Pencarian Cinta

Pencarian Cinta
Ungkapan Hati


__ADS_3

Akhirnya dengan sengaja Anna pun membiarkannya sendiri. Tho, tidak ada respon apapun dari Lukman. Kadang dengan disengaja Anna saling berbalas komentar dengan Putra yang menunjukkan kedekatan dirinya dengan pria itu. Walaupun sebenarnya hatinya terasa hampa.


Sudah hampir satu Minggu Anna merasakan sikap Lukman semakin dingin terhadap dirinya. Jangankan bersedia mengirim SMS terlebih duluan. Ditelepon langsung pun oleh Anna pria itu seperti berusaha menghindar dengan beribu alasan.


Akhirnya Anna mencoba menelponya Amir, teman dekatnya. Anna meluapkan semua isi hatinya kepada Amir berharap laki-laki itu bisa memberikan solusi terbaik kepada Anna.


"Coba telepon langsung aja orangnya. Tanyakan secara baik-baik penyebabnya apa bisa berubah sikap seperti itu," saran Amir kepada Anna.


"Sudah aku coba. Tapi, seolah malas ngomong lama-lama sama aku," jawab Anna kemudian.


Amir pun berjanji akan mencoba menanyakan langsung kepada Lukman. Berharap Anna bisa kembali tenang. Tidak harus terus-menerus terpikirkan tentang Lukman.


Keesokan harinya benar saja Lukman langsung menelepon Anna duluan walau nada bicaranya masih terkesan acuh dan dingin. Rupanya upaya Amir yang sudah berusaha membantu Anna membuahkan hasil.


Melalui telepon itu Anna pun mulai mengungkapkan semua isi hatinya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dengan harapan pria itu mampu menyelami perasaan gadis itu.


Namun, alih-alih laki-laki itu bisa ikut merasakan dengan apa yang sedang dirasakan oleh Anna. Lukman malah berbicara yang membuat Anna merasa lebih terpuruk.


"Kalau memang selama ini saya hanya membuatmu menderita dan membuatmu tertekan. Sekarang pilihan ada di tanganmu sendiri. Baiknya kita harus bagaimana. Terserah saya ngikut saja," tutur pria itu yang tentu saja membuat dada Anna seketika terasa sesak.


Karena Anna sangat paham dengan arah pembicaraan yang barusan diucapkan oleh lelaki itu.


"Maksudnya kita harus mengakhiri hubungan kita ini?" tanya Anna dengan terbata.

__ADS_1


"Ya, apa salahnya jika itu pilihan yang akan membuat kamu bisa terlepas dari perasaan tertekan yang diakibatkan oleh sikap saya selama ini," jawab Lukman dengan ada dingin.


Tak terasa air mata Anna luruh begitu saja tanpa bisa ia tahan. Ingin hati setelah ia berusaha mampu mengutarakan semua unek-unek yang selama ini mengganjal di hatinya Lukman bisa menerima dan bisa memahami perasaan Anna. Nyatanya dengan mudah dan ringannya pria itu malah membuat Anna semakin merasa down.


"Yang aku mau dan aku maksud bukan seperti itu," sela Anna di tengah isaknya yang sudah tidak bisa disembunyikannya lagi.


"Terus maunya kamu gimana? Saya tidak akan pernah berani mengambil keputusan sendiri. Saya gak akan pernah mutusin kamu sampai kapan pun. Tapi jika kamu sendiri yang mutusin saya. Pasti saya terima. Dan setelah itu kamu bisa mencari dan mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik lagi daripada saya," ungkap Lukman panjang lebar.


"Kalau kamu bisa bahagia saya juga pasti ikut bahagia," pungkas pria itu kemudian yang membuat Anna semakin tersedu nelangsa.


"Aku pikir setelah aku tadi bicara lama kamu bisa paham dengan isi hatiku yang sebenarnya. Ternyata kamu malah Setega itu sama aku," ucap Anna dengan suara bergetar.


Karena tidak mungkin Anna bisa lepas begitu saja dari Lukman sebelum dirinya sendiri menemukan pengganti yang bisa mengisi ruang hatinya dengan menggantikan posisi Lukman saat ini.


