layar ponsel. Anna langsung memijit tombol jawab untuk menghubungkan sambungan telepon itu.


"Ada apa, Mi?" tanya Anna setelah sebelumnya mengucapkan salam.


"Teh, aku lagi galau nih."


"Lha, galau kenapa, sih?"


"Pusing. tinggal di rumah dimarahin sama orang tua terus," jawab Mia kemudian yang dibalas tertawa kecil oleh Anna.


"Kalau gak mau dimarahin sama orang tua terus-terusan cepet nikah. Ikut suami, beres. Pasti aman dari omelan emak," saran Anna seperti dirinya sudah berpengalaman saja.


"Justru itu aku sekarang sedang bingung juga dengan sikap Mas Farid yang akhir-akhir ini seperti banyak berubah." Mia mulai mencurahkan isi hatinya kepada Anna.


"Maksudnya, Mi?" selidik Anna penasaran.


Tanpa diminta kemudian Mia menceritakan tentang perasaannya yang selama ini ia rasakan tentang perubahan sikap Farid terhadap dirinya.


Mia merasakan sikap Farid tidak seperti dulu lagi ketika seperti awal-awal kedekatan dirinya dengan pria itu. Dulu Farid begitu gencar memberikan perhatian kecil kepada Mia. Selalu memberikan kabar setiap harinya tanpa harus Mia terlebih dulu yang memulai mengirim SMS atau telepon.

__ADS_1


Namun, akhir-akhir ini semua seolah berubah seratus delapan puluh derajat celsius semua sikapnya jadi dingin dan seolah seperti berusaha menjauh dan jaga jarak. Jangankan Sudi bertanya kabar terlebih dulu. Ditanya pun seperti enggan menjawab. Begitu yang Mia rasakan sehingga gadis itu menjadi uring-uringan seorang diri.


"Mungkin itu karma," ucap Anna setelah ia mencerna secara keselurahan tentang Farid yang kini dirasakan oleh Mia.


"Maksudnya, Teh? Karma? Karma gimana?" Mia tak mengerti dengan tanggapan dari Anna barusan.


"Ya, karma. Karena kakakmu juga sering berbuat seperti itu sama aku," jawab Anna enteng.


"Lukman juga sering bersikap seperti itu sama Teteh?" tanya Mia memastikan.


"Saking seringnya aku udah kenal sendiri, jawab Anna.


Dalam hati Anna merasa sedikit heran. Kenapa hampir semua lelaki memiliki sifat serupa seperti itu ya? Sikapnya akan semanis madu saat pedekate kepada wanita incarannya. Tapi, jika hatinya sudah dikuasainya sikap pria itu berangsur berubah dan bersikap masa bodoh seperti menunjukkan sikapnya yang sudah merasa bosan atau ingin mencari pengganti yang jauh lebih baik lagi dalam segalanya.


"Pernah aku diemin selama tiga hari gak SMS dan telepon. Eh, si Mas Farid itu malah sepertinya keenakan dan nyaman-nyaman saja tanpa merasa kehilangan aku," tutur Mia dengan nada kesal.


Mia juga bercerita kepada Anna jika akhir-akhir ini Farid seperti sedang mendiktenya. Mia dituntut untuk bisa mengoperasikan laptop atau internet karena katanya jika nanti sudah jadi menikah dengannya jangan sampai menjadi istri pengangguran. Sedangkan pekerjaan zaman sekarang tidak bisa lepas dari sambungan internet. Jika tidak belajar dari sekarang maka akan sudah mencari kerja ke depannya nanti.


Sedangkan Mia walaupun kini sedang bekerja menjadi tenaga guru honorer di sebuah sekolah swasta yang berada di kampungnya sendiri memang tidak bisa mengaplikasikan internet ataupun laptop. Bagi Mia permintaan Farid yang di luar kemampuannya itu terasa sangat memberatkan sekali dan membuatnya menjadi tertekan.


Sekitar jam delapan malam Mia baru menyudahi teleponnya dengan Anna. Setelah perempuan itu merasa lega setelah mencurahkan isi hati yang selama ini terasa membebani pikirannya sendiri.


Sedangkan Anna sendiri setelah mendengar dan mencerna semua keluhan dari Mia barusan mendadak hatinya seperti sedikit berbunga-bunga. Setelah tahu kini hubungan Mia dengan Farid sedang merenggang ingin rasanya Anna masuk ke dalam kehidupan Farid.

__ADS_1


Namun, niatnya urung. Karena Anna bingung harus memulainya dari mana. Sangat tidak mungkin baginya jika harus terlebih dahulu menghubungi dan Farid secara tiba-tiba tanpa ada alasan dan kepentingan apapun. Akhirnya Anna pun memilih diam tanpa melakukan hal apapun.


Entah suatu kebetulan saja atau bagaimana. Ketika Anna dilanda bimbang. Tiba-tiba ada telepon masuk melalui ponselnya dengan nomor yang tak dikenal dan setelah diangkat ternyata telepon itu dari Farid sendiri yang kini sedang memenuhi pikiran Anna.


Rupanya Farid menyimpan nomor Anna di ponselnya karena dulu Mia pernah menelepon Anna dengan meminjam hape Farid karena ponsel Mia sendiri sedang dalam keadaan non aktif gara-gara kehabisan baterai.


Hati Anna seakan seperti hendak meloncat dari tempatnya tatkala ia menyadari siapa sosok lelaki yang kini sedang menghubunginya itu via panggilan telepon.


"Mas Farid? Ada apa ya, kok tumben telepon saya?" tanya Anna sekadar berbasa-basi karena perempuan itu merasa bingung sendiri harus bicara apa. Mungkin karena pengaruh rasa nervous yang masih menyelimuti perasaannya hingga Anna tak bisa berkata-kata banyak seperti biasanya.


"Owh, maaf, ganggu ya, saya telepon kamu malam-malam begini,' ungkap Farid kemudian.


"Enggak, lah, lagian ini kan masih jam delapan belum terlalu malam," jawab Anna seolah tak rela jika pria itu akan memutuskan sambungan telepon dengannya.


Bagi Anna ditelepon tengah malam pun ia rela jika yang nelponnya itu seorang Farid yang selama ini mengisi ruang hatinya selain Lukman. Menurut Anna apa salahnya ia mencoba membuka hati untuk pria lain selama ia sendiri belum terikat dengan pernikahan. Bukankah sebagai seorang gadis yang masih berstatus single itu suatu keharusan memilih dan memilah seorang laki-laki yang akan menjadi calon pendamping seumur hidupnya nanti?


Jangan sampai salah pilih dan terjebak dengan pilihan yang salah dan akhirnya merasa menyesal setelah nikah nanti.


"Kak Farid gak nelepon Mia?" tanya Anna.


"Kan, saya sedang nelepon Neng Anna," ucap Farid yang membuat Anna merasa tak karuan.


"Iya, maksudnya kenapa gak nelepon Mia aja, kenapa malah menghubungi saya?" Pertanyaan yang bertolak belakang dengan hatinya itu malah meluncur begitu saja dari mulut Anna.

__ADS_1


Padahal memang seperti itulah yang Anna harapkan. Ia bisa ngobrol dan bisa dekat dengan sosok Farid tanpa harus dirinya terlebih dahulu yang memulai menghubungi.


Tapi, dasar perempuan di mana-mana pun wanita memang sudah terkenal dan terbiasa lain di mulut lain juga di hati. Di bibir yang diucapkan A sedangkan dalam hatinya sendiri berkata B. Seperti itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Anna karena mendadak mendapat elepon dari lelaki yang diam-diam mencuri perhatiannya


__ADS_2