Pencarian Cinta

Pencarian Cinta
Gangguan Ekshibisionisme


__ADS_3

Yang disambut oleh Dana, bocah laki-laki berusia 6 tahun yang kini sudah duduk di bangku kelas satu SD.


"Hore ... Ada Teh Anna datang. Besok nanti antar sekolah Dana, ya, Teh."


Belum sempat masuk ke dalam rumah Anna sudah diberondong oleh celotehan Dana yang memang bawel dan ceriwis serta menggemaskan itu.


Rumah yang ditempati oleh Teh Lina itu berupa perumahan elit yang rata-rata ditinggali oleh orang pengusaha Cina yang sukses. Teh Lina yang sedang bekerja di suatu perusahaan yang dikelola oleh orang Cina itu sengaja diminta untuk menempati salah satu rumah majikannya yang sudah dibiarkan kosong hampir beberapa tahun yang tadinya hanya dipakai untuk gudang sebagai tempat penyimpanan barang dagangan saja.


Dalam satu rumah itu sebenarnya ada beberapa orang karyawan yang menempati. Teh Lina kebetulan mengisi kamar utama yang di dalamnya sedang difasilitasi kamar mandi langsung. Sedangkan kamar depan diisi oleh temannya Teh Lina yang bernama Mbak Mimin dengan suami dan satu anaknya.


Sedangkan kamar yang terletak di bagian lantai dua diisi oleh beberapa karyawan laki-laki yang masih berstatus single alias bujangan. Sehingga suasana rumah itu akan terlihat selalu ramai pada saat malam hari saat semua penghuninya sudah pulang dari tempat kerja mereka.


Setelah mandi terlebih dulu agar tubuhnya terasa segar setelah hampir satu hari diperjalanan Anna langsung beristirahat sambil menemani Dana menyaksikan film kartun kesukaannya.


Besok paginya kebetulan hari Minggu. Anna mengajak Dana untuk berjalan kaki santai menyusuri jalanan di sepanjang perumahan daerah situ untuk sekadar berolah raga ringan dan menghangatkan badan di bawah sinar matahari yang masih mengandung vitamin D untuk menyehatkan tulang.


Tak lupa Anna mengajak Hetty, yang bekerja sebagai baby sister anaknya Mbak Mimin yang masih berusia satu tahun serta Fitri adik iparnya Mbak Mimin yang sedang menghabiskan waktu liburan sekolah SMA-nya di sana.


Tiga perempuan yang masih sama-sama berstatus single itu pun berjalan beriringan menyusuri jalan aspal yang terlihat masih sangat sepi.


Hety berjalan di bagian paling depan sambil mendorong stroller baby Ello yang diasuhnya. Sedangkan Anna, Fitri dan Dana berjalan di belakangnya. Hanya ada beberapa sepeda motor atau kendaraan roda empat yang melintas di jalan aspal yang masih lengang itu.


Dari kejauhan Anna melihat seperti ada seorang pemuda yang sedang berdiri membelakangi jalan. Tanpa curiga Anna dan teman-temannya itu terus saja melanjutkan jalan kakinya. Semakin dekat pemuda itu semakin jelas jika diawasi dari jarak beberapa meter laki-laki itu seperti sedang buang air kecil sambil berdiri di pinggir jalan yang agak menjorok ke bahu jalan yang kebetulan ditumbuhi banyak semak-semak dan rerumputan setinggi lutut orang dewasa.

__ADS_1


Sedangkan di pinggirnya seperti ada sebuah kali kecil yang airnya dangkal dan tidak terlalu dalam bahkan nyaris tidak ada airnya karena sedang dilanda musim kemarau yang panjang.


"Itu orang pagi-pagi begini lagi ngapain, sih, berdiri di pinggir jalan sendirian begitu?" tanya Hetty yang rupanya sama-sama merasa penasaran dengan Anna


"Kelihatanya, sih, kek lagi buang air kecil, ya?" jawab Fitri yang berjalan persis di belakang Hety.


"Masa iya, sih, buang air kecil di tempat umum seperti ini?" timpal Anna merasa tak percaya.


