PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN

PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN
Bab 36


__ADS_3

Sepasang mata tengah mengintai sosok wanita berhijab yang tengah mengandung. Mata berlensa ungu itu memantau tanpa berkedip ke mana pun, Ram melangkah.


Hingga ketika Ram tersenyum ketika bertemu dengan sosok pria. Semua aksinya di foto oleh mata berlensa ungu tersebut.


"Ck ... kepala dijibab-in, eh yang di bawah diumbar. Dasar wanita gatel!" umpatnya mencibir.


Segera foto-foto Ram ia kirim ke sebuah nomor ponsel yang ia ketahui. Wajahnya terbit senyuman sinis.


"Gue yakin. Setelah, Kak Bagas lihat foto ini, dia langsung cerai-in tuh perempuan gatel!" umpatnya lagi.


"Dan gue bisa deketin Kak Bagas lagi!" lanjutnya dengan wajah ceria.


Setelah itu ia berjalan menuju mobilnya. Kemudian berlalu dari tempat itu. Dan tidak sadar. Pria yang ditujunya telah datang ke tempat yang sama di mana istri dan pria yang ditemuinya berada.


"Mas!" panggil Ram sambil wajahnya tak berhenti tersenyum memandang suaminya yang datang.


"Sayang," sapa Bagas, lalu mengecup kening sang istri mesra.


"Ck ... kalian ini, nggak tau tempat sama nggak peduli perasaan," runtuk pria yang kini berjabatan tangan dengan Bagas.


Baik Bagas dan Ram tertawa mendengar keluhan pria itu.


"Makanya nikah. Biar rasain nyium cewe secara halal," sindir Bagas dengan bibir terangkat sebelah.


"Hais ... kamu pikir cari jodoh itu gampang apa?" sangkal pria itu tak terima.


"Buktinya, aku bisa nih!" seloroh Bagas menyindir.


"Hei ... sudah-sudah! Kok malah berdebat. Kita ke sini mau makan siang. Ram sudah lapar!' ujar Ram melerai.

__ADS_1


Mereka tampak mulai mengobrol santai. Terkadang diselingi tawa di antara obrolan mereka.


Hingga obrolan mereka terhenti ketika ponsel Bagas berbunyi. Pria itu melirik ponsel. Ada notifikasi pesan. Dahinya sedikit mengernyit ketika melihat nama pengirim.


"Tiar?"


"Kenapa Mas?" tanya Ram kepo.


"Nggak tahu. Tiar ngirim pesan," jawab Bagas enggan membuka pesan tersebut.


"Buka aja, Gas. Siapa tahu penting," ujar Kenan menimpali.


Ya, pria yang ditemui Ram adalah Kenan. Kenan mengajak Ram untuk makan siang bersama. Kebetulan wanita itu sedang ada di sebuah mall tengah berbelanja perlengkapan bayi. Bahkan pria itu juga yang mengajak Bagas untuk ikut makan siang.


Bagas membuka pesan. Seketika mukanya memerah menahan amarah. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih.


"Bocah kurang ajar. Beraninya dia memfitnah istriku!" ujarnya geram.


Bagas memperlihatkan foto yang dikirim oleh sepupu jauhnya itu. Ram melotot. Tak lama, wanita itu tertawa terbahak-bahak, hingga beristigfar.


"Ada apa?" tanya Kenan yang kini mulai kepo juga.


"Hmm ... maaf, Ken. Ini sepupu jauhku memfoto kalian dan mengatai istriku," jawab Bagas dengan nada tidak enak.


"Ah ... abaikan saja. Jangan diambil pusing. Jika perlu kau ikuti saja permainannya," ujar Kenan memberi ide.


"Tidak!" Ram menolak.


"Nanti, Mas Bagas jadi beneran nggak percaya sama aku!" tolaknya beralasan.

__ADS_1


Bagas menyetujui istrinya. Kenan langsung minta maaf atas ide konyolnya.


"Tapi, jika dibiarkan. Ia akan memakai segala cara untuk mengganggu hubungan kalian, dan akhirnya rasa ketidak percayaan itu muncul," jelas Kenan lagi.


Baik Bagas dan Ram mulai takut. Wanita itu sungguh bukan tipe pencemburu. Hanya saja jika ada yang memprovokasi dirinya. Ram sendiri bisa kalap terhadap siapa pun yang mengganggunya.


"Coba kalian bicarakan lagi nanti di rumah, jika perlu di atas tempat tidur kalian, sambil membelai dan berkasih sayang," saran Kenan lagi.


"Ck ... ketauan sekali kau ingin menikah. Cari lah istri Kenan! Biar nggak kebanyakan halu mesum!" ledek Bagas.


"Hais ... malah diledek lagi," umpatnya kesal.


Ram dan Bagas pun tertawa melihat kekesalan jomlo dari lahir itu.


"Tapi, sepertinya benar apa yang dikatakan Kenan, sayang," ujar Bagas lagi. "Lagi pula sudah lama aku tidak menengok dede bayi."


"Nengok dede bayi?' tanya Kenan polos. "Kan bayi kalian belum lahir."


Baik Bagas dan Ram saling lihat satu sama lain. Tak lama. Kenan tersadar apa maksud Bagas.


"Hais ... kalian ini benar-benar!" runtuknya makin kesal.


Sepasang suami istri itu tertawa bahagia melihat penderitaan sahabat mereka yang jomlo itu.


Bersambung.


Hah ... Othor juga jomlo Bagas! Ram!


kalian ngadi-ngadi emang yaa!

__ADS_1


__ADS_2