PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN

PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN
Bab 23


__ADS_3

BAGASKARA VS BAGAS


Pria berwajah tampan dengan sorot mata tajam tengah menatap sebuah foto yang ada di tangannya.


"Jadi ini pria yang harusnya menjadi suami dari Istriku?" tanya pria bernama Bagaskara Raditya Anugrah.


Pria yang berdiri di depannya mengangguk.


"*Benar Tuan. Pria itu semestinya menikahi Nyonya Ramalia. Tapi, Beliau tidak hadir karena menikahi gadis lain di hari yang sama!" jelasnya.


Bagaskara meletakan foto itu, lalu ia menyenderkan punggung ke kursi kebesarannya.


"Baik. Kau boleh pergi!" titahnya yang ditanggapi pria itu dengan membungkuk hormat lalu pergi dari ruangan.


"Apa maksudmu untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Istriku?!" tanyanya bermonolog sambil melihat foto yang ada di atas meja.


"Jika kau ingin mengganggu. Kau akan tahu akibatnya, Tuan Bagas Aditya!" lanjutnya sambil tersenyum sinis.


Sebuah aura menyeramkan tiba-tiba tercipta.


Bagas memang tengah mencari tahu perusahaan yang kini sangat ngotot untuk melakukan kerjasama pada perusahaan istrinya.


Sebuah peluang diambil dari perusahaan Aditya Co. untuk melampirkan kerjasama yang tidak dapat ditolak oleh Ramalia.


Ram tidak tahu, jika kesulitan yang tengah berkecamuk di perusahaannya bisa terselesaikan jika ia mau bekerjasama secara utuh pada perusahaan PT. Anugrah Citra Co.

__ADS_1


Bagas memencet tombol interkom.


"Tia, tolong kau bawa berkas-berkas yang kemarin aku suruh cari!" titahnya.


Tak lama berselang. Seorang wanita cantik berbalut busana formal membuka pintu setelah mengetuknya terlebih dahulu.


"Ini semua berkas yang Bapak minta kemarin!" ujarnya sambil menyerahkan setumpuk berkas.


"Apa yang kau dapat?" tanya Bagas kemudian.


"Perusahaan PT Sinar Berkah hanya butuh penyuplai Tar untuk pembangunan jalan, Pak!' jelas sekretarisnya.


"Kita belum punya itu?' tanya Bagas sedikit lesu.


"Sebenarnya ... Kita melupakan pabrik di kota B. Bukankah pabrik itu memproduksi Tar cukup besar?!' tiba-tiba sekretaris mengingat perusahaan yang memang sudah lama tidak terurus.


"Maaf, Pak," cicit Tia.


"Baik ... ajukan kerja sama lagi dengan PT Sinar Berkah. Katakan, Kita memiliki apa yang mereka inginkan. Asal mereka juga memiliki SDM yang memadai!" titah Bagas cepat.


Tia mengangguk dan langsung mengerjakan perintah atasannya itu.


"Kau tidak akan bisa mendekati wanitaku, Tuan Aditya!" gumam Bagas dengan senyum miring.


"Tidak akan kubiarkan. Wanita sesempurna Ram tahu siapa kau sebenarnya!" lanjutnya sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Di tempat lain. Ram menerima laporan dari Kenan tentang permintaan kerja sama dari perusahaan suaminya.


Wanita itu sangat antusias. Beruntung dia belum menyetujui untuk bekerja sama dengan PT Aditya Co.. Entah mengapa, ia merasa risih jika berhadapan dengan CEO perusahaan tersebut.


Kepala Ram tiba-tiba berdenyut. Sudah beberapa hari ini ia sering dilanda sakit kepala hebat.


Ram menenangkan dirinya. Perlahan, sakit di kepalanya pun mereda.


Ram mengambil minyak angin yang ada dalam tasnya. Ia mulai menghirup wangi yang menyegarkan hidungnya itu.


kriuuk!


Perutnya berbunyi. Ram menatap jam di dinding. Waktu sudah menunjukan pukul 12.47.


"Ah, sudah waktunya istirahat makan siang," ujarnya pelan.


perlahan ia bangkit dari kursi kebesarannya. Mengambil mukena, menaruhnya di atas meja, kemudian ia bergegas menuju kamar mandi di ruangan tersebut.


Setelah berwudhu. Wanita itu langsung mengenakan mukenanya. Tak butuh waktu lama, Ram sudah khususnya dengan ibadahnya.


Hal yang sama dilakukan oleh Bagaskara Raditya. Pria itu sekarang berada di mushala kantornya.


Tempat itu sekarang sudah sedikit banyak yang menggunakan setelah pemimpin mereka sering shalat di sana.


Bagaskara kini menjadi panutan bawahannya.

__ADS_1


bersambung


wah ... dia berubah jadi lebih baik.


__ADS_2