"Mungkin kebelet kali," sambung Hetty kemudian.


"Iya, bisa jadi," kata Fitri.


"Emang Om itu lagi apa, Teh?" Dana yang sedari tadi berceloteh sendiri pun mulai jadi ikut penasaran dan bertanya kepada Anna.


Langkah kaki mereka pun dipercepat untuk segera bisa melewati orang aneh itu.


Kini Anna beserta teman-temannya sudah berhasil melewati pemuda tadi yang masih dengan posisi yang sama yaitu berdiri membelakangi jalan. Sehingga Anna dan yang lainnya sulit untuk menebak apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki asing tersebut.


Sambil terus berjalan karena didorong rasa penasaran yang tinggi dengan pria tadi Anna iseng menolehkan kepalanya ke belakang untuk memastikan pemuda itu apa masih berada di tempatnya apa sudah pergi ke jauh atau malah membuntuti mereka.


Reflek Anna menjerit karena bola matanya melihat lelaki tadi sudah berbalik badan menghadap persis ke jalan raya dan yang membuat Anna terkejut tangan pria itu sedang memegang alat vitalnya yang seharusnya disembunyikan dan tidak terlihat orang lain apalagi oleh lawan jenis.


Walaupun jarak yang tidak terlalu dekat tapi dengan jelas Anna melihat lelaki itu seperti bukan hanya sedang memegang saja tapi malah memainkannya dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


Mendengar Anna menjerit kecil Hetty dan Fitri pun reflek menolehkan kepala mereka dan sama-sama merasa kaget saat melihat kelakuan pemuda itu.


"Astaghfirullahhsladziim, lagi ngapain itu orang?" Fitri bergumam sendiri sambil mengungkapkan ke dua belah telapak tangannya menutupi mata dan sebagian wajah.


Sementara Anna dan Hetty gemetaran ketakutan khawatir orang yang mereka anggap stres bahkan gila itu sampai melakukan hal-hal kejahatan kepada mereka.


Walaupun mereka tidak sendiri tapi karena perempuan jika menghadapi satu laki-laki gila seperti itu Anna dan teman-temannya pun tetap saja merasa takut dan was-was.


Anna menyapukan pandangannya ke daerah sekitar berharap ada warga yang lewat dan bisa dimintain tolong agar bisa mengusir orang stres tadi.


Namun, nihil. Harapannya sia-sia. Karena jalan di sekitarnya tetap dalam keadaan sepi dan lengang. Kendaraan yang tadi sempat ada melintas pun. Seolah enggan lewat situ sehingga Anna dan teman-temannya pun semakin gelisah dan merasa ketakutan yang luar biasa.


Anna dan semua temannya setengah menangis melihat pemandangan yang seumur-umur baru dilihatnya itu.


Mereka memutuskan untuk secepatnya kembali ke rumah. Itu artinya mereka harus melewati lelaki yang sedang melakukan hal aneh tersebut.


Mereka berjalan dengan tergesa dan berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain sebisa mungkin agar tak melihat dengan apa yang sedang dilakukan lelaki itu.


Anna menyuruh Dana untuk berlari terlebih dulu agar tidak tertinggal jauh di belakang. Sedangkan dirinya bersama Hetty dan Fitri berjalan sambil terus membaca doa sebisanya dengan suara hampir menangis menahan takut.


Laki-laki itu seperti tidak menghiraukan Anna dan teman-temannya saat melintas di depan lelaki tadi. Pria itu sepertinya tidak peduli dengan keadaan sekitarnya sehingga dirinya sedikit pun tak terlihat risih apa lagi merasa malu. Mungkin lelaki itu menganggap aksinya itu dilakukan di dalam kamarnya sendiri atau sedang di kamar mandi yang orang lain tidak bisa melihatnya.


Anna baru bisa bernapas lega setelah ia dan temannya berhasil melewati orang tadi walaupun jaraknya masih dekat dan masih bisa melihat sosok lelaki yang membuat mereka bergidik ngeri

__ADS_1


__ADS_2