Melihat Lukman yang sepertinya malah semakin bersikap berani untuk melepas dan kehilangan Anna. Anna pun kemudian mulai melemah dan mencoba menetralisir perasaan nya sendiri.


"Yaudah, aku minta maaf jika aku selama ini selalu menyalahkan dan menyudutkan kamu," ucap Anna kemudian berusaha untuk mengalah.


"Saya yang seharusnya minta maaf sama kamu karena sering bikin kamu menangis selama kenal dengan saya," jawab Lukman.


Sengaja Anna melakukan itu. Menurutnya tak apa ia mengalah demi menjaga kewarasannya sendiri. Karena jika sampai Lukman dengan tega melepaskan Anna. Itu semua pasti membuat Anna sendiri lebih terpuruk dan bisa membuatnya semakin tertekan nantinya.


***

__ADS_1


Sementara di tempat lain.


Mia sedang menyambut kedatangan Farid untuk ke sekian kalinya di rumahnya. Farid memang bukan hanya kali pertama itu berkunjung ke rumah Mia. Sudah sempat dua kali sebelumnya setelah mereka berdua semakin intens melakukan komunikasi.


Melihat sosok Farid yang gagah dan tampan membuat hampir seluruh keluarga Mia merasa terheran dan merasa tidak percaya jika laki-laki itu bersedia memilih Mia sebagai pilihan calon istrinya. Apalagi setelah tahu jika Farid itu merupakan mantannya Zaskia yang memang berparas cantik dan manis. Yang tentu saja akan sangat terlihat romantis jika Zaskia dan Farid bersanding menjadi pasangan suami istri.


Namun, karena takdir berkata lain yang membuat keduanya terpisah dan tidak bisa bersatu membuat keduanya menentukan jalan masing-masing sesuai takdir yang akan membawanya kemana.


"Mi, memang Farid itu beneran suka sama kamu. Orangnya ganteng banget begitu," tanya bibinya Mia yang kebetulan melihat Farid sedang duduk di teras rumah Mia.


"Apa jangan-jangan kamu hanya dijadikan sebagai pelariannya saja. Setelah lelaki itu ditinggal oleh Zaskia?" sambung bibinya Mia menduga-duga.


Mia hanya tersenyum meringis mendengar pertanyaan dari bibinya itu. Memang tak salah dengan apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu barusan kepada dirinya.


Karena memang kenyataannya lelaki yang berparas biasa saja pun biasanya langsung menghilangkan jejak setelah kenal langsung dengan dirinya kini malah ada sosok pria tampan yang dengan mudahnya datang dalam kehidupannya tanpa ia duga sebelumnya.


Karena begitulah rupanya memang kalau sudah garisan takdir. Susah diprediksi sebelumnya oleh pikiran manusia yang hanya mampu berencana dan berangan-angan.


Hati Mia semakin berbunga-bunga karena Farid berkata kepada Mia akan melamarnya jika setelah acara wisuda pelulusan di kampusnya nanti sudah dilaksanakan. Yang kebetulan Mia dan Farid nanti akan diwisuda bareng karena memang mereka berdua selama ini berada dalam kampus yang sama.


Mia berjanji akan menerima seberapa pun mahar dari Farid yang sesuai dengan kemampuan lelaki itu. Mia tidak akan memberatkan Farid dan keluarganya dengan meminta mahar yang tinggi seperti yang dilakukan oleh keluarganya Zaskia tempo itu yang membuat Farid merasa terpuruk dan merasa dipermalukan di depan umum.


Bagi Mia sendiri Farid sudah sudi memilihnya pun sudah merupakan anugerah terindah untuknya. Karena selama ini Mia memang sudah menaruh hati semenjak pandangan pertama dengan lelaki tampan itu.

__ADS_1


Mia tak sabar ingin secepatnya memberitahukan kabar bahagia itu kepada Anna. Karena setiap kejadian dan hal sekecil apapun Mia biasanya pasti akan bercerita kepada Anna. Seolah Anna bagi Mia merupakan buku harian keduanya yang selalu siap menampung semua curhatan Mia di kala susah ataupun bahagia.


__ADS_2