
Sosok wanita cantik tengah mengamati wanita hijab yang hamil sedang berjalan-jalan tanpa alas kaki.
Pagi itu baru saja pukul 5.34. matahari baru saja menampakan dirinya di langit.
Menurut dokter jalan kaki akan memperlancar proses lahiran nanti juga menyehatkan sang ibu. Ram sedang menggerakkan lengannya ke kanan dan ke kiri. Sesekali ditekuknya lutut hingga bawah perut besarnya.
Ia sedikit tertawa ketika kakinya tidak nampak karena kehalangan perut besarnya.
Karla menyalakan mesin mobil menginjak gas pelan. Hingga begitu dekat dengan Ram. Ia menekan gas agak dalam.
Tiba-tiba lengan Ram ditarik keras hingga tubuhnya terhuyung dan menindih sosok tegap, suaminya. Sedang mobil yang mengincarnya melarikan diri karena tidak berhasil mencelakainya.
Jantung Ram berdegup kencang. Ia tidak mengira dirinya diincar. Menatap pria yang berada di bawahnya. Netra Bagas malah memandangnya penuh arti.
Ram merasakan sesuatu yang mengganjal di antara pahanya. Wanita itu mendelik.
"Dasar suami mesum!" pekiknya tertahan sambil berusaha berdiri.
Bagas terkekeh mendengar sungutan istrinya. Pria itu ikut bangkit dan membantu istrinya.
"Terima kasih telah menyelamatkan Ram, tadi," ungkap Ram tulus.
"Sama-sama sayang Tapi, kau harus menenangkan bayiku ini," ujarnya berbisik dengan suara serak.
__ADS_1
Ram akhirnya mengikuti apa kemauan suaminya. Lagi pula, **** menjelang kelahiran juga bisa melancarkan prosesnya.
Aksi Bagas yang berciuman di tangga dilihat oleh Anugrah dan Almira. Pasangan tua itu saling melirik. Almira bersemu merah menahan malu.
"Ma ... ke kamar yuk," ajak Anugrah dengan mata diselimuti kabut gairah.
Almira hanya mengangguk. Pria setengah baya yang masih menguarkan aura ketampanannya itu menggandeng mesra tangan istrinya menuju peraduan hangat mereka.
Sedangkan di tempat lain. Armanto tengah berjalan-jalan di sekitar perumahan Dirman. Pria itu tengah mengumpulkan data tentang kejadian nyaris satu tahun yang lalu.
Sebuah fakta yang cukup mengejutkan ia dapatkan. Sungguh, ia bersyukur kemenakan tercinta menikah dengan orang yang tepat di hari itu. Seandainya, tidak. Entah apa yang terjadi, jika aib ini terbongkar nanti.
Dengan langkah tergesa ia pulang ke rumah. Di sana sang istri sudah menyiapkan sarapan paginya.
"Inshaallah, itu sih yang dikatakan, Ram. Tapi, aku yakin jika ia akan datang. Walau nanti ia akan mengembalikan semua hasil panen ini," jawab Arman kemudian duduk di kursi makan.
Entah kenapa, tangannya meraih pinggul ramping istrinya dan mendudukkan wanita yang telah menemaninya selama dua puluh dua tahun itu dipangkuannya.
"Ih, Mas, apaan sih. Malu tau!' ujar wanita itu kesal.
Ia mencoba berdiri. Tapi kuncian tangan sang suami membuat akhirnya ia pasrah duduk dipangkuan laki-laki yang ia cintai.
"Aku minta disuapin yang," pinta Arman manja.
__ADS_1
Walau sambil mengerucutkan bibirnya. Wanita itu melakukan apa yang diperintahkan sang suami.
Arman menahan napasnya. Tiba-tiba.
"Kamu berdiri dulu," ujarnya.
Sang istri berdiri. Pria itu berlari dan mengunci pintu serta menutup jendela. Istrinya mengernyit heran dengan kelakuan sang suami.
"Kok ditutup. Ini masih pagi, loh? tanyanya polos.
Tiba-tiba tubuh langsing itu melayang. Wanita itu terpekik. Ternyata Arman menggendong ala pengantin pada istrinya.
Dengan sigap Arman membawa sang istri ke kamar. Dengan jantung keduanya berdegup kencang. Arman mencium rakus bibir sang istri.
Hingga kegiatan menguras keringat dan tenaga disertai lenguhan dan desahan. Mereka mengarungi pagi dengan segenap cinta.
Tiga pasangan beda usia di beda tempat. Mereka mengarungi manisnya cinta. Mereguknya hingga puas dan terkulai lemas.
bersambung.
ck ... kok nggak jauh dari nganu sih?
othor perlu jodoh nih eh ...
__ADS_1
haloo mana jodoh mana?? hiks