
FLASHBACK
Anugrah mendobrak pintu kamar hotel. Di sana tergeletak sosok putranya yang tengah teler dengan hanya memakai boxernya saja.
Sedang, Karla sibuk menghembuskan ganja ke hidung Bagas. Keadaan wanita itu juga sangat tidak karuan. Nyaris telanjang jika ia melepas ****** ********.
"Hai ... Om, aku sama Bagas lagi nge-fly nih," ujarnya dengan mata sayu sambil terkekeh.
Ternyata tidak hanya ganja yang ada di sana. Beberapa pil ekstasi bertebaran di lantai.
"Seret wanita itu. Pisahkan dari anakku!" teriak Anugrah memberi perintah.
Beberapa petugas hotel wanita langsung memapah tubuh Karla yang tertidur di atas tubuh Bagas.
Mereka membungkus tubuh wanita itu dengan batrope dari kamar mandi.
"Tolong, bawa anakku ke rumah sakit. Ingat jangan sampai mengundang wartawan. Sembunyikan ini sebisa kalian!" titah Anugrah.
Pria setengah baya yang masih tampan itu, mengurut pelipisnya. Ia sudah berkali-kali meminta Bagas untuk tidak berurusan dengan Karla.
Karena ia sangat tahu tabiat wanita itu, terlebih adik sepupunya itu memang bandar narkoba yang kini menjadi DPO.
Sebisa mungkin ia tidak terlibat dengan putra dari pamannya yang notabene adalah adik kandung ayahnya itu.
Rendy Anugrah Bratama, ayah dari Karla adalah pengusaha. Entah apa yang mendorongnya untuk bergelut di barang-barang haram tersebut.
Beruntung, ia cepat menangani putranya. Jika sampai tercium polisi. Maka akan sulit baginya untuk keluar dari masalah ini. Walau memang nanti dirinya tidak ada bukti sama sekali dengan urusan adik sepupunya itu.
Namun pasti polisi tidak akan mudah melepaskan orang yang punya hubungan dengan tersangka yang kini menjadi buronan polisi itu.
"Bersihkan semuanya! Ingat. Jangan ada kesalahan!" titah Anugrah tegas.
Ia benar-benar memimpin petugas hotel. Kebetulan ini adalah hotel miliknya sendiri, jadi tidak ada yang berani untuk buka mulut.
Selain mereka digaji tinggi. Mereka juga harus memiliki loyalitas pada tempat mereka bekerja.
Setelah semuanya benar-benar bersih. Anugrah langsung meninggalkan kamar hotel menuju rumah sakit.
__ADS_1
Anugrah menelepon Almira, istrinya. Mengatakan semua kejadian.
Almira sangat shock mendengarnya. Ia tidak menyangka. Karla adalah salah satu kemenakan yang ia sayangi karena kepintaran juga sifat manjanya. Walau ia juga memiliki seorang putri. Almira tidak pernah membedakan semua kemenakannya.
"Kalau gitu, Mama ke sana juga deh. Apa Bagas langsung Papa masukin ke rehabilitasi?" tanya Almira.
"Sepertinya harus deh, Ma. Papa takut, Bagas bakal candu sama barang-barang haram itu," jawab Anugrah di ujung telepon.
Almira langsung bersiap-siap menuju rumah sakit. Putrinya sedang ada ekstra kurikuler, jadi belum pulang.
"Bik Rum!" teriak Almira memanggil salah satu asisten rumah tangga.
Sosok gemuk dengan usia sekitar tiga puluhan, nampak berlari dari dapur.
"Iya, Nya!"
"Saya mau pergi ke rumah sakit ...."
"Siapa yang sakit, Nya?"
"Udah nggak usah banyak tanya. Nanti kalau Mba Delia pulang, bilang kalau saya pergi ke rumah sakit jenguk teman arisan saya," titah Almira.
"Ya sudah, saya pergi dulu. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Almira langsung bergegas keluar rumah. Ia menyetir mobilnya sendiri ke rumah sakit.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit, baru ia sampai rumah sakit.
Ketika di lobby, wanita cantik itu menelpon suaminya. Menanyakan keberadaan Anugrah.
Setelah mengetahui di mana Anugrah berada. Almira langsung menuju ruangan di mana Bagas di rawat.
Almira sampai di ruang Edelweis. Ruang VVIP terbaik di rumah sakit tersebut.
"Gimana Pa?" tanya Almira.
__ADS_1
"Beruntung, kata Dokter, Bagas tidak perlu direhab, dan tidak ada gangguan apapun. Sekarang para medis tengah membersihkan lambungnya, juga menyuntikan obat untuk menghilangkan efek dari narkoba yang ditelannya," jelas Anugrah panjang lebar.
"Lalu Karla?" tanya Almira.
"Dia masuk ICU. Anak itu harus masuk rehab. Dan ...," perkataan Anugrah terputus.
"Dan apa, Pa!"
"Kata Dokter. Karla harus dioperasi untuk dikiret,' Almira langsung lemas mendengar itu.
Anugrah langsung memeluk dan menangis. Almira tertegun.
"Itu adalah hasil perbuatan anak kita, Ma," cicit Anugrah lirih.
"Astaghfirullah hal adziim!" Almira langsung merosot ke lantai berikut dengan suaminya.
Anugrah hanya bisa menangis. Sedang Almira hanya menatap kosong. Wanita itu tidak tahu harus melakukan apa.
"Apa Papa yakin?" tanya Almira.
Anugrah mengangguk kemudian menggeleng. Lalu mengendikkan bahu tanda tidak tahu.
"Kalau Papa tidak tahu, bagaimana bisa bilang itu anak Bagas, Pa?"
"Karla meracau dengan bahasa vulgar, Ma," jawab Anugrah.
"Meracau gimana?" tanya Almira tak mengerti.
"Meracau hubungan sex dengan Bagas, Ma!" Lagi-lagi Almira shock.
Sungguh ia tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Tapi, dia sangat yakin jika sebejat-bejat putranya itu. Tidak sampai melakukan hal di luar batas. Walau kini ia tidak menjamin itu.
"Apa perlu kita tes DNA, Pa?"
"Sepertinya perlu, Nanti Papa konsultasikan dengan Dokter ya,"
Almira mengangguk. Ia menghapus jejak air mata di pipi suaminya. Kemudian mereka berpelukan kembali.
__ADS_1
Bersambung.